- Embung Tremas di Desa Tremas, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur sudah mulai mengairi lahan pertanian. Dengan perkiraan mampu mengairi 30 hektar lahan pertanian, embung mulai jalan dengan enam hektar, menuju 10 hektar sesuai target pertama. Embung ini punya kapasitas menampung air sekitar 12.000 m.³ Kehadiran embung ini bisa memperkuat kedaulatan pangan di sana.
- Nurhadi, Kepala Desa Tremas, mengatakan, lahan-lahan di sekitar embung awalnya penuh tumbuhan semak, tanah kering, dan kurang subur untuk tanaman pangan. Kehadiran embung ini mampu mengubah lanskap pertanian di daerah itu sedikit demi sedikit.
- Selama ini, pengairan areal pertanian di Desa Tremas dari Sungai Grindulu. Pengairan dari Grindulu hanya mampu mengairi lahan sekitar 30 hektar dari 60 hektar areal pertanian di Desa Tremas.
- Selain untuk mengembangkan sektor pertanian, embung ini juga untuk pengembangan budidaya air tawar dengan pakan ikan pakai magot budaya warga untuk menciptakan ekonomi sirkuler. Peternakan magot ini juga sebagai salah satu langkah mengatasi masalah sampah organik.
Suasana ketika berada di Embung Tremas, cukup menenangkan. Air jernih kehijauan terkena pantulan mentari. Embung seluas 1,2 hektar dengan kedalaman 3,5 meter ini berada di dataran lebih tinggi dari perkampungan Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Letaknya, sekitar satu kilometer dari rumah warga terdekat.
“Embung Tremas.” Begitu plang terpampang jelas ketika memasuki kawasan ini. Ada beberapa gazebo kecil di pinggir embung, di bagian selatan ada beberapa fasilitas pendukung seperti kamar mandi, mushalla, dan bangunan untuk pengolahan sampah organik. Embung berlapis plastik ini juga untuk budidaya ikan.
Peresmian Embung Tremas pada 3 September lalu dengan perkiraan mampu mengairi 30 hektar lahan pertanian di desa itu. Ia mulai pembangunan pada 2020, dan selesai 2022 dengan biaya sekitar Rp1,5 miliar.
Kini, embung mengairi lahan pertanian sekitar 6 hektar, menuju 10 hektar sesuai target pertama. Embung ini punya kapasitas menampung air sekitar 12.000 m.³
Nurhadi, Kepala Desa Tremas, mengatakan, lahan-lahan di sekitar Embung Tremas ini awalnya penuh tumbuhan semak, tanah kering, dan kurang subur untuk tanaman pangan.
Kehadiran embung ini mampu mengubah lanskap pertanian di daerah itu sedikit demi sedikit.
“Tekstur tanahnya tidak banyak mengandung organik, jadi tanah-tanah kering, tidak tumbuh tanaman yang produktif,” katanya. September lalu.

Selama ini, pengairan areal pertanian di Desa Tremas dari Sungai Grindulu. Pengairan dari Grindulu hanya mampu mengairi lahan sekitar 30 hektar dari 60 hektar areal pertanian di Desa Tremas.
“Itu biasanya kalau musim kemarau kita pompa atau kita tanggul, tanggul sementara pakai pasir.”
Dalam memompa air dan menanggul sungai, Desa Tremas bekerja sama dengan Desa Sedayu. Kedua desa ini bekerja sama untuk sama-sama meningkatkan produktivitas pertanian di desa masing-masing.
Pengairan lahan pertanian dari Embung Tremas target mereka untuk buah dan sayur-sayuran.
Sebelumnya, kata Nurhadi, Pemerintah Desa Tremas bersama warga pernah menanam durian pada 2021 sebanyak 400 pohon, benih dari Thailand.
Dalam pengadaan bibit pohon itu, mereka dapat bantuan The Coca-Cola Foundation, Yayasan Obor Tani, dan BenihBaik.com, sepaket dengan proyek pembangunan embung.
Sayangnya, karena kebakaran lahan pada 2023, 400 pohon itu kini tinggal sekitar 50 saja. Saat ini pohon-pohon durian itu sudah mulai berbunga.
Tantangan dari menanam durian ini, kata Nurhadi, adalah biaya dari pupuk mahal, dan perawatan perlu perawatan khusus. Sedangkan pertanian durian terbilang baru bagi warga Tremas.

Budidaya ikan dan ternak magot
Selain untuk mengembangkan sektor pertanian, embung ini juga untuk pengembangan budidaya air tawar dengan pakan ikan pakai magot budaya warga untuk menciptakan ekonomi sirkuler.
Peternakan magot ini juga sebagai salah satu langkah mengatasi masalah sampah organik.
“Kalau nanti ini jalan, yang namanya ekonomi sirkuler (yang) saya bilang tadi, ini ada pendapatannya, nanti bisa disubsidi silang untuk tanaman pendukung buah-buahan.”
Pemerintah Tremas berencana mengalokasikan dana desa untuk penanaman berbagai macam pohon buah-buahan dan porang di sekitar embung pada 2026.
Triyono Prijosoesilo, Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia, mengatakan, embung ini bukan sekadar infrastruktur biasa, tetapi investasi jangka panjang untuk pertanian, kedaulatan pangan, sekaligus untuk adaptasi terhadap perubahan iklim.
“Kami melihat Tremas bukan hanya sebagai desa dengan potensi sumber daya, juga cikal bakal destinasi ekowisata yang bisa membawa manfaat ekonomi berkelanjutan bagi warga dan menjadi kebanggaan Pacitan.”
Andy F Noya, pendiri BenihBaik.com, mengatakan, penggunaan magot untuk mengurai sampah organik sudah banyak di berbagai daerah dan sukses.
Dia berharap, peternakan magot ini menjadi salah satu solusi mengatasi masalah lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Fasilitas peternakan magot ada di samping Embung Tremas dengan perkiraan mampu mengurai sampah tujuh ton per 20 hari.
“Masyarakat bisa juga mengumpulkan sampah organiknya, kemudian disentralisasi di satu tempat dengan jumlah atau skala besar, maka itu bisa jadi sentra ekonomi baru bagi masyarakat.”

Pratomo, Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani mengatakan, rata-rata curah hujan di Indonesia itu 2.500 sampai 4.000 ml per tahun, sedangkan di Tremas hampir 3.000 ml per tahunnya.
“…Embungnya ada di puncak bukit untuk mengairi secara gravitasi tanpa pompa, tanpa listrik, tanpa bahan bakar fosil, tanpa listrik, kemudian tanpa BBM,” katanya.
Sebelumnya, kata Pratomo, mereka sudah menyerahkan sampel tanah Tremas ke lembaga penelitian. Hasilnya menunjukkan, nutrisi tanah di sana cukup untuk tumbuhan buah-buahan, tetapi kurang air, hingga timbul iktikad untuk membuat pengairan cukup untuk lahan pertanian.
“Harapan kita, di sini menjadi sentra agrowisata dan sentra produksi buah-buahan tropis,” kata Pratomo.
Dia juga berharap, wilayah Tremas dan sekitar bisa makin adem dengan menggunakan embung sebagai radiatornya, ditambah pohon-pohon.
“Adanya embung ini menurunkan suhu sekitar dua derajat. Jadinya sebagai radiator juga, indikasinya nanti anak-anakan pisang bisa lebih banyak. Kemudian tanaman-tanaman ini juga ikut kena kelembaban.”

*****
Embung Tirta Mulya, Andalan Lereng Merapi Hadapi Krisis Iklim