Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
1. Banjir bandang terjang lima kabupaten di kaki Gunung Slamet

Ekosistem di sekitar kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah sedang tidak baik-baik saja. Hujan deras pada akhir Januari lalu membuat lima kabupaten mengalami banjir bandang. Diantaranya Kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, Banyumas dan Purbalingga.
Beberapa area yang berfungsi sebagai daerah resapan kini beralih fungsi menjadi pertanian. Sungging Septiwiantio, pendamping perhutanan sosial Jawa Tengah menyebutkan cuaca ekstrem bukan satu-satunya penyebab utama banjir, tapi alih fungsi menjadi faktor yang memperparah kondisinya.
“Hutan rusak, sementara sungai tidak lagi mampu menampung, sehingga meluap dan berdampak pada pemukiman warga. Kalau di Banyumas, banjir bandang terjadi di sungai-sungai yang memiliki hulu di Gunung Slamet,” ujar Sungging.
Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional menyebutkan lemahnya tata kelola hutan dan kerusakan hutan linfung di kawasan Gunung Slamet sudah sangat mengkhawatirkan. Intensitas bencana banjir dan longsor menjadi salah satu buktinya.
2. Orang Sawai Dalam berjuang dari jeratan industri nikel

Masyarakat adat suku Kulo Dalam di Halmahera Tengah, Maluku Utara khawatir. Hutan mereka kian rusak dan hilang akibat ekspansi industri nikel. Padahal mereka menggantungkan hidup dari hasil hutan non kayu, seperti rotan, damar dan sagu. Tak hanya itu, mereka juga menjadi korban saat bencana banjir datang.
Data Forest Watch Indonesia (2024), provinsi ini telah kehilangan lebih dari 11.000 hektar tutupan hutan dalam lima tahun terakhir. Dari jumlah itu sebagian besar ada di sekitar kawasan PT Weda Bay Nickel dan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park. Artinya, setiap tahun, deforestasi di Weda Tengah capai 2.300 hektar per tahun.
Warga suku Sawai datang dari pesisir yang mengawali pendirian kampung ini dan menamai “Kulo”. Dalam bahasa Sawai, artinya tempat yang terjaga. Itu berkaitan dengan jere atau makam kemaram yang diyakini sebagai nenek moyang orang Sawai. Mayoritas warga kampung ini berasal dari etnis Suku Sawai, selain itu ada dari Tobelo dan Galela—dua etnis dari utara Halmahera.
3. Menakar wacana pemerintah hutankan sawit pasca bencana Sumatera

Ada wacana dari Pemerintah yang ingin mengembalikan kebun-kebun sawit berizin di Sumatera menjadi hutan. Ini muncul setelah bencana Sumatera terjadi. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nurson Wahid menyebutkan ini menjadi opsi ekstrem yang sedang dipertimbangkan dan bukan evaluasi biasa.
Greenpeace Indonesia menyebutkan tata kelola hutan maupun sawit di Sumatera sudah sangat karut marut, sehingga wacana itu akan sulit terlaksana. Meski begitu, pemulihan kawasan hutan menjadi penting untuk dilakukan. Sementara itu, Forest Watch Indonesia menyebutkan konsesi sawit masih banyak bermasalah. Kebijakan pemutihan sawit dalam kawasan hutan menjadi sebuah preseden buruk dalam tata kelola sawit di Indonesia.
4. Proyek panas bumi, Jatam ungkap label ‘hijau’ sengsarakan warga

Kehadiran energi panas bumi di Indonesia tidak memberikan dampak baik bagi masyarakat. Baik proyek di Sarulla, Sorik Marapi sampai Flores. Pemerintah selalu menjadikan energi ini sebagai bahan jualan energi hijau, tapi dampak sosial dan ekologisnya tidak pernah menjadi pertimbangan.
JATAM menyebutkan ada 360 titik panas bumi yang terus pemerintah genjot. Tapi proses pengeboran, injeksi air besar-besaran, pembukaan lahan dan konflik sosial menjadi rentetan yang tak pernah diselesaikan oleh pemerintah. Perempuan Mahardika menilai politik transisi energi juga melahirkan struktur kekerasan baru yang berlapis terhadap perempuan. Di hampir seluruh wilayah proyek panas bumi, perempuan menanggung dampak rusaknya sumber air dan produksi pangan menurun.
5. Longsor Cisarua, organisasi lingkungan desak audit lingkungan

Belum usai penanganan bencana di Sumatera, di Jawa Barat terjadi bencana longsor. Tepatnya di desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Pemerintah menyebutkan akan mengkaji terkait perubahan pemanfaatan lahan dari kawasan hutan menjadi lahan pertanian sayuran. Tak hanya itu, pola konsumsi dan urbanisasi mendorong perluasan pertanian ke lereng pegunungan.
Sejak lama, kawasan Bandung Utara (KBU) menjadi wilayah yang memiliki fungsi penting sebagai daya dukung dan daya tampung bagi kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Bandung Barat. Sayangnya, wilayah tersebut mengalami tekanan signifikan karena intensitas pembangunan yang terus meningkat.
*Kadek Dian Dwiyanti H. merupakan mahasiswa magang Mongabay Indonesia semester I-2026. Saat ini, Dian masih menempuh studi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

