- Indonesia akhirnya menyelesaikan penyusunan Peta Karang dan Padang Lamun 2025 dan meluncurkannya secara resmi pada 4 Desember 2025. Capaian itu sangat penting untuk menjaga ekosistem laut, sekaligus sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
- Koswara, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP mengatakan, selain peran ekologis, karang dan padang lamun juga jadi fondasi ekonomi dan sosial bagi jutaan masyarakat pesisir. Karang dan padang lamun, kata dia, bisa membentuk dirinya menjadi ekosistem untuk habitat penting spesies ikan dan biota laut.
- Pramaditya Wicaksono, Koordinator Project ISMP mengayakan, karang dan lamun mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar hingga ribuan tahun. Dari hasil pemetaan terbaru, luas terumbu karang capai 2,3 juta hektar, dan padang lamun 660.000 hektar yang tersebar di seluruh pesisir, terutama di wilayah timur Indonesia.
- Kendati memiliki peran penting, padang lamun hadapi ancaman yang juga tak kalah serius. Terutama dari sedimentasi. Pasalnya, sedimen yang masuk ke laut akan sebabkan air keruh, sehingga lamun tidak bisa berfotosintesis dengan optimal. Selain itu, nutrisi yang terkandung di sedimen akan memicu pertumbuhan alga dan membuat lamun kalah saing.
Akhirnya, Indonesia menyelesaikan penyusunan Peta Karang dan Padang Lamun 2025 dan meluncurkan resmi 4 Desember lalu. Capaian itu sangat penting untuk menjaga ekosistem laut, sekaligus sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan, peta itu menjadi fondasi kuat terkait pengelolaan karbon biru. Ia sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110/2025 tentang Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca.
“Ini bukan sekedar angka, ini adalah fondasi agar setiap kebijakan berbasis pada data yang akurat,” katanya
Selain Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai pemimpin dan Indonesian Seagrass Mapping Partnership (ISMP), penyusunan peta itu libatkan sejumlah pihak. Antara lain, Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Universitas Hasanuddin (Unhas).
Ada juga The University of Queensland Australia, The David Lucille Packard Foundation, selaku penyokong pembiayaan, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melalui program koralestari dengan pendanaan Global Fund for Coral Reefs (GFCR).
Koswara, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP mengatakan, bagi Indonesia, karang dan lamun bukan hanya aset ekologis. Keduanya menjadi fondasi ekonomi dan sosial bagi jutaan masyarakat pesisir.
Karang dan padang lamun, katanya, bisa membentuk diri menjadi ekosistem untuk habitat penting spesies ikan dan biota laut. Keduanya juga bisa menjadi penjaga produktivitas perikanan tangkap dan budidaya.
Kedua ekosistem itu merupakan aset yang bisa mendorong perputaran ekonomi bernilai ratusan miliar rupiah per hektare per tahun. Misal, aktivitas pariwisata dari terumbu karang bisa menjadi sumber pekerjaan dan pendapatan bagi warga lokal.
“Secara struktur, karang dan padang lamun yang kompleks mampu meredam energi gelombang, sehingga melindungi garis pantai dari abrasi.”
Untuk itu, kehadiran peta mutakhir akan menjadi bagian penting dalam tata kelola laut Indonesia. Sekaligus menjadi komitmen pemerintah untuk membangun ekonomi biru berbasis ilmu pengetahuan.
Koswara meyakini, keberadaan peta terbaru ini akan meningkatkan efektivitas perlindungan ekosistem dan pengelolaan pesisir. Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Menyerap karbon
Pramaditya Wicaksono, Koordinator Project ISMP memberi penegasan pentingnya padang lamun. Ekosistem ini, katanya, mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar dalam jangka waktu hingga ribuan tahun.
Kemampuan istimewa itu membuat padang lamun termasuk salah satu komponen dalam upaya mitigasi perubahan iklim sektor kelautan.
Berdasarkan hasil pemetaan nasional 2025, terumbu karang luasnya mencapai 2,3 juta hektar, dan luas ekosistem padang lamun terkini mencapai 660.000 hektar.
Menurut Guru Besar bidang Penginderaan Jauh Biodiversitas Pesisir UGM itu, luasan padang lamun tersebar di seluruh area pesisir, terutama di wilayah timur Indonesia dengan sebaran terbanyak. Itu pula yang jadikan Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut tropis dunia.
“Pemutakhiran ini menjadi titik tolak penting untuk kebijakan pembangunan ekonomi biru dan upaya mitigasi perubahan iklim, yang sejalan dengan prioritas pembangunan nasional.”
Peta terbaru ini tersusun dengan meningkatkan resolusi dari skala 1:250.000 pada 2013 menjadi 1:50.000 pada 2025. Selain resolusi, penggunaan citra satelit sebagai sumber data juga lebih baik dengan pengecekan lapangan yang luas dan mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Pemetaan berlangsung dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2 dengan resolusi spasial 10×10 meter yang terintegrasi dengan data survei lapangan.
Tim juga mengumpulkan ratusan ribu data primer melalui survei sejak 2022, untuk memastikan ketepatan interpretasi citra satelit dan konsistensi klasifikasi habitat.
Guna menjaga akurasi peta, lanjut Pramaditya, pemrosesan berlangsung dua tahap, yakni, validasi lapangan langsung dan validasi publik. Kemudian, tim juga mengundang semua pemangku kepentingan di Indonesia untuk berkontribusi dalam proses validasi tersebut.
“Feedback dari mereka kita ulas kembali untuk proses finalisasi peta,” katanya.

Ancaman sedimentasi
Kendati memiliki peran penting, padang lamun hadapi ancaman tak kalah serius, terutama dari sedimentasi. Pasalnya, sedimen yang masuk ke laut sebabkan air keruh, hingga lamun tidak bisa berfotosintesis dengan optimal.
Selain itu, nutrisi yang terkandung di sedimen akan memicu pertumbuhan alga dan membuat lamun kalah saing.
Ancaman berikutnya, pembangunan infrastruktur dan reklamasi pantai yang mengeruk padang lamun. Ada juga, kompetisi ruang dengan budidaya rumput laut, serta kerusakan fisik akibat baling-baling kapal pariwisata.
Pramuditya pun berharap peta yang tersusun itu tak sekadar menjadi dokumen statis tetapi harus menjadi media untuk pemantauan berkala terhadap semua ancaman itu. Dengan demikian, akan ada informasi detail, mencakup waktu, dinamika, dan fluktuasi luasan.
Selain menjaga kelangsungan hidup biota laut, katanya, padang lamun juga bisa membuat air laut menjadi jernih, dan menjadi stabilisator perairan. Tetapi, vegetasi lamun sering tidak terlihat atau terabaikan oleh terumbu karang atau mangrove.
Peran lain yang juga tak kalah penting, sebagai area asuh bagi ribuan jenis ikan, mengikat sedimen untuk mencegah abrasi, menyimpan karbon, hingga sumber pakan utama bagi megafauna yang dilindungi, seperti dugong dan penyu hijau.
Firdaus Agung, Direktur Konservasi Ekosistem KKP mengatakan, peta terbaru ini akan menjadi acuan untuk mendukung perencanaan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan. Termasuk, penetapan kawasan konservasi, pengelolaan perikanan berbasis ekosistem, dan pengembangan wisata bahari yang ramah lingkungan.
Data sebaran ekosistem ini akan menjadi dasar ilmiah dalam menyusun target penurunan emisi karbon nasional.
“Sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam agenda iklim global.”
Muhammad Ilman, Direktur Program Kelautan YKAN mengatakan, dokumen terbaru ini bisa menjadi menjadi landasan penting untuk melaksanakan pengelolaan laut berkelanjutan. Sekaligus sebagai acuan percepatan transformasi ekonomi kelautan Indonesia yang inklusif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
“Kami mendukung penuh upaya ini sebagai langkah strategis untuk memastikan perlindungan ekosistem pesisir yang vital bagi ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan penghidupan masyarakat,” katanya.

Rencana lanjutan
Menyusul tuntasnya pembaruan peta ini, KKP kini menyiapkan rencana seperti penguatan kelembagaan, pembentukan jejaring, peningkatan kualitas dan pemutakhiran data secara rutin, dan pembangunan infrastruktur data nasional yang terintegrasi.
KKP juga akan memperbaiki model dan pengembangan sistem pemantauan jangka panjang dan menggunakan sebagai basis kebijakan lintas sektor.
Bersamaan dengan peluncuran peta terbaru ini, KKP juga luncurkan buku “Blue Carbon: Ecosystems in Indonesia” sebagai panduan teknis untuk pengembangan karbon biru.
Merujuk pada buku itu, ekosistem karbon biru mencakup tiga, yaitu, mangrove, padang lamun, dan rawa asin pasang surut. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, meski sama-sama berperan melindungi pesisir.
Mangrove, misal, selain menjadi penahan sedimen, juga pelindung pantai dari abrasi, penyerap dan penyimpan karbon di lapisan tanah mineral dan organik, serta menjadi tempat hidup habitat pesisir.
Padang lamun berfungsi sebagai penstabil sedimen, penyerap dan penyimpan karbon di sedimen, menjadi habitat dan sumber makanan biota laut, peningkat kualitas air, serta peredam energi gelombang.
Sedangkan, ekosistem rawa asin pasang surut adalah lahan pasang surut yang ditumbuhi rumput atau semak tahan garam dan menyimpan karbon di tanah basahnya. Ekosistem ini berperan sebagai penyaring polutan, penyerap karbon di tanah payau, dan penjaga kestabilan garis pantai.
Ketiganya saling terhubung, dengan tugas utama penjaga koridor ekologi, bukan hanya ekosistem tunggal. Ketiganya berfungsi menjaga keterhubungan antar habitat pesisir yang menopang keanekaragaman hayati dan siklus karbon.
*****
Cerita Amir, Pengebom Ikan yang Jadi Pelestari Terumbu Karang