Tingginya angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara, perlu diimbangi dengan pelibatan masyarakat lokal dalam ekowisata serta promosi destinasi wisata alternatif. Hal itu dipercaya sebagai solusi untuk menekan dampak lingkungan akibat pariwisata massal (mass tourism).
Pernyataan tersebut disampaikan sejumlah aktivis konservasi dan praktisi pariwisata dalam workshop bertema “Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir Berbasis Konservasi” yang digelar di Manado, Rabu (5/12/2018).
Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2018, kunjungan wisatawan mancanegara yang masuk melalui pintu bandara Sam Ratulangi sebanyak 8.342 orang. Meski turun 34,47 persen dibanding bulan sebelumnya, namun angka itu tetap lebih tinggi dibanding kunjungan wisatawan mancanegara pada Oktober 2017.
Ditambah lagi, secara kumulatif, hingga Oktober 2018, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulut berjumlah 107.520 orang. Angka ini meningkat dibanding pada kurun yang sama tahun 2017, yaitu 64.357 orang.
Statistik tadi melahirkan sejumlah kecemasan, misalnya, penumpukan wisatawan pada destinasi wisata unggulan daerah. Salah satunya terjadi di Taman Nasional Bunaken. Sehingga, tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, berkah wisata dikhawatirkan dapat berbalik menjadi ancaman kerusakan ekosistem.
“Kita sudah tahu risiko mass tourism,” ujar Roy Berty Koleangan, ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Sulut, ketika diwawancarai Mongabay. “(Pemerintah daerah) perlu mengembangkan destinasi baru. Bunaken memang sudah terkenal, tapi tamu harus disebar ke berbagai lokasi agar eksosistem tidak rusak.”
baca : Mengunjungi Popareng, Desa Ekowisata di Minahasa Selatan

Tantangan lain yang dihadapi adalah ketidakberimbangan antara jumlah wisatawan dengan pemandu wisata di Sulawesi Utara. Roy menyebut, hingga saat ini, baru 254 orang yang teridentifikasi sebagai pemandu wisata lokal.
“Dilihat dari jumlahnya belum sebanding. Yang juga jadi persoalan, banyak yang belum menggunakan guide lokal,” tambahnya. “Tapi tidak bisa asal main tambah guide. Kalau (pemandu lokal) tidak mampu tidak bisa dipaksakan,” terang Roy.
Peluang Homestay
Berdasar data BPS, pada bulan Oktober 2018 sebanyak 83,84 persen wisatawan menginap di hotel bintang 5. Meski demikian, masyarakat lokal diyakini masih punya peluang untuk meraih keuntungan ekonomi, khususnya pada sektor pengelolaan homestay (rumah inap).
Sella Runtulalo, ketua Perkumpulan Manengkel Solidaritas mengatakan, keindahan alam di sejumlah daerah adalah peluang yang perlu dimanfaatkan masyarakat lokal. Kini, potensi itu mulai mendorong masyarakat lokal untuk meningkatkan kapasitas individu, kelompok maupun pariwisata lokal.
baca juga : Uluna, Surga yang Tersembunyi di Minahasa

Dia mencontohkan, di desa Bahoi, Minahasa Utara, saat ini sudah ada 5 homestay dan 15 guide lokal. Pada 2018, desa itu telah dikunjungi 70 wisatawan mancanegara dan 200 wisatawan lokal. Sedangkan, wisata mangrove di Bahowo, Manado, menarik sekitar 50 wisatawan mancanegara dan 500 wisatawan lokal. Di kelurahan ini, 4 orang warga berprofesi sebagai guide. Selain itu, 10 homestay sedang menanti legalitas dari otoritas setempat.
“Masyarakat pesisir punya kekayaan alam yang besar. Mereka perlu tahu pengelolaannya dari sisi teknis maupun regulasi,” kata Sella. “Sayang sekali kalau wisatawan mancanegara hanya menginap di hotel. Padahal, masyarakat sekitar telah buka homestay.”
Drevy Malantang, Direktur Stiepar Manado memaparkan, homestay desa wisata merupakan akomodasi alternatif yang mampu mempromosikan potensi budaya, alam, serta kearifan lokal. Keuntungan lain jasa homestay adalah dapat memperkuat ekonomi, meningkatkan kreatifitas dan kemandirian masyarakat lokal.
“Jumlah hotel dan resort diperkirakan tidak cukup menampung 20 juta wisatawan di 2019. Masalah lain, Kemenpar perlu waktu yang lama untuk membangun amenitas, seperti hotel dan resort,” terang Drevy dalam workshop itu. “Presiden Joko Widodo juga mentargetkan harus ada 50.000 homestay di seluruh Indonesia, pada tahun 2019.”
baca juga : Menyaksikan Pengelolaan Alam Berbasis Masyarakat di Desa Bahoi, Minahasa Utara

Dia menilai, homestay memiliki keunggulan yaitu, memberi kesempatan secara langsung pada wisatawan untuk menyaksikan atau merasakan kebudayaan khas masyarakat di suatu daerah. Karenanya, ada beberapa faktor yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah, di antaranya atraksi wisata berbasis alam atau budaya, usaha lokal dan daya dukung pariwisata yang memadai.
Di samping itu, tambahnya, masyarakat perlu memperkuat keterampilan teknis dalam pengelolaan homestay dan memperluas wawasan tentang ekowisata. “Misalnya, terlibat pelestarian dan pengembangan lingkungan dan budaya, menjaga daya tarik wisata, mencegah pencemaran dan perusakan, meningkatkan keamanan dan ketertiban, serta menjadi tuan rumah yang baik,” terang Drevy.
Workshop “Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir Berbasis Konservasi” dihadiri pelaku usaha pariwisata, akademisi hingga aktivis konservasi. Mereka datang dari berbagai wilayah di Sulut, seperti Arakan, Bahowo, Sangihe dan Tomohon.
Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Utara, penggagas acara menyatakan, workshop tersebut merupakan penjabaran program pengendalian dan konservasi sumberdaya alam. Melalui diskusi dengan sejumlah pihak, ada 3 permasalahan yang teridentifikasi, di antaranya sampah, pariwisata dan terumbu karang.
“Melalui workshop ini, kami berharap, masyarakat mendapat pengetahuan terkait potensi pariwisata alam di Sulut, melibatkan diri dalam pencegahan perusakan lingkungan serta memahami sejumlah peraturan dan sanksi terkait lingkungan hidup,” terang Danso Ayuhan, Kepala Seksi Kerusakan Lingkungan DLH Sulut.
menarik dibaca : Konservasi Tiada Henti Michael Wangko untuk Sampiri
***
Keterangan foto utama : Ilustrasi. Kapal berjejer di pantai Nusa Lembongan, Klungkung, Bali. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia