- Batata pantai (Ipomoea pes-caprae), yang banyak tumbuh di pesisir pantai Indonesia, memiliki banyak manfaat. Sebutan lain untuk tanaman ini adalah tapak kuda atau katang-katang.
- Bagi masyarakat pesisir Gorontalo Utara, batata pantai adalah penyelamat sekaligus warisan leluhur yang kini terancam punah. Tanaman ini dijadikan sebagai bahan untuk mengobati sengatan biota laut, seperti ubur-ubur.
- Berdasarkan penelitian, kegunaan utamanya batata pantai meliputi pengobatan untuk peradangan (inflamasi), gangguan pencernaan, rasa nyeri, hipertensi (tekanan darah tinggi). Khasiat pengobatan dari tanaman ini berasal dari kandungan senyawa aktif farmakologis di dalamnya, seperti alkaloid, glikosida, steroid, terpenoid, dan flavonoid.
- Secara ekologis, batata pantai mampu melindungi pantai dari abrasi. Di Mauritius, negara kepulauan di barat daya Samudera Hindia, melalui proyek Liane Batatran yang digagas Coral Garden Conservation justru menggunakan batata pantai sebagai solusi berbasis alam untuk memerangi abrasi pantai.
Tumbuhan menjalar bernama batata pantai (Ipomoea pes-caprae) ini tumbuh menjalar di pantai. Daunnya hijau bundar menyerupai tapak kuda. Di beberapa tempat, bentuk ini yang menyebabkan masyarakat mengenalnya sebagai tapak kuda atau katang-katang. Bunganya ungu terompet dan akarnya mencengkeram pasir dengan kuat.
Di Indonesia Timur, nama batata merujuk pada ubi jalar, tanaman merambat; sehigga disebut batata pantai karena merambat seperti ubi jalar. Tumbuhan ini tampak biasa bagi kebanyakan orang, namun bagi masyarakat pesisir Gorontalo Utara, batata pantai adalah penyelamat sekaligus warisan leluhur yang kini terancam punah.
Gusnar Ismail, pegiat selam, isu kelautan, dan perikanan di Gorontalo, menjelaskan bahwa batata pantai banyak ditemukan di kawasan pesisir Indonesia, termasuk di Gorontalo Utara. Tumbuhan ini tergolong halofit atau mampu hidup di lingkungan berkadar garam tinggi, dan tersebar luas di negara-negara tropis dan subtropis di Asia, Amerika, Afrika, hingga Australia.
Namun, pengamatan Gusnar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fakta memprihatinkan. Tumbuhan ini perlahan mulai menghilang dari habitat aslinya. Di Desa Bulontio Timur dan Desa Bulontio Barat, Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara, masyarakat pesisir turun-temurun memanfaatkan batata pantai sebagai obat darurat.
“Ketika seorang nelayan tersengat ubur-ubur, tertusuk ikan berbisa (stone fish), atau terkena duri ikan sembilang yang dalam Bahasa Gorontalo disebut tola lo huwa, mereka segera mencari tumbuhan ini,” kata Gusnar kepada Mongabay Indonesia, Sabtu (14/3/2026).
Cara penggunaannya sederhana, namun efektif. Ujung batang daun muda dipatahkan hingga keluar getah bening, lalu dioleskan ke kulit yang terkena sengatan. Cara lainnya, ujung tangkai dan daun muda ditumbuk atau diremas hingga halus dan mengeluarkan cairan, kemudian diusap ke tubuh yang sakit. Getah ini mampu menetralkan racun dan meredakan nyeri dengan cepat.
“Jika tersengat atau tertusuk biota laut berbisa, saya langsung cari batata pantai untuk dijadikan obat,” ungkapnya.

Pengetahuan tradisional ini telah mendapat pembuktian ilmiah. Studi yang dilakukan Gazali dkk. (2024) dengan judul, “The investigation of the Ipomoea pes-caprae leaf extract as antimicrobial of Staphylococcus aureus” mengungkap bahwa ekstrak daun Ipomoea pes-caprae memiliki aktivitas antibakteri signifikan terhadap Staphylococcus aureus, yakni bakteri penyebab infeksi kulit. Zona hambat terbesar ditemukan pada ekstrak etil asetat dengan konsentrasi 100% mencapai 15,8 mm, diikuti konsentrasi 80% sebesar 12,5 mm.
“Ekstrak etil asetat memiliki kemampuan terbesar untuk melawan bakteri Staphylococcus aureus,” tulis para peneliti dari Universitas Teuku Umar dan Universitas Hasanuddin.
Temuan ini memperkuat potensi batata pantai tidak hanya sebagai penawar racun, tetapi juga antiseptik alami untuk mencegah infeksi pada luka sengatan yang disebabkan biota laut berbisa.
Tak hanya sebagai obat, batata pantai juga memiliki fungsi unik. Para nelayan tradisional memanfaatkan daunnya sebagai pembersih kacamata panah tradisional atau masker, yang merupakan alat penting untuk menyelam dan menangkap ikan. Menariknya, cara ini dinilai lebih ampuh dibandingkan sabun atau sampo. Caranya, ujung tangkai dan daun muda diremas atau ditumbuk hingga mengeluarkan cairan, lalu dioleskan ke kaca mata. Seketika, kaca yang buram jernih kembali.
“Hasilnya langsung jernih. Ini keunggulan batata pantai dibandingkan produk moderen,” kata Gusnar.
Dijelaskannya, kearifan lokal seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat pesisir memiliki pengetahuan mendalam tentang lingkungannya. Mereka tidak hanya hidup berdampingan dengan alam, tetapi juga memanfaatkan sumber daya secara bijak tanpa merusak.

Kandungan kimiawi
Apa yang membuat tanaman sederhana ini memiliki beragam khasiat?
Penelitian fitokimia mengungkap bahwa batata pantai kaya akan senyawa bioaktif. Analisis yang dilakukan Akinniyi dkk. (2022) dengan judul, “A medicinal halophyte Ipomoea pes-caprae (Linn.) R. Br.: A review of its botany, traditional uses, phytochemistry, and bioactivity” mengidentifikasi adanya alkaloid, glikosida, steroid, terpenoid, dan flavonoid dalam tumbuhan ini. Senyawa-senyawa tersebut bertanggung jawab atas berbagai aktivitas biologisnya.
Para peneliti menjelaskan, bagian-bagian dari batata pantai digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Beberapa kegunaan utamanya meliputi pengobatan untuk peradangan (inflamasi), gangguan pencernaan, rasa nyeri, dan hipertensi (tekanan darah tinggi). Khasiat pengobatannya berasal dari senyawa aktif farmakologis di dalamnya, seperti alkaloid, glikosida, steroid, terpenoid, dan flavonoid.
Ironisnya, di saat manfaat batata pantai begitu terasa dan bukti ilmiah bermunculan, tanaman ini justru terancam akibat ulah manusia. Gusnar mengamati sendiri bagaimana batata pantai perlahan menghilang dari kawasan pesisir di kampung halamannya. Alih fungsi lahan menjadi penyebab utama: kawasan pesisir yang ditumbuhi batata pantai berubah menjadi permukiman, tempat jemuran ikan, kebun, hingga kawasan wisata.
“Saya sudah lama mengamati hilangnya batata pantai. Termasuk, di kawasan pesisir Gorontalo Utara di Desa Bulontio Timur, Bulontio Barat, dan Desa Buloila, pantai wisata Minanga, hingga pantai Bolihutuo di Kabupaten Boalemo,” paparnya.
Padahal, secara ekologis, batata pantai memiliki peran krusial. Tumbuhan ini dikenal sebagai spesies pionir yang sangat sesuai untuk program rehabilitasi dan restorasi ekosistem pesisir karena kemampuannya menstabilkan pasir dan membentuk hamparan yang mengikat pasir. Sistem perakarannya yang kuat dan menjalar mampu menahan abrasi dan melindungi garis pantai dari terjangan ombak. Tanpa perannya, pesisir rentan terkikis.

Abrasi akibat kehilangan batata pantai
Gusnar menyaksikan dampak nyata hilangnya vegetasi pesisir. Satu dusun di Desa Bulontio Barat, Kecamatan Sumalata, kini lenyap dan berubah menjadi lautan akibat abrasi. Setengah wilayah dusun lainnya mengalami nasib serupa. Rumah-rumah warga, kebun, dan lahan yang dulu tempat mereka hidup, kini tenggelam perlahan.
“Jika batata pantai hilang, akan terjadi abrasi di pantai dan juga pinggiran muara,” tegasnya.
Pengalaman di Gorontalo ini sejalan dengan apa yang terjadi di belahan dunia lain. Di Mauritius, negara kepulauan di barat daya Samudra Hindia, melalui proyek Liane Batatran yang digagas Coral Garden Conservation justru menggunakan batata pantai sebagai solusi berbasis alam untuk memerangi abrasi pantai.
Proyek ini menanam 19.000 batata pantai di lima lokasi kritis. Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup tanaman mencapai 81%, dan data memperkirakan bahwa setelah tanaman matang, mereka akan membantu menahan lebih dari 826 metrik ton pasir di area yang direstorasi. Proyek ini membuktikan bahwa batata pantai bukan sekadar tanaman biasa, melainkan infrastruktur hijau yang efektif melindungi garis pantai.
Fenomena abrasi yang diperparah hilangnya vegetasi pelindung pantai menjadi ancaman serius bagi masyarakat pesisir. Selain kehilangan tempat tinggal, mereka juga kehilangan sumber penghidupan. Ekosistem pesisir yang rusak berarti berkurangnya habitat biota laut yang menjadi andalan nelayan.
Batata pantai menawarkan solusi seimbang. Secara ekologis, ia melindungi pantai dari abrasi. Secara sosial, ia menyediakan obat darurat yang mudah diakses tanpa biaya. Secara budaya, ia menjadi bagian kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Gusnar berharap, kesadaran akan pentingnya batata pantai meningkat, baik di masyarakat maupun pemerintah. Konservasi vegetasi pesisir perlu menjadi prioritas dalam perencanaan tata ruang wilayah. Alih fungsi lahan harus mempertimbangkan dampak ekologis jangka panjang, bukan hanya keuntungan ekonomi sesaat.
“Tumbuhan ini sering diabaikan. Padahal, ia bukan sekadar tumbuhan liar, tapi penjaga pantai dan penolong kami,” ujarnya.
Referensi:
Akinniyi, G., Lee, J., Kim, H., Lee, J. G., & Yang, I. (2022). A medicinal halophyte Ipomoea pes-caprae (Linn.) R. Br.: A review of its botany, traditional uses, phytochemistry, and bioactivity. Marine Drugs, 20(5), 329. https://doi.org/10.3390/md20050329
Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir BIG. (2021). Katang-katang: Potensi tanaman obat di kawasan pesisir. Badan Informasi Geospasial. https://bgpgp.big.go.id/katang-katang-potensi-tanaman-obat-di-kawasan-pesisir/ -3
Coral Garden Conservation. (2025). Green solutions to combat coastal erosion – The Liane Batatran Project. Coral Garden Conservation Mauritius. https://coralgardenconservation.org/green-solutions-to-combat-coastal-erosion-the-liane-batatran-project/
Gazali, M., Umar, W., Nufus, H., Fadly, S. A. W., Syafitri, R., & Zuriat. (2024). The investigation of the Ipomoea pes-caprae leaf extract as antimicrobial of Staphylococcus aureus. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1410(1), 012011. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1410/1/012011
*****