- Karut marut pengelolaan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) hingga kini belum juga menemukan jalan keluar. Nasib sekitar 900 satwa kini menggantung, belum ada kejelasan, menunggu keputusan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).
- Di tengah keterbatasan operasional, pekerja dan masyarakat berinisiatif menjaga keberlangsungan perawatan satwa melalui donasi, efisiensi pakan, dan kunjungan terbatas.
- BBKSDA Jawa Barat menyiapkan mekanisme pengadaan pakan untuk menjaga keberlanjutan perawatan. Terkait teknis pengadaan, kata Eri, pembelian pakan oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Spesies dan Genetik di bawah, KSDAE sesuai mekanisme berlaku.
- Selama ini, Bandung Zoo tergolong sebagai lembaga konservasi yang berhasil melakukan pembiakan terhadap sejumlah satwa endemik. Salah satunya, tapir (Tapirus indicus), melahirkan 11 anak dalam 20 tahun.
Karut marut pengelolaan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) hingga kini belum juga menemukan jalan keluar. Nasib sekitar 900 satwa kini menggantung, belum ada kejelasan, menunggu keputusan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).
Sejauh ini, kebun binatang yang berusia hampir satu abad itu Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung fungsikan sebagai ruang terbuka hijau.
Pada musim liburan, warga masih bisa berkunjung dengan skema donasi sukarela untuk pemenuhan pakan satwa.
Pasalnya, lembaga konservasi eks situ ini sangat bergantung pada aktivitas kunjungan. Penghentian kegiatan wisata berdampak langsung pada terhentinya pemasukan dari tiket, yang jadi sumber utama pendanaan operasional.
Kebutuhan pakan satwa sekitar Rp14 juta per hari, lebih dari Rp400 juta per bulan. Kondisi ini menimbulkan tekanan serius terhadap keberlangsungan operasional lembaga itu.
Masalah kian pelik karena penghentian operasional berlangsung sejak Agustus 2025, yang langsung memutus sumber pendanaan utama dari penjualan tiket.
Momentum libur panjang sekolah dan Tahun Baru, mereka manfaatkan untuk membuka kembali akses kunjungan, meski tanpa penjualan tiket.
Sebagai gantinya, pengunjung diminta memberikan donasi pakan. Skema ini memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap berwisata tanpa beban biaya masuk tetap, sekaligus berkontribusi langsung pada pemenuhan kebutuhan pakan satwa.
Strategi itu menarik minat dan antusiasme warga kembali berkunjung ke Bandung Zoo, meski operasional berlangsung secara terbatas.

Erni, warga Ciumbuleuit, Kota Bandung, merasa gembira kebun binatang buka lagi. Alasannya, kebun binatang di jantung Kota Bandung ini memberi ruang bagi keluarga untuk mengenalkan satwa kepada anak-anak sekaligus mengisi waktu rekreasi di tengah masa libur panjang.
Dia datang bersama suami dan dua anaknya. Kunjungan itu terasa istimewa karena menjadi pengalaman pertama bagi anak bungsunya. Bagi Erni, momen itu juga memunculkan rasa nostalgia, mengingatkan pada Bandung Zoo di masa lalu yang lebih hidup, lebih ramai, dan kaya atraksi.
“Sekarang, memang terlihat kurang terawat. Saya berharap tahun ini Bandung Zoo bisa kembali beroperasi secara normal. Tempat ini sangat berkesan bagi saya—dari masa kecil hingga kini bisa mengajak keluarga sendiri untuk berwisata sekaligus belajar,” kata Erni.
Dalam kondisi bantuan pakan yang belum sepenuhnya tersalurkan, para karyawan berupaya menjaga stabilitas perawatan melalui berbagai langkah internal. Aan, sapaan akrab Sulhan mengatakan, kondisi ratusan satwa masih relatif terjaga.
Saat ini, Bandung Zoo merawat 711 satwa dari 126 spesies, termasuk satwa seperti gajah, orang utan, tapir, kakaktua, dan sejumlah jenis rusa.
Menurut Aan, kondisi itu tidak terlepas dari kebijakan efisiensi dalam pengelolaan pakan. Efisiensi bukan dengan mengurangi jumlah pakan, melainkan penyesuaian komposisi menu.
Salah satunya, mengganti sebagian pakan daging sapi menjadi ayam untuk karnivora dewasa guna menekan biaya, tanpa mengurangi kebutuhan nutrisi satwa.
Karyawan juga memanfaatkan sumber daya internal kebun binatang, seperti memanen rumput di area dan memancing ikan dari kolam-kolam yang tersedia untuk pakan burung pemakan ikan.
Jumlah pakan, katanya, tetap sesuai kebutuhan harian satwa.
Di luar upaya internal itu, penggalangan donasi publik mulai sejak Desember 2025. Donasi tidak karyawan terima langsung, melainkan masuk ke rekening vendor pakan, mulai dari penyedia rumput, daging, ikan, hingga buah, dengan mekanisme pelaporan yang terkoordinasi.
Momentum libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 turut mendorong partisipasi masyarakat.
Selama periode itu, animo kunjungan ke Bandung Zoo mencapai 10.000–15.000 orang per hari. Ia juga sekaligus menjadi tekanan tambahan bagi pengelola di tengah keterbatasan pakan dan ketidakpastian status operasional.
Dia berharap, persoalan pengelolaan segera selesai agar Bandung Zoo kembali menjalankan fungsi secara optimal. Tak hanya sebagai destinasi wisata edukasi, juga bank genetik bagi satwa endemik.
Selama ini, Bandung Zoo tergolong sebagai lembaga konservasi yang berhasil melakukan pembiakan terhadap sejumlah satwa endemik. Salah satunya, tapir (Tapirus indicus), melahirkan 11 anak dalam 20 tahun.
“Kami ingin persoalan ini segera selesai. Selama belum ada kepastian, kebun binatang akan tetap dibuka secara terbatas sebagai ruang terbuka hijau,” kata Aan, awal Januari lalu.

Bagaimana kondisi satwa?
Eri Mildranaya, Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar, menyatakan, skema penanganan satwa berdasarkan koordinasi dengan karyawan Bandung Zoo.
Disktribusi pasokan pakan, katanya, bakal mingguan dengan kuantitas sesuai kebutuhan biologis satwa.
Hasil dari pemeriksaan, kata Erinya, kondisi kesehatan satwa secara umum masih relatif baik. Pemantauan rutin terus jalan untuk memastikan kebutuhan pakan dan perawatan tetap terpenuhi.
BBKSDA Jawa Barat menyiapkan mekanisme pengadaan pakan untuk menjaga keberlanjutan perawatan. Terkait teknis pengadaan, kata Eri, pembelian pakan oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Spesies dan Genetik di bawah, KSDAE sesuai mekanisme berlaku. Pembayaran langsung ke rekening vendor.
Meski demikian, katanya, penyediaan pakan pada prinsipnya merupakan tanggung jawab pengelola. Dukungan itu bersifat sementara dan hanya ketika setok pakan menurun guna mencegah satwa mengalami kekurangan pakan.
Keterbatasan pasokan pakan, lanjut Eri, mulai mempengaruhi aktivitas sebagian satwa. Meski tidak ada laporan kematian dalam periode pemantauan terakhir, sejumlah satwa menunjukkan penurunan aktivitas dan gejala stres hingga ditempatkan di area khusus untuk pemulihan.
“Prioritas kami adalah menjaga keberlangsungan pengelolaan selama masa transisi, sembari menunggu penyelesaian proses hukum yang berjalan.”
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung masih menunggu koordinasi lanjutan dengan Kemenhut terkait kejelasan status operasional kebun binatang itu termasuk kemungkinan pembukaan kembali secara penuh.
Hingga kini, belum ada pembahasan lanjutan lantaran situasi belum sepenuhnya kondusif.

Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung mengatakan, koordinasi lanjutan dengan Kemenhut baru akan dilakukan setelah aktivitas kunjungan setop dan kondisi lapangan kondusif.
Dia menilai, prasyarat itu penting agar pembahasan dapat menghasilkan kepastian tata kelola dan keputusan final.
“Setelah kondisi kondusif dan tidak ada lagi pengunjung, Pemerintah Kota Bandung akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk membahas komitmen serta arah pengelolaan ke depan,” kata Farhan di Bandung, awal Januari lalu.
Untuk sementara, Bandung Zoo masih sebagai ruang terbuka hijau (RTH) yang dapat terakses publik. Namun, kata Farhan, operasional kebun binatang belum dapat secara komersial melalui mekanisme tiket masuk.
Menurut dia, pembukaan penuh belum bisa karena masih ada persoalan hukum dan manajerial yang belum tuntas. Mereka memilih menunggu penyelesaian aspek itu sebelum menetapkan skema operasional definitif.
Farhan mengatakan, selama masa transisi, para pekerja Bandung Zoo sebanyak 127 orang tetap dalam tanggung jawab Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung. Pengaturan itu berlaku sembari menunggu kepastian struktur pengelolaan dan pembagian kewenangan ke depan.
Di tengah sengkarut, berbagai langkah darurat memang dilakukan untuk menjaga Bandung Zoo tetap bertahan. Namun tanpa keputusan tata kelola yang pasti, upaya-upaya itu belum cukup memastikan ratusan satwa dan pekerja tidak terus hidup dalam ketidakpastian.

*****