Kini, Petani Gayo Luwes Bisa Tersenyum Bahagia. Apa Penyebabnya?

Hutan Leuser yang harus dijaga kelestariannya. Foto: Junaidi Hanafiah

Petani Gayo Luwes, Aceh, kini bisa tersenyum bahagia. Mesin penyuling minyak serai wangi dan nilam yang menggunakan listrik tenaga air telah meringankan beban mereka dalam penyulingan minyak. Kini, mereka tidak perlu lagi menebang kayu sebagai bahan bakar mesin penyuling yang sebelumnya mereka lakukan perorangan.

Ketua Koperasi Masyarakat Rerebe, Kecamatan Tripe Jaya, Gayo Luwes, Saidi, mengatakan, penyulingan dengan menggunakan listrik tenaga air ini tidak hanya menghemat waktu pekerjaan tetapi juga menjaga lingkungan. “Air di tabung penyulingan yang dipanaskan menggunakan listrik jauh lebih hemat. Kualitas minyak nilam dan serainya juga jauh lebih bagus ketimbang menggunakan kayu bakar,” jelasnya, di penghujung Maret.

Menurut Saidi, sebelumnya, di desanya ada mesin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bantuan Jepang tahun 1999 dan satu unit mesin tambahan dari Pemerintah Daerah Gayo Lues. Namun, dua mesin itu hingga tahun 2012, hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. “Baru di tahun 2013 ini kami mendapat bantuan alat penyulingan listrik tenaga air dari USAID-Indonesian Forest and Climate Support (IFACS) yang tabungnya terbuat dari stainless sehingga tahan karat meski dipanaskan. Kami juga dapat menggunakan bersama.”

Saidi menuturkan, adanya alat penyulingan listrik ini semakin membuat masyarakat sadar bahwa hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) harus dijaga. Jika tidak, listrik akan mati seperti tahun-tahun sebelumnya karena debit airnya kecil.

Mesin penyuling minyak serai wangi dan nilam ini telah meringankan persoalan petani di Gayo Luwes dalam menyuling minyak. Foto: Junaidi Hanafiah
Mesin penyuling minyak serai wangi dan nilam ini telah meringankan persoalan petani di Gayo Luwes dalam menyuling minyak. Foto: Junaidi Hanafiah

Communication Officer USAID-IFACS Aceh Region, Tisna Nando menyebutkan, alat penyulingan listrik itu memang diberikan untuk petani nilam dan serai wangi agar mereka tidak menebang kayu di hutan. “Cukup banyak kayu bakar yang dibutuhkan untuk memasak serai wangi dan nilam menjadi minyak. Tungku dibakar berhari-hari hingga menghabiskan banyak kayu. Jika dibiarkan, hutan akan semakin gundul,” ujarnya.

Menurut Tisna, tahun 2013, sekitar 200 masyarakat di Rerebe setuju daerah mereka akan dibuatkan alat penyulingan minyak menggunakan arus listrik tenaga air. “Anggaran untuk alat tersebut sekitar Rp850 juta.”

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Gayo Lues, Ferry Siswanto yang juga Ketua Forum Masyarakat Utan Leuser (FMUL) mengatakan, penyulingan minyak serai dan nilam di Rerebe, telah membantu bukan hanya petani di desa tersebut, tapi juga petani dari desa lain.

Kedepan, kami akan membangun beberapa penyulingan dari listrik di daerah lain. “Ini untuk menjaga hutan tetap terpelihara, terlebih sebagian besar wilayah Gayo Lues berada di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL),” ungkap Ferry.

tMinyak nilam yang disuling. Foto: Junaidi Hanafiah
Minyak nilam yang disuling. Foto: Junaidi Hanafiah
Hasil penyulingan minyak nilam. Foto: Junaidi Hanafiah
Hasil penyulingan minyak nilam. Foto: Junaidi Hanafiah

Kredit

Editor

Topik

Ramadan di Garis Depan Alam

Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove […]

Artikel terbaru

Semua artikel