- Berdasarkan penelitian terbaru, dengan stok ikan saat ini, Indonesia mampu memenuhi rekomendasi konsumsi ikan tahunan bagi 4,1 juta orang.
- Jumlah tersebut bisa lebih tinggi jika kita membiarkan terumbu karang pulih, sehingga dapat mencapai angka maksimal produksi perikanan secara berkelanjutan.
- Upaya ini berpotensi mengatasi berbagai isu kesehatan hingga kelaparan, di negara-negara dengan nilai kelaparan “mengkhawatirkan”, termasuk Indonesia.
- Upaya pemulihan harus dilakukan bertahap, salah satunya dengan memperkuat berbagai praktik konservasi laut oleh masyarakat lokal yang memberi waktu ‘istirahat’ bagi laut.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki hasil perikanan melimpah karena menjadi rumah bagi 16 persen terumbu karang dunia. Jasa ekosistem ini berpotensi memenuhi kebutuhan pangan jutaan manusia, terutama bagi masyarakat yang rentan terhadap ancaman gizi buruk dan stunting.
Studi terbaru menunjukkan, dengan stok ikan saat ini, Indonesia dapat menyediakan hingga 483,6 juta porsi ikan karang berkelanjutan, atau memenuhi rekomendasi konsumsi ikan tahunan bagi 4,1 juta orang.
Meski terlihat besar, angka ini belum maksimal, mengingat masifnya penangkapan ikan karang. Para peneliti mengatakan, jika terumbu karang dibiarkan “pulih” maka dapat membantu mengatasi kelaparan, bahkan skala global.
Indonesia, misalnya, dapat menyediakan rekomendasi konsumsi makanan laut tahunan yang cukup untuk total sekitar 5,5 juta orang atau meningkat 1,4 juta, jika stok ikan karang dipulihkan dan dikelola lestari.
“Produksi (ikan) yang lebih rendah berarti jutaan orang kehilangan potensi makanan, pendapatan, dan mata pencaharian,” tulis Zamborain-Mason dan kolega (2025), dalam penelitian mereka yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), akhir Desember 2025.
Untuk mencapai target ini, para peneliti menghitung seberapa besar stok ikan perlu tumbuh untuk mencapai “hasil tangkapan berkelanjutan maksimum” dan “hasil tangkapan yang cukup baik,” serta berapa lama pemulihan mungkin terjadi di bawah peraturan penangkapan ikan berbeda.
Hasilnya, tergantung pada seberapa parah kerusakan terumbu karang dan seberapa ketat pembatasan penangkapan ikan. “Waktu pemulihan diperkirakan rata-rata enam hingga 50 tahun.”
Rentang waktu ini menjadi kendala, karena nelayan atau masyarakat pesisir sebagai pengguna utama sumber daya, akan kehilangan hasil tangkap dalam rentang waktu cukup panjang.
Para peneliti menegaskan, pemberhentian penangkapan ikan karang di suatu wilayah bukanlah solusi tepat atau mereka anjurkan. Sebaliknya, target ini dapat dicapai dengan terlebih dahulu menyediakan alternatif ekonomi bagi masyarakat pesisir secara bertahap.
Misalnya, dengan mengalihkan ekonomi ke pariwisata, budidaya, hingga mendorong nelayan untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagis atau laut lepas, guna mengurangi tekanan terhadap jenis-jenis ikan di terumbu karang.
Untuk wilayah yang memiliki lahan subur, integrasi antara hasil laut dan pertanian skala kecil dapat menjadi penyangga ekonomi dan kebutuhan pangan yang cukup, saat musim paceklik atau masa pemulihan stok.
“Memiliki sumber daya sehat kemungkinan akan menguntungkan nelayan dalam berbagai cara. Tetapi, penghentian penangkapan ikan untuk mendorong pemulihan akan membawa biaya yang harus dipertimbangkan untuk mencapai pemulihan yang sukses.”

Korelasi dengan gizi buruk
Dalam riset yang sama, para peneliti melihat korelasi positif antara potensi peningkatan jumlah sajian ikan di suatu negara dengan pemulihan stok ikan dan indeks kelaparan global. Oleh karena itu, negara-negara dengan indeks kekurangan gizi lebih tinggi dapat memperoleh manfaat lebih besar dari pemulihan stok ikan karang.
“Kami menemukan bahwa lokasi dengan potensi terbesar untuk peningkatan hasil panen berkelanjutan ada di antara lokasi kekurangan pangan dan mikronutrien terbesar. Ini menggarisbawahi tantangan dan peluang memulihkan ikan untuk mencapai potensi berkelanjutan maksimum,” tulis Zamborain-Mason dan kolega.
Indonesia menjadi negara yang masuk dalam kategori nilai kelaparan dan gizi buruk “mengkhawatirkan”, bersama Filipina dan beberapa negara Afrika (seperti Tanzania dan Kenya).
Karena kondisi laut yang tidak sehat, negara-negara tersebut kehilangan peluang besar setiap tahunnya. Hingga 32.390 ton ikan hilang dari potensi yang seharusnya bisa dipanen secara lestari. Kehilangan porsi makan setara dengan 162 juta porsi ikan (100 gram) yang gagal tersaji di meja makan masyarakat.
Dan sebanyak 1,37 juta orang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan asupan protein dan nutrisi laut yang cukup.
“Penelitian kami menyoroti potensi rencana pemulihan perikanan untuk berkontribusi terhadap kebijakan yang bertujuan untuk mengatasi kerawanan pangan meluas di wilayah tropis yang sedang berkembang,” tulis para peneliti.

Merujuk buku Survei Status Gizi Indonesia oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2024, angka stunting Indonesia menurun 1,7 persen dari tahun 2023 (21,5 persen).
Namun, Aditya Rahmadony, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti angka stunting di daerah-daerah pesisir yang notabene dekat sumber protein tinggi, yakni laut.
Dia menunjukkan data penelitian 2019, sebanyak 35,76 persen anak di Demak mengalami stunting. Di Semarang, angkanya mencapai 27,7 persen.
“Ini memang sebuah paradoks. Hasil laut merupakan makanan dengan kandungan protein dan gizi tinggi. Namun, anak-anak di daerah pesisir justru banyak mengalami stunting,” jelasnya, dikutip dari Kompas.com.
Hal ini terjadi karena sebagian besar masyarakat pesisir menangkap ikan untuk dijual, bukan untuk dikonsumsi.
“Pendapatan yang rendah membuat keluarga lebih memilih menjual hasil tangkapan demi memenuhi kebutuhan harian lainnya, ketimbang mengutamakan untuk konsumsi rumah tangga,” paparnya.

Praktik konservasi masyarakat lokal
M. Rizza Muftiadi, peneliti kelautan dan terumbu karang dari Universitas Bangka Belitung, mengatakan sebagian besar stok ikan di Indonesia saat ini memang banyak ditujukan untuk kebutuhan ekspor.
“Kondisi ekonomi kerap memaksa nelayan untuk tidak memaksimalkan hasil tangkapannya guna pemenuhan gizi keluarga. Ini harus dicari solusi, karena percuma jika produksi besar, tapi generasi nelayan kita banyak yang tidak sehat atau stunting,” terangnya kepada Mongabay, Minggu (18/1/2026).
Menanggapi potensi memaksimalkan gizi dan kebutuhan pangan yang disediakan terumbu karang, Rizza menawarkan upaya untuk memperkuat berbagai praktik konservasi yang telah dilakukan masyarakat lokal secara turun temurun.
“Banyak praktik konservasi laut berbasis pengetahuan lokal di Indonesia, yang memberi ruang bagi laut untuk beristirahat sejenak. Misalnya sasi (Maluku), awig-awig (Bali), panglima laot (Aceh), seke dan malombo (Sulawesi Utara), pele-karang (Papua), termasuk taber laut di Kepulauan Bangka Belitung.”
Berbagai kearifan masyarakat dalam mengelola hasil laut, harus segera diintegrasikan ke kebijakan konservasi pemerintah.
“Ini solusi alternatif strategis dan berkelanjutan, guna memaksimalkan hasil laut untuk memperkuat kedaulatan pangan masyarakat, sembari tetap menjaga kelestarian laut,” tegas Rizza.
Referensi:
Zamborain-Mason, J., Cinner, J. E., MacNeil, M. A., Beger, M., Booth, D., Ferse, S. C. A., Golden, C. D., Graham, N. A. J., Hoey, A. S., Mouillot, D., & Connolly, S. R. (2025). Potential yield and food provisioning gains from rebuilding the world’s coral reef fish stocks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 122(51), e2508805122. https://doi.org/10.1073/pnas.2508805122
*****