- Kabar duka datang dari Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) yang masih tutup karena belum lepas dari huru hara pengelolaan. Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara mati karena sakit. Hara mati 24 Maret dan Huru, dua hari setelah itu, keduanya berusia delapan bulan.
- Agnisa Nur Puspita , Medik Veteriner Ahli Pertama Bidang KSDA Wilayah III Jawa Barat BBKSDA Jabar, mengatakan, hasil pemeriksaan sampel feses menunjukkan Huru dan Hara positif terjangkit virus panleukopenia. Pemeriksaan dilakukan setelah gejala penyakit mulai terlihat. Virus panleukopenia dikenal sebagai penyakit menular pada keluarga kucing.
- Eri Mildranaya, Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyelamatkan dua anak harimau Benggala itu. Saat gejala penyakit mulai muncul, anakan harimau itu segera diisolasi ke kandang karantina dan mendapat penanganan intensif.
- Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung mengaku terpukul atas kematian Huru dan Hara. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pengelolaan kebun binatang.
Kabar duka datang dari Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) yang masih tutup karena belum lepas dari huru hara pengelolaan. Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara mati karena sakit. Hara mati 24 Maret dan Huru, dua hari setelah itu, keduanya berusia delapan bulan.
Usup Supriyatna, perawat kedua satwa ini bilang, Huru dan Hara sakit sejak usia lima bulan. Mereka lahir saat konflik dualisme pengelolaan Bandung Zoo berlangsung.
“Saya masih ingat betul proses berjodohan induknya hingga proses melahirkan,” kata Usup saat ditemui, Kamis (26/3/26).
Huru dan Hara, lahir dari pasangan Jelita dan Sahrulkan.
“Meski terlihat sederhana [proses perjodohan] tapi upaya semacam ini butuh waktu yang panjang.”
Ucup berharap, kemelut Bandung Zoo segera menemukan jalan keluar. Baginya, yang dipertaruhkan bukan sekadar pengelolaan kebun binatang, melainkan kelanjutan nasib satwa di dalamnya.
Dia tak ingin ada lagi kabar kematian satwa hanya karena konflik klaim pengelolaan.
“Semoga kebun binatang ini bisa kembali berjalan seperti biasa. Menjadi tempat yang nyaman bagi pengunjung, dan yang paling penting kesejahteraan satwanya tetap terjamin,” ujar Ucup, yang sudah lebih dari 10 tahun mengabdikan hidup di kebun binatang itu.

Virus kucing besar
Untuk mengetahui penyebab kematian kedua anak harimau itu, tim medis kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan.
Agnisa Nur Puspita , Medik Veteriner Ahli Pertama Bidang KSDA Wilayah III Jawa Barat BBKSDA Jabar, mengatakan, hasil pemeriksaan sampel feses menunjukkan Huru dan Hara positif terjangkit virus panleukopenia.
Pemeriksaan dilakukan setelah gejala penyakit mulai terlihat. Virus panleukopenia dikenal sebagai penyakit menular pada keluarga kucing.
Patogen ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan muntah, diare, serta penurunan drastis sel darah putih yang berujung pada kematian, terutama pada satwa muda.
Dalam dunia kedokteran hewan, penyakit ini bukan hal baru. Nur Purba Priambada, Presiden Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia (Asliqewan), mengatakan, panleukopenia merupakan virus umum menyerang kucing domestik.
“Bila virus telah menginfeksi, peluang sembuh sangat kecil karena tingkat kematian dan penyebarannya tergolong tinggi,” kata Purba.
Dia menyebutkan, panleukopenia menyerang sistem kekebalan tubuh satwa. Virus ini menular melalui jalur oral dan nasal, terutama ketika satwa menghirup atau menjilat cairan tubuh yang terkontaminasi seperti urin, muntahan, atau feses.
Sejumlah studi veteriner juga menemukan virus panleukopenia mampu bertahan lama di lingkungan kandang. Patogen ini dapat menempel pada berbagai media, seperti tanah, peralatan, atau permukaan kandang.
Penelitian berjudul Molecular Characterization of Feline Panleukopenia Virus Detected from a Captive Siberian Tiger dalam jurnal BMC Veterinary Research mengidentifikasi kemiripan genetik antara virus pada harimau di kebun binatang dan virus pada kucing domestik di sekitar fasilitas itu.
Temuan ini mengindikasikan penularan lintas spesies (cross-species transmission), yakni, perpindahan virus dari kucing domestik ke kucing besar dalam keluarga Felidae.

Tanpa pengawasan lingkungan dan biosekuriti yang ketat, virus dari sekitar kebun binatang dapat masuk ke kandang kucing besar.
Eri Mildranaya, Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyelamatkan dua anak harimau Benggala itu.
Saat gejala penyakit mulai muncul, katanya, anakan harimau itu segera diisolasi ke kandang karantina dan mendapat penanganan intensif.
Penanganan secara kolaboratif oleh tim medis dari Rumah Sakit Hewan Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, serta tim dokter hewan Bandung Zoo. Upaya tidak membuahkan hasil.
Hingga kini, dia belum dapat memastikan apakah ada satwa lain yang turut terjangkit virus serupa.
“Kedua anak harimau itu bukan sekadar satwa, tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung,” kata Ery di Kebun Binatang Bandung, Jumat (27/3/26).
Senada dengan Ammy Nurwaty, Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat. Dalam siaran pers dia mengatakan, kejadian bermula pada 22 Maret 2026.
Hari itu, Tim Medis Eks Kebun Binatang Bandung melaporkan kepada petugas piket BBKSDA Jawa Barat soal Hara menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare.
Dari hasil pemeriksaan ditemukan ada parasit cacing pada muntahan, hingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin.
Sebagai antisipasi, Huru yang berada dalam satu kandang dengan Hara juga mereka beri vitamin dan obat cacing.
“Kedua satwa kemudian dipisahkan kandangnya untuk mencegah penularan,” kata Ammy, dalam rilis.
Pada 23 Maret 2026, kondisi Hara menurun dengan diare disertai darah. Tim medis kemudian memeriksa dengan rapid test Feline Panleukopenia Virus (FPV) dari sampel feses dan hasil positif.
Tim medis, katanya, segera penanganan intensif berupa terapi simtomatik dan suportif.

Tanda bahaya bagi pengelolaan Bandung Zoo
Kematian dua anak harimau Benggala di Bandung Zoo ini tidak hanya persoalan medis. Peristiwa ini kembali menyorot kondisi Bandung Zoo yang sempat tutup karena sengketa pengelolaan antara dua pihak yang saling mengklaim sebagai pengelola sah.
Situasi itu mendorong Pemerintah Kota Bandung ikut turun tangan memastikan kondisi satwa dan pengelolaan kebun binatang tetap berjalan.
Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung mengaku terpukul atas kematian Huru dan Hara. Dia menilai, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pengelolaan kebun binatang.
Menurut Farhan, langkah yang kini mereka tempuh adalah memperkuat sistem biosekuriti serta evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Bandung Zoo.
Pemerintah Kota Bandung, katanya, berencana menggandeng Pemerintah Jawa Barat dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Kehutanan, untuk memastikan pengelolaan kebun binatang berjalan lebih baik.
Dia juga menegaskan komitmen pemerintah menjaga kesejahteraan satwa. Kematian dua anak harimau itu sebagai pukulan berat sekaligus momentum untuk berbenah.
“Kehilangan dua anakan harimau ini menjadi pukulan berat, juga momentum untuk berbenah.”
Farhan mengakui proses pembenahan tidak mudah. Kritik masyarakat, katanya, menjadi bagian dari evaluasi secara terbuka. Transparansi pengelolaan dia nilai penting agar masyarakat kembali percaya dan merasa memiliki kebun binatang itu.
Hingga kini, Bandung Zoo masih tutup sementara. Farhan meminta maaf kepada masyarakat dan memastikan kebun binatang akan buka kembali setelah kondisi aman.
“Kami ingin memastikan semuanya siap. Setelah itu kebun binatang akan kembali dibuka untuk masyarakat,” katanya.
*****