Peristiwa ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 menyisakan narasi kelam tentang kehancuran massal yang tak terbayangkan. Dalam sekejap, ribuan nyawa melayang dan bangunan beton rata dengan tanah akibat suhu panas yang mencapai ribuan derajat Celsius serta radiasi mematikan yang menyelimuti atmosfer. Namun, di tengah hamparan abu dan puing yang tampak mustahil untuk menopang kehidupan, muncul sebuah keajaiban biologis yang menentang logika medis kala itu. Beberapa organisme tetap bertahan hidup dan menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan kembali hanya dalam hitungan bulan setelah bencana terjadi.
Kekuatan hidup yang paling mencolok justru datang dari dunia botani. Tanaman yang selamat ini kemudian dikenal dengan istilah Hibakujumoku, sebuah kata dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti pohon yang selamat dari bom atom. Keberadaan mereka bukan sekadar anomali statistik, melainkan bukti nyata tentang betapa tangguhnya struktur biologis tanaman dalam menghadapi kondisi ekstrem yang dapat dengan mudah menghancurkan sel mamalia. Tanaman ini menjadi simbol harapan bagi warga yang selamat, membuktikan bahwa kehidupan memiliki mekanisme pertahanan yang jauh lebih dalam dan kuno daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya.
Membedah Rahasia Regenerasi dan Perisai Seluler Tanaman
Fenomena ketahanan tanaman terhadap radiasi nuklir berakar pada perbedaan mendasar antara biologi tumbuhan dan hewan. Riset radiobiologi menjelaskan bahwa tanaman memiliki ketahanan radiasi yang jauh lebih tinggi karena arsitektur tubuhnya yang modular. Berbeda dengan manusia yang memiliki organ vital terpusat, tanaman terdiri dari unit-unit berulang. Kemampuan ini berasal dari jaringan meristem yang terletak di ujung akar dan pucuk. Jika bagian atas pohon terbakar habis oleh panas ledakan, sel meristem yang terlindungi di bawah permukaan tanah atau di dalam lapisan kulit kayu yang tebal dapat segera membelah diri untuk menggantikan jaringan yang hancur secara total.

Selain kemampuan regeneratif, tanaman memiliki strategi unik dalam menangani kerusakan sel akibat radiasi. Pada manusia, paparan radiasi tinggi sering kali menyebabkan mutasi genetik yang menyebar ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah. Tanaman tidak memiliki masalah ini karena sel mereka dikelilingi oleh dinding selulosa yang kaku dan tidak berpindah tempat. Jika sebuah sel tanaman mengalami kerusakan DNA yang parah akibat radiasi, sel tersebut akan diisolasi atau dibiarkan mati di tempat tanpa membahayakan bagian tanaman lainnya. Mekanisme pengurungan ini mencegah kerusakan menyebar secara sistemik, memungkinkan tanaman tumbuh kembali dengan jaringan baru yang sehat di samping jaringan yang sudah mati.
Ketangguhan Spesies Penyintas: Dari Ginkgo hingga Oleander
Ginkgo biloba berdiri sebagai salah satu penyintas yang paling ikonik dalam sejarah ini. Penelitian terbaru dalam ulasan “The Phoenix Flora” menunjukkan bahwa ketahanan Ginkgo merupakan hasil dari Resiliensi Konstitutif yang terbentuk selama jutaan tahun evolusi. Ginkgo memiliki konsentrasi flavonoid dan terpenoid yang sangat tinggi dalam selnya. Senyawa ini bertindak sebagai antioksidan kuat yang menetralkan radikal bebas akibat radiasi gamma sebelum sempat merusak struktur DNA secara permanen. Di Hiroshima, terdapat enam pohon Ginkgo yang berada dalam radius kurang dari dua kilometer dari hiposenter yang tetap hidup dan kembali bertunas pada musim semi 1946.

Tanaman lain yang menunjukkan ketahanan serupa adalah Oleander atau Nerium oleander. Tanaman ini mencatatkan sejarah sebagai tumbuhan pertama yang mekar di tanah Hiroshima yang masih beradiasi setelah ledakan. Munculnya bunga berwarna merah muda yang cerah di tengah lanskap yang abu-abu memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi para korban selamat. Selain Oleander, pohon Kamper tua di Nagasaki juga menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Meski batangnya terbelah dan sebagian besar cabangnya hancur oleh gelombang kejut, pohon tersebut mampu menutup lukanya sendiri dan terus tumbuh hingga hari ini sebagai monumen alam yang hidup.
Warisan Genetik dan Simbol Perdamaian di Balik Luka
Ketahanan genetik tanaman juga dipengaruhi oleh jumlah kromosom yang mereka miliki. Banyak tanaman penyintas nuklir memiliki sifat poliploidi, yang berarti mereka memiliki lebih dari dua set kromosom dalam setiap selnya. Kelebihan materi genetik ini berfungsi sebagai cadangan yang sangat berharga. Jika radiasi merusak satu set gen tertentu, tanaman masih memiliki salinan gen yang sama di set kromosom lainnya untuk menjalankan fungsi biologis normal. Hal ini sangat berbeda dengan manusia yang hanya memiliki dua set kromosom, di mana kerusakan pada satu bagian genetik sering kali berakibat fatal bagi kesehatan jangka panjang.
Hingga saat ini, pohon Hibakujumoku terus dirawat dengan sangat teliti oleh pemerintah Jepang dan para ahli botani. Mereka bukan hanya objek penelitian ilmiah, tetapi juga saksi bisu sejarah yang menyimpan pesan tentang perdamaian dan ketangguhan. Fisik pohon ini sering kali terlihat unik, dengan batang yang miring menjauhi arah ledakan atau memiliki bekas luka bakar permanen yang sudah menutup. Mempelajari tanaman ini memberikan kita perspektif baru bahwa di tingkat seluler yang paling mendasar, kehidupan selalu mencari jalan untuk memperbaiki diri dan terus berlanjut bahkan setelah diterjang badai api nuklir.
Referensi:
Gian Marco Ludovici, Paola Amelia Tassi, Alba Iannotti, Colomba Russo, Fausto D’Agostino, Matilde Neble Segade, Timothy Alexander Mousseau, Andrea Malizia,
The phoenix flora: Plant survival, succession, and putative adaptation in the post-atomic landscapes of Hiroshima and Nagasaki, Progress in Biophysics and Molecular Biology, Volume 200,2026,Pages 1-5,ISSN 0079-6107, https://doi.org/10.1016/j.pbiomolbio.2026.02.004. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S007961072600009X)
Doonan JH, Sablowski R. Walls around tumours – why plants do not develop cancer. Nat Rev Cancer. 2010 Nov;10(11):794-802. doi: 10.1038/nrc2942. Epub 2010 Oct 22. PMID: 20966923.