Di lantai hutan hujan Papua, di antara dedaunan lembap dan akar-akar yang meliuk, seekor predator bergerak tanpa suara. Panjangnya bisa mencapai lebih dari empat meter, tubuhnya tebal dan berkilau dalam nuansa hijau keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan buaya, bukan biawak. Ini piton zaitun papua, Apodora papuana, satu-satunya spesies dalam genusnya.
Nama “zaitun” bukan sekadar julukan. Warna dominan tubuhnya memang menyerupai buah atau minyak zaitun, hijau keabu-abuan hingga cokelat kehijauan gelap. Yang lebih mengejutkan, ular ini disebut mampu mengubah warnanya, dari hijau zaitun ke kuning, bahkan ke nuansa hitam, kadang memperlihatkan dua warna sekaligus. Perubahan ini diyakini terkait kondisi stres atau agitasi, semacam bahasa tubuh yang diungkapkan lewat pigmen kulit.
Seperti kebanyakan piton, Apodora papuana dilengkapi lubang sensor panas di sekitar mulutnya, adaptasi yang membuatnya menjadi pemburu nokturnal yang sangat efisien. Dalam kegelapan total, ia bisa mendeteksi keberadaan mangsa berdarah panas, lalu menyergap dengan serangan cepat dan lilitan yang tak memberi kesempatan.
Menurut Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, spesies ini tersebar di Papua dan Papua Nugini, mendiami dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Hutan hujan tropis adalah habitatnya yang ideal, menyediakan iklim lembap, dedaunan lebat sebagai kamuflase, dan berlimpahnya mangsa. Beberapa pulau lepas pantai seperti Misool, Biak, Yapen, dan Numfor juga menjadi wilayah sebarannya.
Dalam rantai ekosistem, peran piton ini jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia mengendalikan populasi hewan pengerat dan marsupial kecil, menjaga keseimbangan rantai makanan. Lebih dari itu, karena ular memiliki daerah jelajah yang lebih luas dari mangsanya, benih-benih yang ikut tertelan bersama hewan pengerat akan tersebar jauh lebih luas melalui ekskresi. Deepti Beri dan Soumyadeep Bhaumik dari The George Institute menyebut ular sebagai “insinyur ekosistem” yang berkontribusi pada penyebaran benih dan kelangsungan keanekaragaman hayati.
Metabolisme Apodora papuana yang lambat membuatnya bisa bertahan berminggu hingga berbulan hanya dari satu kali makan besar. Ia tidak agresif terhadap manusia kecuali terprovokasi. Dalam daftar merah IUCN, statusnya saat ini masih “Least Concern” atau risiko rendah.
Namun status itu bukan jaminan keamanan jangka panjang. Deforestasi untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman terus menggerus hutan Papua. Perdagangan hewan peliharaan eksotis menambah tekanan tersendiri. Para peneliti mengingatkan bahwa penurunan populasi piton zaitun bisa menjadi sinyal awal dari ancaman lingkungan yang lebih besar, termasuk dampak perubahan iklim yang mulai mengubah keseimbangan ekosistem hutan tropis.
Ketika piton zaitun menghilang dari hutan Papua, yang hilang bukan hanya satu spesies. Yang hilang adalah bagian dari sistem yang menopang kehidupan hutan itu sendiri.