Menyatakan atau memposisikan Pekan Nan Tumpah 2025 sebagai sebuah peristiwa seni yang dapat dipahami, sama seperti meletakan Mahatma Muhammad bersama civitas Komunitas Seni Nan Tumpah, serta pekerja teater Yusril Katil dan Wendy HS, satu ruangan dengan sebuah komputer berisi berbagai program AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasaan buatan.
Manusia sebagai agen kebudayaan, bekerja bukan hanya dengan kecerdasannya, juga bersama ketakutan, kebencian, kecemasan, kerinduan, dan harapan, sehingga kebudayaan menjadi kompleks, multipersepsi, subjektif, dan berevolusi, serta menjadi sesuatu yang tidak akan pernah selesai; dinamis, adaptif, dan inovatif.
Begitu pula dengan karya seni yang disajikan dalam Pekan Nan Tumpah 2025 yang berlangsung di Fabriek Padang, Sumatera Barat, 24-30 Agustus 2025.
Bagi saya, Pekan Nan Tumpah 2025 ini mengingatkan kembali Indonesia. Sesuatu yang tidak dipahami dengan satu kepercayaan, pengetahuan, seni, hukum adat, adat istiadat, moral, kemampuan, kebiasaan, dan satu keinginan.

Indonesia hadir dari pergaulan manusia dengan keberagaman biotik dan abiotik di wilayah tropis, berupa 17.380 pulau, yang membentang di lautan seluas 6,4 juta kilometer. Manusia datang, lahir, dan berkembang di antara sekitar 28.000 jenis tumbuhan, 300.000 jenis satwa liar, bersama 2.397 sungai, 840 danau, 127 gunung berapi aktif, serta minyak bumi, gas, dan beragam mineral.
Pergaulan tersebut kemudian melahirkan kebudayaan yang unik, yang kaya tradisi dan budaya, seperti halnya beragamnya biotik dan abiotik tersebut. Hadir 1.340 suku bersama 718 bahasa, 187 kelompok kepercayaan, 5.300 jenis makanan, 3.000 tarian, 38 pakaian adat, 38 rumah adat, sekitar 40 alat musik tradisional, serta ribuan karya sastra tutur berupa pantun, syair, mantera, hikayat, legenda, sage, dan fabel.
Hari ini, kebudayaan Indonesia terus berjalan. Tidak hanya hasil dari pergaulan manusia dengan biotik dan abiotik, juga berbagai ilmu pengetahuan baru dan teknologi. Manusia bukan hanya membutuhkan makanan, air, oksigen, juga listrik, internet, kendaraan bermotor, kapal laut, pesawat terbang, hingga jalan tol.
Ribuan suku betrabrakan dan pecah! Melahirkan berbagai komunitas, bahasa, pemerintahan, makanan, pakaian, arsitektur, karya seni, dan lainnya.
Dan, saya benar-benar sulit memahaminya.

Bencana
Satu hal yang ingin saya pahami di Indonesia adalah bencana alam. Indonesia yang berada di “Ring of Fire” atau Cincin Api Pasifik melahirkan sejarah panjang bencana gunung api meletus, gempa bumi, dan tsunami. Bencana alam tersebut berdampak banyak kematian bagi manusia, flora dan fauna, mengubah bentang alam, serta melenyapkan banyak permukiman manusia bersama produk budayanya, yang kemudian membentuk lapisan jejak peradaban di tanah.
Bencana alam ini pula yang melahiran berbagai pengetahuan dan kesadaran spiritual; bahwa ada kekuatan luar biasa di alam semesta, yang mampu mengendalikan biotik dan abiotik, di luar kemampuan manusia.
Berbagai kesadaran tersebut dapat dibaca dalam berbagai ritus, karya seni, dan ingatan komunal. Terutama pada kelompok masyarakat yang hidup di sekitar Ring of Fire. Dan, saya berasumsi berbagai kesadaran tersebut memengaruhi proses kebudayaan banyak suku atau komunitas di Indonesia, yang cenderung menempatkan alam semesta sebagai pusat kehidupan atau ekosentrisme. Bukan manusia sebagai pusat kehidupan atau antroposentrisme.

Hari ini, bencana yang dialami manusia Indonesia bukan lagi bencana alam. Krisis iklim global adalah bencana yang saat ini mulai dirasakan dan dialami manusia Indonesia. Misalnya cuaca yang kian panas, kekeringan dan banjir yang panjang, musim yang tidak menentu, badai yang lebih kuat dan sering terjadi, naiknya permukaan air laut, penurunan kualitas air bersih, munculnya berbagai penyakit baru, meningkatnya penderita penyakit mematikan, hingga krisis pangan berkualitas.
Bencana ini bukan berasal dari kekuatan yang menguasai alam semesta, bencana ini hasil dari perbuatan manusia atau antropogenik. Diperkirakan, penggunaan energi fosil sebagai penyebab utama krisis iklim, termasuk pula pembabatan hutan dan pengubahan bentang alam untuk kebutuhan perkebunan skala besar, industri, pertambangan, permukiman baru, dan lainnya.
Jika krisis iklim ini terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan, dapat dipastikan berbagai makhluk hidup akan punah, termasuk umat manusia. Dengan punahnya manusia, maka kebudayaan pun berhenti.
Saat itu, kita tidak dapat lagi menikmati karya Mahatma Muhammad, Yusril Katil, Wendy HS, dan mungkin Pekan Nan Tumpah berhenti digelar. Bahkan tak ada satu pun manusia yang menyimpan peristiwa Pekan Nan Tumpah dalam ingatannya.
Pada peristiwa Pekan Nan Tumpah 2025, saya menduga adanya dampak dari krisis iklim global. Ekspresi yang disajikan bisa saja lahir dari kondisi tubuh dan ruang yang tidak nyaman, karena suhu yang terus naik atau kian panas, kecemasan atas kesehatan, ketakutan atas lingkungan yang berubah, kerinduan pada sesuatu yang hilang, pencarian ruang-ruang nyaman, kecemasan atas tubuh, atau sebuah kepanikan.

Tapi, semua itu bukan sesuatu yang salah. Hal ini juga berlangsung pada ruang-ruang yang berisi para politisi, ekonom, akademisi, pelaksana pemerintahan, dan lainnya. Berbagai keputusan yang lahir dari ruang-ruang tersebut dapat saja dipengaruhi lingkungan yang tidak nyaman, dan kondisi tubuh yang tidak sehat atau bugar. Polusi udara, polusi suara, polusi mata, membuat tubuh dan kesadaran mengalami kelelahan. Mungkin, melampaui godaan setan dan efek narkoba.
Negara-negara yang alamnya rusak atau terdampak dari krisis iklim global, berupa kekeringan dan banjir panjang, yang menyebabkan hilangnya sumber pangan dan ekonomi, seperti di Afrika dan India, menyebabkan sejumlah keputusan yang diambil masyarakat dan para pemimpinnya cukup mengejutkan.
Misalnya, ribuan petani di India memutuskan bunuh diri karena selalu mengalami gagal panen, atau konflik etnis atau komunitas di sejumlah wilayah Afrika yang diduga akibat kekeringan dan banjir, yang menyebabkan persaingan memperebutkan sumber air dan tanah, migrasi, dan kehilangan mata pencahariaan.
Sementara, negara-negara yang alam atau lingkungannya terjaga, seperti Finlandia, Denmark, Islandia, Selandia Baru, ternyata masyarakatnya hidup bahagia. Bahkan Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia, yang juga dikenal sebagai negara paling ramah lingkungan di dunia.
Demikian. Pandangan ini merupakan fakta bahwa saya kian sulit memahami kebudayaan hari ini, seperti kecemasan keberagaman budaya yang disajikan Komunitas Seni Nan Tumpah di ruangan pengap, eks gudang seng. Tapi, saya hanya berharap, saya bersama keluarga bebas dari polusi udara, polusi suara, polusi mata, mendapatkan udara yang segar, pangan yang sehat dan berkelanjutan.
* Taufik Wijaya, pekerja budaya dan jurnalis di Palembang yang menulis untuk Mongabay Indonesia. Artikel ini disampaikan dalam diskusi seni Pekan Nan Tumpah 2025, 30 Agustus 2025, di Fabriek Padang, Sumatera Barat. Tulisan ini opini penulis.
*****