Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Titik-titik kebakaran dilaporkan dari Sumatera dan Kalimantan hingga Papua.
Di Sumatera dan Kalimantan, aparat menemukan indikasi bahwa sebagian kebakaran berkaitan dengan pembukaan lahan. Hingga 21 Agustus 2026, kepolisian telah menetapkan 72 tersangka dalam 89 perkara karhutla di sembilan provinsi. Polisi mengatakan salah satu pola yang ditemukan adalah lahan lebih dahulu ditebang, kemudian dibakar pada musim kemarau untuk selanjutnya ditanami, termasuk dengan kelapa sawit, saat musim hujan tiba. Temuan tersebut kembali mengangkat pertanyaan lama: mengapa api masih menjadi pilihan untuk membuka lahan meski risiko lingkungan, kesehatan dan hukumnya begitu besar?
Di balik penggunaan api untuk membuka lahan terdapat persoalan ekonomi sederhana: membakar jauh lebih murah dibandingkan membersihkan lahan tanpa api.
Gambaran mengenai besarnya perbedaan biaya tersebut muncul dalam penelitian Fight Fire with Finance: A Randomized Field Experiment to Curtail Land-Clearing Fire in Indonesia oleh Ryan B. Edwards dan sejumlah peneliti dari Australian National University, Stanford University, Bank Dunia, TNP2K dan SMERU Research Institute.
Penelitian itu dilakukan terhadap 275 desa rawan kebakaran di empat kabupaten di Kalimantan Barat, Kubu Raya, Ketapang, Sanggau dan Sintang yang mencakup sekitar 90.000 rumah tangga.
Para peneliti menyoroti bahwa api telah lama digunakan untuk membuka lahan karena biayanya yang rendah. Dalam publikasi terkait penelitian tersebut, biaya membuka lahan dengan membakar disebut hanya sekitar US$3-5 per hektare, sedangkan pembukaan secara mekanis membutuhkan sekitar US$150-180 per hektare.
Artinya, membersihkan satu hektare lahan secara mekanis dapat menghabiskan biaya 30 hingga 60 kali lipatdibandingkan dengan membakarnya.
Kesenjangan tersebut menjadi semakin penting bagi petani atau pemilik lahan yang tidak memiliki akses terhadap alat berat. Para peneliti mencatat bahwa tanpa akses terhadap peralatan milik pemerintah atau perusahaan perkebunan, penggunaan api dalam beberapa kondisi menjadi metode pembukaan lahan yang paling terjangkau.
Studi itu juga mengutip penelitian sebelumnya yang memberikan estimasi berbeda, tetapi menunjukkan pola serupa. Biaya pembukaan lahan menggunakan api diperkirakan sekitar US$200 per hektare, dibandingkan US$595 per hektare menggunakan metode mekanis. Perbedaan angka tersebut bergantung pada kondisi lahan serta komponen biaya yang diperhitungkan, tetapi kesimpulannya sama: menggunakan api secara substansial lebih murah.
Persoalannya, keuntungan ekonomi dari pembukaan lahan juga dapat sangat besar. Studi tersebut mengutip estimasi bahwa mengubah satu hektare hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dapat menghasilkan net present value sekitar US$3.835-US$9.630 per hektare.
Kombinasi antara murahnya pembakaran dan tingginya nilai ekonomi lahan yang telah dikonversi menciptakan insentif kuat untuk menggunakan api.
Temuan di Kalbar menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi persoalan yang berulang di Indonesia. Karena pembukaan kawasan dengan cara membakar membutuhkan biaya yang lebih murah, upaya mencegah karhutla juga perlu dimulai dari perlindungan hutan, termasuk dengan memperketat pemberian konsesi agar deforestasi tidak semakin meluas.