- Telaga Ranjeng atau dikenal juga Tlogoranjeng merupakan kawasan cagar alam yang berada di kawasan hutan Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah.
- Telaga Ranjeng merupakan tempat hidup ikan lele lokal dan ikan mas yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat Pandansari, sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat.
- Kearifan lokal akan tetap bertahan dan berkembang jika di masyarakat terjadi proses penanaman nilai luhur kepada setiap anggota masyarakat, mulai anak sampai orang tua.
- Telaga Ranjeng tidak hanya berfungsi sebagai cagar alam, tetapi juga sebagai sumber air minum sehingga warga melindungi danau tersebut.
Sejumlah warga berdiri di pinggir Telaga Ranjeng atau dikenal juga Tlogoranjeng yang letaknya di lereng barat Gunung Slamet. Tepatnya, di kawasan hutan Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (21/3/2026). Mereka memberi makan ikan di telaga tersebut dan ikan mas atau karper (Cyprinus carpio) terlihat mendominasi.
Afan Maulana (21), pengunjung asal Banyumas, mempertanyakan kenapa yang muncul bukan ikan lele lokal (Pangasius hypophthalmus Sauvage).
“Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat.”
Sirin (55), warga desa setempat, mengatakan secara turun-temurun ada larangan tidak boleh mengambil lele dan ikan lainnya dari Telaga Ranjeng.
“Sudah banyak kejadian, ketika ada yang nekat mengambil ikan maka terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Masyarakat di sini tetap menjaga ikan di telaga ini,”ungkapnya.

Telaga yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (m dpl) ini, merupakan cagar alam (CA) dengan luasan 53,41 hektar (ha).
Jamal, Manggala Agni Pemula dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pemalang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah untuk Telaga Ranjeng, mengatakan meski CA namun banyak warga ingin tahu wilayah ini.
“Saya sudah 15 tahun sebagai penjaga Telaga Ranjeng. Hingga sekarang, ekosistemnya terjaga,” jelasnya, Sabtu (28/3/2026).
Warga Pandansari tidak mengambil ikan di Telaga Ranjeng merupakan bentuk kearifan lingkungan yang terus mereka jaga. Ada dua jenis ikan yang mendominasi di Telaga Ranjeng yakni lele dan ikan mas. Namun, tidak setiap saat dua jenis tersebut muncul.
“Kadang, lele tidak muncul dalam beberapa waktu, namun bukan karena punah.”
Menurut Jamal, fenomena di Telaga Ranjeng unik, kadang ikan menghilang semua. Ini terjadi pada 2017-2019. “Kemudian lele muncul berbarengan dengan ikan mas, atau kadang hanya lele.”

Nugraha dan Novianto dari Universitas PGRI Yogyakarta, dalam risetnya menjelaskan, masyarakat Pandansari memiliki kearifan lokal dalam bentuk mitos yang melekat pada kawasan CA Telaga Ranjeng. Mitos tersebut adalah larangan mengganggu ikan di telaga tersebut. Hai ini secara langsung maupun tidak, berkontribusi menyelamatkan ikan-ikan dan ekosistem di Telaga Ranjeng.
“Ini kearifan terhadap lingkungan yang memiliki fungsi konservasi. Kearifan lokal akan tetap bertahan dan berkembang jika di masyarakat terjadi proses penanaman nilai luhur kepada setiap anggota masyarakat mulai anak sampai orang tua,” jelas mereka.

Ekosistem Telaga Ranjeng
Ilmi Budi Martani, Kepala SKW II Pemalang BKSDA Jawa Tengah, mengatakan CA Telaga Ranjeng biasa digunakan untuk penelitian dan edukasi.
“Hal menarik, masyarakat setempat memiliki kearifan tidak boleh menangkap ikan. Ini sangat mendukung upaya konservasi,” jelasnya, Sabtu (28/3/2026).
Prameswari dan Sudarmono dari BRIN, dalam risetnya menjelaskan bahwa Telaga Ranjeng tidak hanya CA, tetapi juga sebagai sumber air minum sehingga warga melindungi danau tersebut.
“Di telaga ini terdapat lele lokal dan ikan lain, namun kepercayaan masyarakat menjelaskan untuk tidak mengambil ikan tersebut. Keragaman hayati dan ekosistem telaga ini menjadikannya sebagai daya tarik wisata alam.”
DI lokasi ini juga terdapat tumbuhan dengan INP (Indeks Nilai Penting) tinggi. Jenis yang mendominasi adalah Brucea javanica (INP 27,50 persen), Antidesma tetrandrum (24,66 persen), serta Phoebe grandis (20,80 persen). Tingginya INP, menunjukkan peran besar ketiga jenis tersebut dalam struktur dan fungsi ekosistem hutan di kawasan ini.

Peran masyarakat Pandansari juga sangat menentukan. Warga setempat memegang teguh kearifan lokal dengan tidak menebang pohon, tidak menangkap ikan, serta tidak mencemari cagar alam, baik di area hutan maupun telaga.
“Keyakinan merusak alam akan membawa dampak buruk, turut memperkuat upaya konservasi turun-temurun.”
Secara ekologis, jelas laopran tersebut, Telaga Ranjeng bukan merupakan muara atau sumber mata air sungai, melainkan telaga yang menampung limpahan air hujan dan air dari bawah tanah. Keseimbangan antara air, tanah, dan vegetasi telah terjaga kelestarian telaga tersebut yang didukung kearifan masyarakat setempat.
Referensi:
Nugraha, A. H. A., & Novianto, V. (2022). Nilai kearifan lokal pada pelestarian lingkungan telaga ranjeng kabupaten brebes. Jurnal Sosialita: Jurnal Kajian Sosial dan Pendidikan, 17(1). https://journal.upy.ac.id/index.php/sosialita/article/view/2473
Prameswari, D., & Sudarmono. (2011). Struktur dan Komposisi Vegetasi di Cagar Alam Telaga Ranjeng dan Implikasi Konservasinya. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 8(2), 189-196. https://www.neliti.com/publications/491424/struktur-dan-komposisi-vegetasi-di-cagar-alam-telaga-ranjeng-dan-implikasi-konse
*****