- Budidaya rumput laut berperan dalam peningkatan kesejahteraan nelayan di Desa Bontomanai dan Dusun Maccini Baji, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Peran perempuan sentral dalam kelancaran pengembangan budi daya rumput laut ini.
- Budidaya rumput laut memiliki banyak tantangan, dari masalah perubahan iklim hingga fluktuasi harga. Petani rumput laut harus bisa beradaptasi jika ingin bertahan. Peran pengalaman dan pertukaran pengetahuan menjadi hal yang penting.
- Pengetahuan lokal menjadi fondasi adaptasi, mengatasi perubahan iklim tanpa bergantung pada teknologi modern atau intervensi pemerintah.
Strategi seperti menenggelamkan tali rumput laut dan memilih bibit sesuai musim lahir dari pengalaman kolektif, bukan dari pelatihan formal. - Turunnya harga membuat petani harus mengandalkan simpanan, berhemat, atau menyesuaikan pola kerja. Di sisi lain, jaringan sosial, gotong royong, dan informasi komunitas menjadi pelindung terakhir dari tekanan pasar yang tidak stabil.
Suasana di Desa Bontomanai, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), tampak sibuk, Jumat (13/6/2025). Riuh rendah suara perempuan dan laki-laki muda bercampur desir angin laut terdengar dari sebuah pekarangan rumah. Di sana, Nurlia (56) memeriksa bentangan tali rumput laut sepanjang 25 meter, sementara beberapa perempuan dan lelaki muda duduk bersila di atas terpal plastik memilah bibit-bibit rumput laut.
“Beginilah pekerjaan setiap hari, dari pagi sampai sore. Pagi setelah urus suami dan anak-anak baru datang ke sini. Siang kadang pulang sebentar untuk masak, lalu balik lagi sampai menjelang magrib,” kata Nurlia sembari merapikan simpul tali yang mulai mengendur.
Dia menyebut pekerjaan ini sebagai berkah. “Dulu rumah saya cuma gubuk, berdiri di atas tanah pinjaman. Sekarang sudah punya rumah permanen, isi rumah lengkap. Bahkan sudah bisa kumpul sedikit-sedikit untuk masa sulit. Anak-anak pun bisa sekolah,” katanya, bangga atas hasil jerih payahnya.
Nia, punya kisah serupa. Dulu, keuangan keluarga hanya bergantung hasil tangkapan kepiting dan ikan suami. “Kalau cuma andalkan kepiting, hidup tidak akan berubah. Hasil rumput laut jauh lebih pasti. Bisa panen tiap bulan,” katanya sambil mengikat bibit.
Di kampung sebelah, Dusun Maccini Baji, Kelurahan Pundata Baji, Emma bahkan melangkah lebih jauh. Bersama suaminya, perempuan 34 tahun ini mengelola lebih dari 1.000 bentangan tali rumput laut dan menjadi pengepul. Dia membeli hasil panen rumput laut dari petani sekitar dan menjualnya langsung ke gudang besar.
“Dulu suami hanya nelayan biasa. Sekarang bisa punya mobil, simpan emas, dan usaha kepiting juga. Semua dari rumput laut,” katanya.
Emma adalah potret nyata perempuan tak lagi berada di belakang layar ekonomi keluarga pesisir, melainkan di garda depan, menghubungkan produksi dengan pasar.
Dalam budidaya rumput laut, perempuan biasa terlibat di pembibitan, pengeringan dan kadang hingga pemasaran. Sementara tugas suami adalah turun ke laut membentangkan tali serta menarik tali ketika masa panen.

Tantangan perubahan iklim
Namun budidaya rumput laut bukan tanpa tantangan. Hujan deras, angin kencang, bahkan banjir rob bisa menyebabkan rumput laut rusak atau hanyut bersama tali-tali tempat mereka tumbuh. Para petani tak menyerah. Pengetahuan lokal, hasil dari pengalaman panjang dan pertukaran antarpetani menjadi tameng dalam menghadapi iklim yang tak menentu.
“Kalau air terlalu tawar karena hujan, rumput bisa rusak. Jadi harus ditenggelamkan lebih dalam,” ujar Nurlia. Dia menunjukkan botol plastik bekas berisi air yang diikat tiap satu meter sebagai pemberat di tali bentangan.
Strategi adaptasi lain adalah pemilihan bibit sesuai musim. Cottonii berwarna merah ditanam saat musim hujan karena lebih tahan air tawar, sedangkan varietas hijau digunakan di musim kemarau karena pertumbuhannya lebih bagus.
Petani juga punya filosofi dalam menjaga tali-tali mereka agar tak mudah hanyut. Dua bentangan tali sering mereka ‘kawinkan’, yaitu diikat bersama agar lebih kuat.
“Berdua lebih kuat dari sendiri. Kalau dikawinkan, hasilnya juga lebih banyak,” ucap Ardi, petani rumput laut yang juga sempat ditemui pada hari yang sama.
Di Kelurahan Maccini Baji, bentuk adaptasi lain terlihat. Saat perairan sekitar penuh limbah atau alga, para petani rumput laut menarik tali ke tengah laut, mencari perairan yang lebih bersih. Jika itu tidak cukup, mereka berpindah ke lokasi lain, bahkan melintasi batas desa.
“Pernah juga berselisih karena merasa lahan lautnya dipakai, tapi biasanya bisa diselesaikan baik-baik,” kata Tami. Kepala desa dan tokoh adat biasa turun tangan.
“Laut ini bukan punya siapa-siapa. Kita jaga dan pakai bersama,” tambahnya, menekankan pentingnya nilai kolektivitas dalam mengelola ruang laut.
Adaptasi teknis saja tidak cukup. Peran pemerintah juga sangat menentukan. Di Bontomanai, dalam empat tahun terakhir, petani menerima bantuan bibit dan tali setiap musim tanam. Bantuan ini membantu mereka tetap bertahan saat musim sulit dan harga jual tak menentu.
Sebaliknya, di Maccini Baji, warga mengaku tak mendapat bantuan serupa. “Karena kami kelurahan, bukan desa. Jadi tidak masuk program bantuan desa,” keluh Tami.

Harga fluktuatif
Tantangan lain, harga fluktuatif. Harga rumput laut cottonii sempat menyentuh Rp18.000 per kilogram, sebelumnya Rp13.000. Ketika harga tinggi, semua tampak baik tetapi ketika jatuh, banyak petani kelimpungan dan terpaksa berutang ke tengkulak.
Untuk bertahan, sebagian petani menyisihkan hasil panen sebagai simpanan. Jika harga turun, mereka melakukan efisiensi dengan mengurangi upah pengikatan bibit atau mengganti sistem kerja.
Di Bontomanai, ada dua sistem yang umum digunakan: gotong royong dan sistem pasar kerja. Di sistem gotong royong, pengikat bibit dibayar Rp3.500 per tali. Sedangkan di sistem pasar kerja, upah bisa Rp4.500, dipotong Rp500 untuk jasa pihak ketiga sebagai penyedia kerja.
Hidayah Rahman, peneliti dari Universitas Hasanuddin yang turut mendampingi kunjungan lapangan pada 13 Juni 2025 itu, menyebut, praktik masyarakat Bontomanai dan Maccini Baji sebagai contoh konkret bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim dan tekanan ekonomi, bukan hanya soal alat atau bantuan.
“Ini soal pengetahuan lokal, relasi sosial yang kuat, dan keteguhan untuk tetap bertahan,” katanya.
Menurut dia, bagi banyak perempuan di pesisir Pangkep, rumput laut bukan hanya sumber penghasilan, juga ruang baru mereka bisa berperan lebih besar mengelola ekonomi rumah tangga, menghubungkan hasil panen ke pasar, dan mengambil keputusan sendiri.
“Apa yang mereka lakukan setiap hari dari mengikat bibit, menenggelamkan tali, hingga menjual hasil panen bukan sekadar kerja rutin. Ini adalah bentuk perlawanan halus terhadap ketimpangan, sekaligus pernyataan bahwa mereka sanggup, bahkan unggul, dalam menghadapi ketidakpastian zaman.”
*****
Inilah Perbedaan Rumput Laut dan Lamun yang Sering Dikira Sama