- Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, terjadi Selasa (17/6/2025).
- Data Magma Indonesia menunjukkan, Lewotobi Laki-laki mengalami erupsi sebanyak 426 kali. Jumlah letusan ini masih kalah dari Gunung Semeru yaitu 1.867 kali dan Gunung Ibu sebanyak 1.685 letusan.
- Dampak abu letusan Lewotobi bisa menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kulit gatal-gatal, dan diare.
- Abu vulkanik yang tebal juga dapat menutupi daun tanaman dan menghalangi fotosintesis dan respirasi. Daun, batang, dan buah bisa rusak apalagi saat musim panas dan tidak ada hujan.
Gregorius Wangge kaget mendengar berita erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Selasa (17/6/2025). Dia belum satu jam tiba di Kota Maumere, dalam penerbangan dari Kupang. Jalur penerbangan pesawat sekitar 100 km sebelah barat Lewotobi Laki-laki, di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
“Bila masih di udara, saya tidak tahu apa yang terjadi,” ungkapnya, Selasa (17/6/2025) malam.
Tak ada peringatan terkait status Gunung Lewotobi Laki-Laki. Juga, tidak ada tanda gunung akan meletus.
Pukul 17:35 Wita erupsi besar terjadi. Yohanes Koli Sorywutun, petugas Pos Pengamatan Gunung Api Laki-Laki, dalam laporan resmi Magma Indonesia memaparkan, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut.
Malamnya, terjadi letusan pukul 19.37 Wita dan 20.34 Wita, namun visual letusan tidak teramati. Letusan pukul 23:00 WITA, ketinggian kolom abu teramati sekitar 5000 m berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya dan barat. Tinggi letusan mulai berkurang drastis Rabu (18/6/2025).
“Kolom abu dengan intensitas sedang ke arah utara,” sebutnya.

Tetap bertahan
Data Magma Indonesia menunjukkan, Lewotobi Laki-laki telah mengalami erupsi sebanyak 426 kali. Jumlah letusan ini masih kalah dari Gunung Semeru yaitu 1.867 kali dan Gunung Ibu sebanyak 1.685 letusan.
Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat mengalami erupsi panjang sejak 1861, 1865, 1868 (dua kali), 1869, dan 1907. Gunung api ini kembali meletus disertai aliran lava pada 1909, 1910, dan 1914. Sesudahnya kembali erupsi di tahun 1932, 1933, 1939, dan 1940. Tercatat 2 letusan besar pada 1 Januari 2024 dan 4 November 2024. Letusan kedua mengakibatkan 10 orang meninggal dunia.

Kor Liwu, warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, mengatakan sudah terbiasa mendengar suara erupsi Lewotobi.
“Letusan ini hanya abu dan kerikil halus. Pada 4 November lalu, ada lontaran larva pijar.”
Kor bersama keluarga tidak mengungsi, meski berada dalam radiu 6 km dari lokasi.
“Banyak warga bertahan dalam radius di bawah 7 km meski aliran listrik dan air diputus. Warga membeli generator untuk penerangan dan air dari mobil tanki,” ucapnya.

Dampak erupsi
Petrus Herlemus, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, mengatakan semua wilayah terdampak abu berdasarkan laporan petugas puskesmas. Kondisi ini bisa berdampak pada penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kulit gatal-gatal, dan diare.
“Kami mengimbau warga mengenakan masker dan kacamata agar terhindar debu,” jelasnya, Rabu (18/6/2025).
Petrus menambahkan, pihaknya telah menerjunkan tim untuk mengambil sampe air di beberapa kecamatan. Warung-warung makan pun diminta menutup rapat pintu, serta menjaga makanan dan minuman tidak terpapar abu.
“Petugas akan memberikan pelayanan dari rumah ke rumah untuk memudahkan masyarakat berobat,” jelasnya.

Inocensius Siga, Sekertaris Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, mengatakan abu vulkanik letusan mengandung berbagai unsur hara makro dan mikro yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Juga, memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
Abu vulkanik juga dapat meningkatkan daya ikat air pada tanah, terutama pada tanah berpasir sehingga membantu menjaga kelembaban tanah.
Dampak negatifnya, abu vulkanik yang tebal dapat menutupi daun tanaman dan menghalangi fotosintesis dan respirasi. Daun, batang, dan buah bisa rusak apalagi saat musim panas dan tidak ada hujan.
“Tanaman pangan seperti padi dan hortikultura sangat terdampak, sehingga harus ada penyiraman guna membersihkan abu yang menempel pada daun dan buah,” ucapnya.
*****