Cabai rawit, sawi, terong, brokoli, dan selada tumbuh di halaman rumah Sri Setiowati di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sebagian tanaman ditanam dalam wadah plastik bekas galon yang disusun rapi.
Sri, yang akrab disapa Gati, tidak bekerja sendirian. Ia bersama sekitar 30 perempuan mengelola Kebun Gizi, program yang menyediakan sayuran dan ikan bagi ibu hamil serta balita. Tujuannya adalah membantu memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mencegah dan menangani tengkes atau stunting.
Kebun tersebut dibangun menggunakan bantuan Rp30 juta dari Dinas Pertanian Kabupaten Malang. Kelompok perempuan tani menyediakan lahan seluas 2.000 meter persegi untuk kebun percontohan dan rumah kaca pembibitan. Pembangunan rumah kaca menghabiskan sekitar Rp9 juta.
Di dalam rumah kaca, bibit terlindung dari gangguan serangga dan penyakit. Para anggota kelompok juga mendapat pendampingan dari penyuluh pertanian agar lebih terampil menanam dan merawat tanaman.
Saat musim panen tiba, ibu hamil dan balita menerima paket sayuran gratis, masing-masing seberat satu kilogram. Sayuran itu diberikan ketika mereka menjalani pemeriksaan kesehatan. Paket tersebut diharapkan menjadi tambahan asupan bagi ibu dan anak, sekaligus mendampingi pemberian makanan tambahan dari Dinas Kesehatan.
Selain sayuran, Kebun Gizi membudidayakan ikan lele sebagai sumber protein hewani. Dua bulan sebelum artikel diterbitkan, kelompok ini memanen sekitar 100 kilogram lele.
Pengelolaan kebun juga dibuat agar hasilnya tidak banyak terbuang. Sayuran yang kualitasnya kurang baik digunakan sebagai pakan ternak. Air bekas budidaya lele dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, sehingga penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi.
Sayuran yang tidak dibagikan dijual kepada pedagang. Uang penjualannya kemudian digunakan kembali untuk membeli bibit. Dengan cara ini, kegiatan kebun dapat terus berjalan dan menghasilkan pangan bagi warga.
Manfaat kebun dirasakan keluarga yang memiliki anak dengan masalah gizi. Salah satunya Zafani, balita yang sulit makan dan mengalami tengkes. Ia mendapatkan pemberian makanan tambahan selama 60 hari, disertai sayuran dan ikan dari Kebun Gizi. Setelah intervensi, tumbuh kembangnya mengalami peningkatan, meski belum signifikan.
Menurut bidan Desa Sananrejo, gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat penting bagi pertumbuhan otak dan kesehatan anak. Pencegahan tengkes perlu dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan ibu memperoleh asupan yang memadai. Setelah lahir, anak juga membutuhkan makanan beragam, termasuk sayuran dan protein hewani.
Di Sananrejo, jumlah balita tengkes menurun dibandingkan lima tahun sebelumnya. Pada 2020, tercatat 120 balita tengkes dari 600 balita. Hingga November 2025, jumlahnya menjadi sekitar 60 dari total 425 balita.
Namun, penanganan tengkes tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan. Pola asuh, kebersihan, cara mengolah makanan, serta perhatian orang tua terhadap kebutuhan gizi juga berpengaruh. Karena itu, ibu hamil mendapat penyuluhan, sementara kader kesehatan mendata dan memantau kondisinya.
Kebun Gizi menunjukkan bahwa sebidang lahan dapat menjadi sumber pangan sekaligus ruang gotong royong. Melalui sayuran, ikan, dan kerja bersama, para perempuan tani Sananrejo membantu memastikan makanan bergizi tersedia lebih dekat bagi ibu dan anak.
Foto utama: Seorang anak menerima sayuran yang dipanen dari kebun gizi. Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia.