Pada 18 Juni 2019, pukul 15.00 WIB, Anhar Lubis menemukan seekor anak gajah sumatera betina bernama Salma di dalam goa. Enam jam sebelumnya, dia bersama Tim Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser berjalan menyusuri hutan Gampong Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.
Kondisi Salma memprihatinkan. Kaki kiri depannya hampir putus akibat jerat kawat baja pemburu. Tubuhnya mengalami dehidrasi berat dan sulit bergerak. Selama lebih dari dua jam, Anhar dan tim berusaha menariknya keluar dari gua.
Pertolongan pertama segera diberikan. Namun, mereka masih harus menggiring Salma keluar dari hutan menuju Conservation Response Unit Serbajadi. Proses itu baru dapat dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB. Meski telah dirawat intensif, nyawa Salma akhirnya tidak dapat diselamatkan.
Bagi Anhar, menemukan satwa liar dalam kondisi terluka bukan pengalaman baru. Sekitar 30 tahun hidupnya dihabiskan untuk merawat satwa, terutama gajah sumatera.
Anhar lahir di Meulaboh, Aceh Barat, pada September 1968. Sejak kecil, dia terbiasa melihat satwa liar di sekitar Hutan Ulu Masen. Ia meraih gelar dokter hewan dari Universitas Syiah Kuala pada 1996, kemudian memulai kariernya di Medan Zoo pada tahun yang sama.
Kebun binatang menjadi tempatnya mempelajari anatomi, perilaku, dan psikologi berbagai satwa. Pada 2001, ia bergabung dengan Sumatran Orangutan Conservation Programme dan merawat orangutan korban perburuan serta perdagangan.
Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa menyelamatkan satwa bukan hanya soal mengobati luka fisik. Satwa yang pernah disakiti manusia juga dapat mengalami trauma dan membutuhkan waktu untuk membangun kembali kepercayaan.
Sejak 2006, Anhar menjadi dokter hewan utama dalam Program Perawatan Kesehatan Gajah yang dijalankan Vesswic. Ia berkeliling Sumatera untuk memeriksa kesehatan gajah jinak di berbagai pusat pelatihan. Pada 2019, ia bergabung dengan Forum Konservasi Leuser sebagai Koordinator Leuser Rescue Team.
Dalam tugas tersebut, Anhar tidak hanya memberikan pertolongan medis. Ia juga menjadi penengah ketika konflik terjadi antara gajah dan manusia. Penyusutan hutan membuat gajah kehilangan ruang jelajah serta sumber makanan. Ketika memasuki kebun, satwa tersebut dianggap mengancam tanaman dan mata pencaharian warga. Risikonya, gajah dapat dibunuh, diracun, atau terkena jerat.
Menurut Anhar, komunikasi dengan masyarakat sama pentingnya dengan kemampuan medis. Warga perlu diajak berbicara menggunakan bahasa dan logika yang dapat diterima.
Pekerjaan ini juga mempertaruhkan keselamatannya. Pada 24 April 2022, Anhar terluka serius ketika menyelamatkan harimau sumatera yang terjerat di Tapanuli Selatan. Obat bius yang ditembakkannya belum bekerja ketika harimau tersebut menyerang. Ia digigit di punggung serta dicakar pada lengan dan paha hingga harus dirawat intensif.
Namun, pengalaman itu tidak membuatnya menjauhi satwa liar. Anhar memahami bahwa satwa yang terluka dan trauma hanya berusaha bertahan dengan nalurinya.
Pada 2022, Anhar menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dinobatkan sebagai ASEAN Biodiversity Heroes. Meski demikian, ia tidak menganggap dirinya pahlawan.
Kini, Anhar juga melatih dokter-dokter hewan muda dan membagikan pengalaman lapangannya. Baginya, menyelamatkan seekor gajah berarti menjaga kelompoknya, mempertahankan penghuni ekosistem, dan memastikan generasi mendatang tidak hanya mengenal gajah sumatera melalui film.
Foto utama: Anhar Lubis yang mendedikasikan hidupnya untuk gajah sumatera. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.