Earth Hour Pontianak: Tuna Rungu Berpantomim, Kampanyekan Hemat Energi

Komunitas tuna rungu andil dalam earth hour di Pontianak, dengan pantomin hemat energi. Foto: Victor Fidelis Santosa

Lewat komunitas Earth Hour Pontianak, para tuna rungu tampil di depan publik dan menyampaikan pesan dengan cara mereka sendiri: pantomim. Mereka ikut berkampanye hemat energi. Malam itu, komunitas Deaf Pontianak ini unjuk kebolehan. Bersepeda menjajal jalan raya Kota Pontianak dengan gembira. Mereka berkalung botol minuman sambil mengayuh sepeda. Tak ketinggalan tagline atau slogan dukungan terhadap gerakan Earth Hour di seluruh dunia. “Bumiku makin rusak,” kata Bondan, pemuda 22 tahun anggota Deaf Pontianak saat menyampaikan pesan dengan bahasa tubuh.

Bondan tidak sendirian. Dia ditemani belasan rekan sesama penyandang tuna rungu. Mereka mengambil peran masing-masing. Ada yang menenteng tagline Earth Hour. Ada pula yang sibuk memeragakan bahasa tubuh.

Di Tugu Digulis Pontianak, komunitas ini memusatkan aksi. Di situ mereka berpantomim. Saat lampu merah di traffic light menyala, mereka pun secara tertib menyeberangi jalan di zebra cross, sambil memperlihatkan tagline kepada pengendara dengan ajakan bergaya hidup hemat energi. “Gunakan tas belanja tidak dengan tas kresek, bersepeda biar sehat, hemat menggunakan kertas, padamkan lampu jika tak diperlukan, selamatkan bumi dari kehancuran,” begitu pesan mereka.

Sejak isu Earth Hour mulai diembuskan, Komunitas Deaf Pontianak, sudah menunjukkan keseriusan ikut berpartisipasi. Tak ada rasa canggung berhadapan dengan berbagai komunitas lain yang turut lebur dalam ajang itu.

Koordinator Lapangan Earth Hour Pontianak, Maria Theresia tak menyia-nyiakan semangat mereka. “Komunitas ini sangat termotivasi dan ingin menunjukkan kepada publik bahwa mereka juga bisa melakukan sesuatu dalam menyuarakan gaya hidup hemat energi,” katanya di Pontianak. Hasilnya, aksi pantomim pada 3 Maret 2013 ini mengundang simpati publik.

Foto: Victor Fidelis Santosa
Foto: Victor Fidelis Santosa

Kredit

Topik

Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara

Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang […]

Artikel terbaru

Semua artikel