- Krisis iklim, konflik agraria, dan perampasan ruang hidup terus berulang di berbagai wilayah di Indonesia. Pembahasan berbagai persoalan itu jarang dari dapur, ladang, dan tubuh orang-orang yang terdampak langsung.
- Rebecca Elmhirst , profesor dari University of Brighton UK, mengajak membalik cara pandang itu dan membaca krisis lingkungan dari relasi kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan Feminist Political Ecology (FPE), krisis iklim bukan sekadar persoalan teknis tentang emisi atau teknologi, melainkan krisis relasi antara manusia dan alam, antara produksi dan perawatan, serta antara pembangunan dan keberlangsungan hidup.
- Ketika hutan dibuka dan lahan dikonsolidasikan menjadi perkebunan monokultur, ruang-ruang yang menopang kehidupan sehari-hari ikut hilang: ladang pangan, sumber air, tanaman obat, dan jalur sosial yang selama ini dirawat bersama. Dampaknya paling terasa di tingkat rumah tangga. Perempuan harus mencari air lebih jauh, mengatur ulang sumber pangan yang kian terbatas, dan menanggung beban kerja perawatan yang meningkat. Sedang kontribusi mereka jarang masuk hitungan dalam narasi keberhasilan industri sawit.
- Pendekatan Feminist Political Ecology (FPE) menawarkan hope-full stories, cerita tentang daya tahan, kreativitas, dan perlawanan sehari-hari. Di Indonesia, harapan hadir dalam praktik menjaga benih lokal, merawat sumber air, mempertahankan hutan, dan membangun solidaritas komunitas.
Krisis iklim, konflik agraria, dan perampasan ruang hidup terus berulang di berbagai wilayah di Indonesia. Pembahasan berbagai persoalan itu jarang dari dapur, ladang, dan tubuh orang-orang yang terdampak langsung. Dalam kuliah umumnya, Rebecca Elmhirst , profesor dari University of Brighton UK, mengajak membalik cara pandang itu dan membaca krisis lingkungan dari relasi kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan Feminist Political Ecology (FPE), Elmhirst menegaskan, krisis iklim bukan sekadar persoalan teknis tentang emisi atau teknologi, melainkan krisis relasi antara manusia dan alam, antara produksi dan perawatan, serta antara pembangunan dan keberlangsungan hidup.
“Semua bentuk kehidupan saling bergantung. Kerusakan pada satu bagian akan berdampak ke bagian lain,” katanya dalam kuliah umum dalam Saparinah Sadli Distinguished Lecture, yang diselenggarakan Program Studi Kajian Gender, Departemen Kajian Stratejik, Ketahanan, dan Keamanan (KSKK), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia Februari lalu.
Perspektif ini menempatkan pengalaman hidup warga, terutama perempuan dan kelompok marjinal, sebagai kunci untuk memahami dampak nyata pembangunan dan mencari jalan keluar yang lebih adil.
Pandangan ini bukan lahir dari ruang akademik yang terpisah dari realitas lapangan. Elmhirst adalah profesor Politik Ekologi di University of Brighton yang lama meneliti dinamika penghidupan, konflik agraria, dan keadilan sosial di Indonesia dan Asia Tenggara.
Selama bertahun-tahun, dia bekerja bersama komunitas pedesaan, perempuan, dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan perkebunan sawit, tambang, dan proyek pembangunan skala besar.
Pengalaman lapangan inilah yang membentuk cara pandangnya, bahwa krisis lingkungan selalu berkelindan dengan relasi kuasa, kerja perawatan, dan kehidupan sehari-hari yang sering luput dari kebijakan dan perdebatan publik.
Satu contoh yang kerap muncul dalam riset dan pengajaran Elmhirst adalah ekspansi perkebunan sawit. Sawit tidak hanya mengubah bentang alam, juga merombak cara hidup komunitas.
Ketika hutan dibuka dan lahan dikonsolidasikan menjadi perkebunan monokultur, ruang-ruang yang menopang kehidupan sehari-hari ikut hilang: ladang pangan, sumber air, tanaman obat, dan jalur sosial yang selama ini dirawat bersama.
Dampaknya paling terasa di tingkat rumah tangga. Perempuan harus mencari air lebih jauh, mengatur ulang sumber pangan yang kian terbatas, dan menanggung beban kerja perawatan yang meningkat. Sedang kontribusi mereka jarang masuk hitungan dalam narasi keberhasilan industri sawit.

Ekstraktivisme dan kolonialisme iklim
Dalam kuliahnya, Elmhirst mencontohkan, kisah Magdalena Pandan, perempuan yang hidup berdampingan dengan industri sawit. Cerita ini membantu melihat dampak ekstraktivisme dari jarak yang paling dekat: tubuh, rumah tangga, dan kehidupan sehari-hari.
Ketika tanah dan hutan berubah menjadi kebun monokultur, akses terhadap pangan, air, dan ruang hidup menyempit. Beban untuk memastikan keluarga tetap makan, sehat, dan bertahan justru semakin berat dan sebagian besar jatuh ke pundak perempuan.
Kisah Magdalena dikaitkannya dengan Chapter 2 buku yang ditulisnya bersama sejumlah penulis lain berjudul Contours of Feminist Political Ecology yang menyoroti ekstraktivisme dan kolonialisme iklim.
Bab ini menunjukkan bahwa industri berbasis sumber daya alam membangun relasi timpang: alam diperlakukan sebagai komoditas, sementara komunitas lokal menanggung dampak ekologis dan sosialnya.
Ekstraktivisme bukan hanya soal pengambilan sumber daya, juga pemindahan beban kerja, risiko kesehatan, dan kerusakan lingkungan ke kehidupan sehari-hari komunitas, terutama perempuan.
Bagian ini menyoroti bagaimana krisis iklim tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan teknis atau lingkungan, melainkan sebagai hasil dari relasi kuasa historis yang berkelindan antara ekstraktivisme, kolonialisme, kapitalisme global, dan ketimpangan gender.
Melalui perspektif FPE, penulis buku ini mengkritik narasi dominan perubahan iklim yang sering menghapus pengalaman kelompok rentan, terutama perempuan, masyarakat adat, dan komunitas lokal.
Ekstraktivisme dipahami bukan sekadar praktik ekonomi, tetapi sebagai proyek politik yang mereproduksi ketidakadilan sosial dan ekologis. Di sini ditunjukkan bagaimana climate colonialism bekerja: negara dan korporasi Global North terus mengekstraksi sumber daya dan “mengekspor” beban krisis iklim ke Global South, sambil membingkai solusi iklim (energi hijau, offset karbon, konservasi) dengan logika pasar yang tetap eksploitatif.
Melalui kisah-kisah komunitas yang kerap tak terdengar, jelas Elmhirst, FPE menekankan pentingnya pengetahuan lokal, kerja perawatan (care work), dan praktik ekologis berbasis komunitas sebagai bentuk perlawanan sekaligus alternatif.
Dia menegaskan, keadilan iklim mensyaratkan transformasi relasi kuasa, bukan hanya transisi teknologi. Pendekatan ini menempatkan pengalaman hidup, tubuh, dan kerja perempuan serta komunitas termarginalkan sebagai pusat analisis dan aksi iklim.
Chapter “Untold Climate Stories” ini sangat relevan dengan Indonesia, negara yang ekonominya masih sangat bergantung pada ekstraktivisme batubara, nikel, sawit, tambang emas dan yang kini masuk fase baru transisi energi.
Bab ini menunjukkan, krisis iklim dan solusi iklim sering kali berjalan dengan logika kolonial lama, hanya berganti bahasa menjadi “hijau” atau “berkelanjutan”.
Dalam chapter ini, penulis menghadirkan cerita komunitas di Global South—termasuk perempuan adat dan masyarakat pedesaan—yang terdampak pertambangan, proyek konservasi, dan skema iklim berbasis pasar.
Cerita-cerita ini paralel dengan pengalaman di Indonesia, perempuan di wilayah tambang yang kehilangan akses air bersih, ruang hidup, dan sumber pangan, sekaligus memikul beban kerja perawatan ketika lingkungan rusak (merawat keluarga sakit, mencari air lebih jauh, menjaga ketahanan pangan rumah tangga).
Bab ini juga mengkritik climate colonialism, yaitu ketika negara dan korporasi global mendorong solusi iklim seperti carbon offset, proyek energi terbarukan skala besar, atau konservasi berbasis pasar, tetapi justru menciptakan konflik lahan dan penggusuran.
Chapter ini juga menampilkan cerita solusi berbasis komunitas, di mana perempuan dan komunitas lokal membangun praktik ekologis non-ekstraktif: pengelolaan lahan bersama, pengetahuan lokal tentang pangan dan air, serta bentuk perlawanan sehari-hari yang sering tidak diakui sebagai “aksi iklim.”
Dalam konteks Indonesia, ini sejalan dengan praktik perempuan adat dalam menjaga hutan, benih lokal, pesisir, dan sungai, yang sering tidak tercatat dalam kebijakan iklim nasional.
Melalui perspektif Feminist Political Ecology, chapter ini menegaskan bahwa keadilan iklim di Indonesia tidak cukup dengan transisi energi atau teknologi hijau. Yang perlu, adalah perubahan relasi kuasa, pengakuan terhadap pengetahuan dan pengalaman perempuan serta masyarakat adat, dan pembongkaran model pembangunan ekstraktif yang, meski berlabel hijau, tetap kolonial.

Kehidupan sehari-hari dan reproduksi sosial
Jika Chapter 2 menyoroti relasi global ekstraktivisme, Chapter 3 buku ini, Extracting Us, yang juga dibahas Elmhirst dalam kuliahnya, mengajak pembaca turun ke ruang yang paling sering luput dari kebijakan lingkungan: kehidupan sehari-hari dan reproduksi sosial.
Bagian ini mengkritik pemahaman ekstraktivisme yang sempit sebagai aktivitas pertambangan atau pengambilan sumber daya alam. Melalui perspektif feminis, ekstraktivisme dipahami sebagai rezim hidup yang menyusup ke rumah tangga, komunitas, dan tubuh.
Ketika lingkungan rusak akibat tambang, perkebunan, atau proyek infrastruktur, beban pemulihan dialihkan ke ranah domestik di mana perempuan mengambil peran sentral tanpa pengakuan ekonomi maupun politik.
Penulis menunjukkan bagaimana kerja perawatan (care work), merawat orang sakit, mengamankan air dan pangan, menjaga kohesi sosial, menjadi bentuk ekstraksi tersembunyi. Kerja ini memungkinkan sistem ekstraktif terus berjalan, karena biaya sosial dan ekologis tidak ditanggung negara atau korporasi, melainkan oleh komunitas.
Juga menyoroti bagaimana kekerasan ekstraktif bersifat interseksional: kelas, gender, ras, dan kolonialisme yang saling memperkuat. Di wilayah Global South, komunitas adat dan perempuan mengalami pelucutan hak atas tanah, kriminalisasi, hingga kekerasan berbasis gender yang terkait langsung dengan proyek ekstraktif.
“Extracting Us” tidak berhenti pada diagnosis ini. Lebih lanjut juga menekankan bahwa, tubuh dan relasi sosial juga menjadi ruang perlawanan.
Praktik solidaritas, ekonomi perawatan, pengetahuan lokal, dan aksi kolektif perempuan sebagai bentuk politik ekologis yang menantang logika ekstraktivisme.
Buku ini menegaskan, melawan krisis iklim dan ketidakadilan ekologis berarti melawan sistem yang mengekstraksi kehidupan itu sendiri, bukan sekadar mengatur ulang sumber daya alam.

Hope-full stories
Perkebunan sawit, terang Elmhirst, tidak hanya mengubah lanskap ekonomi, juga merusak ruang dan relasi yang memungkinkan kehidupan berlangsung; dapur, ladang kecil, sumber air, jaringan sosial, dan kerja perawatan. Fokus kebijakan yang terlalu menekankan produksi membuat kerja perawatan tak terlihat, padahal tanpanya kehidupan tak akan bertahan.
Namun pengalaman seperti Magdalena kerap luput dari pengambilan keputusan karena pengetahuan yang dianggap sah biasa berasal dari studi teknis dan laporan ahli.
Elmhirst menegaskan, pengetahuan tidak pernah netral. Pengalaman hidup warga terdampak sering dianggap subjektif atau emosional, bukan data. Melalui konsep situated knowledge, FPE menyatakan, bahwa pengalaman perempuan yang hidup di sekitar sawit sama sahnya dengan laporan teknis.
Siapa yang berbicara menentukan pertanyaan apa yang dianggap penting dan apa yang diabaikan. Di tengah kritik ini, FPE tidak berhenti pada cerita kerusakan. Mengutip Eve Tuck, akademisi dari University of Toronto, Elmhirst mengingatkan bahaya riset yang hanya berfokus pada penderitaan dan trauma komunitas.
FPE menawarkan hope-full stories, cerita tentang daya tahan, kreativitas, dan perlawanan sehari-hari. Di Indonesia, harapan hadir dalam praktik menjaga benih lokal, merawat sumber air, mempertahankan hutan, dan membangun solidaritas komunitas.
Cerita-cerita ini bertemu dalam FPE sebagai ruang bersama (convening space) yang mempertemukan perempuan desa, masyarakat adat, aktivis, peneliti komunitas, dan akademisi.
FPE menghubungkan perjuangan lokal dengan sistem global tanpa menyeragamkan pengalaman. Konflik sawit, tambang, dan krisis iklim bukan kasus terisolasi, melainkan bagian dari pola yang sama.
Di tengah krisis iklim dan ketidakadilan yang berulang, Feminist Political Ecology mengajak mendengar ulang cerita-cerita yang selama ini terpinggirkan. Dari praktik hidup komunitas di nusantara ini, bisa belajar bahwa perubahan sering berakar dari tindakan sehari-hari, dari menjaga benih, merawat air, mempertahankan tanah, dan membangun solidaritas.

*****
Bisnis Eksploitasi Alam Perparah Kekerasan terhadap Perempuan