- Polusi udara di Jakarta dan sekitar sudah jadi keseharian. Tanggerang Selatan, Banten, salah satu titik episentrum polusi. Masyarakat perlu menyadari dan melakukan aksi atau ubah perilaku untuk meminimalisir risiko kesehatan fisik dan mental serta mengurang kondisi jadi lebih buruk.
- Winona Lalita, Psikolog Klinis dari Noutrisi Jiwa mengatakan, dampak polusi udara berimbas pula pada fungsi kognitif dan kesehatan mental. Tubuh dan mental bisa bereaksi terhadap lingkungan yang kurang sehat termasuk paparan cemaran udara.
- Wisya Aulia Prayudi, Urban & Environmental Health Lead CISDI mengatakan, dampak medis akibat polusi yakni dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang. Efek jangka pendek ini, misal, iritasi kulit, mata kemerahan, batuk, sesak nafas, atau pusing. Merasa tidak nyaman ketika keluar rumah atau di jalan juga merupakan indikasi. Dalam jangka panjang, cemaran udara dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit
- Nada Arini, kreator konten, berpendapat, sumber polusi udara antara lain berasal dari transportasi, pembakaran sampah, industri dan PLTU batubara. Dua hal paling mungkin masyarakat kendalikan adalah transportasi dan pembakaran sampah.
Polusi udara di Jakarta dan sekitar sudah jadi keseharian. Tanggerang Selatan, Banten, salah satu titik episentrum polusi. Masyarakat perlu menyadari dan melakukan aksi atau ubah perilaku untuk meminimalisir risiko kesehatan fisik dan mental serta mengurang kondisi jadi lebih buruk.
Wisya Aulia Prayudi, Urban & Environmental Health Lead CISDI mengatakan, Tangerang Selatan, salah satu kota paling berpolusi di Indonesia. Rata-rata dari kualitas udara mulai dari tidak sehat sampai ke buruk.
Aktivitas manusia sangat mempengaruhi kualitas udara. “Makin banyak mobilitas menggunakan kendaraan bermotor maka makin besar emisi gas buang hingga tingkat polusi udara cenderung meningkat,” katanya, dalam diskusi “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” inisiasi Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) di Tangerang Selatan, Juni lalu.
Cuaca, katanya, turut andil memberikan dampak. Biasa rata-rata kualitas udara itu membaik pada musim hujan. Karena hujan bisa “mencuci’ polutan di udara dan menurunkan ke tanah. Sebaliknya, ketika musim kemarau kualitas udara memburuk.
Wisya katakan, polusi udara di Tangerang Selatan antara lain karena kendaraan bermotor yang terus meningkat seiring kemudahan kepemilikan seperti sistem cicilan. Sampai 2025, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, ada 1,3 juta kendaraan bermotor.
Kawasan industri yang berdekatan dengan Tangerang Selatan turut menjadi penyumbang emisi signifikan. Faktor lain, yang sering tidak disadari adalah pembakaran sampah sembarangan. Praktik ini, katanya, dapat menghasilkan super polutan berbahaya bagi kualitas udara dan berdampak pada kesehatan.
‘Kan ini cukup ramai di Tangerang Selatan kemarin-kemarin. Asap hitamnya itu berbahaya banget,” katanya.

Dampak kesehatan
Winona Lalita, Psikolog Klinis dari Noutrisi Jiwa mengatakan, dampak polusi udara berimbas pula pada fungsi kognitif dan kesehatan mental.
Ketika seseorang bangun di pagi hari, membuka jendela, lalu mendapati langit kelabu dan suram seketika muncul rasa lemas, cemas, atau hilangnya motivasi untuk menjalani hari, itu bukanlah sekadar halusinasi.
Kondisi itu dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan mental sedang bereaksi terhadap lingkungan yang kurang sehat termasuk paparan cemaran udara.
Dalam situasi ini, tubuh dan pikiran bekerja bersama untuk merespons tekanan dari lingkungan sekitar yang akhirnya memengaruhi kondisi emosi, energi, dan semangat seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Ketika bangun pagi mood-nya sudah down itu sebenarnya adalah kondisi badan yang merespon lingkungan sekitar. Kalau kita membahas udara yang sudah terdampak polusi, ini tidak tentang mood saja tetapi juga sistem biologis manusia yang berusaha dari hari ke hari merespon ataupun bereaksi terhadap lingkungan sekitar.”
Ketika udara tercemar terhirup, pasokan oksigen murni ke otak berkurang drastis. Akibatnya, tubuh mendeteksi ancaman dan terus berada dalam mode siaga yang memicu lonjakan kortisol alias hormon stres.
Secara kognitif, katanya, otak dapat mengalami gangguan ketika seseorang terus-menerus terpapar udara tidak bersih. Karena kualitas udara buruk turut memengaruhi fungsi optimal organ tersebut.
Otak juga merupakan pusat pengendali yang sangat kompleks termasuk dalam mengatur perasaan dan suasana hati. Ketika asupan oksigen ke otak tidak berjalan secara maksimal maka fungsi-fungsi itu juga dapat ikut terdampak hingga emosi menjadi kurang stabil. Suasana hati mudah berantakan, dan muncul rasa enggan atau malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Kontribusi dalam mengurangi kondisi udara yang buruk bisa setiap orang dengan kemampuan untuk membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak. Seluruh kondisi kualitas udara saat ini mungkin tidak terkontrol namun, kata Winona, tetap berperan untuk tidak memperburuknya.
Wisya katakan, dampak medis akibat polusi yakni dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang. Efek jangka pendek ini, misal, iritasi kulit, mata kemerahan, batuk, sesak nafas, atau pusing. Merasa tidak nyaman ketika keluar rumah atau di jalan juga merupakan indikasi.
Dia juga mengingatkan partikel polutan PM2,5 (Particulate Matter 2.5) di udara dengan ukuran sangat kecil dan lebih kecil daripada debu. PM 2,5 bisa masuk ke dalam peredaran darah hingga bisa menyebar ke seluruh tubuh dan memicu penyakit berbahaya.
Sejumlah penelitian menunjukkan paparan polusi udara, terutama dalam jangka panjang, berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan kronis, serta memperburuk diabetes.
PM 2,5 dalam jangka waktu panjang salah satunya bisa merusak berbagai organ di dalam tubuh.
Dalam jangka panjang, katanya, cemaran udara dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit terutama saat seseorang memasuki usia lanjut, antara lain, meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif hingga demensia.
Polusi, katanya, ikut menelanjangi kesenjangan sosial di masyarakat. Berbeda dengan pekerja yang dapat beraktivitas di dalam ruangan berpendingin udara atau memiliki sistem ventilasi yang baik. Bagi pekerja berpenghasilan rendah dan masyarakat marginal mencari nafkah di ruang terbuka paling rentan menanggung dampak.
Mereka, katanya, harus menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan hingga terpapar polusi udara secara langsung sepanjang hari. Kondisi ini, katanya, membuat mereka berada di garda terdepan menghadapi risiko kesehatan akibat pencemaran udara.

Masyarakat bisa lakukan apa?
Winona bilang, perlu fokus pada hal-hal yang dalam kendali seperti menerapkan gaya hidup ramah lingkungan (eco friendly). Misal, mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil dengan beralih ke transportasi lebih bersih.
Dia bilang, setiap pilihan memiliki tantangan dan risiko tetapi tetaplah berupaya tidak menambah beban pencemaran sekaligus berkontribusi menjaga kualitas udara agar tidak makin buruk bagi lingkungan dan kesehatan.
Menurut dia, penggunaan masker bisa jadi perlindungan penting bagi warga yang setiap hari beraktivitas di luar ruangan. Masker, katanya, bisa membantu mengurangi paparan polutan.
Dimas Gilang, Program Director Bike2Work (B2W) Indonesia juga nyatakan hal serupa. Pakai masker cukup membantu.
Dia merasakan perjalanan harian dari Serpong menuju kantor di Jakarta bukan sekadar rutinitas tetapi potret nyata menghadapi polusi udara di Tangerang Selatan, Banten.
Setiap hari dia mengombinasikan sepeda dengan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line untuk berangkat bekerja. Rute dari rumah menuju stasiun kerap penuh truk-truk besar yang menjadi sumber polusi.
Meski demikian bersepeda justru menjadi cara tepat Dimas menjaga kesehatan mentalnya dalam beberapa tahun terakhir. Bersepeda menjadi sarana dia buat memulihkan diri.
Pemandangan pepohonan di sepanjang perjalanan menuju stasiun memberikan ketenangan, sementara perjalanan pulang dengan sepeda membantunya melepaskan penat sebelum bertemu keluarga di rumah. Dengan begitu dia bisa tiba di rumah dalam kondisi lebih rileks.
Sebagai bagian dari komunitas pemakai sepeda, dia mendorong masyarakat untuk bersepeda dan aktif mengadvokasi kebijakan transportasi berkelanjutan melalui program yang mencakup advokasi, kampanye, sosialisasi, dan edukasi.
Dia bilang, perubahan perilaku masyarakat harus bersamaan dengan dukungan regulasi dan penyediaan infrastruktur memadai.
Karena itu Bike2Work bersama Koalisi Pejalan Kaki terus mendesak pemerintah membangun jalur sepeda, trotoar yang layak, serta fasilitas pendukung lainnya.
Di Tangerang Selatan, perhatian utama mereka tertuju pada konektivitas first mile dan last mile, yakni, akses dari rumah menuju stasiun, halte, atau titik transportasi umum menuju tujuan akhir.
Aspek ini, katanya, masih sering terabaikan padahal faktor penentu masyarakat bersedia beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
“Transportasi sebagus apapun kalau hal itu tidak dipikirkan maka bisa dipastikan masyarakat akan kembali lagi ke kendaraan pribadi,” katanya.
Bike2Work juga mendorong penyediaan parkir sepeda yang aman di setiap stasiun. Jika pesepeda merasa kendaraan mereka terlindungi, akan lebih percaya diri mengayuh sepeda dari rumah menuju stasiun.
Sebaliknya, fasilitas minim dan maraknya kasus pencurian sepeda justru membuat banyak orang enggan bersepeda dan kembali menggunakan kendaraan pribadi.
Wisya serupa dengan Dimas. Mengurangi emisi kendaraan bermotor, katanya, bisa dengan gunakan sepeda atau kendaraan elektrik dapat berdampak positif terhadap kualitas udara.
Sebab sepeda atau kendaraan elektrik tidak membakar emisi dari bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan pemakaian BBM untuk kendaraan bermotor salah satunya bisa menghasilkan gas sulfur yang cukup berbahaya untuk kesehatan manusia.
Nada Arini, kreator konten, berpendapat, sumber polusi udara antara lain berasal dari transportasi, pembakaran sampah, industri dan PLTU batubara. Dua hal paling mungkin masyarakat kendalikan adalah transportasi dan pembakaran sampah.
Polusi dari pembangkit listrik batubara, katanya, kerap luput dari perhatian. Emisi dari pembakaran batubara ini, termasuk partikel abu halus, dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer.
Nadia bilang, solusi tidak bisa bertumpu pada satu tindakan tunggal melainkan perlu bertahap dari berbagai sisi. Salah satu langkah paling sederhana adalah menghentikan praktik pembakaran sampah yang masih banyak terjadi. Sebab kebiasaan membakar sampah, terutama yang sudah bercampur plastik, justru memperburuk pencemaran udara.
Tempat pembuangan pun hanya memindahkan masalah sampah dan bukan menyelesaikannya terlebih di tengah kondisi pengelolaan sampah yang sudah kewalahan dan keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir.
Dia ingatkan, penting perubahan kebiasaan sehari-hari seperti mengurangi sampah dari sumbernya dengan membawa botol minum, kotak makan, dan wadah sendiri saat beraktivitas.
Langkah kecil ini, katanya, dapat mengurangi beban sistem pengelolaan sampah sekaligus menekan potensi pembakaran sampah.
Dari sisi energi, Nada menyoroti penggunaan listrik berlebihan memiliki jejak lingkungan yang tidak terlihat langsung. Langkah hemat energi di rumah menjadi bagian dari kontribusi menjaga kualitas udara.

*****