- Andi Fadly Arifuddin, yang dikenal dengan nama panggung Fadly, vokalis Padi Reborn, bersama Komunitas Makassar Berkebun dan Pemkot Makassar, menggagas gerakan urban farming yang mereka namakan Tanami Tanata, akronim dari “tanam di tanah sendiri”.
- Tanami Tanata dirancang sebagai urban farming hub terintegrasi, sebagai pusat edukasi, demonstrasi, dan pengembangan sistem pangan kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
- Pendekatan yang digunakan dalam program ini berbasis pemetaan minat warga. Setiap komunitas mengisi formulir, memilih sektor yang ingin dikembangkan, dan bersama-sama menyusun proposal yang kemudian diajukan ke Pemerintah Kota Makassar.
- Hal yang membuat Tanami Tanata berbeda adalah pendekatan integratifnya. Tidak hanya pertanian, tetapi juga peternakan skala kecil, perikanan darat, pengolahan sampah, hingga pakan berkelanjutan menjadi bagian dari sistem.
Di tengah kemacetan dan deru mesin kendaraan Kota Makassar, sekelompok warga memelihara harapan di antara pot-pot tanaman yang menjulang dari sudut-sudut rumah dan lahan tidur. Mereka menyebut gerakan ini “Tanami Tanata,” singkatan dari “tanam di tanah sendiri”, sebuah inisiatif urban farming yang tidak hanya menjawab tantangan pangan kota, tapi juga menjadi gerakan sosial dan ekologis.
Penggagas gerakan ini adalah Andi Fadly Arifuddin, vokalis Padi Reborn, yang dikenal dengan nama panggung Fadly bersama Komunitas Makassar Berkebun. Gerakan ini bukan sekadar proyek penghijauan dan kemandirian pangan berskala kecil, namun jawaban atas kegelisahan kota yang bergantung pada pasokan pangan dari luar dan bertanggung jawab atas beban ekologis dari sistem konsumsi yang timpang.
Meski Fadly sebagai penggagasnya, namun implementasi melekat pada Dinas Perikanan dan Pertanian Makassar. “Gerakan ini leading-nya ada di Dinas Perikanan dan Pertanian Makassar, lalu juga melibatkan instansi penyuluhan,” kata Fadly di Makassar, Kamis (26/6/25).
Tanami Tanata dirancang sebagai urban farming hub terintegrasi, sebagai pusat edukasi, demonstrasi, dan pengembangan sistem pangan kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan. Fadly yang kini menjabat staf ahli bidang urban farming dan lingkungan hidup Kota Makassar, menyebut, gagasan ini tidak muncul dari ruang hampa.
Kota Makassar, dengan urbanisasi yang berkembang cepat, telah lama menghadapi persoalan klasik: harga bahan pangan yang terus berfluktuasi, ketergantungan pada daerah penghasil, serta meningkatnya limbah organik dan alih fungsi lahan. Belum lagi soal gizi keluarga urban kelas pekerja yang kerap terabaikan karena tingginya harga sayur segar.
“Tanami Tanata membalik logika ini, daripada menjadi korban pasar dan cuaca, mengapa tidak kita tanam sendiri dari tanah kita?”
Terkait motivasinya menggagas gerakan ini, Fadly mengutip ungkapan Laozi (Lao Tzu), seorang filsuf Tiongkok kuno yang hidup sekitar abad VI SM.
“Berikan seseorang seekor ikan, maka ia akan makan hari itu. Ajarkan seseorang memancing, maka dia akan makan selamanya,” katanya, mengutip ungkapan Laozi.
Urban farming bukanlah hal yang baru bagi Fadly. Selama 15 tahun terakhir, dia telah memulai inisiatif tersebut di pekarangan rumahnya. Di Makassar dia juga punya kebun yang fokus pada pertanian kota. Dia juga pernah menanam bambu di beberapa pulau di Makassar, yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Fadly meyakini, dengan kultur gotong royong, komunitas bisa menjadi aktor utama dalam menyusun sistem pangan mereka sendiri. Pendekatan yang digunakan berbasis pemetaan minat warga. Setiap komunitas mengisi formulir, memilih sektor yang ingin dikembangkan, dan bersama-sama menyusun proposal untuk diajukan ke Pemkot Makassar.
“Di sini warga didorong untuk memilih sektor pertanian sesuai minat dari hidroponik skala rumah tangga, budidaya jamur merang, beternak puyuh petelur, hingga mengelola kolam bioflok lele.”
Bahkan pembuatan pupuk organik dan pengolahan limbah dapur menjadi bagian integral dari skema ini. Konsep modular yang mereka kembangkan memungkinkan instalasi skala kecil (1–2 meter persegi) untuk keluarga, skala sedang (hingga 10 meter persegi) untuk RT, dan skala besar di atas 10 meter persegi untuk komunitas RW. Dengan rancangan seperti ini, tidak ada ruang yang benar-benar sia-sia.

Kurangi pengeluaran
Pada fase pertama (enam bulan), Tanami Tanata fokus pada edukasi dan pembangunan model percontohan. Sekolah, tempat ibadah, dan pos RW menjadi titik awal penyebaran gagasan ini.
Di fase kedua (bulan ke-7 hingga ke-24), gerakan mulai mengembangkan sektor inti, memperkenalkan integrasi bank sampah digital, serta memperluas infrastruktur modular di komunitas-komunitas peminat.
Target tahun ketiga adalah menciptakan minimal dua urban farming hub yang aktif dan mandiri, membentuk 50 komunitas baru, dan meningkatkan produksi pangan lokal hingga 20%. Tak hanya itu, target proyek ini mampu menurunkan pengeluaran keluarga Rp300.000-Rp1.000.000 per bulan.
Di tingkat global, gerakan ini sebenarnya bukan hal baru. Di Kuba, pasca keruntuhan Uni Soviet, warga Havana membangun sistem pertanian kota skala besar yang kini menyuplai hampir 70% kebutuhan pangan segar kota.
Begitu pula di Detroit, Amerika Serikat, kota yang bangkrut secara ekonomi namun bangkit melalui gerakan pertanian kota sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalisme pangan.
Di Jakarta, sejumlah komunitas seperti Kebun Kumara dan Kebun Komunitas Ciliwung di Srengseng Sawah juga telah membuktikan bahwa urban farming bukan sekadar hobi, melainkan strategi hidup dan perlawanan ekologis.
“Hal yang membuat Tanami Tanata berbeda adalah pendekatan integratifnya. Tidak hanya pertanian, tetapi juga peternakan skala kecil, perikanan darat, pengolahan sampah, hingga pakan berkelanjutan menjadi bagian dari sistem,” ujar Fadly.
Bahkan, tanaman pakan seperti azolla dan budidaya maggot masuk ke dalam ekosistem ini. Pendekatan holistik ini yang tidak hanya melihat pangan sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses yang melibatkan banyak mata rantai sosial dan ekologis.
“Ke depan, sistem ini akan diperkuat dengan pengembangan aplikasi mobile dan e-marketplace lokal untuk mendukung digitalisasi barter sampah organik dan distribusi hasil tani.”

Di lapangan, cerita-cerita kecil mulai tumbuh. Seorang ibu rumah tangga di Tamalate bisa menanam sendiri kebutuhan sayur harian keluarganya hanya dari instalasi hidroponik vertikal berukuran 1 meter persegi. Di Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, sekelompok ibu rumah tangga membangun instalasi pertanian hidroponik di pekarangan rumah masing-masing.
“Kami tak pernah bayangkan, limbah dapur rumah bisa jadi kompos, dan dari kompos itu kami bisa tanam bayam dan kangkung. Sekarang bukan cuma makan sendiri, kami bisa jual ke tetangga,” kata Murni, ibu rumah tangga di Pannampu.
Di Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini, warga antusias menyambut gerakan ini. Beberapa bahkan telah mengembangkan pertanian hidroponik dan budidaya ikan lele dengan metode bioflok skala kecil, yang hasilnya sekadar untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
“Ini baru kita kembangkan sebulan terakhir dan sudah terlihat ada hasil, sebentar lagi panen. Lumayan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti sayuran dan cabai, yang tak perlu beli lagi. Kalau ikan lele bioflok hasilnya nanti untuk dijual,” kata Rasnia, warga Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini.
Rahma, warga Kelurahan Tidung, sudah lama menanam sayuran di pekarangannya, namun pengetahuannya tentang tanaman masih terbatas. Keikutsertaan dalam kegiatan ini memberinya pengetahuan baru.
Nirwan, Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, menyambut baik program dan gerakan ini, dan berharap juga bisa dilakukan juga di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, yang justru memiliki kerentanan yang tinggi terkait ketersediaan pangan.
“Di beberapa pulau di Kota Makassar, program ini bisa kita jalankan bersama. Selama ini, pulau-pulau kecil memiliki akses terbatas terhadap pangan penting seperti sayuran dan buah, mereka hanya mengandalkan suplai dari daratan. Namun pulau-pulau seperti Pulau Langkai dan Lanjukang berjarak jauh dari daratan, di mana mobilitas mereka tergantung pada cuaca. Urban farming saya kira cocok dikembangkan di kedua pulau ini,” katanya.
Fadly menyadari tidak semua berjalan mulus. Tantangan manajemen komunitas, dinamika sosial, hingga keterbatasan pendamping ahli menjadi bagian dari proses yang terus belajar. Namun kekuatan utamanya justru terletak di partisipasi warga.
Dia berharap program ini bisa ‘terdesentralisasi’ dalam artian tidak fokus pada dirinya sebagai public figur penggagas gerakan. Ada keterbatasan waktu, selain karena waktunya banyak di Jakarta, juga karena dia juga sedang persiapan tur album baru dan aktivitas manggung lainnya.
“Saya hanya ingin menjadi pemantik saja, tidak semata tergantung pada kehadiran saya, karena waktu saya juga terbatas. Makanya kita harap para fasilitator-fasilitator dan penyuluh-penyuluh pertanian dari pemkot akan banyak berperan. Begitu juga banyak influencer di Makassar bisa terus memberikan dukungan.”
*****
‘Urban Farming’, Penuhi Pangan Sehat sekaligus Bantu Hadapi Krisis Iklim