- Satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di kebun warga di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Jumat (20/2/2026).
- Saat ditemukan, belalainya terlilit kawat yang dipasang di sekitar lahan.
- Di Desa Karang Ampar, yang dipagari arus listrik bukan hanya kebun, tapi juga rumah warga. Hal tersebut dilakukan karena warga takut akan kehadiran gajah liar. Masyarakat mengerti, gajah seperti manusia yang butuh tempat tinggal dan makananan.
- BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan aliran listrik bertegangan tinggi sebagai cara mengusir satwa liar.
Satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di kebun warga di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Jumat (20/2/2026).
Tubuh gajah betina usia sekitar 20 tahun itu, pertama kali dilihat warga dan langsung dilaporkan kepada pihak berwenang.
“Kami menduga, satwa itu mencari pakan. Saat ditemukan, belalainya terlilit kawat yang dipasang di sekitar lahan,” ujar Anwar, warga Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Selasa, (24/2/2026).
Dia menjelaskan, konflik antara gajah sumatera dengan warga Karang Kampar, tidak terjadi kali ini saja.
“Konfliknya sudah berulang dan kematian gajah di sini juga sudah beberapa kali terjadi.”
Di Desa Karang Ampar, yang dipagari arus listrik bukan hanya kebun, tapi juga rumah warga. Hal tersebut dilakukan karena warga takut akan kehadiran gajah liar. Masyarakat mengerti, gajah seperti manusia yang butuh tempat tinggal dan makananan.
“Sebelumnya, konflik manusia dengan gajah di Karang Ampar tidak separah ini. Namun, setelah perluasan kebun sawit di Kabupaten Bireuen dan banyak kegiatan ilegal di hutan, perseteruan meningkat.”
Anwar menyebutkan, setelah konflik bersenjata antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berakhir, terjadi pembukaan lahan untuk sawit di Kabupaten Bireuen.
“Kawanan gajah terperangkap di Kecamatan Ketol dan hanya bisa bergerak sedikit ke beberapa kecamatan di Bener Meriah. Mereka tidak bisa bergerak di Bireuen karena hutan telah menjadi kebun sawit.”

Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, mengatakan, tim bersama lembaga terkait langsung ke lokasi setelah menerima laporan.
“Berdasarkan pemeriksaan awal, gajah tersebut diduga mati akibat tersengat arus listrik dari kawat yang dipasang di kebun warga. Saat ditemukan, belalainya juga terlilit kawat,” ungkapnya, Senin (23/2/2026).
Untuk memperkuat diagnosa, tim medis telah mengambil beberapa sampel organ dalam dan kotoran untuk diperiksa di laboratorium.
“Tubuh gajah sudah kami kuburkan di area kejadian. BKSDA Aceh telah membuat laporan ke Polres Aceh Tengah, pada 22 Februari 2026.”
BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan aliran listrik bertegangan tinggi sebagai cara mengusir satwa liar.
“Ada metode mitigasi konflik satwa-manusia yang lebih aman dan sesuai ketentuan,” jelas Ujang.

Petani meninggal diinjak gajah liar
Sehari setelah gajah betina ditemukan mati di Desa Karang Ampar, sekitar 10 kilometer dari tempat tersebut, tepatnya di Desa Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, seorang petani bernama Musahar (53) meninggal diinjak gajah liar.
“Korban bersama istri dan anaknya menginap di kebun jagung. Ini merupakan kebiasaan warga, ketika menanam jagung maka harus dijaga dari hama,” kata Sulaiman, warga Pintu Rime Gayo, Selasa (24/2/2026).
Dia mengatakan, berdasarkan pengakuan istri dan anak korban, pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 WIB, Musahar menemukan jejak gajah liar di sekitar pondoknya dan berinisiatif mengikuti arahnya.
“Beberapa saat kemudian, istri korban mendengar raungan gajah. Merasa khawatir, istri korban menghubungi anaknya untuk memastikan keadaan. Anaknya menemukan sang ayah tergeletak di tanah dengan luka injakan di bagian dada dan rahang,” ungkapnya.
Meski sempat dbawa ke rumah sakit di Kabupaten Bireuen, namun nyawa korban tidak terselamatkan akibat luka serius tersebut.
Teuku Irmansyah, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Aceh, mengatakan peristiwa ini menjadi pengingat semua pihak bahwa interaksi dengan satwa liar memiliki risiko tinggi. Perilaku satwa liar dipengaruhi naluri alamiahnya yang sulit diprediksi.
“Pengecekan lapangan dilakukan saat situasi kondusif,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

BKSDA Aceh mencatat faktor pemicu kemunculan gajah liar di kebun dan permukiman masyarakat di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah.
“Kami menemukan beberapa barrier atau pagar listrik/ power fencing dalam kondisi rusak atau tidak terawat. Selain itu, terdapat perubahan jalur jelajah satwa, khususnya gajah akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada November 2025. Ini mengubah pola pergerakan dan habitat alami mereka.”
BKSDA Aceh mengimbau warga untuk sementara waktu menghindari aktivitas di area konflik, serta tidak melakukan penghalauan gajah mandiri.
“Apabila menemukan jejak atau keberadaan gajah di sekitar permukiman, segera lapor ke petugas agar dapat ditangani sesuai prosedur keselamatan. Kami minta masyarakat tetap waspada, demi menghindari terulangnya kejadian serupa,” tegasnya.
*****
Diduga Keracunan, Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Tengah