Rambusa (Passiflora foetida), yang sering dijuluki sebagai markisa mini, merupakan tanaman merambat asli dari wilayah Amerika yang kini tumbuh liar di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki panjang 1,5 hingga 5 meter dengan alat pembelit berbentuk spiral yang memudahkannya memanjat pepohonan. Ciri khasnya meliputi daun hijau mengkilat yang terasa lengket, bunga dengan mahkota putih dan bagian tengah ungu, serta buah bulat berukuran 1,5-3 cm yang dibungkus serabut berambut. Saat mentah, kulit buahnya berwarna hijau, namun berubah menjadi kuning cerah ketika matang, dengan biji hitam di dalamnya yang diselimuti cairan bening layaknya markisa.
Mengenal Rambusa, Tanaman Merambat Liar yang Kaya Manfaat Kesehatan
Di Indonesia, rambusa sangat mudah dijumpai tumbuh liar di semak belukar, tepi hutan, pesisir pantai, hingga pinggir jalan raya. Tanaman ini biasanya lebih banyak berbuah pada musim hujan. Selain dikenal dengan nama rambusa atau markisa mini, tanaman ini memiliki berbagai sebutan lokal di berbagai daerah, seperti ceplukan, blungsun, rajutan, permot, hingga timun padang. Bagi anak-anak di beberapa daerah seperti Maumere, Nusa Tenggara Timur, buah yang rasanya manis ini menjadi camilan favorit yang sering dipetik langsung dari pohon inangnya di alam liar.
Meskipun lezat saat matang, masyarakat perlu mewaspadai bahwa buah rambusa mengandung racun jika dikonsumsi saat masih muda. Namun, ketika sudah matang sempurna, buah ini menyimpan segudang manfaat kesehatan. Berdasarkan penelitian, buah rambusa kaya akan kalsium, zat besi, antioksidan, mineral, dan Vitamin C. Menariknya, kadar Vitamin C pada buah rambusa matang tercatat lebih tinggi, yaitu sebesar 2,21 mg/g, dibandingkan saat masih mentah yang hanya 1,31 mg/g.
Kandungan nutrisinya yang padat membuat rambusa berpotensi besar sebagai tanaman obat. Berbagai studi menunjukkan bahwa ekstrak buah ini dapat membantu mengobati berbagai keluhan kesehatan, seperti penyakit tulang, anemia, gangguan ginjal, tekanan darah tinggi, hingga masalah gusi dan gigi. Selain itu, kandungan antioksidannya juga dipercaya mampu menangkal radikal bebas dan mencegah kanker. Meski demikian, para peneliti menekankan perlunya kajian lebih lanjut terkait kandungan dan keamanan buah ini agar dapat dioptimalkan sebagai alternatif bahan pangan dan obat herbal yang bermanfaat luas bagi masyarakat.