- Kerusakan habitat alami menyebabkan bekantan (Nasalis larvatus) berkeliaran di jalanan dan permukiman. Gina, warga RT 29 Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan menyaksikan sendiri bagaimana bekantan itu berkeliaran di sekitar pekarangan rumahnya yang berada di sebuah gang kecil.
- Beberapa petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim sempat datang dengan membawa senapan bius dan kurungan. Namun, setelah menunggu hingga sore, satwa yang terancam punah itu tak juga muncul.
- Catatan Mongabay, selama Oktober 2025 sampai Januari 2026, ada lima individu bekantan berada di luar habitatnya dan berkeliaran di sekitar Kota Balikpapan, Samarinda dan Penajam Paser Utara. Dua di antaranya tewas tertabrak kendaraan bermotor, termasuk di jalan tol Balikpapan-Samarinda Oktober 2025.
- Stanislav Lhota, peneliti primata asal Ceko mengatakan, temuan bekantan di luar habitat ini menunjukkan adanya kerusakan yang serius pada ruang hidupnya. Habitat alami mereka banyak yang rusak dan terfragmentasi oleh proyek pembangunan.
Darman terkejut melihat pesan WhatsApp dari seorang nelayan soal video dan foto yang menunjukkan bekantan (Nasalis larvatus) tergeletak tak bernyawa. Bekantan dewasa itu di tepi jalan dengan mulut dan hidung berdarah.
Sebelumnya, insiden itu tak pernah terjadi di sekitar rumah Darman yang berada di sekitar pesisir kampung Pantai Lango, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim) itu. Lokasi kecelakaan itu tak jauh dari areal pembangunan Bandara Nusantara dan Jalan Tol penghubung Pulau Balang sebagai fasilitas penunjang Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Belum pernah ada kecelakaan seperti ini (melibatkan bekantan/satwa liar) di sekitar sini,” kata Darman ketika Mongabay temui di rumahnya.
Akhir tahun lalu, dua bekantan dilaporkan berada di luar habitatnya. Salah satunya bahkan berada di tengah permukiman Kota Balikpapan. Sementara yang lain, terlihat melintasi Jalan Tol Balikpapan-Ibu Kota Nusantara (IKN).
Gina, warga RT 29 Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan menyaksikan sendiri bagaimana bekantan itu berkeliaran di sekitar pekarangan rumahnya di gang kecil. Kemunculan bekantan itu juga tak menentu.
“Tapi, dia nggak ganggu (masyarakat), sih. Kan ada motor lalu-lalang. Takut dia itu. Kadang langsung kabur,” katanyha, Selasa (20/1/26).
Sampai saat ini, belum ada evakuasi untuk bekantan yang tengah berkeliaran itu. Padahal, sejak kemunculan awalnya, sudah terhitung empat bulan lamanya.
“Terakhir kelihatan itu tiga hari lalu, pas sepi dia (bekantan) itu keluar, seperti siang-siang begini kan orang pada di dalam rumah.”
Akhir 2025, kata Gina, beberapa petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim sempat datang dengan membawa senapan bius dan kurungan. Setelah menunggu hingga sore, satwa yang terancam punah itu tak juga muncul.
Bambang Hari Trimarsito, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III BKSDA Kaltim benarkan hal itu. Mereka sempat turun ke lokasi, sekaligus mengedukasi warga agar tidak melukai satwa yang populer dengan sebutan ‘monyet Belanda’ itu.
Sejauh ini, balai belum bisa mengidentifikasi asal muasal bekantan itu.
“Kami siap kapanpun, makanya kami minta tolong warga seandainya itu (bekantan) muncul, bisa langsung (menghubungi) ke kami agar cepat penanganannya,” jelas Bambang, Januari lalu.
Bambang tak menampik, beberapa bulan terakhir, terdapat beberapa temuan bekantan yang keluar dari habitatnya di sekitar Balikpapan.
“Kalau sering sih setahu saya baru-baru kemarin ya, dari Oktober itu.”

Keliaran di permukiman
Catatan Mongabay, selama Oktober 2025 sampai Januari 2026, ada lima bekantan berada di luar habitatnya dan berkeliaran di sekitar Kota Balikpapan, Samarinda dan Penajam Paser Utara.
Dua di antaranya tewas tertabrak kendaraan bermotor, termasuk di jalan tol Balikpapan-Samarinda Oktober 2025. Sementara satu individu lainnya pada Januari, sebagaimana laporan Darman yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian.
Mappaselle, Direktur Eksekutif Kelompok Kerja (Pokja) Pesisir bilang, kondisi ini menandakan adanya habitat alami bekantan yang rusak.
“Dia (bekantan) pasti melewati lintasan jelajah yang pernah dilalui sebelumnya. Tetapi nahasnya, harus tertabrak kendaraan,” sesalnya, kepada Mongabay Januari lalu.
Lokasi-lokasi esensial itu, berada di kawasan yang baru saja ‘dibuka’ untuk fasilitas penunjang IKN. Kota yang digadang bakal menjadi forest dan green city itu pun menunjukkan paradoksnya. Karena, aspek pendukung keseimbangan ekosistem lain di sekitarnya terabaikan.
“Katanya kota hijau atau kota hutan, tetapi mengabaikan aspek lain yang mendukungnya. Keberadaan bekantan menunjukkan kekayaan biodiversitas dalam ekosistem, seharusnya dijaga, bukan justru habitatnya dirusak.”
Dia katakan, koridor satwa buatan yang akan mengganti lintasan satwa yang terputus akibat deforestasi pun belum selesai dikerjakan, meski efektivitasnya juga disangsikan.
Mereka justru menemukan titik lokasi lain yang bisa menjadi alternatif koridor satwa buatan dengan mempertimbangkan kondisi pembangunan eksisting. Hal itu merujuk lokasi temuan bekantan yang melintasi jalan tol IKN itu berada cukup jauh dari titik lokasi pembangunan koridor satwa buatan.
“Tim kami menemukan jejak-jejak satwa di titik lain. Lokasinya, bahkan jauh dari titik koridor satwa (yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum). Berarti, memungkinkan sekali adanya koridor lain yang berbentuk terowongan di bawah badan jalan (yang sudah terbangun).”
Tak hanya pembangunan fasilitas penunjang IKN, deforestasi di titik lain untuk pembangunan memang berada tepat di habitat alami satwa liar dan dinilai menjadi faktor utama temuan bekantan kecelakaan, maupun terjebak atau terisolir di lokasi tertentu. Akhirnya, bekantan terdesak, kebingungan, karena habitatnya sudah hilang.
Mappaselle khawatir kondisi itu bisa menjadi jauh lebih buruk dan menyebabkan bekantan terisolasi di satu lokasi dan tidak bisa leluasa menjelajah seperti semula.
“Mau lari ke mana lagi dia? Khawatirnya, terisolasi. Habitat alaminya kan sudah hilang atau rusak kan. Membuat dia kebingungan ketika berhadapan dengan manusia, bahkan kendaraan, akhirnya dia (bekantan) tertabrak di jalan ketika berusaha melintas,” katanya.

Tuntut perlindungan habitat
Stanislav Lhota, peneliti primata asal Ceko yang pernah melakukan riset di Teluk Balikpapan mengatakan, temuan bekantan di luar habitat ini menunjukkan adanya kerusakan yang serius pada ruang hidupnya.
“Masalah utamanya adalah hilangnya habitat alami dan fragmentasi wilayah hidup,” katanya dalam pernyataan tertulisnya kepada Mongabay.
Temuan bekantan yang melintasi jalan tol menuju IKN di Karang Joang, Kota Balikpapan itu, kemungkinan berasal dari kawasan mangrove di Sungai Somber.
Kini, kelompok bekantan yang ada di kawasan itu terisolasi dari habitat utama bekantan lainnya. Juga tidak lagi terhubung dengan kawasan terdekatnya, misalnya Sungai Wain.
Secara perilaku, primatologis ini bilang, bekantan termasuk primata semi-terestrial yang memungkinkan mereka tidak hanya bergerak di atas pohon atau arboreal, tetapi juga di tanah.
“Namun, mereka tidak memiliki pengalaman dengan kendaraan bermotor. Akibatnya, risiko tertabrak kendaraan menjadi sangat tinggi.”
Bahaya lainnya juga muncul dari kawasan yang telah terbangun. Terutama, berhadapan dengan kabel listrik dan jaringan utilitas lainnya.
“Di banyak tempat, bekantan terlihat bergerak di sepanjang kabel atau jaringan utilitas, yang tentu saja berisiko tinggi tersengat listrik atau mengalami cedera berat.”
Stan merekomendasikan kepada pemerintah untuk bisa menambah koridor satwa buatan di titik lainnya. Tak hanya dalam areal jalan tol saja. Misal, di sekitar kawasan Pantai Lango, Kabupaten Penajam Paser Utara. Sebab di lokasi tersebut, terdapat beberapa kelompok bekantan yang telah terisolasi di kawasan mangrove yang tersisa.
“Jika tidak dibuat jalur penghubung yang memungkinkan mereka berpindah antar-area, populasi di sebelah Pantai Lango akan punah dalam waktu dekat.”

Koridor satwa itu, kata Stan, akan menjadi langkah penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup populasi mereka. Bahkan, tak hanya untuk bekantan, namun juga banyak jenis satwa lain yang membutuhkan koridor untuk bergerak antarhabitat.
Menurut dia, perlindungan habitat satwa liar adalah hal yang paling penting dilakukan. Namun, tak hanya berhenti pada kawasan mangrove saja. Juga kelestarian zona penyangga hijau atau green buffer zone di sekitar mangrove sebagai sumber protein kaya nutrisi.
“Bekantan juga bergantung pada daun muda dari hutan sekunder di luar mangrove sebagai sumber nutrisi tambahan. Karena itu, penting adanya zona penyangga hijau (green buffer zone) di sekitar mangrove,” katanya.
Kebutuhan protein untuk bekantan, kata dia, tak hanya berasal dari mangrove karena kandungan protein yang rendah.
“Jika seluruh lahan di tepi mangrove dijadikan kawasan pembangunan tanpa vegetasi, maka ekosistem mangrove akan kehilangan fungsi ekologisnya dan menjadi habitat yang nyaris kosong.”
*****
Studi: Perdagangan dan Penyitaan Bekantan di Indonesia Meningkat dalam Dua Dekade