<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=venansius-haryanto&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/venansius-haryanto/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 05 Sep 2026 17:23:11 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Sinabung Erupsi, Imbau Warga Waspada,  Hindari Zona Bahaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 17:23:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/05/22084841/hutan-siosar3-Gunung-Sinabung-yang-terus-erupsi-Ayat-S-Karokaro.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132848</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023. Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/">Sinabung Erupsi, Imbau Warga Waspada,  Hindari Zona Bahaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023. Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul 10.00 WIB. Dia mengajak istrinya berlindung di pondok sambil memantau arah sebaran abu. Sebelumnya, dua bulan terakhir, dia mengamati asap tipis keluar dari puncak, namun tidak menganggapnya mengkhawatirkan. Saat erupsi, dia sedang memanen wortel lebih dari 75 kilogram dan markisa sekitar 42 kilogram. Hasil kebun dia hendak kirim ke Berastagi dan menjualnya ke penampung maupun Pasar Buah Berastagi. &#8220;Mudah-mudahan Sinabung reda dan tidak erupsi lagi seperti tahun 2023,&#8221; katanya. Dia sadar risiko tinggal di Sinabung. Satu sisi, aktivitas vulkanisme memang membuat subur, tetapi sisi lain, aktivitas vulkanisme itu mengancam keberadaan warga. Kajian ilmiah Sutawidjaja, Iguchi, dan Pusat Penelitian Pertanian, Kementerian Pertanian menyebut,  Sinabung gunung api strato atau kerucut berlapis yang terbentuk pada zaman Pleistosen hingga Holosen. Batuan penyusun utamanya berjenis basaltik-andesit hingga andesit, kaya mineral plagioklas, piroksen, dan hornblenda. Material vulkanik yang dilapuk mengandung unsur hara kalsium, magnesium, kalium, dan fosfor yang tinggi sehingga menjadi tanah sangat subur bagi pertanian. &nbsp; Pemandangan ini terlihat indah dari atas bukit Gundaling. Tampak Gunung Sinabung mengeluarkan debu vulkanik tipis dari dalam kawahnya. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia. Mengungsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, saat ini telah mengungsi ke Posko Penanganan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 13:54:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05135126/Atuk-Sukar-Ketua-Adat-Suku-Mapur-di-Dusun-Pejem-Pulau-Bangka-yang-masih-menetap-di-sekitar-hutan-larangan-Bukit-Tabun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Meskipun telah lama merdeka, cara pandang kolonial yang memisahkan antara manusia dan alam dalam praktik konservasi atau yang dikenal sebagai konservasi benteng (fortress conservation), dinilai masih kuat mewarnai praktik konservasi di Indonesia. Dalam pendekatan ini, keberadaan manusia dipandang sebagai ancaman sehingga akses masyarakat terhadap kawasan yang hendak dilindungi dibatasi. Padahal nyatanya, masyarakat adat secara berabad-abad [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/">Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Meskipun telah lama merdeka, cara pandang kolonial yang memisahkan antara manusia dan alam dalam praktik konservasi atau yang dikenal sebagai konservasi benteng (fortress conservation), dinilai masih kuat mewarnai praktik konservasi di Indonesia. Dalam pendekatan ini, keberadaan manusia dipandang sebagai ancaman sehingga akses masyarakat terhadap kawasan yang hendak dilindungi dibatasi. Padahal nyatanya, masyarakat adat secara berabad-abad telah bermukim, menjaga hutan, sungai, dan laut seperti merawat kehidupan mereka sendiri. Bagi mereka, praktik-praktik konservasi bukanlah konsep yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Di berbagai wilayah di Indonesia, relasi antara manusia dengan alam masih banyak dapat dijumpai. Salah satunya masyarakat adat Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat, yang mengenal filosofi hidup: “Hutan adalah Bapak, Tanah adalah Ibu, dan Air adalah Darah Kami.” Namun ironi justru ada di sini. Banyak masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini menjaga ruang hidupnya, dalam banyak kasus justru terusir dari tanahnya. “Sampai sekarang kita belum bisa lepas dari bentuk kolonialisme konservasi, yang memisahkan alam dengan manusia. Manusia justru dianggap sebagai ancaman dalam aktivitas konservasi,” ujar Yance Arizona, Ketua Pusat Kajian Demokrasi Konstitusi dan Hak Asasi Manusia (Pandheka) saat dijumpai di Peoples’ Conservation Summit (PCS)/Pertemuan Konservasi Rakyat 2026, yang diselenggarakan pada 1-3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta. Menurutnya, persoalan konservasi benteng masih berhubungan dengan anggapan bahwa pengetahuan pemerintah dan institusi akademik dianggap lebih ilmiah daripada pengetahuan yang berkembang di masyarakat, dan digunakan dalam penyusunan kebijakan konservasi di Indonesia. “Karena itu, upaya dekolonisasi konservasi menjadi penting untuk mengubah hubungan antara negara, masyarakat, dan alam,” tegas Yance&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harga Batubara Tak Wajar, Perlindungan Hutan dan Keselamatan Lingkungan Jadi Taruhan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 10:00:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16200501/DJI_20260129130630_0023_D-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132873</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Data dan Statisik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, kalimantan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia menguasai 47,3 persen pasar ekspor batubara termal dunia. Namun, menjadi pemasok besar ternyata tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga. Batubara justru dijual terlalu murah, sementara hutan, sungai, dan masyarakat sekitar tambang menanggung akibatnya. Kajian Transisi Bersih yang dirilis pada Juli 2026 menyebut persoalan ini sebagai underpricing. Istilah tersebut bukan sekadar berarti harga murah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/">Harga Batubara Tak Wajar, Perlindungan Hutan dan Keselamatan Lingkungan Jadi Taruhan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia menguasai 47,3 persen pasar ekspor batubara termal dunia. Namun, menjadi pemasok besar ternyata tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga. Batubara justru dijual terlalu murah, sementara hutan, sungai, dan masyarakat sekitar tambang menanggung akibatnya. Kajian Transisi Bersih yang dirilis pada Juli 2026 menyebut persoalan ini sebagai underpricing. Istilah tersebut bukan sekadar berarti harga murah, melainkan harga yang berada di bawah nilai wajar setelah kualitas, kandungan energi, biaya logistik, syarat pengiriman, dan waktu transaksi diperhitungkan. Peneliti membandingkan ekspor 20 negara eksportir terbesar sepanjang 2020–2024. Perbandingan dilakukan bukan hanya berdasarkan harga setiap ton, tetapi juga nilai energinya. Hasilnya, diskon batubara Indonesia lebih besar daripada yang dapat dijelaskan oleh perbedaan kandungan energi. Mengapa negara pemasok besar justru memiliki posisi tawar lemah? Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan kepada pembeli tertentu. Hampir 46 persen ekspor batubara Indonesia mengalir ke China dan India. Kedua negara memiliki pilihan pemasok lain sehingga dapat beralih ketika harga Indonesia dianggap kurang menarik. Kajian tersebut menemukan, ketika harga batubara acuan naik 10 persen, harga ekspor Indonesia ke kedua negara rata-rata hanya meningkat 5,9 persen. Artinya, kenaikan harga acuan tidak sepenuhnya dinikmati eksportir. Tekanan keuntungan kemudian mendorong perusahaan mengejar penjualan dalam jumlah lebih besar. Kewajiban memasok kebutuhan domestik dengan harga rendah juga disebut memperkuat dorongan tersebut. Namun, produksi berlebihan membanjiri pasar dan semakin melemahkan posisi tawar Indonesia. Lingkaran ini mempunyai konsekuensi nyata bagi lingkungan. Menambah produksi berarti memperluas pembukaan lahan, membangun jalan angkut, serta menambah infrastruktur tambang. Bakhrul Fikri, peneliti Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, menjelaskan bahwa dampaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 05:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075859/Orangutan-Sampurna2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132992</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kalimantan, kera besar, pencemaran, politik dan hukum, sains dan tekn, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menganggu manusia. Di hutan, satwa juga harus mengirup udara yang sama, bahkan lebih buruk lagi. Kasus orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi gambaran nyata. Seperti diberitakan Mongabay Indonesia sebelumnya, sepanjang Agustus 2026, tujuh orangutan dievakuasi setelah terdampak kebakaran. Salah satunya, orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/">Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menganggu manusia. Di hutan, satwa juga harus mengirup udara yang sama, bahkan lebih buruk lagi. Kasus orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi gambaran nyata. Seperti diberitakan Mongabay Indonesia sebelumnya, sepanjang Agustus 2026, tujuh orangutan dievakuasi setelah terdampak kebakaran. Salah satunya, orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, yang ditemukan lemas di sekitar kebun sawit setelah bergeser dari habitatnya, pada Minggu (30/8/26). Paparan asap karhutla menyebabkan tubuhnya mengalami gangguan pernapasan. Namun, Sampurna mati sekitar pukul 15:20 WIB, setelah pertama kali ditemukan di hari yang sama sekitar pukul 06:00 WIB. Dikutip dari Kompas, kematiannya disebabkan oleh gangguan pernapasan berat, akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan yang memicu hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen di dalam tubuh. Sampurna, orang jantan dewasa ini ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit di Ketapang, Kalbar, Minggu (30/8/26). Malang, Sampurna mati sore hari, di hari yang sama akibat paparan asap karhutla yang menyebabkan tubuhnya mengalami gangguan pernapasan. Foto: Dok. YIARI. Kisah Sampurna datang ketika musim kebakaran belum benar-benar berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, terdapat 463 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan, dan 264 di Sumatera pada 2 September. Kondisi panas dan kering masih berpotensi berlangsung awal September. Bagi primata, ancaman kebakaran mungkin jauh lebih panjang. Penelitian Harrison dan kolega yang terbit di Global Ecology and Conservation 2026 mencoba melihat persoalan yang selama ini relatif kurang diperhatikan, yakni dampak tidak langsung kebakaran melalui asap dan kabut asap. Peneliti mengumpulkan informasi dari peneliti primata serta menelaah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Roboh Bisa Bangkit Sendiri, Ada &#8220;Otot&#8221; yang Menariknya Kembali Tegak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 03:42:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05033326/pexels-avishek-shrestha-2160510399-36791573-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132989</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pohon yang roboh atau miring ternyata mampu meluruskan dirinya sendiri berkat sebuah sistem di dalam batangnya yang bekerja persis seperti otot. Sebuah studi baru berhasil melacak mekanisme di balik kemampuan ini, yang oleh para peneliti digambarkan sebagai sistem sensorimotor yang beroperasi langsung di jaringan kayu. Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Institut Nasional Penelitian Pertanian, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/">Pohon Roboh Bisa Bangkit Sendiri, Ada &#8220;Otot&#8221; yang Menariknya Kembali Tegak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pohon yang roboh atau miring ternyata mampu meluruskan dirinya sendiri berkat sebuah sistem di dalam batangnya yang bekerja persis seperti otot. Sebuah studi baru berhasil melacak mekanisme di balik kemampuan ini, yang oleh para peneliti digambarkan sebagai sistem sensorimotor yang beroperasi langsung di jaringan kayu. Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Institut Nasional Penelitian Pertanian, Pangan, dan Lingkungan Prancis (INRAE) ini melanjutkan temuan tahun 2012 yang pertama kali menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki proprioseptif, yaitu kemampuan mengenali posisi bagian tubuhnya sendiri di ruang, kemampuan yang selama ini dianggap hanya dimiliki hewan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa indra ini membantu tumbuhan menjaga postur dan tetap tegak, namun mekanisme biologis yang menggerakkannya belum terungkap, hingga penelitian terbaru ini menemukan &#8220;otot&#8221; yang selama ini bekerja diam-diam menarik batang pohon kembali ke posisi lurus. Menyingkirkan Gravitasi dan Cahaya untuk Menemukan Otot Tersembunyi Tumbuhan tidak hanya merespons satu sinyal saja. Mereka bereaksi terhadap gravitasi, cahaya, dan bentuk tubuhnya sendiri, sehingga sulit mengisolasi dan mempelajari satu indra secara terpisah. Untuk memisahkan proprioseptif dari faktor-faktor lain itu, peneliti merancang eksperimen yang menghilangkan pengaruh arah gravitasi dan cahaya sepenuhnya. Mereka menempatkan pohon poplar muda pada platform horizontal yang berputar terus-menerus pada porosnya, di dalam sebuah bola yang diterangi merata dari segala arah. Dengan arah gravitasi dihilangkan dan cahaya datang seimbang dari semua sisi, setiap gerakan koreksi diri yang tersisa dapat dikaitkan langsung dengan indra internal pohon terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Pohon poplar putih (Populus alba), salah satu spesies induk dari hibrida Populus tremula x alba yang digunakan dalam eksperimen tension&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan Transmisi Listrik </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 01:32:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22072635/jambi4-Gardu-induk-PLN-Payo-Selincah.-gardu-ini-ada-di-sekitar-rumah-warga-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132564</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bencana dan krisis iklim turut meningkatkan kerentanan transmisi listrik yang masih bergantung pada energi fosil. Berbagai pihak pun mendorong pemerintah melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan secara konsisten. Deon Arinaldo, Direktur Transformasi Transisi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) mengingatkan pemerintah untuk mempercepat dekarbonisasi dengan mengandalkan energi terbarukan berbasis surya dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/">Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan Transmisi Listrik </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bencana dan krisis iklim turut meningkatkan kerentanan transmisi listrik yang masih bergantung pada energi fosil. Berbagai pihak pun mendorong pemerintah melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan secara konsisten. Deon Arinaldo, Direktur Transformasi Transisi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) mengingatkan pemerintah untuk mempercepat dekarbonisasi dengan mengandalkan energi terbarukan berbasis surya dan angin. “Pembangkit Listrik Tenaga Air juga turut terdampak akibat krisis iklim,”katanya. Salah satu implikasi dari pemanasan global, katanya, adalah turunnya pembangkitan listrik 4-5%. Aktivitas PLTA juga rentan  terganggu lantaran pasokan air yang berkurang akibat krisis iklim. Menurut Deon, ada empat area yang perlu menjadi perhatian untuk mempertahankan keandalan listrik. Pertama, infrastructure resilience yang mencakup ketahanan infrastruktur tenaga listrik terhadap shock dan stres dari cuaca ekstrem. Kedua, sistem yang punya interkoneksi baik. Dengan begitu, ketika terjadi disrupsi, maka blackout tidak meluas. Ketiga, sistem pemulihan cepat.  Keempat, ada kemampuan untuk mengantisipasi potensi-potensi risiko baru, termasuk oleh PLN. Muhammad Ihsan, Analis Energi Terbarukan IESR menyebut jaringan ketenagalistrikan krusial karena harus mengakomodir generasi masa lalu dan baru, yakni,  risiko iklim dan transisi energi. Menghadapi dua kepentingan risiko itu, harus ada peningkatan resiliensi dan juga bauran energi terbarukan. “Makin tinggi jaringan transmisi makin tinggi terpapar risiko iklim, makin menjalar lebih jauh ke daerah-daerah berbeda. Ini risikonya baru banjir dan longsor belum gempa bumi,” katanya dalam diskusi daring bertajuk Kerentanan Aset Tenaga Listrik terhadap Dampak Perubahan Iklim belum lama ini. Ihsan memaparkan, riset internal tentang apa yang terjadi pada blackout di Sumatera. Menurutnya jaringan listrik tengah menghadapi dua kepentingan yaitu risiko&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Berganti Pengelola, Masyarakat Dayak Basap Tetap Khawatir dengan Bencana Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 00:30:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29070725/KPC-TEBANGAN-LEMBAK-15-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132807</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Dayak Basap di Desa Tebangan Lembak, Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah merasakan dampak pertambangan batubara selama sekitar 15 tahun. Kini, mereka menghadapi kekhawatiran baru setelah sebagian bekas konsesi PT Kaltim Prima Coal beralih kepada PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara atau BUMNU, perusahaan milik Nahdlatul Ulama. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan sekitar 14.187 hektar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/">Tambang Berganti Pengelola, Masyarakat Dayak Basap Tetap Khawatir dengan Bencana Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Dayak Basap di Desa Tebangan Lembak, Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah merasakan dampak pertambangan batubara selama sekitar 15 tahun. Kini, mereka menghadapi kekhawatiran baru setelah sebagian bekas konsesi PT Kaltim Prima Coal beralih kepada PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara atau BUMNU, perusahaan milik Nahdlatul Ulama. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan sekitar 14.187 hektar dari total 37.000 hektar wilayah Desa Tebangan Lembak telah dieksploitasi untuk pertambangan. BUMNU sendiri mengantongi izin usaha pertambangan khusus seluas sekitar 26.000 hektar yang tersebar dalam tujuh blok. Salah satunya berada di Tebangan Lembak dengan luas sekitar 1.812 hektar. BUMNU belum melakukan eksploitasi. Namun, Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) mencatat sedikitnya 14 lubang bekas tambang di wilayah tersebut. Data MapBiomas juga menunjukkan lubang tambang mencakup sekitar 592 hektar. Kerusakan hutan telah menyulitkan masyarakat memperoleh tumbuhan obat yang biasa mereka gunakan. Sungai pun tercemar dan tidak lagi layak dikonsumsi. Saat hujan, air berubah warna dan menjadi kental. Warga akhirnya bergantung pada air isi ulang serta bantuan air dari program tanggung jawab sosial perusahaan. “Makanya, enggak bisa diminum lagi. [Beli] air isi ulang saja [untuk minum],” kata Masri, warga Dayak Basap. Kajian Kementerian Lingkungan Hidup menyebut Daerah Aliran Sungai Bengalon memiliki ekoregion sensitif dan rentan. Jika tutupan hutannya dibuka, proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun. Tambang juga mempersempit lahan pertanian masyarakat. Selama lima tahun terakhir, warga tidak lagi memanen padi gunung. Akibatnya, upacara adat Nembang Tahun yang hanya dilakukan setelah panen berhasil tidak dapat digelar. Kekhawatiran bertambah karena warga adat merasa tidak dilibatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 10:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30011627/Penanaman-akasia-baru-di-gambut-bekas-terbakar-sekitar-PT-Arara-Abadi.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132789</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/">Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau telah menyerahkan temuan dan kajian mengenai empat perusahaan kepada Polda Riau pada penghujung Juli. Keempatnya adalah PT Sekato Pratama Makmur (SPM), PT Meskom Agro Sarimas (MAS), PT Arara Abadi (AA), serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup membenarkan adanya indikasi kebakaran di konsesi tersebut. Berdasarkan penghitungan kementerian, luas areal terbakar mencakup 103,4 hektar di SPM, 146,2 hektar di MAS, 66,8 hektar dalam konsesi AA, serta 71 hektar di RAPP. Sebanyak 510,3 hektar lainnya tercatat di luar konsesi AA. Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum KLH/BPLH, mengatakan pemeriksaan terhadap keempat perusahaan masih berlangsung. “Untuk keempat perusahaan itu sedang verifikasi lapangan,” katanya. Kepolisian menyatakan proses hukum dilakukan berdasarkan bukti ilmiah. Penyidikan tidak hanya menelusuri orang yang berada di lokasi kebakaran, tetapi juga asal api, motif, pihak yang bertanggung jawab, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Meski demikian, organisasi lingkungan mendesak agar pemeriksaan segera menghasilkan perkembangan yang jelas. Kebakaran di dalam konsesi perlu ditindaklanjuti melalui pembuktian pertanggungjawaban, bukan berhenti pada identifikasi lokasi dan penyegelan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, mempertanyakan keseriusan penegakan hukum terhadap korporasi. “Tinggal keberanian dan kemauan penegak hukum. Jangan hanya penegakan hukum suka-suka.” Desakan serupa datang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 08:10:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/02112505/Nyoman-Poni-meletakkan-ikan-ke-keranjang-dan-menaburkan-garam-di-atas-ikan.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132821</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/">Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. Ada yang membawa dus minuman, dus mie instan, hingga bahan bangunan. Sisi kirinya, bersandar belasan perahu nelayan. Perahu itu berjejer, menutupi pasir pantai. Sebagai nelayan tradisional, mayoritas mereka menggunakan perahu kurang dari 5 GT dengan bahan fiberglass dan dayung kayu. Salah satu di antara belasan perahu itu ada milik Nengah Tedun. Sudah empat bulan perahu lelaki 75 tahun ini tidak berlayar. Padahal, Agustus ini seharusnya panen ikan. Perahu nelayan berjejer di pesisir Kusamba. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Kalau dulu, tiap Agustus saya senang sekali, ikan-ikan udah panen. Sekarang nggak bisa, apa sebabnya nggak ngerti,” kata Tedun ketika ditemui di Balai Kelompok Nelayan Desa Kusamba, Rabu (19/8/26). Sejak 1965, Tedun sebagai nelayan, jadi sudah generasi ke generasi. Mereka masih menggunakan metode penangkapan tradisional dengan jaring insang dan pancing ulur. Sebelum mesin tempel muncul di 1980-an, mereka masih menggunakan layar untuk melaut. Dia bilang tongkol menjadi salah satu tangkapan dominannya. “Karena perkembangan (tongkol) sangat cepat,” kata Tedun. Bahkan sekali panen, tiap nelayan bisa mendapat 500-1000 ekor. “Sampai perahunya nggak muat,” katanya, mengenang masa lalu. Hasil tangkapan melimpah melahirkan industri pemindangan rumahan di Kusamba. Selama itu juga, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, terkenal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 06:27:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhamad Muslich*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04061117/Tulang-gajah-yang-mati-karena-tersengat-arus-listrik-di-Karang-Ampar-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132946</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali harimau menerkam petani di kebunnya, atau gajah meluluhlantakkan tanaman warga, responsnya nyaris selalu sama: giring, halau, pasang pagar, atau tangkap dan pindahkan satwanya. Padahal konflik manusia dan satwa liar adalah persoalan yang jauh lebih rumit dari itu. Solusi-solusi teknis semacam ini hanya menambal luka di permukaan dan sifatnya sesaat. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/">Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali harimau menerkam petani di kebunnya, atau gajah meluluhlantakkan tanaman warga, responsnya nyaris selalu sama: giring, halau, pasang pagar, atau tangkap dan pindahkan satwanya. Padahal konflik manusia dan satwa liar adalah persoalan yang jauh lebih rumit dari itu. Solusi-solusi teknis semacam ini hanya menambal luka di permukaan dan sifatnya sesaat. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara ini kerap hanya memindahkan masalah ke lokasi lain. Akar persoalannya nyaris tak pernah disentuh bahkan cenderung dihindari. Tak heran jika penanganan konflik manusia dan satwa liar di Indonesia terus terjadi dan berulang: reaktif, dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, tanpa pernah benar-benar selesai. &nbsp; Konflik yang Kompleks Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan, sampai dengan 2026 mencatat 2.732 kejadian konflik yang melibatkan 11 spesies satwa liar sepanjang 2023–2025. Spesiesnya beragam: harimau, gajah, orangutan, beruang madu, monyet ekor panjang, hingga buaya. Dua spesies yang paling sering merenggut korban jiwa dan kerugian ekonomi besar bagi masyarakat adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang keduanya merupakan spesies paling terancam punah dan sama-sama berstatus Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah IUCN. Kejadian demi kejadian konflik ini pun tidak lahir dari satu sebab tunggal, melainkan gabungan banyak faktor yang bekerja bersamaan. Habitat yang menyusut akibat alih fungsi lahan, satwa mangsa predator yang berkurang, pakan herbivora yang berubah, perburuan satwa liar yang terus berlangsung, serta menyempitnya ruang jelajah satwa akibat kebutuhan manusia serta infrastruktur. Dalam ruang dan waktu yang sama, manusia dan satwa liar tampak berkompetisi dan memperebutkan sumber daya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:40:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04033941/Agkistrodon_contortrix_242284249-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132931</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/">Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya terlihat pada hewan yang terisolasi, banyak peneliti menganggapnya sebagai semacam jalan pintas darurat, bukan sesuatu yang wajar terjadi di alam. Namun penelitian pada ular kepala tembaga liar di Amerika Serikat mengubah anggapan itu. Ular kepala tembaga sendiri adalah salah satu ular berbisa yang cukup umum dijumpai di wilayah timur dan tengah Amerika Serikat. Ular ini biasa hidup di hutan, semak belukar, dan area berbatu, serta dikenal karena pola warnanya yang menyerupai daun kering, sehingga sulit terlihat di lantai hutan. Di luar cara reproduksinya yang unik ini, ular kepala tembaga juga dikenal sebagai predator penyergap yang mengandalkan kamuflase untuk menangkap mangsa seperti tikus, katak, dan serangga. Penemuan di Alam Liar Penelitian ini dipimpin oleh Warren Booth, yang saat itu bekerja di North Carolina State University. Tim peneliti mengumpulkan ular kepala tembaga (Agkistrodon contortrix) betina yang sedang bunting dari alam liar di Connecticut, lalu membiarkan mereka melahirkan di laboratorium. Ular-ular ini bukan hewan koleksi yang sengaja dipisahkan dari pejantan, melainkan individu yang diambil langsung dari populasi liar tempat perkawinan biasa terjadi setiap tahun. Setelah anak-anak ular lahir, tim memeriksa susunan genetik induk dan anaknya menggunakan sejumlah penanda genetik, untuk melihat apakah ada kontribusi genetik dari pejantan. Ular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamRichaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30071023/IMG_6958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132683</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta, jawa, dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penumpang Pesona Agatha Tour and Travel di Jambi mulai resah karena sudah lebih 60 menit kendaraan yang harusnya membawa mereka ke Palembang tak kunjung datang. Van yang menampung 11 orang itu baru tiba selewat jam 10.00 WIB, barang-barang dan penumpang pun segera naik, tak sabar segera melaju. “Baru kelar antre solar ini, bang. Parah,” celetuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/">Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penumpang Pesona Agatha Tour and Travel di Jambi mulai resah karena sudah lebih 60 menit kendaraan yang harusnya membawa mereka ke Palembang tak kunjung datang. Van yang menampung 11 orang itu baru tiba selewat jam 10.00 WIB, barang-barang dan penumpang pun segera naik, tak sabar segera melaju. “Baru kelar antre solar ini, bang. Parah,” celetuk si sopir. Ketika van meluncur melewati pom bensin terdekat, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga ke bahu jalan. Mulai dari truk hingga kendaraan double cabin semua antre dengan tertib hingga puluhan meter di kanan-kiri Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Fenomena itu tidak hanya terjadi di Kota Jambi, daerah lain di Bumi Melayu Jambi, seperti Kabupaten Merangin, Sarolangun, hingga Muara Bungo. Pun demikian dengan provinsi lain seperti Sumatera Selatan dan Lampung. Beberapa kendaraan bahkan tidak jarang menginap di antrean demi mendapat bahan bakar. Pengalaman yang tidak terlihat di Pulau Jawa. “Bahkan pertalite saja beberapa hari terakhir sulit. Kita beruntung bisa dapat,” ucap Mustakim, Staf Walhi Lampung, saat menemani Mongabay menjelajah Provinsi Sai Bumi Rua Jurai itu. Antrean BBM di salah satu SPBU di Jambi. Foto: Richaldo Hariandja/Mongabay Indonesia. Problem yang mengakar Para pihak menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) ini bukan sekadar persoalan distribusi. Ada problem lain yang mengakar. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia mengatakan, menurut kajian mereka, terjadi tekanan secara bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola. Dari sisi fiskal, katanya, implementasi biodiesel 50 (B50) pada 1 Juli lalu berdampak pada beban subsidi. Dia bilang, biaya penerapan B50 sangat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:00:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04004655/Kekeringan-yang-melanda-berbagai-wilayah-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-seperti-kekeringan-di-kawasan-rawa-di-Desa-Burai-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Humaidy-Kenedi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132916</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sepanjang Agustus 2026, titik api (firespot) dan titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan mencapai 2.849 titik. Tapi berbeda dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sebelumnya, titik api dan titik panas saat ini banyak terjadi di lahan mineral dibandingkan lahan gambut. “Data ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai takut membakar di area gambut. Tapi, tradisi membakar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/">Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sepanjang Agustus 2026, titik api (firespot) dan titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan mencapai 2.849 titik. Tapi berbeda dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sebelumnya, titik api dan titik panas saat ini banyak terjadi di lahan mineral dibandingkan lahan gambut. “Data ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai takut membakar di area gambut. Tapi, tradisi membakar tetap berlangsung di lahan mineral,” kata Bayu Prima, Teknis GIS dan Pemetaan Hutan Kita Institut (HaKI), kepada Mongabay Indonesia, Rabu (2/9/26). Berdasarkan peta titik api dan titik panas yang dicatat HaKI dari sumber Satelit NASA (Modis Terra &amp; Aqua), periode 1-31 Agustus 2026, tercatat 668 titik api dan titik panas di lahan gambut, dan 2.181 titik api dan titik panas di lahan mineral, yang tersebar di 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tetap menjadi wilayah tertinggi karhutla di Sumatera Selatan. Kabupaten OKI sebanyak 750 titik dan Kabupaten Muba dengan 443 titik. Kemudian disusul Kabupaten Muaraenim (345 titik), Kabupaten Banyuasin (259 titik), Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (180 titik), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (179 titik), Kabupaten Musirawas Utara (149 titik), Kabupaten Ogan Ilir (144 titik), Kabupaten Lahat (113 titik), serta Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Sementara karhutla yang di bawah 100 titik, antara lain Kabupaten Musirawas, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Empat Lawang, Kota Palembang, Kota Prabumulih, Kota Lubuklinggau, dan Kota Pagaralam. “Hanya di Kabupaten Banyuasin titik api dan titik panas banyak berada di lahan gambut, mencapai 53 titik. Sedangkan di lahan mineral, hanya 34&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla Jawa Timur,  Potret Buruknya Tata Kelola Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 01:19:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko WidiantoZuhana A. Zuhro dan RZ. Hakim]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075510/1001047183-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video unggahan Risawidyana di Instagram menggambarkan keheningan Danau Ranu Kumbolo di Kaki Gunung Semeru. Air berwarna hijau, tenang.  Rerumputan dan pepohonan di tepian danau menghitam bekas terbakar. “Melaporkan kondisi terkini Ranu Kumbolo pada  1 September 2026.,” tulis pemilik akun. Dua hari sebelumnya, pemilik akun Instagram Langit Mahameru menemukan dua gawai dan tripod di area padang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/">Karhutla Jawa Timur,  Potret Buruknya Tata Kelola Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video unggahan Risawidyana di Instagram menggambarkan keheningan Danau Ranu Kumbolo di Kaki Gunung Semeru. Air berwarna hijau, tenang.  Rerumputan dan pepohonan di tepian danau menghitam bekas terbakar. “Melaporkan kondisi terkini Ranu Kumbolo pada  1 September 2026.,” tulis pemilik akun. Dua hari sebelumnya, pemilik akun Instagram Langit Mahameru menemukan dua gawai dan tripod di area padang sabana yang terbakar. “Sekilas info Kumbolo. Menemukan beberapa barang pendaki yang pernah diberitakan hilang di Oro-Oro Ombo,” tulisnya. Barang itu dia temukan di antara  Oro-oro ombo sampai Cemoro Kandang. “Salah satunya dalam kondisi cukup utuh, LCD rusak. Mohon diinformasikan kepada pemandu yang mengantarkan pendaki,” katanya sembari menunjukkan kondisi gawai yang terbakar. Kondisi itu menggambarkan bagaimana dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Semeru yang berlangsung sejak Rabu (26/8/26) malam. Saat itu, ada sekitar 170 pendaki masih berada di jalur pendakian bersama pemandu. ”Kamis pagi, telah dievakusasi dan turun. Semua selamat di Ranu Pani,” kata Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dalam pernyataan kepada jurnalis Sabtu (29/8/26). Hutan di Ranu Kumbolo menjadi habitat berbagai satwa. Namun, dia  belum bisa mengkalkulasi kebakaran itu dengan dampak kehidupan satwa liar di Ranu Kumbolo. “Sampai saat ini memang belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Sekitar lokasi titik api, bukan fasilitas umum dan bukan jalur pendakian.” Tim pemadam berjibaku untuk memadamkan api di kawasan TNTBS. Foto: Dokumen TNBTS. Selidiki penyebab Kini, balai fokus upaya pemadaman. BBTNBTS tengah menyelidiki penyebab kebakaran dengan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan dengan melibatkan aparat penegak hukum. Sekaligus mengantisipasi peristiwa itu kembali&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Pembawa Petaka, Burung Hantu Justru Bantu Petani Jaga Lahan Pertanian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 00:30:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22022108/Pungguk-Wengi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132832</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Muncul dalam gelap dan terbang nyaris tanpa suara membuat burung hantu sering dianggap menyeramkan. Padahal, kemampuan itu bukan tanda kekuatan gaib, melainkan hasil adaptasi untuk berburu. Sayangnya, ketakutan justru membuat satwa ini menjadi korban kekerasan. Pada Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, karena dianggap mengganggu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/">Bukan Pembawa Petaka, Burung Hantu Justru Bantu Petani Jaga Lahan Pertanian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Muncul dalam gelap dan terbang nyaris tanpa suara membuat burung hantu sering dianggap menyeramkan. Padahal, kemampuan itu bukan tanda kekuatan gaib, melainkan hasil adaptasi untuk berburu. Sayangnya, ketakutan justru membuat satwa ini menjadi korban kekerasan. Pada Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, karena dianggap mengganggu. Pada Agustus, kekerasan kembali terjadi. Tiga pria di Manggarai Barat memukul dan membakar burung yang diduga celepuk flores (Otus alfredi). Para pelaku mengaku percaya burung tersebut membawa pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Mereka meyakini pembakaran dapat menghilangkan ancaman sihir. “Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,” ujar Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, Kamis (13/8/26). Lantas, apa yang membuat burung hantu begitu piawai beraktivitas dalam gelap? Studi genom terhadap 11 spesies yang dipublikasikan dalam Genome Biology and Evolution pada 2020 mengungkap adaptasi pada penglihatan dan pendengaran. Penelitian tersebut menemukan pengemasan DNA yang tidak lazim pada sel retina, yang membantu menyalurkan lebih banyak cahaya menuju fotoreseptor. Wajah berbentuk piringan dan posisi telinga tidak simetris juga membantu mendeteksi keberadaan mangsa. Gemerisik kecil dapat menjadi petunjuk lokasi makanan, bahkan ketika cahaya sangat terbatas. Kemampuan terbang senyap memiliki rahasia lain. Tinjauan ilmiah dalam Interface Focus pada 2017 menjelaskan tiga struktur bulu yang membantu meredam suara: gerigi halus di tepi depan, permukaan menyerupai beludru, dan rumbai lembut di tepi belakang. Perpaduan tersebut membuat kepakan sayap sulit terdengar. Penampilan yang terasa misterius sebenarnya merupakan perlengkapan berburu yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 11:38:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana dan Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03110934/Asap-Kalteng-Krismes--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132896</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan, kalimantan barat, dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari. Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/">Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari. Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, polusi udara pada level berbahaya dengan konsentrasi partikulat PM2,5 sebesar 375.0 µg/m.³  Tak jauh beda kondisi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, pencemaran udara level berbahaya dengan PM2,5 sebesar 265,1 µg/m.³ Kabut asap di Kota Pontianak, Kalbar. 3 September 2026. Foto: Tursih/Mongabay Indonesia Tursih, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat  mengatakan, kabut asap langsung berdampak ke kesehatan terutama anak-anak. “Ini anak-anak di rumah sudah dari beberapa pekan lalu batuk pilek,” katanya, akhir Agustus lalu. Dia dan keluarga pun berupaya mengurangi aktivitas ke luar rumah. Ketika terpaksa keluar, mereka gunakan masker. “Adanya yang ini yang kami beli,”  katanya. Yang dia maksud itu masker medis yang sekadar menutup wajah. Asap karhutla parah, Kota Pontianak pun masih sekolah daring.  “Kabut asap tebal. Sekolah masih libur, belajar daring,” kata Tursih. Dia bilang, sekolah secara daring dengan melihat kondisi asap. Ketika pekat, dan udara memburuk, pemerintah umumkan sekolah secara daring dari rumah. Di Palangka Raya, Ibu Kota Kalimantan Tengah pun tak aman lagi. Seminggu setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung, masyarakat kota makin terkepung api dan asap dari karhutla. Bagi warga Kalteng, karhutla bukan fenomena yang hanya terlihat sebagai kepulan asap di langit. Ia jadi acaman kesehatan, keselamatan maupun ekonomi. Hasil pantauan data&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 10:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012303/Monyet3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132808</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit. Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/">Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit. Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, dedaunan, serangga, serta makanan berserat lainnya. Mikroorganisme di dalam ususnya membantu mengubah makanan tersebut menjadi energi sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh. Masalah muncul ketika makanan alaminya digantikan camilan manusia yang tinggi gula dan lemak, tetapi rendah serat. Perubahan pola makan dapat mengacaukan komunitas mikroorganisme di dalam usus. Kondisi ketidakseimbangan ini disebut disbiosis. Penelitian terhadap beruk (Macaca nemestrina) di Perak, Malaysia, membandingkan dua populasi dengan tingkat interaksi manusia berbeda. Kelompok pertama hidup di Lumut Mangrove Park, kawasan perkotaan tempat monyet sering diberi makan. Kelompok kedua berada di Segari Melintang Forest Reserve, habitat dengan paparan manusia lebih rendah. Hasilnya, monyet yang sering berinteraksi dengan manusia memiliki keragaman mikrobiota usus lebih rendah. Disbiosis berpotensi melemahkan sistem imun serta membuat satwa lebih rentan terhadap penyakit. Peneliti juga mendeteksi antigen Giardia, parasit penyebab diare, pada sekitar 20 persen sampel kotoran monyet di kawasan mangrove perkotaan. Selain itu, ditemukan Helicobacter macacae, bakteri yang berkaitan dengan infeksi usus. Kedekatan manusia dan monyet menciptakan ruang bagi perpindahan patogen antarspesies. Penyakit dapat bergerak dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Karena itu, persoalan memberi makan monyet bukan hanya menyangkut kesehatan satwa, tetapi juga kesehatan masyarakat. Dampaknya turut terlihat pada perilaku. Monyet yang terbiasa menerima makanan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 08:10:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075624/Orangutan-Sampurna3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132876</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, kera besar, pencemaran, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sepanjang Agustus 2026 berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan. Paparan asap membuat sejumlah orangutan keluar dari habitatnya dan masuk kebun sawit maupun kebun buah warga. “Ada tujuh individu yang diselamatkan selama Agustus ini,” kata Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/">Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sepanjang Agustus 2026 berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan. Paparan asap membuat sejumlah orangutan keluar dari habitatnya dan masuk kebun sawit maupun kebun buah warga. “Ada tujuh individu yang diselamatkan selama Agustus ini,” kata Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, Senin (31/8/26). Kasus terbaru terjadi di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu (30/8/26). Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit. Sarbandi, staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat, mengatakan orangutan itu diduga bergeser dari habitatnya akibat kebakaran hutan dan lahan. “Pagi hari kami menerima informasi dari masyarakat dan langsung melakukan pengecekan lapangan,” jelasnya, melalui keterangan tertulis, Minggu (30/8/26). Komara, Dokter hewan YIARI, menambahkan asap karhutla dapat berdampak serius terhadap sistem pernapasan orangutan. “Pada kondisi paparan berat, terutama ketika asap sangat pekat dan berlangsung beberapa hari, orangutan dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia.” Menurut Komara, kondisi Sampurna mengarah pada dugaan tersebut. Sampurna dievakuasi ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri untuk pemeriksaan paru-paru dan organ dalam lainnya. Orangutan bernama Sampurna ini diselamatkan akibat terpapar asap karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Sebelumnya, tim menyelamatkan Mama Yayuk dan anaknya, dari area kebun sawit perusahaan di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang. Tim menemukan keberadaan mereka berupa bekas sarang, pada 27 Agustus 2026, lalu mengevakuasi sehari setelahnya. Setelah memastikan induk dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 07:34:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/07/22045934/Kecoak3.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=132872</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, sains dan Teknologi, dan satwa laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan “kecoak laut raksasa” di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut. Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/">Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan “kecoak laut raksasa” di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut. Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan serangga. Hewan dari marga Bathynomus tersebut merupakan isopoda, kelompok krustasea yang berkerabat dengan udang, kepiting, dan lobster. Tubuhnya yang pipih dan beruas membuatnya diasosiasikan dengan kecoak. Sebutan populer ini membantu masyarakat membayangkan penampilannya, tetapi juga dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami identitasnya. Spesies bernama Bathynomus raksasa ini ditemukan melalui South Java Deep-Sea Biodiversity Expedition pada 2018, penelitian bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] dan National University of Singapore. Ekspedisi tersebut mengumpulkan sekitar 12.000 spesimen yang diperkirakan mewakili 800 spesies. Temuan ini memperlihatkan bahwa perairan di sekitar Jawa masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Dengan panjang tubuh mencapai sekitar 36 sentimeter, Bathynomus raksasa menarik perhatian bukan hanya karena ukurannya. Sebagai pemakan bangkai, satwa ini memanfaatkan sisa ikan, sotong, dan organisme lain yang jatuh ke dasar laut. Perannya menunjukkan bahwa hewan yang asing bagi manusia tetap menjadi bagian penting dalam jejaring kehidupan. Namun, menemukan spesies baru bukan sekadar menjumpai hewan yang belum pernah terlihat. Peneliti perlu memeriksa karakter tubuh dan membandingkannya dengan spesies yang telah dikenal. Proses ini menegaskan pentingnya taksonomi sebagai dasar untuk memahami keanekaragaman hayati. Lalu, bagaimana peneliti memastikan identitas Bathynomus raksasa? Mengapa satwa ini jarang ditemukan nelayan, dan apa ancaman bagi kehidupannya? Mongabay Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 04:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wahyu Chandra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005011/Gili-Balu-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132766</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[makassar dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rizki tergopoh-gopoh masuk barisan. Dia segera mengenakan sarung tangan plastik yang panitia berikan. Sama dengan puluhan temannya yang lain, siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-lae, Sulawesi Selatan itu antusias mengikuti aksi bersih pantai hari itu. Pagi itu, Rabu (5/8/26) Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas)  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/">Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rizki tergopoh-gopoh masuk barisan. Dia segera mengenakan sarung tangan plastik yang panitia berikan. Sama dengan puluhan temannya yang lain, siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-lae, Sulawesi Selatan itu antusias mengikuti aksi bersih pantai hari itu. Pagi itu, Rabu (5/8/26) Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas)  menggelar aksi bersih sampah yang mereka kemas dalam program Belajar Atasi Sampah Bersama Siswa (Basis). Kegiatan  bagian dari pengabdian masyarakat itu berlangsung 5–7 Agustus lalu. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar pentingnya menjaga lingkungan,  juga bagaimana mengolah sampah plastik agar bisa bernilai ekonomis. “Kami percaya perubahan besar selalu dari langkah-langkah kecil. Melalui BASIS, kami ingin menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” kata Nabila Ali, Koordinator Divisi Humas Human FISIP Unhas. Nabila bilang, melalui kegiatan ini, dia mengajak siswa memahami dampak buruk sampah plastik dan bagaimana cara menguranginya. Bagi masyarakat di pulau-pulau kecil, persoalan sampah jauh lebih kompleks. Sampah tidak hanya produksi dari daratan pulau, juga datang dari laut. Sementara sistem pengelolaan terbatas. “Botol minuman, kantong belanja, kemasan makanan, gelas sekali pakai dan berbagai produk rumah tangga hadir hampir setiap hari. Praktis dan murah, plastik menjadi pilihan utama masyarakat. Namun setelah digunakan, benda-benda itu berubah menjadi persoalan yang semakin sulit dikendalikan,” katanya. Sampah plastik tidak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, telah menjadi masalah global yang menjalar ke sungai, pesisir dan laut. Sampah yang terbuang di daratan dapat terbawa aliran sungai hingga ke pesisir dan laut. “Di pulau-pulau kecil, persoalan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>