Sinarmas Tercoreng Lagi

PROGRAM konservasi hutan yang dikembangkan Grup Sawit Sinarmas, Golden Agri Resources (GAR) atau PT Smart Tbk, tercoreng menyusul kasus penembakan dan penangkapan petani akibat konflik lahan di Padang Halaban, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara (Sumut).

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi menilai, penembakan petani di Padang Halaban merupakan kasus kedua yang melibatkan perusahaan-perusahaan Grup sawit Sinarmas selama dua tahun terakhir ini.

“Pertengahan Januari 2011, juga terjadi penembakan petani Karang Mendapo, Sarolangun, Jambi. Ini terkait dengan PT Kresna Duta Agroindo, salah satu perusahaan sawit milik grup Sinarmas,” katanya Jumat(8/6/12).

Aktivis Greenpeace membentangkan spanduk besar 20 x 10 meter di Gedung Sinar Mas pada 19 Maret 2009. Aktivis Greenpeace mengunci diri di depan kantor pusat Sinar Mas untuk menghentikan kegiatan sampai mereka berkomitmen menghentikan kegiatan penghancuran hutan terakhir di Indonesia. Foto: Greenpeace

Elfian menilai, program konservasi hutan Grup Sawit Sinarmas, yang mendapat dukungan dari Greenpeace itu, harus mampu menghentikan praktik-praktik kekerasan terhadap petani dan masyarakat terulang. Terlebih, hingga terjadi penembakan.

“Greenpeace harus turun tangan meminta Grup Sawit Sinarmas ini agar memastikan tidak ada lagi praktik-praktik kekerasan itu terjadi lagi.”

Greenpeace bisa saja mengancam menghentikan dukungan kepada program konservasi hutan Grup sawit Sinarmas, jika grup ini tak mampu memastikan tidak akan ada lagi praktik-praktik kekerasan dalam operasi perkebunan mereka.

Polisi Masih Berjaga

Sementara itu, kabar terakhir aparat kepolisian, Brimob, masih berjaga-jaga di perkampungan warga di Padang Halaban. Kondisi ini menambah ketakutan warga.

Pendamping warga dari Lentera Medan, Saurlin Siagian kembali menegaskan agar polisi segera ditarik dari lokasi warga. Sebab, keberadaan Brimob dari Asahan ini sangat meneror warga. “Bebaskan tanpa syarat petani-petani yang ditangkap, “ katanya.

Dia juga meminta Komnas HAM segera turun ke lapangan untuk penyelidikan.

Kredit

Topik

Cerita dari Y. Eva Tan Fellows

Dampak kerusakan lingkungan yang semakin nyata membuat jurnalisme lingkungan berkualitas makin penting. Namun, peliputan lingkungan menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, menyusutnya kebebasan pers, hingga minimnya peluang bagi jurnalis muda. Padahal banyak persoalan yang sangat mendesak di wilayah-wilayah yang paling terdampak oleh krisis iklim. Sebagai respon atas tantangan ini, Mongabay menginisiasi Program Fellowship […]

Artikel terbaru

Semua artikel