- Sebuah studi baru berdasarkan observasi teknik fotografi bawah air pada malam hari mendokumentasikan adanya hubungan simbiosis yang sebelumnya belum pernah diketahui antara ikan muda dan larva anemon.
- Dalam temuan tersebut, sebagian ikan terlihat tetap berada dekat dengan anemon, sementara yang lain bahkan membawa anemon tersebut berkeliling.
- Penelitian ini menunjukkan bahwa ikan mungkin memperoleh perlindungan dari pemangsa melalui kedekatan mereka dengan anemon beracun, sementara anemon berpotensi mendapatkan keuntungan dengan berpindah ke wilayah laut baru melalui pergerakan ikan tersebut.
- Seorang pakar juga mengemukakan bahwa anemon mungkin memperoleh manfaat tambahan, seperti nutrisi dari kotoran ikan atau sisa makanan yang tertinggal.
Sejak tahun 2016, Rich Collins, — seorang fotografer hidupan bawah laut, rutin melakukan penyelaman malam di perairan lepas pantai Palm Beach, Florida. Penyelaman gelap (blackwater) yang dilakukannya itu memberinya pandangan unik perihal sisi lain kehidupan makhluk laut, termasuk berbagai spesies yang biasanya bersembunyi di kedalaman pada siang hari, namun naik ke permukaan untuk mencari makan pada malam hari.
Collins dan rekan-rekan penyelamnya mengamati jika beberapa ikan muda berinteraksi dengan larva anemon tabung dengan cara yang menarik: sebagian ikan tetap berada di dekat anemon, sementara yang lain bahkan membawanya berkeliling.
Interaksi “asosiasi simbiotik” ini dijelaskannya dalam sebuah makalah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di Journal of Fish Biology, di mana Collins menjadi salah satu penulisnya.
“Ikan bramid [pomfret] cenderung menumpang atau ‘berselancar’ di atas anemon, atau memegangnya dengan sirip dada,” ujarnya kepada Mongabay. “Sementara itu, ikan filefish biasanya menggigit sesuatu dengan mulutnya dan membawanya berkeliling.”


Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Simbiosis Mutualistik
Foto-foto blackwater yang menampilkan interaksi tersebut, diambil di perairan epipelagik Florida dan Polinesia Prancis, kemudian sampai ke tangan Gabriel Afonso, penulis utama studi sekaligus kandidat doktoral di Virginia Institute of Marine Science.
“Itu foto-foto yang sangat indah,” ujar Afonso kepada Mongabay. “Orang-orang menyukainya, tetapi para peneliti melihatnya dengan sudut pandang berbeda, kami melihatnya sebagai sumber informasi.”
Berdasarkan foto-foto tersebut, Afonso dan rekan penelitinya menggambarkan adanya “interaksi mutualistik” antara ikan perairan terbuka. Termasuk ikan orange filefish (Aluterus schoepfii), spotted driftfish (Ariomma regulus), big-eye jacks (Caranx latus), dan Atlantic pomfret (genus Brama), dengan larva anemon dan button polyps (Zoanthus sociatus).
Meskipun interaksi semacam ini belum pernah didokumentasikan secara ilmiah sebelumnya, penelitian lain mencatat hubungan mutualistik antara ikan badut (genus Amphiprion) dan anemon dewasa yang menempel di dasar laut. Ada pula studi yang meneliti asosiasi antara ikan dan ubur-ubur.

Dalam hubungan mutualisme, interaksi tersebut memberikan keuntungan bagi kedua organisme. Para penulis studi berhipotesis bahwa ikan kemungkinan menempel pada anemon untuk melindungi diri, karena anemon diketahui bersifat beracun.
Meskipun larva anemon mungkin tidak cukup beracun untuk membunuh pemangsa, namun larva tersebut tetap “menghasilkan racun” yang membuatnya “tidak enak dimakan” oleh pemangsa, menurut Afonso.
Para penulis juga menduga bahwa anemon memperoleh manfaat karena ikan dapat membantu mereka menyebar ke bagian laut lain. Namun, secara berhati-hati Afonso mengatakan masih banyak hal yang perlu dipahami terkait hubungan mutualistik ini.
Alan Verde, Profesor biologi di Maine Maritime Academy yang meneliti hubungan simbiotik dengan cnidaria (kelompok invertebrata yang mencakup anemon, ubur-ubur, dan karang), mengatakan bahwa ia “tidak pernah mengetahui bahwa tahap larva ikan ini juga berinteraksi dengan tahap larva cnidaria.”
“Bentuk larva itu sangat unik dan sangat berbeda dari bentuk dewasa hewan-hewan ini,” ujar Verde, yang tidak terlibat dalam penelitian, kepada Mongabay. “Sangat menarik bahwa mereka dapat berasosiasi begitu dekat satu sama lain.”

Verde setuju bahwa ikan kemungkinan mendapatkan manfaat pertahanan diri dari keberadaan anemon. Ia juga mengajukan hipotesis lain mengenai potensi keuntungan yang mungkin diperoleh anemon.
“Karena kedekatannya, cnidaria ini bisa saja mendapatkan nutrisi dari ikan. Ikan mengeluarkan nitrogen melalui insang; ia juga membuang feses. Jadi jika ikan dan cnidaria ini berenang bersama dalam area kecil, ada kemungkinan cnidaria memperoleh nutrisi tersebut karena tubuh mereka yang lunak,” ujarnya.
“Selain itu, jika ikan menggigit sesuatu dan potongannya terlepas sedikit, maka sisa-sisa itu bisa dimanfaatkan oleh larva cnidaria,” tambah Verde.
“Jadi saya rasa ini sangat mungkin merupakan hubungan simbiosis mutualisme, dimana keduanya sama-sama memperoleh manfaat.”
Verde sependapat bahwa penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk benar-benar memahami hubungan ini. Studi tersebut sebutnya, telah membuatnya dapat mempertimbangkan peluang ilmiah yang dapat ditawarkan melalui penyelaman blackwater.
“Saya biasanya menyelam di negara bagian Washington selama musim panas untuk meneliti gurita dan teripang,” kata Verde. “Saya membawa beberapa mahasiswa untuk membantu penelitian, tetapi kami belum pernah melakukan penyelaman blackwater di sana. Jadi mungkin kami harus melihat apa yang bisa ditemukan.”
Tulisan ini diterbitkan pertamakali di sini. Artikel ini dieterjemahkan oleh Akita Verselita.
Referensi:
Afonso, G. V., Johnson, G. D., Collins, R., & Pastana, M. N. (2025). Associations between fishes (Actinopterygii: Teleostei) and anthozoans (Anthozoa: Hexacorallia) in epipelagic waters based on in situ records. Journal of Fish Biology. doi:10.1111/jfb.70214
*****
Foto utama: Ikan pomfret dengan larva anemon. Foto: Linda Ianniello.