Bagi banyak orang, hutan mangrove identik dengan benteng alami penahan abrasi atau tempat hidup beragam satwa pesisir. Padahal, bagi banyak masyarakat pesisir Indonesia, mangrove juga merupakan dapur alami. Di dalam ekosistem inilah ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari.
Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga, tetapi lumbung pangan yang menyediakan beragam bahan makanan. Saat air surut, warga mencari bia atau kerang di sela-sela akar mangrove. Kepiting bakau juga menjadi hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi, sementara berbagai jenis ikan memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat memijah, mencari makan, dan membesarkan anak sebelum berpindah ke laut lepas. Tak heran, kondisi mangrove yang sehat berbanding lurus dengan melimpahnya hasil tangkapan nelayan.
Namun, ada satu sumber pangan mangrove yang mungkin belum banyak dikenal: buah mangrove.
Di Friwen, masyarakat mengenalnya sebagai buah aibon, yang berasal dari kelompok mangrove Bruguiera. Dahulu, buah ini menjadi salah satu bahan pangan penting masyarakat pesisir Raja Ampat. Para tetua di kampung ini, mengisahkan bahwa tepung dari buah aibon kerap dibawa sebagai bekal perjalanan karena dapat disimpan dalam waktu lama. Seiring perubahan pola konsumsi dan masuknya bahan pangan dari luar, tradisi tersebut perlahan menghilang, hingga hanya sedikit orang yang masih menguasai cara mengolahnya.
Mengolah buah mangrove memang membutuhkan kesabaran. Buah aibon tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin yang membuat rasanya pahit. Setelah dipanen, kulit buah dikupas, lalu direbus untuk mengurangi kandungan tanin. Selanjutnya buah ditumbuk hingga menjadi tepung. Dari sekitar lima kilogram buah dapat dihasilkan sekitar dua kilogram tepung yang kemudian diolah menjadi berbagai makanan, mulai dari mie, donat, kue kering, hingga pizza. Inovasi ini menunjukkan bahwa bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang akrab dengan lidah masyarakat masa kini tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Di balik upaya menghidupkan kembali pangan mangrove tersebut, perempuan memegang peran sentral. Mama-mama Kampung Friwen menjadi penggerak rehabilitasi mangrove sejak 2014, setelah melihat sekitar 60 hektar kawasan mangrove rusak akibat penebangan. Mereka menanam kembali mangrove, menjaga kawasan dari perusakan, sekaligus mewariskan pengetahuan tentang pemanfaatan buah mangrove kepada generasi muda.
Apa yang dilakukan masyarakat Friwen memperlihatkan bahwa menjaga mangrove bukan hanya soal melindungi garis pantai atau penyimpan karbon. Hutan pesisir ini juga merupakan fondasi ketahanan pangan. Selama ekosistemnya tetap sehat, mangrove akan terus menyediakan ikan, kepiting, kerang, hingga buah yang dapat diolah menjadi berbagai makanan. Dengan kata lain, ketika mangrove dipulihkan, yang tumbuh bukan hanya pepohonan, tetapi juga ketersediaan pangan, pengetahuan lokal, dan kemandirian masyarakat pesisir.
Foto utama: buah aibon (Bruguiera sp.) jenis mangrove yang secara tradisional dapat diolah sebagai bahan pangan. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia.