Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi.
Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau racun. Ia mati dalam proses penyelamatan yang seharusnya melindunginya.
Forum HarimauKita (FHK) menyebut perilaku Bakas bukan tindakan bunuh diri, melainkan reaksi stres ekstrem akibat gangguan sekitar. Harimau adalah satwa yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, suara, dan kontak visual. “Pelanggaran prinsip dasar kesejahteraan satwa, seperti bebas dari ketakutan dan tekanan, dapat menyebabkan stres fatal,” kata Iding Achmad Haidir, Ketua FHK. FHK juga menyoroti minimnya informasi tentang tahapan pemindahan Bakas, termasuk apakah sedasi dilakukan dengan benar dan siapa yang bertanggung jawab secara medis.
Kematian Bakas bukan sekadar kehilangan satu individu. Dalam konteks populasi harimau sumatera yang sudah sangat kecil, setiap individu adalah aset genetik yang tidak tergantikan. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, dan populasinya terus tertekan dari berbagai arah.
Data FHK menunjukkan dari 2018 hingga 2024, sebanyak 17 individu harimau ditemukan mati, umumnya akibat jerat atau racun. Angka itu belum termasuk yang diperdagangkan secara ilegal. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Selama dua dekade terakhir, Sumatera kehilangan tutupan hutan akibat pembalakan, perluasan perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Di Aceh saja, kehilangan tutupan hutan pada 2024 mencapai 10.610 hektar, naik 19 persen dari tahun sebelumnya.
Populasi terbesar harimau sumatera diperkirakan masih bertahan di Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh dan Sumatera Utara, serta Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi. Kedua kawasan ini menjadi benteng terakhir karena masih memiliki betina produktif dalam jumlah yang cukup. Di luar itu, sebagian besar populasi hidup terisolasi di fragmen-fragmen hutan kecil yang dikepung perkebunan dan jalan. “Dengan populasi sekecil itu, kehilangan satu betina dewasa bisa mengganggu kelangsungan genetik,” kata Iding.
Ketika habitat rusak, harimau terpaksa turun ke ladang dan desa. Konflik dengan manusia meningkat, dan penanganan konflik itulah yang membawa Bakas ke kandang yang menjadi tempat kematiannya. Lingkaran yang sulit diputus tanpa kebijakan yang lebih serius.
Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera terakhir berlaku untuk periode 2007 hingga 2017. Sudah hampir satu dekade kedaluwarsa. “SRAK harus segera diperbarui agar bisa menjadi dasar kebijakan dan anggaran yang lebih kuat,” desak Iding.
“Jika tren ini berlanjut, harimau sumatera di alam liar bisa punah dalam beberapa dekade mendatang.” Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah proyeksi ilmiah dari orang yang menghabiskan hidupnya berusaha agar proyeksi itu tidak terbukti. Kematian Bakas adalah pengingat bahwa waktu yang tersisa semakin pendek, dan bahkan upaya penyelamatan pun bisa berakhir dengan kegagalan jika tidak dilakukan dengan benar.