- Penyakit darah kembali menyerang pohon pisang kepok (Musa balbisiana) petani di Dusun Hoba, Kelurahan Nangalimang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Tahun 2021, penyakit yang sama juga menyerang di Pulau Flores.
- Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan, tahun 2025, serangan penyakit darah pisang meningkat menjadi 366,62 ha dari total luas lahan pisang 1.142,96 ha. Luas pengendalian hanya 57,46 ha (15,67%).
- Penyakit darah pisang disebabkan bakteri patogen Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc), yang menyerang sistem pembuluh xilem pohon pisang. Penyakit ini menyebabkan layu sistemik serta kematian tanaman. Rsc merupakan agen etiologis utama penyakit di kebun pisang lokal.
- Edukasi dan pelatihan intensif kepada petani tidak hanya membahas teknik sanitasi, tetapi juga pemahaman tentang epidemiologi penyakit tanaman.
Penyakit darah kembali menyerang pohon pisang kepok (Musa balbisiana) petani di Dusun Hoba, Kelurahan Nangalimang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Tahun 2021, penyakit yang sama juga mewabah di Pulau Flores.
“Sejak tahun lalu, banyak pisang terjangkit dan ditebang. Hanya satu atau dua pohon saja yang buahnya bagus. Sebagian petani, menggantinya dengan jagung,” sebut Lusia Pince, petani pisang di Hoba, Jumat (16/1/2026).
Dampaknya, harga jual di tingkat petani mengalami lonjakan. Sebelumnya, harga per tandan berkisar Rp25-35 ribu. Kini, berkisar Rp50-100 ribu per tandan.
“Kami jual satu tandan Rp150-200 ribu,” sebut Tadeus Tara, pedagang pisang kepok di Pasar Alok Maumere.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan, pada April 2024 penyakit darah sudah menyerang tanaman pisang di 10 dari 21 kecamatan. Total luas serangan mencapai 25,62 ha (1,9%) dari total luas lahan sebesar 1.348,63 ha.
Tahun 2025, serangan meningkat menjadi 366,62 ha dari total luas lahan pisang 1.142,96 ha. Luas pengendalian hanya 57,46 ha (15,67%).
Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) telah melakukan sosialisasi, demonstrasi pengendalian, dan pencegahan penyakit layu bakteri
“POPT melakukan uji coba herbisida untuk eradikasi total tandan pisang yang terserang penyakit layu bakteri,” ujar Inosensius Siga, Plt.Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.
Merujuk data BPS NTT, produksi pisang di Sikka pada 2020 sebanyak 823.132 kuintal, lalu anjlok pada 2021 sekitar 284.952 kuintal. Pada 2022 turun menjadi 150.673 kuintal, 2023 (56.329 kuintal0, dan 2024 (125.892,76 kuintal).

Penyebab penyakit darah
Penyakit darah pisang/banana blood disease merupakan ancaman nyata, bukan sekadar masalah agronomi lokal, yang berkembang menjadi krisis fitopatologi dan mendesak ditangani.
Henderikus Darwin Beja, Dekan Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, menyebutkan penyakit darah pisang disebabkan bakteri patogen Ralstonia syzygii subsp. celebesensis (Rsc), yang menyerang sistem pembuluh xilem pohon pisang.
Penyakit ini menyebabkan layu sistemik serta kematian tanaman. Rsc merupakan agen etiologis utama penyakit di kebun pisang lokal. Secara morfologis dan biokimia, Rsc memiliki karakteristik menembus jaringan tanaman dan berkembang biak dalam pembuluh vaskular pohon pisang.
“Rsc memblokir aliran air dan nutrisi, sehingga muncul gejala layu dan pembusukan internal,” ungkapnya kepada Mongabay Indonesia, Senin (5/1/2026).

Penelitian genomik terbaru menunjukkan, bakteri ini beradaptasi secara evolutif sehingga meningkatkan kemampuan patogenisitasnya terhadap varietas pisang kepok di wilayah tropis Indonesia.
Rsc juga menyebar tidak hanya melalui alat pertanian yang terkontaminasi, aliran air permukaan dan tanah yang terinfeksi, tetapi juga oleh agen biotik seperti serangga penyerbuk dan lalat buah yang membawa bakteri dari bunga tanaman sakit ke tanaman sehat.
Mobilitas bahan tanam membawa infeksi ke daerah baru, sedangkan sistem budidaya tradisional tanpa sanitasi yang memadai mempercepat penyebaran lokal di kebun.
“Pola penyebaran menjalar dalam “radiasi lokal” dari sumber infeksi tertentu. Dalam waktu singkat, satu kebun yang terkena dapat menjadi klaster wabah,” ungkapnya.
Sanitasi kebun dan alat secara ketat untuk mengurangi sumber inokulum harus dilakukan. Eradikasi tanaman terinfeksi (tebang total dan pemusnahan) untuk memutus sumber penyebaran, harus dijalankan. Juga, pemotongan jantung pisang/inflorescence dapat dilakukan setelah pembuahan, untuk mengurangi kontak serangga pembawa pathogen.
“Deteksi cepat menggunakan metode molekuler seperti PCR atau alat lateral flow immunoassay yang mampu mengidentifikasi bakteri, bahkan sebelum gejala terlihat secara visual, dapat mempercepat respons lapangan.”

Dampak iklim
Penyakit tanaman moderen tidak dapat dipisahkan dari konteks perubahan lingkungan. Perubahan iklim global yang memanifestasi dalam bentuk variasi curah hujan, suhu lebih tinggi, serta kejadian ekstrem memengaruhi dinamika host-pathogen.
“Kondisi ini cenderung memperlemah resistensi tanaman dan memperluas jangkauan vektor serangga,” tutur Darwin.
Kerusakan ekosistem akibat penggundulan lahan, degradasi tanah, dan hilangnya keanekaragaman hayati di sekitar lahan pertanian semakin memperburuk situasi. Ketika agroekosistem kehilangan keseimbangan ekologisnya, masyarakat pertanian kehilangan sekutu alami dalam menekan hama dan penyakit.
“Fakta ini menggarisbawahi bahwa penanganan penyakit darah pisang bukan hanya problem teknis tetapi juga ekologis dan sosial.”
Darwin berharap pemerintah perlu memperkuat kebijakan berbasis sains: pengembangan pusat deteksi dini, penyediaan bibit pisang sehat bersertifikat, dan regulasi ketat terhadap distribusi bahan tanam lintas kabupaten.
Edukasi dan pelatihan intensif kepada petani tidak hanya membahas teknik sanitasi, tetapi juga pemahaman tentang epidemiologi penyakit tanaman.
Investasi riset berkelanjutan dalam pengembangan varietas lebih toleran terhadap Rsc, respon protektif tanaman terhadap bakteri, serta aplikasi teknologi omic dan biologi molekuler untuk pemantauan penyakit, penting dilakukan.
“Kolaborasi multipihak antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, sektor swasta, dan komunitas petani akan memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat terhadap wabah penyakit,” pungkasnya.
*****