- Manusia bukan satu-satunya primata yang berbahasa.
- Pada manusia, ikonisitas dapat menjadi bagian dari tata bahasa dan struktur naratif. Pada kera, bukti kombinasi simbolik masih terbatas. Meski begitu, kemungkinan bahwa kera besar menggunakan gestur ikonik sudah cukup untuk mengguncang pandangan lama tentang batas tajam antara manusia dan satwa lain.
- Bagi nenek moyang manusia, gestur ikonik bisa menjadi langkah awal menuju sistem simbolik yang lebih kompleks.
- Bagi dunia konservasi, temuan ini membawa pesan penting. Jika kera besar memiliki fondasi kognitif yang beririsan dengan asal-usul bahasa manusia, maka mereka bukan sekadar satwa liar yang perlu dilindungi karena perannya dalam ekosistem. Mereka adalah cerminan sejarah evolusi kita sendiri.
Di hutan tropis Afrika dan Asia, komunikasi tak selalu berbunyi. Saat bertemu kembali setelah berpisah, simpanse segera memegang tangan, memeluk, dan memberi ciuman. Jane Goodall mengisahkan hal itu kepada wartawan BBC yang mewawancarainya.
Sementara penelitian pada orangutan di Sebangau, Kalimantan Tengah, oleh Andre Knox dan kawan-kawan mencatat sejumlah gestur pada satwa istimewa ini. Bayi orangutan akan mengulurkan tangan atau kaki ke induknya untuk meminta dipeluk atau diangkat. Betapa miripnya komunikasi non-verbal mereka dengan manusia.
Laporan yang dibuat Knox dan kolega berjudul “Gesture Use in Communication between Mothers and Offspring in Wild Orang-Utans (Pongo pygmaeus wurmbii) from the Sabangau Peat-Swamp Forest, Borneo” itu dimuat di International Journal of Primatology.
Lantas, apakah gestur itu hanya sekadar kebiasaan belaka? Atau sebenarnya mereka sadar sedang menyampaikan suatu pesan lewat gerak tubuhnya? Pertanyaan inilah yang dibahas dalam artikel ilmiah terbaru Marcus Perlman (2026), berjudul “Do Great Apes Use Iconic Gestures?” yang dimuat di jurnal Wiley Interdisciplinary Reviews: Cognitive Science.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk menandai adanya dasar-dasar bahasa pada kera. Salah satu yang dicari para pakar linguistik adalah apakah gestur yang ditunjukkan kera mengandung ikonisitas. Maksudnya, apakah gestur memiliki kemiripan dengan makna yang dikehendaki secara mental.
Bayangkan seorang aktor pantomim. Gerakannya disebut ikonik karena bentuk gerakannya sebangun dengan makna yang dimaksud, yang memungkinkan munculnya makna baru di luar konvensi. Ini mirip dengan bagaimana bahasa manusia berkembang. Namun, jika gestur hanya merupakan pengulangan tanpa melibatkan otak dan sensor otot yang kompleks, maka hanya dianggap komunikasi hewan biasa.
“Artikel ini adalah yang pertama memberikan tinjauan komprehensif tentang bukti mengenai ikon dalam gestur kera dibandingkan catatan lainnya. Berdasarkan teori kognitif tentang gestur manusia dan ikonisitas yang berakar pada simulasi sensorimotor dan citra mental, kera memang menunjukkan bukti ikonisitas dalam gestur mereka,” tulis Perlman, pakar linguistik dari Department of Linguistics and Communication, University of Birmingham, Inggris Raya ini.
Menurutnya, dengan ditemukannya dasar-dasar bahasa dalam gerakan ikonik kerabat terdekat manusia itu, maka ada kesinambungan mendasar antara manusia dan kera dalam evolusi bahasa. Jejak bahasa mungkin sudah tercetak jauh sebelum manusia moderen muncul.

Gestur yang mirip manusia
Mengutip laporan itu, bahasa dulu dipahami hanya yang diartikulasikan. Namun kini berkembang termasuk di dalamnya gestur. Seperti bahasa isyarat, bahasa tak hanya yang bisa didengar, namun juga yang dilihat. Sehingga ikonisitas pun meluas.
Selama beberapa dekade terakhir, para peneliti yang mengamati simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan menemukan bahwa mereka memiliki repertoar gestur yang kaya. Gerakan tangan, lengan, kepala, bahkan seluruh tubuh digunakan untuk menyampaikan maksud tertentu. Meminta makanan, mengajak bermain, meredakan konflik, menirukan gerakan, atau memulai interaksi sosial.
Menariknya, gestur ini tidak selalu kaku. Kera besar dikenal fleksibel dalam berkomunikasi. Jika satu gerakan tidak direspons, mereka bisa mengulanginya dengan penekanan lebih kuat atau memodifikasinya. Mereka juga tampak peka terhadap perhatian lawan interaksi. Menunggu tatapan sebelum memberi sinyal lainnya, atau menyesuaikan posisi tubuh agar terlihat jelas.
Perlman mengutip catatan peneliti lain berangka tahun 1971 yang menggambarkan gerakan ikonik simpanse muda bernama Viki, yang tinggal di lingkungan manusia. Peneliti itu mencatat gerakan Viki saat menyaksikan proses pembuatan roti. Dia memohon sampel adonan roti dengan melakukan gerakan menguleni sebentar, lalu mengulurkan tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Dia lalu menggerakkan jari-jarinya seperti memberi isyarat “berikan padaku.”
Dalam kesempatan lainnya, Viki menirukan gerakan menyetrika dengan menggerakkan tangan yang terkepal bolak-balik di atas papan setrika, sambil coba merebut setrika.

Studi-studi terbaru lebih memperkaya temuan tentang komunikasi kera besar, termasuk indikasi penggunaan gestur yang bersifat ikonik. Pengamatan lapangan dan penelitian eksperimental menunjukkan semakin banyak simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan yang memperlihatkan gerakan tubuh menyerupai tindakan atau maksud tertentu.
Variasi dan konsistensi pola ini membuat para peneliti mulai mempertimbangkan gestur bukan sekadar kebetulan atau hasil pembiasaan semata. Namun, mengandung unsur representasional lebih kompleks, yang mungkin berkaitan dengan fondasi evolusioner bahasa manusia.
Merujuk artikel Perlman, gerakan ikonik yang paling sering diamati, pertama, adalah sentuhan direktif. Untuk melakukan hal ini, kera akan memberi dorongan atau menarik dengan segala variasinya. Misalnya, induk orangutan yang meminta anaknya mendekat ke arahnya dengan menariknya.
Kedua, arahan visual. Ini termasuk berbagai gestur memberi isyarat, memohon, menunjuk sesuatu. Contohnya adalah kera yang menunjuk dengan tangannya ke arah objek tertentu dan meminta pengasuhnya untuk memperhatikan objek yang ditunjuk.
Jenis ikonik ketiga, yang lebih rumit dan canggih secara semiotik adalah tindakan pantomim. Ini seperti yang dilakukan simpanse Viki yang menguleni bahan roti atau menyetrika. Menurut Perlman, tindakan pantomim yang kompleks ini kerap diperagakan oleh kera yang tinggal di lingkungan manusia. Meski begitu, tindakan pantomim juga teramati oleh peneliti di alam liar. Misalnya, Goodall pernah mengamati simpanse yang meminta pasangannya merawat bagian tertentu dengan cara mengarahkan ke area yang dimaksud.

Orangutan juga teramati melakukan aksi pantomim. Pernah seekor orangutan teramati berpura-pura tidak mampu membuka kelapa. Lalu, ia memotongnya dengan tangkai daun kelapa sebagai permintaan agar manusia memotongnya dengan parang untuk dirinya.
Menariknya, penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kera besar mampu menggunakan alat, merencanakan tindakan, dan memahami tujuan individu lain. Jika mereka sudah memiliki kapasitas kognitif untuk memahami hubungan sebab akibat dan niat, maka bukan mustahil mereka juga mampu membuat gerakan mirip dengan apa yang mereka ingin sampaikan.
Dengan kata lain, tubuh mereka mungkin bukan sekadar alat ekspresi, melainkan medium representasi.
“Sebagai kera besar, kita semua berbagi kecenderungan untuk membentuk anggota tubuh kita menjadi representasi tindakan bermakna, dan pada gilirannya, untuk memahami representasi ikonik ini dalam sebuah konteks. Kapasitas mendasar untuk gerakan ikonik ini mungkin merupakan pendahulu penting untuk evolusi bahasa,” ungkap Perlman.

Konsekuensi
Jika kera besar menunjukkan bentuk dasar ikonisitas, maka fondasi tersebut mungkin sudah ada pada nenek moyang bersama manusia dan kera jutaan tahun lalu. Bahasa mungkin lahir dari tubuh yang bergerak, bukan semata-mata dari otak yang berbicara.
Dalam konteks ini, ikonisitas menjadi jembatan evolusioner. Tanda yang menyerupai makna tentu lebih mudah dipahami ketimbang simbol yang disepakati. Bagi nenek moyang manusia, gestur ikonik bisa menjadi langkah awal menuju sistem simbolik yang lebih kompleks.
Pada manusia, ikonisitas dapat menjadi bagian dari tata bahasa dan struktur naratif. Pada kera, bukti kombinasi simbolik masih terbatas. Meski begitu, kemungkinan bahwa kera besar menggunakan gestur ikonik sudah cukup untuk mengguncang pandangan lama tentang batas tajam antara manusia dan hewan lain. Manusia bukan satu-satunya primata yang berbahasa.
Di hutan yang terancam deforestasi, pada populasi yang terus menyusut akibat perburuan dan fragmentasi habitat, tersimpan jejak awal kemampuan yang kelak berkembang menjadi puisi, sains, dan hukum.
Bagi dunia konservasi, temuan ini membawa pesan penting. Jika kera besar memiliki fondasi kognitif yang beririsan dengan asal-usul bahasa manusia, maka mereka bukan sekadar satwa liar yang perlu dilindungi karena perannya dalam ekosistem. Mereka adalah cerminan sejarah evolusi kita sendiri.
Referensi:
Knox, A., Markx, J., How, E., Azis, A., Hobaiter, C., van Veen, F. J., & Morrogh-Bernard, H. (2019). Gesture use in communication between mothers and offspring in wild orang-utans (Pongo pygmaeus wurmbii) from the Sabangau Peat-Swamp Forest, Borneo. International Journal of Primatology, 40(3), 393-416. https://link.springer.com/article/10.1007/s10764-019-00095-w
Perlman, M. (2026). Do great apes use iconic gestures?. Wiley Interdisciplinary Reviews: Cognitive Science, 17(1), e70022. https://doi.org/10.1002/wcs.70022
*****