- Danau Diateh, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tercemar serius. Sumber air bersih ribuan masyarakat salingka lewat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi berbasis Masyarakat (Pamsimas) ini mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) tinggi hingga 16.000 Most Probable Number (MPN)/ 100 ml. Padahal, standarnya hanya 1.000 MPN/100 ml.
- Muhtia, salah satu warga Alahan Panjang, mengeluhkan kualitas air PDAM yang mengalir ke rumahnya. Menurutnya, air tersebut sudah tidak layak pakai. Kondisi ini terjadi sejak awal April.
- Dewi (bukan nama sebenarnya), warga Alahan Panjang lain, mengalami hal yang sama. Ia mengaku air PDAM di rumahnya tidak layak pakai, bau, dan berwarna kuning.
- Hafni Hafiz, Ketua Pansus Danau Diateh DPRD Kabupaten Solok saat Mongabay hubungi, kamis (22/5), menyebut, sudah meminta Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Solok untuk meneliti kandungan pakan ikan di area sekitar danau. Tujuannya, untuk mengetahui pengaruh makanan ikan terhadap pencemaran.
Danau Diateh, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tercemar serius. Sumber air bersih ribuan masyarakat salingka lewat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi berbasis Masyarakat (Pamsimas) ini mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) tinggi hingga 16.000 Most Probable Number (MPN)/ 100 ml. Padahal, standar toleransi hanya 1.000 MPN/100 ml.
Pencemaran di danau tektonik ini terjadi karena buangan limbah feses dari aktivitas villa dan cafe yang langsung mengalir ke danau, bukan ke tampungan septic tank. Panitia khusus (Pansus) DPRD Solok menemukan setidaknya 12 villa di kawasan Salingka yang membuang feses ke danau.
Selain sumber air bersih, Danau Diateh merupakan salah wisata andalan Solok yang menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahun. Hal ini yang mendorong villa dan cafe menjamur dalam dua tahun terakhir.
Muhtia, warga Alahan Panjang, mengeluhkan kualitas air PDAM yang mengalir ke rumahnya. Menurut dia, air sudah tidak layak pakai sejak awal April.
“Parahnya seminggu setelah lebaran, amis, busuk, bau kotoran manusia, untuk mandi dan mencuci pakaian. Air mesti disaring berkali-kali kemudian direbus hingga mendidih. Sedangkan untuk cuci muka, gosok gigi dan berwudhu kami memakai air galon,” katanya pada Mongabay, Rabu (21/5/25).
Kondisi itu, katanya, masih berlangsung hingga sekarang. Beberapa warga bahkan bilang, kualitas air memburuk setahun belakangan.
“Hampir semua kami yang tinggal di nagari Alahan Panjang kena imbasnya, rata-rata yang pakai PDAM kena.”
Pemilik kost-kostan ini bahkan harus meliburkan penghuni kostnya karena kondisi air yang tak layak pakai.
“Anak kost saya ada 16 orang. Biasanya air itu dipakai untuk keperluan sehari-hari termasuk mencuci beras, sejak lebaran sudah tiga kali kami meliburkan anak kost karena airnya tidak layak pakai, lengket-lengket ke badan.”

Mengutip sumbarmaju.com, Febri Fauza, Direktur PDAM Kabupaten Solok, mengatakan, persoalan ini hampir terjadi setiap tahun. Aktivitas pariwisata di Danau Diateh menjadi penyebab utamanya. Apalagi beberapa waktu setelah lebaran, sampah dan limbah pengunjung lebih banyak mengalir ke tepian danau.
“Untuk permasalahan air ini, puncaknya sudah terjadi sejak libur lebaran. Memang ada penurunan kualitas air yang air bakunya bersumber dari Danau Diateh, diolah kemudian disuplai ke rumah masyarakat,” katanya.
Hafni Hafiz, Ketua Pansus Danau Diateh DPRD Solok saat Mongabay hubungi, Mei lalu menyebut, sudah meminta Dinas Lingkungan Hidup, Solok untuk meneliti kandungan pakan ikan di sekitar danau. Tujuannya, untuk mengetahui pengaruh makanan ikan terhadap pencemaran.
“Ada potensi wabah kolera di masyarakat Alahan Panjang. Jangankan untuk diminum, untuk mandi pun air itu sudah tidak layak dan orang yang bergantung hidup dari air itu sekitar 4.000 jiwa dari PDAM dan Pamsimas.”

Ski air dan reklamasi
Pemicu lain kerusakan Danau Diateh adalah maraknya wahana ski air yang menyebabkan gelombang yang mengangkat sedimen di dasar danau terangkat ke permukaan. Menurut Muhtia, ski air membuat air danau berubah jadi kuning dan keruh.
“Kami pernah duduk di salah satu cafe di tepi danau, lokasinya dekat dengan penampungan air kami di alahan panjang ini. Kalau pagi-pagi air danau bagus, tidak kuning, tidak keruh setelah ada jetski, air kuning keluar, langsung berubah,” katanya.
Menurut Febri, wisata ski air yang kian marak memicu air lumut yang berada di atas 10 meter di atas tanah terangkat ke atas sehingga air menjadi kotor.
“PDAM hanya 20% dalam pengelolaan ini, yang banyak mengelola yakni Pamsimas. Mereka pun mengalami penurunan kualitas air yang sama.”
Dia bilang, akan melakukan upaya perbaikan yang memakan waktu lebih kurang satu bulan.
Pansus Danau Diateh menemukan aktivitas reklamasi seluas 2.200 meter persegi. Itu pun baru temuan citra satelit sebagian area danau.
Untuk itu, kata Hafni, akan meminta data dari Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mengecek kebenaran di lapangan. “Ini sudah berlangsung setahun, jika ini tidak tuntas kita akan datangi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan PUPR.”
Pansus, sedang bekerja dan berkoordinasi dengan berbagai stakeholders untuk menyelesaikan masalah ini.
“Danau Diateh merupakan sumber air PDAM dan sumber pamsimas, ada tiga jorong yang bergantung air minumnya dan kebutuhan airnya dari danau itu. Ini bukan hanya soal reklamasi tapi juga soal lingkungan hidup.”
Tommy Adam, dari Walhi Sumbar, meminta, aktivitas di Danau Diateh sesuai daya tampung dan daya dukung lingkungan. Menurut dia, citra satelit menunjukkan pembangunan villa dan cafe yang masih di sebelah timur Danau Diateh, terutama dalam 2-3 tahun terakhir.
Kondisi ini jelas memengaruhi kemampuan danau alami ini memberikan air bersih bagi masyarakat dan perkebunan sekitar. “Ekosistem Danau Diateh menunjang seluruh kehidupan yang ada di sana sehingga pemanfaatan yang haruslah sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup,” katanya.

*****
Dugaan MNC Land Cemari Danau Lido, Pemerintah Jerat Pidana dan Perdata?