- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyebar di Riau. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat, hingga 26 Februari, karhutla menghanguskan kawasan seluas 1.041,74 hektar di 11 kabupaten dan kota di Riau.
- Karhutla di Pulau Bengkalis, membuat warga di Desa Temeran bermalam dan bergantian berjaga untuk memadamkan api agar tidak merambat ke daerah lain.
- Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memperlihatkan, titik api di Riau juga meningkat drastis mencapai 1.849 titik dengan 128 dipastikan merupakan firespot atau titik api yang mulai meningkat sejak awal Februari 2026.
- BPBD Bengkalis bersama tim gabungan terus menangani karhutla melalui pemadaman dan pendinginan. Tim terdiri dari anggota BPBD, Satpol PP, pemadam kebakaran, kepolisian, TNI, Manggala Agni, pemerintah desa, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan hingga masyarakat.
“Api dah nyebrang dah. Tarik je la selang tu, mesin tak idup,” kata Riki Wibowo, warga Desa Temeran, Kecamatan Bengkalis, Bengkalis, Riau, kepada rekannya yang berdiri di dekat gulungan selang air.
Dia dan beberapa pemuda memantau pergerakan api dengan cepat membakar lahan di desanya pada 13 Februari 2026.
Mesin pompa air yang mereka bawa tidak dapat digunakan karena kondisi air di kanal sudah mengering.
Sejak 12 Februari malam, air di kanal terus dipompa hampir satu jam menyirami lahan gambut untuk menahan api tidak masuk membakar kebun di desa mereka.
Siang itu, mereka perlu menunggu agar air kembali tersedia di kanal dekat api yang mulai menjalar.
Riki bergerak mendokumentasikan pergerakan api yang membakar pepohonan dan semak, makin dekat ke lokasi tempat dia berdiri.
Sesekali dia menggosok mata, perih. Mendengus hidung, sulit bernapas di tengah asap yang terus mengepul.
Asap putih terus menyeruak di udara, api oranye mendekat di belakangnya, dan suara-suara api yang menghanguskan batang, ranting dan dedaunan terdengar makin besar.
Di belakang Riki, beberapa warga berteriak memberi kabar kepada warga lain agar bergerak cepat.
“Tak de can ni do–tidak ada harapan menghalau api,” ujar rekan Riki menimpali sembari membantu menarik selang mesin air untuk menjauh dari sumber api.
Api itu sudah memasuki Temeran.

Karhutla menyebar
Tak hanya Desa Temeran, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyebar di Riau sejak awal Februari 2026.
Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat, hingga 26 Februari, karhutla menghanguskan kawasan seluas 1.041,74 hektar di 11 kabupaten dan kota di Riau.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memperlihatkan, titik api di Riau juga meningkat drastis mencapai 1.849 titik dengan 128 dipastikan merupakan firespot atau titik api yang mulai meningkat sejak awal Februari 2026.
Khusus di Pulau Bengkalis, berdasarkan data sistem informasi kebakaran untuk manajemen sumber daya FIRMS[1] NASA, eskalasi titik api mulai terjadi pada 4 Februari 2026.
Citra satelit VIIRS S-NPP[2] dengan resolusi 375 m–artinya satu titik mewakili lokasi berukuran 375 x 375 m– menangkap hotspot muncul sejak 3-15 Februari sejumlah 137 titik.
Sedangkan hasil pantauan citra satelit MODIS[3] Terra-Aqua yang memiliki resolusi spasial satu km, merekam peningkatan hotspot mulai terjadi sejak 9-16 Februari 2026 mencapai 41 titik.
Mongabay mengunduh dan mengolah data citra satelit dengan tingkat kepercayaan medium-tinggi.
Perbedaan data rekaman hotspot antara kedua satelit ini mengindikasikan kebakaran kecil terdeteksi lebih dulu oleh VIIRS S-NPP karena tingkat sensitivitas yang tinggi dibandingkan MODIS. Jumlah temuan hotspot VIIRS S-NPP juga menjadi tiga kali lipat lebih banyak karena resolusi spasialnya di 375 m.

Untuk Pulau Bengkalis, VIIRS S-NPP menemukan hotspot mulai banyak muncul di Desa Kelebuk dan Damai pada 5 Februari. Kedua desa ini bersebelahan.
“Kami dapat info dari grup WhatsApp waktu itu, api awalnya dari Desa Kelebuk, lalu nyebrang ke Desa Damai,” ujar Ulan, perempuan Temeran.
Begitu mendengar kabar karhutla terjadi, dia turut was-was karena takut api menyebar ke desa tempat dia tinggal.
“Takut la kami, sebab desa kami ini sebelahan dengan Desa Damai. Api lumayan besar, belum lagi asapnya semakin pekat, perih mata.”
Dua hari berselang, hotspot di Kelebuk menurun, di Desa Damai meningkat. Api terus menjalar dari Desa Damai menuju desa tempat dia tinggal, Temeran.
“Mulai tanggal 12 [Februari] api tu dah makin dekat, mulai sore sudah berjaga warga. Betul la, malamnya sudah sampai api ke kebun geronggang kami,” kata Khairi Santo, Ketua RT 8 Dusun Kempas Tinggi, Desa Temeran.
Khairi adalah Ketua Kelompok Masyarakat Rindu Sempadan yang mengelola lahan ditanami geronggang, sejenis pohon lokal yang tumbuh di hutan rawa gambut. Lahan ini merupakan program Badan Restorasi Gambut (BRG), bagian upaya rehabilitasi lahan gambut pasca karhutla 2015.
“Sekarang habis dah terbakar pohon geronggang kami tu semua, adalah sekitar 22-25 hektar kalau dikira-kira.”
Khairi pasrah, tak dapat berbuat apa-apa. Dia dan warga lain sudah berupaya siang dan malam memadamkan api yang membakar geronggang yang 25 keluarga kelola.
“Hangus sudah, tak ada yang bisa dibuat. Harapan kami ke pemerintah, semoga ada perhatian untuk kebun kami yang terbakar ini, supaya ada bantuan, bisa kami usahakan tanam Geronggang lagi,” kata Khairi.

Penanganan karhutla
Dalam pernyataan yang dikutip dari Tribun Pekanbaru, M Edy Afrizal, Kepala Pelaksana BPBD Damkar Riau, melalui Kepala Bidang Kedaruratan Jim Gafur menerangkan upaya maksimal mereka lakukan untuk penanganan karhutla selama 2026.
Tim gabungan tak hanya anggota BPBD baik provinsi, kota hingga kabupaten, juga melibatkan TNI, kepolisian, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Juga, perusahaan di sekitar areal karhutla. Hingga kini, upaya pemadaman dan pendinginan di beberapa lokasi karhutla terus dilakukan.
“Seluruh tim berupaya mengendalikan karhutla, juga dibantu kondisi cuaca yang beberapa hari turun hujan, turut membantu mempercepat pemadaman api,” katanya.
Penanganan bersama tim gabungan dia nilai langkah tepat dalam memperkuat dan mempermudah koordinasi lintas sektor untuk percepatan penanganan karhutla di tingkat tapak.
“Mudah-mudahan optimal dan luasan karhutla dapat dicegah.”
Upaya pemerintah untuk penanganan karhutla juga melibatkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menyemai sekitar tujuh ton garam untuk memicu hujan buatan, terutama di Siak, Indragiri Hilir dan Bengkalis.
Erzansyah, Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Bengkalis juga merincikan upaya dalam menangani karhutla di Bengkalis.
BPBD Bengkalis bersama tim gabungan terus menangani karhutla melalui pemadaman dan pendinginan. Tim terdiri dari anggota BPBD, Satpol PP, pemadam kebakaran, kepolisian, TNI, Manggala Agni, pemerintah desa, MPA, relawan hingga masyarakat.
“Bahkan ini kita jadikan seperti gotong royong. Koordinasinya, bagi pemerintah desa tetangga di sekitar area yang terbakar, turut membantu dan mengerahkan warganya untuk memadamkan api di lokasi.”
Pemadaman ini menggunakan jalur darat dan memanfaatkan alat yang tersedia seperti pompa air, satu eksavator buat menggali tanah, embung darurat untuk mendapatkan air atau membuat sekat bakar.

Erzan jelaskan, penanganan karhutla di lapangan menghadapi banyak tantangan. Kalau terjadi di daerah dengan akses jalan mudah, dapat memanfaatkan mobil damkar.
Namun, katanya, beberapa lokasi, jauh masuk ke areal dengan akses hanya bisa gunakan sepeda motor atau jalan kaki.
“Beberapa lokasi itu, sampai lima kilometer jaraknya dari jalan besar. Kalau sudah begini, tim yang masuk biasanya akan sulit keluar masuk, bahkan sampai menginap di lokasi. Tim lain yang bergantian mengantar logistik.”
Menyoroti sarana prasarana dalam menanggulangi karhutla, kata Erzan, hingga kini alat-alat yang ada cukup memadai. Selain alat BPBD, juga berdayakan sarana desa.
Meskipun begitu, kalau ada pengadaan, dia berharap bisa mengajukan mesin pompa air yang tekanan cukup besar hingga aliran air lebih kencang dan jarak siram lebih jauh.
“Alat saat ini cukup, tapi kalau ada yang lebih baik, tentu kami terima.”
Warga amini kesulitan yang mereka alami dalam menangani karhutla. Ismail, warga Desa Temeran menceritakan pengalaman bersama para pemuda lain memadamkan api.
Sejak 12 Februari, mereka berjaga di area terbakar, hingga tidak tidur menjelang pukul 6.00 pagi. Dengan peralatan seadanya, ember, parang, pompa air tangan serta mesin pompa air mereka kerahkan sepenuhnya untuk memadamkan api.
“Tak tidur memang, takut api hidup lagi. Walau malam itu rasanya sudah padam, tapi ini kan tanah gambut ya. Bara itu bisa menyala lagi. Berhari-hari la kami di lokasi.”

Sulit padamkan api di gambut
Pulau Bengkalis, dominan tanah gambut, dan menjadi tantangan terbesar dalam proses pemadaman karhutla. Dari luas pulau mencapai 80.163 hektar, menurut data gambut Wetlands 2003, 85,4% gambut dengan kedalaman variatif 0,5 hingga lebih empat meter, dan tersebar di 53 desa di pulau itu.
Menurut Adinugroho (2004)[4], ketika kebakaran terjadi pada area gambut, dapat digolongkan kebakaran lapisan bawah tanah (ground fire).
Tipe kebakaran api menyebar secara perlahan di bawah permukaan dan terus membakar bahan organik yang tidak menyala (smoldering).
Api yang membakar permukaan, perlahan menjalar membakar bahan organik melalui pori-pori gambut.
Riki jelaskan, masyarakat terus berjaga dan mengairi gambut dengan alat semprot yang mereka miliki. Alat ini berbentuk seperti ransel dengan pompa tangan manual berkapasitas 12 hingga 20 liter.
Dengan tongkat semprot panjang sekitar 1,5 meter, warga terus menyemprotkan air ke area yang sudah tidak ada nyala api, namun masih berasap putih.
“Semua warga punya alat semprot ini, itulah yang dipakai. Ganti-gantian menyemprot mana yang masih berasap. Seperti itu, terus, sampai tidak tidur semalaman,” kata Riki. (Bersambung)
[1] Fire Information for Resource Management System
[2] Visible Infrared Imaging Radiometer Suite on Suomi National Polar-orbiting Partnership
[3] Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer
[4] Adinugroho, W.C. 2004. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Wetlands International Indonesia Programme : Bogor.
*****