- Masyarakat Desa Tendambonggi, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, NTT, menjadikan kopi sebagai tanaman utama di kebun mereka.
- Rata-rata, luas kebun kopi setiap warga adalah setengah hektar dengan robusta dan arabika sebagai tanaman utama.
- Sepanjang 2023, seluruh wilayah NTT mengalami dampak El Nino yang mengakibatkan turunnya produksi pertanian. Namun, tanaman kopi di Tendambonggi berproduksi stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.
- Tidak ada petani yang memiliki gambaran pemanfaatan limbah biji kopi. Limbah dari kulit buah dan kulit biji kopi (ari) sangat melimpah di setiap rumah penduduk. Kini, limbah kulit tersebut menjadi produk bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis seperti pupuk kompos, briket, teh cascara dan cookies kulit kopi.
Desa Tendambonggi yang terletak 34 km sebelah timur Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende, NTT, berada di ketinggian 700 -1200 mdpl. Suhu hariannya yang rata-rata 18o C, menjadikan desa ini separuh siangnya ditutupi kabut.
Sebagian besar, wilayah desa ini berbatasan dengan hutan lindung dengan topografi berlereng, menjadikannya sulit diakses.
Tahun 2020, pemerintah mengubah status 40 ribu hektar kawasan hutan lindung ini menjadi hutan produksi, sehingga masyarakat bisa menanam tanpa merusak hutan dan ekosistemnya.
“Kebun petani di dalam kawasan hutan seluas 60 hektar sementara 55 hektar berada di luar hutan,” jelas Ignasius Saba, Kepala Desa Tendambonggi, Kecamatan Ende, pertengahan Februari 2026.
Berdasarkan kondisi biofisik, tanaman yang cocok untuk desa ini adalah kopi, cengkih, dan pala. Kopi menjadi komoditi primadona di Desa Tendambonggi.
“Rata-rata, luas kebun kopi setiap warga adalah setengah hektar dengan robusta dan arabika sebagai tanaman utama,” ujarnya.

Pengolahan kulit kopi
Sri Wahyuni, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Flores (Unflor), mengatakan Sudah tiga generasi masyarakat Tendambonggi melakukan budidaya tanaman dalam kawasan hutan.
Sepanjang 2023, seluruh wilayah NTT mengalami dampak El Nino yang mengakibatkan turunnya produksi pertanian. Namun, tanaman kopi di Tendambonggi berproduksi stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Dampak kekeringan tidak berpengaruh signifikan terhadap ekosistem kopi yang berada di kawasan hutan,”ungkapnya, pertengahan Februari 2026.
Sri Wahyuni yang tergabung dalam tim Pengabdian Masyarakat Kemdiktisaintek, melakukan pendampingan petani kopi di Tendambonggi. Tahun 2024, tim fokus pada perbaikan budidaya dan manajemen kebun, dan pada 2025 kegiatan diarahkan untuk pengelolaan pascapanen dan pengolahan limbah.
“Tidak ada satu petani yang memiliki gambaran pemanfaatan limbah biji kopi. Limbah dari kulit buah dan kulit biji kopi (ari) sangat melimpah di setiap rumah penduduk,” ungkapnya.
Tm coba mengelola limbah menjadi beberapa produk bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis seperti pupuk kompos, briket, teh cascara dan cookies kulit kopi.
“Produk-produk yang kami hasilkan berkualitas premium,” ucapnya.
Kompos yang dihasilkan kaya unsur N,P, K yang bersumber dari seresah tanaman, kulit kopi, dan kotoran ternak. Juga, mengandung mikro organisme lokal untuk melindungi akar tanaman dari penyakit tular tanah. Kondisi ini membuat kompos dari Tendambonggi berbeda dari tempat lain.

Sri menambahkan, keunggulan produk lokal berupa cascara, tehnya memiliki aroma dan cita rasa (manis dan asam) yang berbeda dari daerah lain.
“Bahannya diperoleh dari kulit buah kopi segar yang dalam proses pembuatanya menggunakan oven sehingga membuat cascara lebih higienis,” ungkapnya.
Sementara itu, briket yang awalnya dibuat untuk mengurangi penggunaan kayu bakar, sejauh ini kurang diminati masyarakat karena proses pembuatannya agak sulit.
“Produk ini, jika dikelola dengan baik menjadi peluang usaha desa yang menjanjikan. Saat uji coba, cookies mencapai angka penjuaan hingga Rp1,2 juta per bulan. Untuk penjualan cascara mencapai 200-300 bungkus per bulan,” ungkapnya.

Sri katakan, tingginya minat konsumen melalui penjualan online dan langsung, menjadi catatan tersendiri bagi tim untuk memberdayakan masyarakat agar dapat mengelola secara profesional.
Namun, ini juga menjadi tantangan terbesar, dikarenakan petani tidak dapat fokus pada pengelolaan limbah. Penyebabnya, petani sudah kewalahan mengurus tanamannya.
“Rata-rata, setiap petani memiliki cengkih, kopi, kemiri, vanili, dan pala, yang kebun mereka letaknya berjauhan dengan topografi curam,” jelasnya.

Ignasius berharap, potensi di wilayahnya bisa dikelola kaum ibu dan anak muda. Alasannya, mereka memiliki banyak waktu luang karena jarang turun ke kebun.
“Peluang usaha ini bila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pendapatan. Dengan begitu, kaum muda tidak perlu meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan,” ujarnya.
*****
Kopi Bajawa, Wajah Kopi Flores yang Mendunia dan Tantangan Perubahan Iklim