Pada dua tahun terakhir, kasus malaria di Indonesia melonjak 69%. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2023-2025, angkanya melonjak dari 418.546 menjadi 706.297 kasus. Angka tersebut menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Riset terbaru dari Monash University menyebut untuk menekan risiko lonjakan kasus di tengah perubahan iklim yang kian ekstrem perlu adanya upaya serius. Mulai dari pengendalian vektor, vaksinasi, hingga pengurangan emisi gas rumah kaca, sangat krusial untuk menekan beban ksus itu. Riset tersebut rilis di Science Advances (2026), mengulas faktor ekologi, epidemiologi, dan sosial-ekonomi yang saling memengaruhi penularan malaria serta demam berdarah dengue (DBD).
Toby Cumming, peneliti utama dari Health and Climate Initiative, Monash School of Public Health and Preventive Medicine, mengatakan penting adanya pemahaman terkait faktor pendorong penularan penyakit.
“Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat,” jelas Cumming dalam siaran persnya.
Pasalnya, pengaruh iklim ini tidak linier, bisa karena faktor musim, serta beragam di tiap daerahnya. Meski, dampak penularannya secara umum relatif serupa. Selama satu abad terakhir kasus malaria menurun, sementara kasus DBD justru meningkat.
Henry Surendra, associate professor dari Monash University Indonesia menyebut pengendalian nyamuk dan terapi pengobatan berhasil menurunkan penularan malaria secara signifikan. Sebaliknya, urbanisasi yang meningkat mendukung perkembangbiakan Aedes, sehingga mempercepat penyebaran DBD yang hingga kini belum memiliki obat khusus.
Bersama Kemenkes, timnya kini sedang mengidentifikasi faktor iklim, lingkungan, dan demografi yang berkaitan dengan kejadian malaria dan DBD di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Kalimantan Timur.
Cumming mengingatkan agar tidak lengah terhadap tren kasus malaria yang menurun. Pasalnya, jumlah kasus globalnya naik 8,5% dalam satu dekade terakhir.
“Kita harus meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan,” tegasnya.
Saat ini, pencegahan demam berdarah melalui vaksin dan strategi pengendalian vektor, seperti pelepasan bakteri Wolbachia ke populasi nyamuk Aedes untuk mengurangi kemampuannya menularkan DBD pun telah dilakukan. Para peneliti menegaskan penting adanya koordinasi dari berbagai intervensi untuk mengatasi faktor iklim dan non-iklim yang memicu penyebaran penyakit bawaan nyamuk.
Foto utama: Penyakit malaria merebak di kawasan permukiman yang dikelilingi lubang tambang emas ilegal. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia.