- Melihat banyak anak di Muara Jambi kurang memahami sejarah dan budaya lokal maupun lingkungan hidup, mendorong Mukhtar Hadi bersama anggota Komunitas Rumah Menapo membentuk belajar gratis di alam bebas.
- Anak-anak sekolah ini tidak hanya belajar tentang sejarah dan budaya, juga lingkungan. Ada beberapa tema terkait lingkungan, seperti “Desaku Bersih, Sungai Batanghari Bukan Tong Sampah Raksasa”.
- Saat ini, ada sekitar 20-30 anak ikut kegiatan Sekolah Alam Raya. Mereka mayoritas anak kelas 4-6 sekolah dasar. Saban Minggu pagi mereka berkumpul untuk belajar, dan selalu ada tema baru setiap minggu.
- Sekolah Alam Raya ini pun mulai menginspirasi yang lain. Anjas, pemuda Desa Tebat Patah, Kecamatan Taman Rajo, Muaro Jambi terinspirasi dari sekolah alam ini. Pada 2022, Anjas bersama beberapa anak muda lain membentuk Komunitas Lubuk Pusako. Komunitas ini juga mengajak anak-anak belajar di alam. Saat ini, ada 25 anak sekolah dasar ikut kegiatan rutin sekolah Alam Lubuk Pusako.
Mbok Hawo terlihat semringah kedatangan anak-anak kampung dari Sekolah Alam Raya Muara Jambi, pertengahan Juli lalu. Perempuan 64 tahun itu dukun kampung di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Di halaman rumahnya, banyak bermacam tanaman obat.
Di selasar rumah, Hawo semangat menjelaskan manfaat tanaman obat pada anak-anak ini. Dia lalu mengambil sebatang bonggol serai, laos dan kunyit.
“Kunyit ini selain untuk bumbu masak, jugo biso jadi obat maag. Kalau serei itu biso buat obat diare, kolesterol,” katanya.
Hawo mengajak anak-anak keliling rumah, menunjukkan beragam tanaman obat dan manafaatnya. Hawo bilang, obat tradisional tidak hanya bisa menyembuhkan penyakit ringan, juga penyakit serius seperti kanker, stroke, darah tinggi dan lain-lain.
Dukun kampung itu mencontohkan, tanaman ekor naga dipercaya mampu menyembuhkan kanker. “Daun yang tua direbus diminum. Terus daun binahong untuk obat darah tinggi. Kumis kucing untuk ginjal, seledri jugo biso.”
Hawo mengatakan, masyarakat di Muara Jambi turun-temurun selalu diajarkan mengenal tanaman obat.
Ibu tiga anak itu berharap, anak-anak di Muara Jambi tertarik belajar tanaman obat. “Jadi nanti ado yang mewarisi. Jadi ilmu itu tidak hilang.”
Mukhtar Hadi, pendiri Sekolah Alam Raya Muara Jambi mengatakan, tanaman obat merupakan warisan hidup yang masih dilestarikan para dukun dan orang-orang kampung di Desa Muara Jambi.
Seperti perut kembung, katanya, orang di kampung biasa gunakan daun tembesu (Fagraea fragrans) atau bungur (Lagerstroemia). “Keseleo bisa pakai asam susur. Budaya ini masih digunakan sampai sekarang.”
Dia ingin anak-anak sadar, di kampung mereka banyak sekali tanaman kesehatan. Mereka diajarkan tidak hanya mengenal nama, juga bentuk, aroma dan rasa.

Lelaki yang karib disapa Borju itu cerita, beberapa tahun silam seorang penambang pasir di Sungai Batanghari menemukan gulungan timah bertuliskan mantra dalam bahasa sansekerta “Sirih, sirih…tolong potong lembut, dengan kain pati, tanamlah dirimu sendiri… lalu petik rumput tebu, aren, tunas yang tak berakar, lindungilah, lindungilah!”
Dalam buku Dreams from The Golden Island menyebutkan, kalau mantra itu adalah mantra penyembuhan, yang menyerukan nama-nama tumbuhan.
“Disebutkan sirih, di kampung kami mengenal sirih ya tanaman obat itu. Daun ada merah, hijau dan hitam untuk menyembuhkan 99 jenis penyakit,” katanya.
Saat kunjungan ke Candi Muarajambi April 2022, Presiden Joko Widodo mengatakan, Candi Muarajambi dahulu pusat pendidikan.
“Ini pusat pada abad ke-7 termasuk terbesar di Asia, bukan hanya berkaitan dengan teologi, tapi cagar budaya Candi Muarajambi ini dulu pusat pendidikan kedokteran dan obat-obatan, kemudian filsafat, arsitekstur dan seni,” kata Jokowi kala itu.
Artinya, kata Borju, peradaban sudah itu terbuka. “Inilah sejarah yang perlu kita lestarikan agar jejak-jejak peradaban di bidang pendidikan bisa diketahui.”

Sekolah Alam Raya
Gelisah melihat anak-anak di Muara Jambi kurang memahami sejarah dan budaya lokal, maupun lingkungan hidup, Mukhtar bersama anggota Komunitas Rumah Menapo bertekad membentuk belajar gratis di alam bebas.
Sekolah Alam Raya Muara Jambi atau Saramuja terbentuk 28 Februari 2010. Perjalanan sekolah ini mulai dari toko kelontong yang disulap jadi sanggar belajar.
“Awalnya kita ajak anak-anak untuk datang ke sanggar. Saya bilang ada sebuah event penelusuran situs sejarah. Kita jalan-jalan dulu ke candi. Dari situlah kita mulai kenalkan sejarah dan budaya. Saya tidak ingin mereka lupa atau tidak tahu tentang sejarah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan,” katanya.
Saat ini, ada sekitar 20-30 anak ikut kegiatan Sekolah Alam Raya. Mereka mayoritas anak kelas 4-6 sekolah dasar. Saban Minggu pagi mereka berkumpul untuk belajar, dan selalu ada tema baru setiap minggu.
“Kita gunakan apa yang ada di alam sebagai media belajar, seperti tanah liat, kalau menganyam ada rumbai dan daun pandan.”
Dia bilang, alam memberikan banyak ilmu pengetahuan, dan semua orang yang mau belajar bisa menjadi guru. “Semboyan kita ‘Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku’.”
Alumnus Universitas Islam Negeri Jambi itu bilang, awalnya Sekolah Alam Raya Muara Jambi terinsipirasi dari Kandank Jurank Doank yang didirikan seniman Dik Doank pada 1993.
Anak-anak sekolah ini tidak hanya belajar tentang sejarah dan budaya, juga lingkungan. Ada beberapa tema terkait lingkungan, seperti “Desaku Bersih, Sungai Batanghari Bukan Tong Sampah Raksasa”.
“Kita longmarch, anak-anak mengambil sampah di sepanjang jalan yang mereka lewati. Kita ingin menanamkan cinta lingkungan pada anak-anak sejak dini. Hingga desa tempat mereka tinggal itu bersih.”
Anak-anak juga diajak untuk membuat benteng hijau. Mereka menanam lebih 150 bibit trembesi (Samanea saman) di pinggiran Sungai Batanghari untuk mencegah erosi.
Bapak satu anak itu bilang, sejak banyak ditemukan tambang batubara di Jambi, Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muarajambi justru jadi tempat penumpukan batubara. Dia khawatir, stockpile batubara itu bakal mengancam lingkungan dan situs sejarah di Muara Jambi yang berusia ribuan tahun.
“Dulu, waktu saya kecil, ketika air Sungai Batanghari pasang, itu warna hijau bening. Kalau sekarang, air keruh kayak susu. Pabrik-pabrik, stockpile batubara di pinggiran sungai, membuat air sungai tak lagi jernih. Sudah tercemar,” katanya.
Borju berharap, tumbuh kesadaran pada anak-anak di Muara Jambi untuk menjaga lingkungan. “Paling tidak, mereka tidak lagi membuang sembarangan, paham apa yang terjadi hari ini itu akibat ulah manusia yang tidak menjaga lingkungan.”

Inspirasi
Anjas, pemuda Desa Tebat Patah, Kecamatan Taman Rajo, Muaro Jambi terinspirasi dari sekolah alam ini. Desa Tebat Patah, berada di seberang Muara Jambi, keduanya terpisah Sungai Batanghari.
Pada 2022, Anjas bersama beberapa anak muda lain membentuk Komunitas Lubuk Pusako. Komunitas ini juga mengajak anak-anak belajar di alam. Saat ini, ada 25 anak sekolah dasar ikut kegiatan rutin sekolah Alam Lubuk Pusako.
Anjas cerita, di Desa Tebat Patah ada lima lubuk larangan dengan kondisi memprihatinkan karena tercemar sampah, yaitu, Lopak Sepang, Semetung, Lopak Bungur, Lebung Panjang dan Lebung Bulan.
“Awalnya masyarakat buang sampah ke parit Jalan Usaha Tani. Saat banjir awal tahun kemarin, sampah ini meluap akhirnya menyebar ke lubuk larangan semua.”
Dia bersama anggota komunitas ingin mengajak anak-anak peduli dengan lingkungan. “Anak-anak diajari agar tidak membuang sampah sembarangan karena akan berdampak buruk terhadap lingkungan.”
Tantangan
Sekolah Alam Raya Muara Jambi sudah 14 tahun. Borju mengatakan, mempertahankan belajar gratis untuk anak-anak di kampung bukan perkara gampang.
“Mencari teman-teman yang tulus ikhlas mau mengajar itu butuh perjuangan. Karena di sekolah alam tidak ada gaji, sekolah kita buat gratis. Itu yang jadi tantangan.”
Meski demikian, dia bersyukur karena selama ini orang tua di Muara Jambi mendukung penuh kegiatan sekolah alam. “Alhamdulillah, orang tuo mendukung. Pagi-pagi mereka sudah buatin sarapan, nganter anaknya ke Rumah Menapo. Ini yang membuat kami terus semangat.”

*******
Sekolah Alam Virtual Ajak Mendalami Kecerdasan dan Ancaman Lumba-lumba