Sampah plastik bukan satu-satunya ancaman bagi laut Indonesia. Alat penangkapan ikan yang hilang, ditinggalkan, atau sengaja dibuang juga dapat terus menjerat satwa meski tidak lagi digunakan nelayan.
Sampah yang dikenal sebagai Abandoned, Lost, or Otherwise Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau ghost gear ini dapat merusak habitat dan membunuh berbagai satwa laut. Pengelolaannya menjadi tantangan karena sekitar 90 persen nelayan Indonesia merupakan nelayan kecil. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2024 mencatat jumlah mereka mencapai 2,91 juta orang, sedangkan nelayan bukan skala kecil sekitar 323 ribu orang.
Salah satu alat tangkap yang berisiko tinggi menjadi sampah laut adalah gillnet atau jaring insang. Alat ini lazim digunakan nelayan kecil dengan kapal berukuran kurang dari lima gros ton untuk menangkap rajungan dan tongkol.
Jaring tersebut dibentangkan seperti dinding vertikal. Bagian atasnya dibuat mengapung, sedangkan bagian bawah diberi pemberat. Ikan yang berenang melewati mata jaring akan terjerat pada insang atau tubuhnya. Ketika hilang atau dibuang ke laut, jaring dapat terus menangkap ikan dan satwa lain tanpa terkendali.
Masa pakai gillnet juga relatif singkat. Jaring untuk menangkap tongkol, misalnya, perlu diganti setelah digunakan paling lama dua bulan. Diperkirakan terdapat sekitar 18.206 ton gillnet yang harus diganti setiap tahun. Tanpa sistem pengumpulan yang memadai, alat tangkap bekas tersebut berpotensi menjadi sampah laut.
Salah satu upaya penanganannya dilakukan melalui program Net Free Seas. Pada fase pertama sepanjang 2023–2025, program ini mengumpulkan dan mendaur ulang 10 ton sampah alat tangkap di Indonesia. Nelayan dari Pemalang, Pangandaran, dan Cilincing terlibat karena lokasinya relatif dekat dengan pabrik daur ulang di Bandung.
Fase kedua berlangsung sejak Oktober 2025 hingga September 2027 dengan cakupan hingga Jawa Timur dan Bali. Program ini berfokus pada pengelolaan sampah alat tangkap di pelabuhan perikanan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat pesisir.
Pelabuhan menjadi lokasi penting karena merupakan titik awal dan akhir kegiatan kapal penangkap ikan. Selama 2025, pengelolaan sampah plastik di 150 pelabuhan berhasil mengumpulkan 763,97 ton sampah dari 25.565 kapal. Pada 2026, sebanyak 143,38 ton dikumpulkan dari 8.857 kapal di 121 pelabuhan.
Pengelolaan ghost gear perlu melibatkan nelayan, pelabuhan, pelaku usaha, dan pemerintah. Selain mencegah kerusakan ekosistem, daur ulang jaring berbahan nilon dapat menciptakan ekonomi sirkular dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.