Seekor macan tutul jawa membutuhkan ruang hidup setara 490 lapangan sepak bola untuk menopang aktivitas jelajah, mencari pasangan, dan bertahan hidup. Di Pulau Jawa, pulau terpadat di dunia, ruang sebesar itu semakin sulit dipertahankan. Dan ancaman yang mengepungnya kini datang dari dua arah sekaligus: hutan yang terus menyusut, dan pemburu yang semakin canggih.
Hasil Population Viability Analysis (PVA) IUCN menyampaikan angka yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak: 19 dari 22 subpopulasi macan tutul jawa berisiko punah dalam 100 tahun ke depan, dengan probabilitas 84 persen. Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, risiko kepunahannya masih 53 persen. Ini bukan proyeksi pesimistis. Ini hitungan ilmiah berdasarkan kondisi yang ada sekarang.
Tekanan terhadap habitatnya nyata dan berlapis. Tutupan hutan di Jawa Barat, salah satu kantong populasi terpenting, menyusut hingga 43 persen dalam periode 2023 hingga 2025 menurut catatan Walhi Jawa Barat, akibat alih fungsi lahan untuk pertambangan, pariwisata, proyek strategis, dan kawasan pengelolaan khusus. Ketika hutan terfragmentasi, jalur jelajah macan ikut terputus. Macan terpaksa menempuh jarak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, menguras energi yang seharusnya dipakai untuk berburu dan bereproduksi.
Sementara habitatnya menyempit, ancaman dari manusia justru semakin presisi. Pemburu kini menggunakan anjing hasil persilangan ras pitbull, terrier, dan beagle yang memiliki kemampuan penciuman dan keberanian lebih tinggi. Senapan angin bertekanan tinggi tipe PCP dipadukan dengan teleskop termal yang bisa mendeteksi panas tubuh di malam hari. Macan, yang semula bukan target utama, menjadi sasaran ketika anjing pemburu dimangsa saat memasuki teritori mereka. Di Garut, ada kasus macan diracun untuk diambil kulitnya. Di Subang, perburuan sering tidak tercatat karena berlangsung di hutan non-konservasi dengan pengawasan minim. Bandung disinyalir menjadi simpul distribusi yang menghubungkan jaringan pemburu ke pasar yang lebih luas.
Konflik dengan manusia pun meningkat. Laporan IUCN Red List 2021 mencatat 87 konflik di berbagai wilayah Jawa antara 2008 dan 2021. Dari 29 individu yang ditangkap, hanya 3 berhasil dilepasliarkan dan 5 mati. “Habitat macan tidak hanya di kawasan konservasi. Banyak yang di luar kawasan dan itu beriringan langsung dengan perkembangan pembangunan,” kata Ilham Purwa dari Forum Macan Tutul Kita.
Solusinya tidak sederhana. Hariyo Wibisono, Direktur SINTAS, menegaskan bahwa Jawa harus diperlakukan sebagai satu populasi besar yang terdiri dari subpopulasi-subpopulasi yang saling terhubung. Kawasan yang sudah optimal perlu diperkuat. Kawasan dengan populasi rendah perlu pengayaan. Kawasan yang sudah kosong perlu repopulasi melalui translokasi. “Yang kosong itu harus direpopulasi dengan cara translokasi,” katanya.
Tapi semua itu tidak akan berjalan tanpa kebijakan kehutanan yang tegas dan konsisten. Hutan yang ada tidak boleh terus berkurang. Alih fungsi lahan harus diimbangi koridor pengganti. Dan pendanaan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan simpati publik terhadap spesies yang dianggap karismatik. “Harimau disukai, banyak yang mau biayai. Macan tutul hidup di Jawa, acapkali selalu dianggap hopeless,” kata Wibisono.
Macan tutul jawa bukan hopeless. Tapi ia membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Ia membutuhkan hutan yang tidak terus digerus, kebijakan yang tidak terus berkompromi, dan kesadaran bahwa predator puncak terakhir di Pulau Jawa adalah ukuran seberapa serius kita merawat sisa ekologi pulau ini.