- Sylvia Sjam, Guru Besar di Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar, aktif mengembangkan dan mengenalkan pertanian organik di Sulawesi Selatan. Tidak hanya di kampus, ia mendampingi petani dan edukasi bagi anak-anak.
- Dalam bidang riset, Sylvia telah mematenkan berbagai inovasi pengendalian hama berbasis hayati, termasuk mikroba untuk penyakit kakao dan atraktan dari tanaman lokal seperti serai wangi dan Calotropis gigantea.
- Dari halaman rumahnya yang kecil di Makassar, ia membangun Freshco Organik, kebun urban yang tak hanya menyediakan sayur segar, tapi juga tempat belajar tentang ekologi dan etika bertani.
- Dalam memperjuangkan pertanian organik, Sylvia tak hanya fokus pada teknik budidaya, tapi juga pada sistem sosial yang menyertainya. Ia mendorong penggunaan Participatory Guarantee System (PGS), model sertifikasi organik berbasis komunitas.
Di sebuah kebun kecil di pinggiran Kota Makassar, seorang perempuan paruh baya berdiri memandangi daun bayam yang baru tumbuh. Dia memegangi tanah seperti memegang sesuatu yang hidup. Baginya, tanah tak sekadar media tumbuh, “Melainkan nadi kehidupan itu sendiri,” katanya, dalam sebuah perbincangan dengan Mongabay, awal Juli 2025.
Perempuan itu adalah Sylvia Sjam, Guru Besar di Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Ia seorang pendidik, peneliti, sekaligus pelaku pertanian organik di Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebelum kata “organik” menjadi tren, dia telah menginjakkan kaki di pematang sawah, menanam benih dengan keyakinan bahwa perubahan tidak tumbuh dari seminar, tapi dari lumpur di bawah matahari.
Lahir di Makassar pada 8 September 1957, Sylvia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan alam, meski pendidikannya ditempa di ruang laboratorium. Dia memulai pendidikan sarjana di Fakultas Pertanian Unhas, dengan fokus pada entomologi dan kesehatan tanaman pada 1982.
Sylvia lalu melanjutkan pendidikan magister di tahun 1987, dan gelar doktoral pada tahun 2000, di bidang yang sama. Kepakarannya membawanya menjadi Kepala Laboratorium Pestisida dan Bahan Alami serta pernah menjabat Ketua Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Unhas.
“Saya memang dari dunia semprot-menyemprot,” katanya sambil tertawa kecil. Tapi tawa itu menyimpan permenungan panjang, karena seiring waktu, dia mulai menyadari bahwa pendekatan kimia dalam pertanian justru merusak siklus kehidupan yang selama ini dijaga oleh alam dan petani-petani kecil.
“Saya melihat petani batuk-batuk karena menyemprot, anak-anak mereka ruam karena main di sawah yang tercemar. Saya mulai bertanya, benarkah ini satu-satunya cara?”

Patenkan inovasi
Pertanyaan itu menggugah seluruh keyakinan ilmiahnya. Dia mulai keluar dari laboratorium dan masuk ke kebun-kebun rakyat. Dia belajar ulang, dari tanah yang gembur dan kearifan lokal yang masih bertahan di pelosok desa.
Sylvia tergolong produktif di bidang riset terapan. Terbukti, telah mematenkan berbagai inovasi pengendalian hama berbasis hayati, termasuk mikroba untuk penyakit kakao dan atraktan dari tanaman lokal seperti serai wangi dan Calotropis gigantea.
Hasil risetnya juga diakui secara internasional, dengan keterlibatan di berbagai forum seperti International Society for South East Asian Agricultural Sciences (ISSAAS) di Jepang, Filipina, dan Vietnam, serta FAW International di Afrika. Dia juga aktif dalam organisasi seperti Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) dan ISSAAS, memperkuat posisi Indonesia dalam pertanian berkelanjutan di tingkat global.
Di luar akademik, Sylvia memimpin Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo, yang terletak di pesisir Kota Takalar, Sulsel, yang programnya menggabungkan pendidikan lingkungan dan ekowisata. Dia juga menjadi bagian dari tim teknis lembaga sertifikasi organik Seloliman di Jawa Timur, mengembangkan Participatory Guarantee System (PGS) sebagai sistem sertifikasi murah dan inklusif untuk petani kecil.
Transformasi Sylvia tak selalu mudah. Di dunia akademik, berbicara soal pertanian organik saat itu seperti menggumamkan mitos. Tapi Sylvia memilih jalan itu. Dia mulai membuat kompos, menanam sayur tanpa pupuk kimia, dan meramu pestisida dari bahan alami: daun sirsak, rendaman bawang putih, dan fermentasi buah busuk.
Dia percaya bahwa ilmu harus menyatu dengan nurani. Maka ia tidak hanya menulis jurnal, tapi menanam dengan tangannya sendiri. Dari halaman rumahnya yang kecil di Makassar, dia membangun Freshco Organik, kebun urban yang tak hanya menyediakan sayur segar, tapi juga tempat belajar tentang ekologi dan etika bertani. “Freshco bukan bisnis,” ujarnya. “Ia lahir dari keprihatinan. Karena saya lihat banyak tanah yang lelah, banyak petani putus asa.”
Melalui Freshco, Sylvia mencoba mempertemukan dunia pertanian dengan kehidupan urban. Dia ingin menunjukkan bahwa bertani bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, tanpa harus merusak tanah dan tubuh.
Dia juga mengembangkan Fresko Education and Organic Farm sebagai wisata berbasis edukasi yang ditujukan di antaranya ditujukan kepada anak-anak, yang dia kembangkan bersama anak serta petani lokal. Di taman miniatur ini, anak-anak belajar tentang pertanian, sayuran organik dan bermain bersama satwa-satwa lucu yang biasa ditemukan di dalam kebun.
Salah satu kekuatan utama Sylvia adalah kemampuannya menyatukan teori dan praktik. Dia menyebut pendekatannya sebagai “pendampingan ekosistem sosial.” Dia tak datang membawa solusi, tapi membangun relasi. Mengirim mahasiswa ke desa-desa bukan sekadar meneliti, tapi untuk tinggal, belajar, dan menanam bersama petani.
“Petani itu pintar. Mereka punya pengetahuan lokal. Yang mereka butuhkan bukan ceramah, tapi teman bertukar pikiran,” ujar Sylvia.

Bina para petani
Di Desa Gantarang Keke, Kabupaten Bantaeng, dia sukses membina dua petani: Zainuddin dan Nurman. Awalnya skeptis, tapi perlahan berubah. Mereka belajar membuat kompos, mengenali siklus hama, dan membangun sistem tanam yang selaras dengan alam. Mahasiswa yang mendampingi mereka bukan hanya membawa ilmu kampus, tapi juga pulang membawa pelajaran hidup.
Dalam memperjuangkan pertanian organik, Sylvia tak hanya fokus pada teknik budidaya, tapi juga pada sistem sosial yang menyertainya. Dia mendorong penggunaan Participatory Guarantee System (PGS), model sertifikasi organik berbasis komunitas.
“PGS itu bukan cuma label,” jelasnya. “Tapi janji. Kita tahu siapa yang menanam, bagaimana cara mereka menanam, dan untuk siapa mereka menanam.”
Bagi Sylvia, kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam sistem pangan. Konsumen tidak boleh hanya membeli sayur, tapi juga ikut menumbuhkan relasi yang adil dan berkelanjutan antara produsen dan tanah.
Dia meyakini bahwa gerakan pertanian organik harus dibangun dari bawah, dari kebun-kebun kecil, dari percakapan antar tetangga, dan dari peluh petani yang terus setia mengolah tanah. Baginya, pertanian adalah jalan spiritual. “Menanam itu ibadah. Kita memberi makan makhluk hidup, merawat bumi, dan berbagi rezeki,” ujarnya.
Dia percaya bahwa perubahan ekologi harus dimulai dari perubahan cara pandang. “Kalau kita anggap tanah cuma alat produksi, kita akan terus merusaknya. Tapi kalau kita anggap tanah sebagai ibu, kita akan menjaganya seperti anak menjaga ibunya.”
Di usia yang tak lagi muda, Sylvia masih terus menulis, menanam, dan berbicara. Dia tahu bahwa perubahan tidak terjadi dalam satu musim. Tapi seperti tanah yang sabar, dia percaya pada ketekunan. “Kalau saya bisa bantu satu petani saja untuk bertahan di jalur organik, itu sudah cukup. Dari satu, jadi dua. Dari dua, jadi sepuluh. Dari situ, perubahan akan datang.”
*****