Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap.
Temuan ini diterbitkan di jurnal Subterranean Biology tahun 2025 oleh tim yang dipimpin István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania.
Gua itu bernama Sulfur Cave, bagian dari sistem gua bawah tanah di Lembah Sarandaporo. Di dalamnya, air panas kaya belerang terus keluar dari dasar bumi. Gas hidrogen sulfida yang memenuhi udara gua bersifat beracun bagi manusia, kadar oksigennya rendah, dan tidak ada cahaya sama sekali. Tapi justru kondisi itulah yang menopang seluruh ekosistem di dalamnya.
Rantai makanannya dimulai dari bakteri pengoksidasi sulfur yang memanfaatkan gas H₂S sebagai sumber energi, membentuk lapisan biofilm di dinding dan dasar sungai gua. Lapisan ini dimakan larva lalat kecil dari keluarga chironomid. Ketika dewasa, lalat-lalat itu beterbangan dalam kawanan padat di atas aliran air belerang yang hangat, menyediakan sumber makanan konstan bagi laba-laba yang menempel di dinding. Tidak ada bahan organik dari luar yang masuk dalam jumlah berarti. Ekosistem ini sepenuhnya mandiri dari sinar matahari.
Dua spesies yang membangun koloni ini, Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans, umumnya hidup soliter. Di Sulfur Cave, keduanya hidup berdampingan tanpa konflik, berbagi ruang dan mangsa. Kepadatan mencapai rata-rata 650 individu T. domestica dan 800 individu P. vagans per meter persegi. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai “kolonialitas fakultatif”, kemampuan spesies soliter untuk beralih hidup berkelompok ketika kondisi lingkungan memungkinkan.
Adaptasi mereka tidak hanya pada perilaku. Analisis genetik menunjukkan bahwa populasi T. domestica di Sulfur Cave sudah berbeda DNA-nya dari populasi permukaan, tanpa pertukaran individu antara keduanya. Mikrobioma laba-laba gua lebih sederhana dari kerabat mereka di luar, didominasi bakteri Wolbachia dan Mycoplasma yang membantu inang beradaptasi dengan kekurangan oksigen dan paparan senyawa beracun.
Pola reproduksinya pun berbeda. Betina menghasilkan rata-rata hanya 16 butir telur per kantung, lebih sedikit dari populasi permukaan, tapi ukuran telurnya lebih besar. Jumlah telur meningkat hampir dua kali lipat di awal musim panas dibanding musim dingin, menunjukkan bahwa meski hidup di gua tertutup, siklus reproduksi mereka masih dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan luar.
Koloni di Sulfur Cave memperlihatkan bahwa ekosistem kompleks bisa terbentuk tanpa cahaya matahari sama sekali. Yang dibutuhkan hanya sumber energi alternatif, dalam hal ini kimia belerang, dan waktu yang cukup bagi makhluk hidup untuk menyesuaikan diri. Dua syarat yang rupanya sudah terpenuhi jauh di bawah perbatasan Albania dan Yunani.