- Baru satu minggu lahir, anak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) mati di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, awal Juli. Kombinasi malnutrisi, dehidrasi, induk yang stres hingga kemungkinan kelainan genetik jadi faktor pemicunya.
- Hartono, Kepala BKSDA Sumatera Barat, menyebut bayi harimau jantan ini lahir dari indukan Yani dan Bujang Mandeh. Dia bilang, Yani beberapa kali terlihat tidak mau menyusui anaknya, membuat si belang kecil berada dalam kondisi tidak stabil.
- Zulfanedi Yoli, Dokter hewan sekaligus Ketua Tim Konservasi Fauna dan Flora TMSBK Bukittinggi, mengatakan ada faktor eksternal dan internal yang menyebabkan Yani stres. Faktor eksternal berasal dari pengunjung TMSBK.
- Satyawan Pudyatmoko, Dirjen KSDAE, dalam keterangan pers yang Mongabay terima, menyebut, hasil observasi lapangan, riwayat perkembangbiakan, dan nekropsi menunjukkan indikasi kuat faktor kelainan genetik serta perilaku maternal induk yang turut memengaruhi kematiann anak harimau.
Baru satu minggu lahir, anak harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) mati di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, awal Juli. Kombinasi malnutrisi, dehidrasi, induk yang stres hingga kemungkinan kelainan genetik jadi faktor pemicunya.
Hartono, Kepala BKSDA Sumatera Barat, menyebut bayi harimau jantan ini lahir dari indukan Yani dan Bujang Mandeh. Dia bilang, Yani beberapa kali terlihat tidak mau menyusui anaknya, membuat si belang kecil berada dalam kondisi tidak stabil.
“Kondisi Yani kembali gelisah dan tidak mau menyusui anaknya, sehingga anak Yani terlihat kelelahan dan terbaring lemas. Tim kemudian berupaya untuk memberikan pertolongan dengan evakuasi dan membawa anak Yani ke klinik untuk perawatan,” katanya pada Mongabay.
Tim Dokter dan Keeper melakukan berbagai penyelamatan. Namun, anak harimau itu mati pada Selasa (1/7/25).
Berdasarkan hasil nekropsi, tim tidak menemukan kelainan pada organ-organ tubuh anak Yani. Mereka menyimpulkan kematiannya karena dehidrasi dan kurang asupan nutrisi dari induk.
Zulfanedi Yoli, Dokter hewan sekaligus Ketua Tim Konservasi Fauna dan Flora TMSBK Bukittinggi, mengatakan ada faktor eksternal dan internal yang menyebabkan Yani stres. Faktor eksternal berasal dari pengunjung TMSBK.
“Yani itu kandangnya gampang terlihat dari luar dan memang kami perhatikan Yani kurang nyaman dengan kondisi seperti itu,” ucapnya.
Untuk mengatasi itu, pengelola sebenarnya sempat menutup kandang Yani dua kali. Pertama saat melahirkan, kemudian di tanggal 29 Juni.
Kondisi stres ini, lanjutnya, bisa mempengaruhi kondisi internal atau psikologis Yani. Mereka pun masih mengkaji lebih lanjut apakah susu harimau tersebut keluar saat menyusui anaknya.
Zulfanedi juga menyebut ada kemungkinan Yani memiliki kelainan genetik yang dia bawa dari indukan. Pasalnya, Yani bukan harimau hasil rescue, tetapi anakan dari induk Sean yang berasal dari Taman Rimbo Jambi.
Yani lahir dan tumbuh di TMSBK Bukittingi dan berumur 8 tahun. Sejak 2024, ia sudah melahirkan tiga kali, dua kali pada 2024 dan keduanya lahir dalam kondisi mati.
“Masih sebatas kecurigaan (kelainan genetik). Karena untuk membuktikannya butuh pemeriksanaan yang lebih tinggi dan belum ada yang mampu melakukannya.”
Sementara itu, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan akan melakukan pemeriksaan genetik induk dan keturunan harimau di TMSBK Bukittinggi. Hal ini untuk memvalidasi adanya dugaan kelainan hereditas yang memicu kematian anak harimau sumatera.
Satyawan Pudyatmoko, Dirjen KSDAE, dalam keterangan pers yang Mongabay terima, menyebut, hasil observasi lapangan, riwayat perkembangbiakan, dan nekropsi menunjukkan indikasi kuat faktor kelainan genetik serta perilaku maternal induk yang turut memengaruhi kematiann anak harimau.
“Indukan harimau ini berusaha me-reject anaknya sendiri, yang tercermin dalam ketidakmauannya untuk menyusui dan merawat anaknya,” katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, bisa terjadi di alam. Biasanya karena genetic defect atau induk stres.
“Pada kejadian Harimau Yani ini, Berdasarkan penjelasan tim dokter dan keeper, upaya memberi susu tambahan dan evakuasi sudah dilakukan, namun tidak dapat menolong. Ini yang perlu pendalaman, akar masalahnya pada ketidakmauan induk menyusui.”
Sebagai tindak lanjut, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) dan tim medis TMSBK akan melakukan pemeriksaan genetik pada induk dan keturunannya untuk memvalidasi adanya dugaan kelainan hereditas. Mereka juga akan mengkaji perilaku maternal, untuk mengantisipasi pola penolakan dalam program breeding mendatang. Juga, evaluasi menyeluruh standar perawatan, nutrisi, dan manajemen stres pada kandang harimau.
Dia bilang, Kementerian Kehutanan tetap berkomitmen pada upaya konservasi harimau sumatera sebagai salah satu spesies prioritas. Dengan memerhatikan kesejahteraan satwa (animal welfare) serta menjaga kemurnian genetik populasi.
“Kami mengajak masyarakat memahami dan berperan aktif dalam upaya konservasi satwa liar. Setiap kejadian menjadi evaluasi penting agar penanganan ke depan semakin baik.”

Program perkembangbiakan
Kasus kematian anak harimau di TMSBK bukan yang kali pertama. Selain anak Yani pada 2024 dan 2025, pasangan harimau Bujang Mandeh dan Mantagi juga sempat melahirkan sepasang harimau yang salah satunya bernama Banun pada 28 Desember. Tapi, kembaran Banun mati di hari kedua.
Meskipun demikian, pasangan Bujang Mandeh dan Mantagi kembali melahirkan sepasang bayi, 3 Mei 2025. Titiek Soeharto, Ketua Komisi IV DPR RI, saat kunjungan ke TMSBK bersama Menhut Raja Juli Antoni, 21 Juni, memberi nama kedua harimau ini Rizki dan Lestari.
Zulfanedi bilang, kelahiran bayi-bayi harimau itu merupakan bagian dari program breeding terkontrol. Dia berharap program ini jadi salah satu upaya melestarikan populasi harimau sumatera secara eksitu dengan melibatkan harimau konflik ataupun yang lahir di kebun binatang.
Breeding terkontrol merupakan program konservasi internasional di mana pengelola Lembaga Konservasi (LK) berupaya menjaga populasi satwa endemik tetap ada namun tetap harus memiliki keragaman genetik diatas 90 persen. Yani merupakan harimau pertama yang berhasil mengikuti program ini.
“Jadi kita tidak membiarkan harimau-harimau kita atau satwa endemik lainnya yang ikut program breeding melakukan perkawinan sedarah. Program breeding pertama dilakukan dengan harimau betina Yani dan harimau jantan Bujang Mandeh pada pertengahan 2023.”
Selama ini, katanya, Yani tidak pernah bunting, sekalipun ia kawin. Pihak pengelola melakukan evaluasi, perbaikan, dan memberi obat-obatan untuk penyubur.
“Kami lakukan perubahan pakannya agar nutrisi yang dibutuhkan untuk pematangan atau perbaikan organ reproduksinya jadi lebih baik.”
Menurutnya, data Global Species Management Plant (GSMP) menyebut populasi harimau sumatera, khususnya di Lembaga Konservasi (LK) secara nasional, mengalami penurunan. Seluruh lembaga konservasi yang memiliki harimau sumatera pun mendapat dorongan untuk mengupayakan harimau sumatera tersebut bisa beranak kembali.
“Jadi salah satunya kitalah yang berhasil dalam beberapa tahun terakhir ini dengan kelahiran yang bertubi-tubi, dari Harimau Yani tiga kali lahiran, sedangkan Mantagi sudah dua kali, walaupun yang selamat baru anaknya Mantagi.”

*****