- Kebakaran lahan masih hantui beberapa daerah di Jawa Tengah, meskipun hujan kerap melanda daerah tersebut. Kondisi ini menunjukkan cuaca bukan lagi kambing hitam bencana ini.
- R. Triyono Putro, Kepala BPBD Sragen, bilang, kebakaran kerap melanda Kecamatan Tangen. Kemarau basah tahun ini tidak signifikan mencegah fenomena itu. Sebab, meski kerap turun hujan, suhu udara tetap panas menyengat.
- Anjung Darojati, Kepala Bidang Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, menyebut, karakter utama lahan yang mudah terbakar di Klaten merupakan wilayah dengan tegakan pohon sedikit dan homogen.
- Fadli Ahmad Naufal, Spesialis Sistem Informasi Geografis Yayasan Madani Berkelanjutan, menyerukan jangan normalisasi kebakaran lahan. Karena, ada dampak emisi karbon.
Teguh, warga Desa Paseban, Klaten, Jawa Tengah, langsung bergegas ke timur Gunung Jabalkat setelah melihat kobaran api dari jalan depan rumahnya. Tangannya menenteng garu besi dengan gagang terlilit kain untuk memadamkan kebakaran.
“Hasilnya lebih efektif. Api yang memabakar daun di tanah dipadamkan pakai itu,” katanya, baru-baru ini.
Pria 65 tahun ini biasa tangani kebakaran lahan di gunung yang kerap peziarah kunjungi itu. Dia bilang, pemadaman dengan air sukar karena akses jalan menuju area terbakar terlalu terjal, begitu juga kalau pakai bahan pemadaman lain.
Kala itu, dia bisa minimalisasi kebakaran setelah satu jam berjibaku memadamkan. “Yang terbakar sekitar 3,5 hektar.”
Dia tidak paham benar sebab utama kebakaran tetapi yakin ada pemantik munculnya api di lahan Perhutani itu.
Kawasan yang terbakar hanya memiliki tegakan pohon. Kebanyakan penuh ilalang dan rerumputan yang mengering.
Sebelum pohon jati mendominasi 20 tahun terakhir, Gunung Jabalkat memiliki beragam pohon, seperti kemuning dan randu alas.
Kebakaran pun membuatnya bingung. Pasalnya, hujan kerap mengguyur wilayah Klaten sejak Agustus.
“Padahal hujan terjadi sehari sebelum kebakaran,” katanya.

Kondisi serupa terjadi di Gunung Pegat, Desa Krakitan, awal September. Kala itu, api melahap lebih dari 3.000 meter persegi area Perhutani.
Subardi, warga Krakitan, turut memadamkan api kala itu. Dia bilang, gunung yang memiliki lima luweng (sumur di gunung) itu kebakaran tiap tahun.
“Padahal, dua hari sebelum kebakaran juga hujan saat akhir Agustus itu. Kalau saya menilainya pasti ada pemantiknya tidak terjadi begitu saja karena kemarau.”
Pria yang sehari-hari berjualan makanan di jalan menuju Gunung Pegat ini menyebut, kebakaran memunculkan kepulan asap yang mengganggu pemukiman. Jalan pun jadi macet karena pengendara berhenti tidak bisa melintasi jalan.
Cerita mengenaskan datang dari Sragen. Kebakaran lahan yang terjadi 22 September di sana merenggut nyawa Samen, petani Desa Jekawal, Kecamatan Tangen.
R. Triyono Putro, Kepala BPBD Sragen mengatakan, kebakaran terjadi di lokasi terpencil. Lokasi kejadian bekas panen tebu.
“Kami tidak mendapat laporan saat kejadian, setelah tahu dari media baru kami lakukan assessment,” katanya.
Tidak ada laporan membuat BPBD Sragen tidak terlibat memadamkan kebakaran itu. Informasinya, korban menderita luka bakar 80%.

Hujan tidak berpengaruh
Triyono bilang, kebakaran kerap melanda Kecamatan Tangen. Kemarau basah tahun ini tidak signifikan mencegah fenomena itu. Sebab, meski kerap turun hujan, suhu udara tetap panas menyengat.
“Seperti hari ini bisa dirasakan bersama panasnya luar biasa, artinya potensi kebakaran lahan tetap tinggi.”
Hingga September, ada delapan kejadian kebakaran lahan di Sragen. Luas lahan yang hangus mencapai 16 hektar.
“Kalau secara jumlah kejadian, tahun ini lebih rendah dari tahun lalu.”
Ketiadaan alat pendeteksi kebakaran lahan jadi tantangan di Sragen.
Selama ini, basis utama penanganan berdasarkan laporan warga. Namun, jalan menuju lokasi pun tidak mudah. Dia pun mendorong masyarakat berpartisipasi, terutama dalam pencegahan.
Tantangan serupa di Klaten. Anjung Darojati, Kepala Bidang Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, menjelaskan, kendala itu mereka tangani dengan pembentukan relawan kebencanaan di tiap desa seperti Paseban dan Krakitan, Kecamatan Bayat.
Dia bilang, karakter utama lahan yang mudah terbakar di Klaten merupakan wilayah dengan tegakan pohon sedikit dan homogen.
“Di Klaten lokasi kebakarannya juga berulang.”
Laporan kejadian kebakaran hutan dan lahan di laman resmi BPBD Klaten menunjukkan ada 22 kasus di Juni-September. Dua kejadian di dekat pabrik yang minim tegakan pohon, padahal sebelumnya rimbun.
Kebakaran paling banyak terjadi pada September, saat hujan lebih intens turun ketimbang bulan sebelumnya, ada 11 kejadian. Wilayah yang mengalaminya hampir merata, terutama di sisi selatan dan timur Klaten.

Sebenarnya, BMKG Jawa Tengah sudah memberikan peringatan dini kebakaran lahan melalui data fine fuel moisture code (FFMC). Data itu merekam kondisi permukaan tanah, terutama kekeringan bahan alami yang mudah terbakar.
Data FFMC yang BMKG rilis 24 September menunjukkan hampir seluruh Jawa Tengah berwarna merah. Menandakan waspada kebakaran. Hanya kawasan Pegunungan Dieng yang warna hijau, atau relatif aman.
Sulistiyowati, Kepala Pokja Data Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, menjelaskan, FFMC dapat berubah dalam hitungan hari. Kondisi itu, membuat kebakaran lahan tidak terpengaruh kemarau basah.
“Beberapa hari pada September ini memang FFMC lumayan tinggi yang menandai potensi kebakaran lahan, datanya tiap hari juga berubah sehingga memang harus waspada.”
Kemarau basah kali ini, katanya, tak mengurangi tingkat kekeringan bahan alami di permukaan tanah yang mudah terbakar. Meski demikian, perlu pemantik api dari sumber lain yang bisa memicu kebakaran.

Beda data
BPBD Jawa Tengah merespons tingginya FFMC dengan meningkatkan pemantauan dan pendataan. Sayangnya, data tercatat beda dengan laporan di tingkat kabupaten.
Catatan mereka, kebakaran lahan terjadi 14 kali di seluruh wilayah Jawa Tengah. Yaitu, di Kebumen, Klaten, Semaran, Sragen, dan Sukoharjo dengan luas lahan hangus 56 hektar, dan taksiran kerugian Rp885 juta.
Klaten jadi paling sering terjadi kebakaran dengan enam kejadian, dan Sragen lima kali. Data BPBD Klaten mencatat 22 kejadian, dan BPBD Sragen delapan kali kebakaran.
Catatan Sistem Informasi dan Peringatan Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan, 1.151,09 hektar terbakar hingga Agustus lalu. Menyebabkan emisi karbon sebanyak 149.771 ton per Juli lalu.
Dinarjati Saputro, Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Jawa Tengah, menyebut, perbedaan data itu karena klasifikasi yang dia lakukan. Dia tak menjelaskan rinci kategori yang dia pakai untuk menandai kebakaran.
Meskipun demikian, katanya, upaya pencegahan kebakaran sudah mereka lakukan sejak awal musim kemarau.
“Kami koordinasi dengan semua sektor agar bisa dicegah, hasilnya jumlah kejadian turun dibanding tahun lalu yang 68 kasus.”
Fadli Ahmad Naufal, Spesialis Sistem Informasi Geografis Yayasan Madani Berkelanjutan, menyerukan jangan normalisasi kebakaran lahan.
“Kebakaran lahan tiap tahun selalu terjadi, bahkan dalam skala nasional tahun ini melonjak jumlahnya,” katanya.
Hingga Juli lalu, terdapat 99.099 hektar lahan terbakar. Sedangkan Juli 2023, hanya 53.973 hektar, padahal saat itu terjadi El Nino yang menyebabkan kemarau berlangsung lebih lama. Karena itu, kebakaran tahun ini mematahkan narasi cuaca sebagai pemicu fenomena ini.
Kajian Madani Berkelanjutan, menemukan, sebab utama kebakaran lahan dan hutan adalah antropogenik.
“Dimanapun kebakaran lahan itu pasti pemantiknya karena aktivitas manusia, lebih parahnya kondisi ini cenderung dibiarkan pemerintah apalagi kalau pelakunya perusahaan besar.”
Deforestasi juga jadi penyebab karena karakter hutan tropis sejatinya resisten terhadap kebakaran.
“Kalau tegakan pohon ditebangi maka kemungkinan kebakaran lahan meningkat, ini juga menegaskan bahwa deforestasi menyebabkan kebakaran, bukan sebaliknya.”
*****