- Desa Tapobali berada di pantai selatan Pulau Lembata berhadapan dengan Laut Sawu dengan jumlah penduduk sebanyak 367 jiwa yang berdiam di wilayah seluas 553 ha.
- Tahun 1969 dan 1971 bencana kelaparan pernah melanda desa ini, selain 2003 dan 2024, akibat kekeringan berkepanjangan yang berdampak pada gagal panen.
- Masyarakat Tapobali mulai kembali menanam pangan lokal seperti sorgum, mengingat topografi wilayah ini yang berbukit dan berbatu, dengan curah hujan tidak menentu dan panas berkepanjangan.
- Sebagian besar wilayah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, memiliki curah hujan tergolong menengah yakni 51-150 mm. Sebelumnya, musim hujan terjadi Oktober hingga Maret, namun bergeser menjadi November hingga April.
Gunung Lewotolok (Ile Lewotolok) seakan tak pernah berhenti bergemuruh. Suara letusannya terdengar hingga ke Kota Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang berjarak sekitar 25 kilometer, Kamis (7/8/2025) pagi.
“Kami sudah terbiasa sejak setahun lalu. Semalam saja suara keras sekali, kaca jendela bergetar,” terang Paulus Kedang, pemilik El Many Home Stay.
Untuk sampai Lembata, kami memulai perjalanan dari Maumere ke Larantuka, melintasi jalan negara Trans Flores yang berada di jalur merah, radius tiga kilometer dari Gunung Lewotobi Laki-laki. Sudah hampir dua tahun, gunung ini erupsi yang beberapa kali melontarkan material berupa pasir dan debu. Bahkan, beberapa bandar udara harus ditutup.
Menuju Lembata hanya ada dua jalur transportasi. Menggunakan pesawat dari Kupang atau jalur laut dari Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.
Dari Pelabuhan Larantuka pelayaran menggunakan kapal penumpang tradisional (bus laut) butuh waktu tiga jam. Kapal cepat waktu tempuhnya hanya satu jam ke Pelabuhan Lewoleba.
Dikutip dari situs Pemerintah Kabupaten Lembata, kabupaten ini luasnya sekitar 1.268,11 km² (126.810,5 hektar/ha). Terdiri Pulau Lembata (126.301,70 ha), Pulau Komba (505,48 ha), Pulau Suanggi (2,87 ha), Pulau Karang Pahangwa (0,37 ha), dan Pulau Karang Wa’toya (0,30 ha).
Lembata berbatasan dengan Laut Flores di utara, Laut Sawu di selatan, Selat Alor dan Kabupaten Alor di timur, serta sebelah barat berbatasan dengan Selat Boleng, Selat Lamakera, dan Kabupaten Flores Timur.

Potensi alam
Perjalanan dari Lewoleba menuju Desa Tapobali, kami tempuh sekitar sejam, menyusuri pesisir pantai utara hingga ke barat, lalu belok ke selatan. Sepertiga ruas jalan beraspal mulus, sisanya tanah dan berbatu.
Ban mobil pecah, saat kami memasuki jalan batu.
“Transportasi kerap jadi kendala masyarakat untuk ke Lewoleba. Belum lagi sinyal telepon seluler yang sangat sulit,” terang Agutinus Bala Ledun, Kepala Desa Tapobali, saat berbincang bersama Mongabay Indonesia, Kamis (7/8/2025).
Untuk ke Tapobali, dari Kota Lewoleba, harga sewa kendaraan travel minimal Rp1 juta per hari. Itu pun tidak semua kendaraan bersedia, mengingat medannya yang berat.
Jumlah penduduk Tapobali sebanyak 367 jiwa, tersebar di tiga dusun yakni Lelawiti, Ina Tua Wato, dan Dusun Walet. Luas wilayahnya sekitar 553 ha.
Di sini, terdapat tambak garam seluas satu hektar dengan produksi per bulan mencapai 10-15 ton garam kasar. Akses masih terhambat, sehingga garam hanya untuk pasar lokal.
“Laut kami memiliki sejenis siput khas bernama siput koboraja. Jenis ini hanya ditangkap Oktober, saat laut dibuka untuk masyarakat,” lanjut Agustinus.

Kenapa setahun sekali? Warganya taat pada muro yaitu larangan adat menangkap ikan dan biota laut. Muro melindungi biota laut dan laut itu sendiri guna menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati. Usai panen, dibuat ritual adat agar wilayah laut ditutup.
Ada berbagai jenis ikan dan rumpat laut, namun 99 persen masyarakat memilih bertani. Ada juga sarang burung walet alami di Dusun Walet yang dimiliki Suku Tobil, suku satu-satunya penghuni dusun ini. Saat panen, diawali ritual adat Hape Kleru Gaka Kaju, sebagai ucapan syukur.
Untuk pertanian dan perkebunan, dengan topografi desa berbukit, berbatu, dan terjal, maka jambu mete, kelapa, serta kemiri yang ditanam masyarakat.
“Curah hujan saat ini tidak menentu. Hasil pertanian terbatas, petani lebih banyak menanam jagung dan padi ladang saat musim hujan,” ungkapnya.

Gagal panen
Suara petikan senar gambus mengalun merdu. Di bawah rindangnya pohon beringin (Ficus benjamina), warga Dusun Walet berkumpul, sementara anak-anak asyik main bola plastik.
Patrisius Jengi, sang tokoh adat, mengenang dulu kampungnya tergolong makmur. Hasil panen padi dan jagung yang melimpah, dapat digunakan warga untuk untuk membeli gading.
Gading gajah bagi etnis Lamaholot di Flores Timur dan Lembata, dipergunakan sebagai mahar atau belis dalam perkawinan. Memiliki gading berarti punya harta atau orang berada. Harganya tergolong mahal, bisa ratusan juta Rupiah sebatang.
Tahun 1969 dan 1971 bencana kelaparan melanda desa ini. Kekeringan berkepanjangan mengakibatkan gagal panen. Hujan berhenti saat tanaman padi dan jagung berbunga.
Masyarakat pun membeli singkong karet (Manihot glaziovii) untuk dikonsumsi.
“Singkong ini kan tidak bisa dimakan karena beracun, tapi kami terpaksa beli dan olah agar dapat dimakan,” sebutnya.
Tahun 2003 dan 2014 terjadi gagal panen. Tak ada hujan saat padi dan jagung hendak berbunga. Patrisius mengatakan, warga masih menanam padi, jagung, kacang-kacangan dan umbi-umbian di kebun perbukitan, dekat hutan meski musim hujan sulit diprediksi.

Secara umum, Indonesia disebut menghadapi situasi kerentanan dalam sistem pangan nasional. Kerentanan pangan ini tercermin dari data Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index/GHI) tahun 2023.
Dalam Policy Brief Data Transformasi Sistem Pangan Negara Kepulauan: Suara Masyarakat Sipil untuk Perubahan Kebijakan Menuju Sistem Pangan yang Beragam, Adil dan Lestari, menunjukkan Indonesia menempati peringkat 77 dari 125 negara dengan skor moderat.
Peringkat kelaparan Indonesia tertinggi kedua di Asia Tenggara, setelah Timor Leste. GHI merupakan alat untuk mengukur dan melacak kelaparan secara komprehensif pada tingkat global, regional, dan nasional.
Skor indeks kelaparan global ini mengacu pada empat indikator, yaitu kekurangan gizi (undernourishment), anak kurus (child wasting), pertumbuhan terhambat anak (child stunting), dan kematian anak (child mortality). Dijelaskan juga bahwa kerentantan semakin nyata dengan kecenderungan peningkatan harga pangan di Indonesia yang melonjak drastis sejak 2023.
Dalam laporan tersebut, juga dicantumkan Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) yaitu harga beras 2023 naik sebesar 14,08% dan gula 20%. Bulan Februari 2024 harga beras medium mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni Rp14 ribu/kg dan Rp18 ribu/kg untuk beras premium.
Harga di daerah-daerah yang defisit beras, seperti Nusa Tenggara Timur bisa lebih mahal lagi, dibandingkan harga rata-rata nasional.

Terdampak krisis iklim
Dengan curah hujan terbatas dan hasil panen berkurang, membuat warga Tapobali merantau ke luar daerah, guna memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Laporan kajian baseline krisis iklim di Kabupaten Lembata oleh Koalisi Pangan Baik yang bernaung dibawah program Voice for Just Climate Action (VCA) menyebutkan, sebagian besar wilayah di Kabupaten Lembata memiliki curah hujan menengah, yakni 51-150 mm.
Imroatul Muklishoh, Koordinator Koalisi Pangan Baik, menjelaskan, sebelumnya musim hujan terjadi pada Oktober hingga Maret, namun bergeser menjadi November hingga April.
Pada Februari, intensitas hujan sangat tinggi disertai angin kencang. Setelah itu, menurun hingga musim kemarau. Sebanyak 85% petani di Tapobali mengubah jenis tanaman yang dibudidayakan. Beberapa petani memilih tanaman berumur panjang sebagai tanaman sisipan. Namun, 15% petani lebih memilih menanam jagung saja.
“Perubahan curah hujan menyebabkan petani harus menyesuaikan jadwal tanamnya, mengikuti pola musim. Dari semula Oktober, sekarang Desember,” ucapnya, saat acara bertema lingkungan di Kupang, pada 1 November 2023.

Masyarakat Desa Tapobali menentukan masa tanam berdasarkan musim tanam tahun lalu dan mempertimbangkan kondisi cuaca saat ini. Saat hari hujan dirasa cukup stabil, petani memberanikan diri menanam. Informasi terkait kondisi cuaca hampir tidak pernah diterima. Mereka hanya menduga masa tanam yang tepat.
Dampak krisis iklim juga membuat waga mengubah pola dan volume konsumsi dalam 10-15 tahun terakhir. Dari semula hanya jagung, kacang-kacangan, dan padi, sekarang mereka mulai terbiasa mengonsumsi sorgum.
Imroatul mengatakan, sebagian besar masyarakat Kabupaten Lembata merasakan adanya peningkatan suhu udara menjadi lebih panas. Di saat tertentu, udara menjadi sangat dingin.
“Perubahan suhu semakin panas juga mengakibatkan munculnya beberpaa hama dan penyakit baru tanaman. Akibatnya, tanaman tidak tumbuh optimal,” terangnya.

Tanam sorgum
Siang itu, Benedikta Ose, warga Dusun Walet, membuat jagung titi, makanan khas etnis Lamaholot. Tangannya terampil mengambil jagung matang yang disangrai di periuk tanah.
Jagung diletakkan di atas batu ceper lalu ditumbuk seperti emping.
“Biasanya dikonsumsi saat minum teh atau kopi. Sehabis panen, jagung kami keringkan dan disimpan di lumbung untuk dijadikan jagung titi, atau dicampur beras menjadi nasi jagung,” ujarnya, Kamis (7/8/2025).

Warga Desa Tapobali sejak 2023 kembali menanam sorgum. Pangan lokal (kfarfolot) ini pernah ditanam dan dikonsumsi warga sebelumnya.
“Pertama tanam sorgum kami gagal panen karena panas berkepanjangan. Hasil panen hanya 10 kilogram pada lahan seluas hampir satu hektar,” sebut Abrosia Ero, warga Desa Topobali yang juga anggota Gebetan. Komunitas Gebetan merupakan singkatan Gerep Blamu Tapobali Wolowutun yang artinya muda mudi Tapobali ujung kampung.
Bersama komunitas, Ambrosia yang merupakan pengelola keuangan Gebetan, memotivasi warga menanam sorgum. Alasannya, sorgum lebih tahan (beradaptasi) terhadap krisis iklim. Dengan curah hujan rendah dan kondisi tanah kurang subur, sorgum cocok dibudidayakan.
Tahun 2024, hasil panen sorgum warga Topobali melimpah. Setahun bisa dua kali panen. Bahkan, sisanya dijadikan benih sebab banyak warga yang meminta untuk ditanam di ladang mereka.
“Kami bersyukur, sekarang bukan warga kami saja, desa tetangga pun mulai menanam sorgum,” ungkapnya.
*****