- Pertengahan Januari 2026, warga Desa Cigandeng, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, dikejutkan dengan kemunculan seekor satwa liar besar berbulu hitam lebat di sekitar permukiman mereka.
- Satwa tersebut adalah binturong (Arctictis binturong), satwa langka dan dilindungi yang seharusnya menjadi kebanggaan biodiversitas Indonesia.
- Namun, yang paling ikonik dari binturong adalah aromanya. Satwa ini disebut mengeluarkan bau khas harum, yang digambarkan seperti popcorn mentega dari kelenjar bau di bawah ekornya.
- Populasinya binturong diperkirakan turun hingga 30% dalam tiga dekade terakhir akibat perusakan habitat, perburuan, dan perdagangan ilegal. Di Indonesia, ia dilindungi berdasarkan Permen LHK No. P.106/2018. Sementara IUCN telah mengkategorikan binturong sebagai Vulnerable (Rentan) sejak 2008.
Pada pertengahan Januari 2026, warga Desa Cigandeng, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, dikejutkan dengan kemunculan seekor satwa liar besar berbulu hitam lebat di sekitar permukiman mereka.
Warga belum pernah melihat sebelumnya dan mengira itu serigala. Ada pula yang beranggapan bahwa itu adalah “hewan jadi-jadian”. Hingga akhirnya satwa itu dilumpuhkan. Hasil pemeriksaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Serang menunjukkan. adanya luka jerat dan luka tembak di leher satwa tersebut.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan luka jerat dan luka tembak di bagian leher binturong. Luka tembak itu bukan disebabkan aktivitas perburuan, tapi karena tidak tahu dan dikira serigala bahkan menganggap hewan jadi-jadian,” kata Tuwuh Rahadianto Laban, Kepala BKSDA Wilayah III Serang, sebagaimana dikutip dari detik.com.

Hewan yang mati sia-sia itu adalah binturong (Arctictis binturong), satwa langka dan dilindungi yang seharusnya menjadi kebanggaan biodiversitas Indonesia. Dilansir dari WildWelfare, binturong yang secara umum dikenal sebagai bearcat atau kucing beruang, sejatinya adalah anggota famili Viverridae. Ia masih kerabat dekat musang. Satwa ini termasuk kelompok mamalia berukuran sedang yang hanya ditemukan di Afro-Eurasia, termasuk di Indonesia, karena hidup di hutan hujan tropis Asia Tenggara.
Penampakan tubuhnya seperti tertutup rambut kasar, panjang, dan lebat. Sedangkan warna tubuh biasanya hitam legam atau hitam kecokelatan, kadang-kadang dengan ujung rambut abu-abu atau perak yang memberikan kesan beruban. Kaki belakangnya dapat berputar ke belakang, memungkinkan menuruni pohon dengan kepala lebih dulu sambil cakar tetap menancap kuat.
Namun, yang paling ikonik adalah aromanya. Binturong disebut mengeluarkan bau khas harum, yang digambarkan seperti popcorn mentega dari kelenjar bau di bawah ekornya. Aroma ini digunakan untuk menandai wilayah dengan cara menyeret ekor di dahan atau tanah. Alih-alih mistis, ia justru harum dan unik. Sayangnya, keunikan ini tak banyak dikenal masyarakat dan di mata mereka binturong adalah monster asing yang harus disingkirkan.
WildWelfare, organisasi internasional yang menerbitkan panduan perawatan binturong, menyebut bahwa satwa ini sebenarnya cukup aktif. Meski termasuk dalam Ordo Carnivora, namun sebenarnya mereka juga banyak memakan buah-buahan pada kesempatan tertentu (opportunistic). Binturong juga akan makan daging bangkai, telur, batang dan pucuk tumbuh-tumbuhan.
“Meskipun terlihat bergerak lambat, binturong merupakan hewan yang cukup aktif. Selain memanjat, binturong juga diketahui dapat berenang bahkan menyelam ketika mencari makan,” tulis laporan panduan yang diterjemahkan Amanda Faradifa.

Satwa toleran dan damai
Berdasarkan penelitian tentang perilaku harian binturog di lingkungan konservasi ex-situ Taman Margasatwa Ragunan, diketahui bahwa lebih dari 80 persen waktu hidup satwa ini dihabiskan untuk beristirahat. Pengamatan dilakukan terhadap tiga individu binturong yang dinamai Gaza (binturong betina dari Kalimantan), Amoy (binturong jantan dari Kalimantan), dan Martin (binturong jantan dari Sumatera).
Sebagai hewan arboreal, atau lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon, tim peneliti dari Universitas Nusa Bangsa ini mencatat, bahwa Gaza menjadi “ratu pemalas” dengan 87,61% waktu untuk istirahat atau setara 6.833 menit dari total pengamatan. Amoy tak kalah santai dengan 84,75%.
Sementara Martin, sedikit lebih aktif namun tetap mencatat 82,64% untuk berbaring. Untuk aktivitas agonistik atau perilaku agresif, hampir tidak ada. Martin tercatat hanya 3 menit (0,03%) sepanjang pengamatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa binturong adalah satwa yang sangat toleran dan damai.

Penelitian lainnya mengenai binturong di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi, Provinsi Bangka Belitung, mengamati tiga individu; yaitu binturong jantan (Wembi dan Bembi) serta binturong betina (Maya). Para peneliti menggunakan pendekatan berbeda, yakni menghitung frekuensi, bukan durasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa di balik stereotip “pemalas”, binturong tetap memiliki kepribadian beragam. Maya adalah individu paling aktif dengan frekuensi lokomosi (gerakan) 233 kali, dan lokomosi terendah pada Bembi dengan frekuensi 74,5 kali.
Dari beragam perilaku yang diamati, salah satunya adalah perilaku menggaruk kayu, dan yang paling banyak melakukan adalah, pertama Wembi dengan rata-rata 41 kali, yang kedua Maya dengan rata-rata 23 kali, dan ketiga Bembi dengan rata-rata 4,5 kali.
“Binturong di PPS Alobi tentunya berbeda dengan yang di alam bebas. Binturong di sini sudah beradaptasi dengan lingkungan kendang yang memiliki ruang terbatas dibandingkan lingkungan alam bebas, sehingga dapat memicu perubahan perilaku binturong,” ungkap para peneliti.
Populasinya binturong diperkirakan turun hingga 30% dalam tiga dekade terakhir akibat perusakan habitat, perburuan, dan perdagangan ilegal. Di Indonesia, ia dilindungi berdasarkan Permen LHK No. P.106/2018. Sementara IUCN, mengkategorikan Vulnerable (Rentan) sejak 2008.
Kematian binturong di Banten bukan karena kebencian atau perburuan. Ia mati karena ketidaktahuan. Satwa ini telah lama hilang dari pengetahuan kolektif warga, dari dongeng nenek moyang, dari buku sekolah, dari berita televisi. Ketika masyarakat tak lagi mengenalnya, yang terjadi justru tragedi karena ia dianggap sebagai makhluk asing dan mistik.
Padahal, Indonesia adalah rumah bagi keanekaragaman hayati global. Jika kita tak ingin tragedi serupa terulang, literasi satwa harus menjadi prioritas. Bukan hanya untuk binturong, tetapi untuk seluruh biodiversitas yang kian terdesak. Jangan sampai kearifan lokal yang dulu mengajarkan harmoni dengan alam, kini tergantikan oleh kecurigaan.
Daftar Pustaka
Anggraini, W., Azizah, M., & Widhyastini, I. G. A. M. (2023). Daily Behavior of Binturong (Arctictis binturong) in Ex-situ Conservation Taman Margasatwa Ragunan. Sains Natural: Journal of Biology and Chemistry, 13(2), 92–98. https://doi.org/10.31938/jsn.v13i2.471
Anggraeni, A., Shabirah, F., Fauziyah, Z., Nandi, F. J., Pramudita, R., & Citra, M. A. (2023). Perilaku Binturong (Arctictis binturong) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi, Provinsi Bangka Belitung. EKOTONIA: Jurnal Penelitian Biologi, Botani, Zoologi dan Mikrobiologi, 8(2), 48–61. https://doi.org/10.33019/ekotonia.v8i2.4157
Detik.com. (2026, 19 Januari). Bukan Diburu, Binturong Mati di Banten karena Warga Kira Hewan Jadi-jadian. detikNews. https://news.detik.com/berita/d-8314456/bukan-diburu-binturong-mati-di-banten-karena-warga-kira-hewan-jadi-jadian
Wild Welfare. (n.d.). Perawatan untuk Binturong (Arctictis binturong) (A. Faradifa, Penerj.). WildWelfare.org. https://wildwelfare.org/wp-content/uploads/Binturong-Indonesian-PDF-1.pdf
*****