- Warga RW 05, Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur, memiliki Rumah Kompos Pondok Manggala yang digunakan untuk mengolah sampah.
- Sejauh ini, Rumah Kompos Pondok Manggala mampu mengolah sampah organik sebanyak 250 kg untuk sekali produksi. Pada Desember 2025 lalu, bahkan mencapai 300-400 kg.
- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mencatat terdapat 1.800 ton sampah organik dan anorganik yang dihasilkan Kota Surabaya setiap hari. Sekitar 1.000 ton sampah, digunakan sebagai bahan bakar di insinerator PLTSa di TPA Benowo.
- Pengolahan sampah sebaiknya menggunakan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Tanpa pemilahan, semua upaya pengolahan tidak akan efektif dan menimbulkan masalah baru.
Sabtu dan Minggu, biasanya menjadi hari santai atau istirahat bagi sebagian masyarakat. Namun, tidak demikian bagi Okky Harimurti, warga RW 05, Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Dia memilih berjibaku dengan sampah rumah tangga di Rumah Kompos Pondok Manggala. Siang itu, Okky bersama seorang warga tengah mencacah daun dan ranting dari peremajaan pohon di lingkungan tempat tinggalnya.
Di area 5×5 meter ini, sampah organik rumah tangga dimaksimalkan menjadi beragam produk. Di sini juga terdapat 2 tong plastik ukuran sedang dan 5 ukuran kecil, yang disiapkan untuk menampung sampah sisa makanan warga. Dari sini, dipanen air lindi sebagai campuran pembuatan pupuk kompos, maupun media pengembangbiakan maggot.
Ada pula 4 keranjang besar dari kawat anyaman, untuk menampung sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos. Dalam keranjang ini ditancap dua batang bambu yang diberi lubang pada bagian sampingnya. Bambu itu menjadi saluran untuk meniupkan udara dari blower, agar gas panas dari sampah organik keluar.
“Ini metode aerasi, pengembangan teknologi takakura. Bahannya, campuran dedaunan hijau dan sisa makanan,” terangnya, Minggu (15/2/2026).

Setiap pekan, Okky bersama sejumlah warga pengurus membuat pupuk kompos untuk memenuhi kebutuhan kelompok tani yang dibentuk warga RW 05. Metode aerasi ini, mempercepat pembuatan pupuk kompos cukup satu minggu, yang biasanya 3-6 bulan.
Sejauh ini, Rumah Kompos Pondok Manggala mampu mengolah sampah organik sebanyak 250 kg untuk sekali produksi. Pada Desember 2025 lalu, bahkan mencapai 300-400 kg.
“Sebulan, minimal kami mengolah satu ton sampah organik yang semuanya dari warga RW 05,” ujar Okky yang merupakan koordinator rumah kompos.
Selain pupuk, rumah kompos ini juga menghasilkan eco enzym dengan memanfaatkan kulit atau sisa buah-buahan. Enzim digunakan untuk menyuburkan tanaman. Bahkan, sampah sisa makanan mampu mengundang lalat black soldier fly (BSF) yang menghasilkan maggot, sebagai pakan tambahan ikan di kolam budidaya warga.
“Kami juga ingin ada budidaya maggot.”

Bagaimana dengan sampah anorganik? Sampah terpilah langsung diproses di Bank Sampah Cendikia Arutala, yang lokasinya berdampingan dengan Rumah Kompos Pondok Manggala. Jenisnya ada plastik, kardus, karton, kertas, kaca atau botol, besi, alumuniun, dan beberapa jenis lainnya.
“Bank sampah mulai beroperasi pada 2023. Kami menerima sampah-sampah yang bisa didaur ulang, totalnya 34 item. Sampah terpilah harus bersih agar nilai ekonomi lebih tinggi.”
Sampah anorganik yang terkumpul setiap minggu, langsung dijual ke pengepul. Uangnya digunakan untuk operasional penghijauan dan kebersihan lingkungan
“Kami punya tukang angkut sampah yang dibayar RW, jadi sedekah sampah itu untuk pemasukan tambahan petugas,” imbuhnya.

Solusi pengurangan sampah
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mencatat terdapat 1.800 ton sampah organik dan anorganik yang dihasilkan Kota Surabaya setiap hari. Sekitar 1.000 ton sampah, digunakan sebagai bahan bakar di insinerator PLTSa di TPA Benowo.
DLH Kota Surabaya juga mengoperasikan 27 rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah, khusus untuk mengolah sampah organik. Kapasitasnya mencapai 95,17 ton per hari. Pemerintah menghemat hingga Rp6,73 miliar per tahun untuk biaya pengangkutan sampah, dan Rp7,36 miliar per tahun untuk biaya pengolahan sampah di TPA Benowo.
“Belanja pupuk berkurang untuk perawatan tanaman dan pemeliharaan ruang terbuka hijau,” ucap Dedik Irianto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, pertengahan Februari 2026.

Hermawan Some, Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya, mengatakan sampah dapat dikurangi volume dari sumbernya, sehingga tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).
“Sampah sebagai bahan bakar adalah solusi palsu. Bukan menyelesaikan masalah, tapi menimbulkan persoalan baru, karena ada pencemaran dan temuan zat kimia berbahaya,” jelasnya, pertengahan Februari 2026.
Pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar pada PLTSa melalui metode insinerator, gasifikasi, hingga RDF (Refuse-Derived Fuel) atau briket berbahan dasar sampah, saat ini dianggap mengurangi sampah. Namun, polusi udara yang dihasilkan tetap mengandung bahan berbahaya, menimbulkan masalah kesehatan serius bila terakumulasi.
Selain itu, pemanfaatan sampah plastik untuk dijadikan bahan bakar minyak (BBM), kata Hermawan, bukan solusi efektif untuk mengurangi sampah plastik. Cara pirolisis ini, masih membutuhkan energi besar. Selain itu, tidak semua jenis plastik dapat diubah menjadi BBM yang dapat langsung diaplikasikan pada kendaraan bermotor.
“Seperti PET (Polyethylene Terephthalate) atau botol plastik air mineral, tidak bisa jadi BBM maksimal. Biaya operasionalnya juga masih mahal.”
Pengolahan sampah menggunakan sistem pirolisis, insinerator maupun RDF berbasis pemanasan, memiliki aturan baku mutu yang diatur dalam Permen LH 70/ 2016. Aturan ini melarang adanya plastik PVC, alumunium foil, kaca, dan limbah B3, pada proses pengolahan sampah secara thermal.
Hermawan menekankan pentingnya pengolahan sampah menggunakan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Tanpa pemilahan, semua upaya pengolahan tidak akan efektif dan menimbulkan masalah baru.
“Kata kuncinya, pemilahan 3R di sumber. Sudah ada kampung-kampung yang memprakarsai, tempat lain pasti bisa melakukan yang sama. Cara ini yang harusnya dipilih dan dikuatkan,” tandasnya.
*****