Video seekor kuskus yang bertahan di antara pepohonan tumbang di Merauke, Papua Selatan, ramai dibagikan di media sosial pada awal Agustus 2026. Dalam rekaman tersebut, satwa berwarna keemasan dengan totol putih terlihat memanjat sisa dahan, sementara alat berat terus membuka kawasan di sekitarnya.
Identitas pasti kuskus dalam video itu belum dikonfirmasi lembaga konservasi. Namun, berdasarkan wilayah persebarannya, satwa tersebut diduga merupakan kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau kuskus timur (Phalanger orientalis). Keduanya tersebar di dataran rendah Papua bagian selatan hingga Papua Nugini.
Kuskus merupakan mamalia berkantung atau marsupial yang hidup di kawasan Australasia. Di Indonesia, satwa ini ditemukan di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Timor. Meski kerap disangka primata karena bergerak lambat dan memiliki mata besar, kuskus lebih dekat kekerabatannya dengan kanguru dan koala.
Wartika Rosa Farida, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, menjelaskan bahwa warna bulu dapat menjadi salah satu ciri pembeda kuskus. “Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu berbeda berdasarkan genusnya.”
Di Papua terdapat dua genus utama, yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Beberapa jenisnya, seperti kuskus Waigeo (Spilocuscus papuensis) dan kuskus hitam (Spilocuscus rufoniger), merupakan satwa endemik Papua.
Sebagai satwa arboreal sejati, kuskus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Panjang tubuhnya sekitar 35-45 sentimeter. Cakar yang kuat membantunya mencengkeram, sedangkan ujung ekornya yang tidak berbulu berfungsi seperti tangan kelima untuk bergelantungan dan menjaga keseimbangan.
Kuskus merupakan satwa nokturnal dan soliter. Pada siang hari, ia beristirahat di lubang pohon, rimbunan daun, atau cabang kokoh. Ketika malam tiba, kuskus keluar untuk mencari buah, daun, dan bunga. Karena sangat bergantung pada pohon, penebangan dapat sekaligus menghilangkan tempat berlindung, jalur pergerakan, dan sumber pakannya.
Habitat kuskus tidak selalu berupa hutan primer yang lebat. Di Merauke, satwa ini dapat hidup dalam lanskap hutan dan sabana yang memiliki kantong-kantong pohon berbuah. Penelitian di Hutan Desa Tala, Maluku, bahkan menemukan kuskus lebih banyak dijumpai di hutan sekunder karena sumber pakannya relatif melimpah.
Kuskus berperan penting dalam menjaga kesehatan hutan. Saat memakan buah dan mengeluarkan bijinya di tempat lain, satwa ini membantu penyebaran benih, regenerasi tumbuhan, serta menjaga keragaman genetik. Kuskus juga menjadi bagian dari rantai makanan bagi predator alami seperti ular sanca dan burung pemangsa.
Namun, populasinya terus menghadapi tekanan akibat deforestasi, pembangunan infrastruktur, fragmentasi habitat, dan perburuan. Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia dilindungi, sementara perdagangan internasionalnya diatur melalui CITES.
Video dari Merauke menunjukkan bahwa hilangnya hutan bukan sekadar perubahan bentang alam. Bagi kuskus, setiap pohon yang tumbang dapat berarti hilangnya rumah dan peluang untuk bertahan hidup.
Foto utama: Kuskus totol (Spilocuscus maculatus) atau yang biasa disebut juga kuskus pontai. Foto: Wikimedia Commons/garywwilson/CC BY 4.0.