<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=tri-wahyuni&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/tri-wahyuni/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 03 Apr 2026 10:14:27 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>
				<item>
					<title>Keong Darat Endemik Sumatera Selatan, Spesies Baru yang Terabaikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 10:14:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03100827/Chamalycaeus-dayangmerindu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126106</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekosistem karst merupakan wilayah penting sekaligus rapuh. Ia terkenal karena kemampuannya menyediakan air minum bagi lebih 20 persen populasi global, serta menjadi rumah sejumlah spesies unik dan penting, yang menjaga ekosistem tetap sehat. Awal Maret 2026, sekelompok peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan serta mendeskripsikan satu spesies baru keong darat, yang sejauh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/">Keong Darat Endemik Sumatera Selatan, Spesies Baru yang Terabaikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekosistem karst merupakan wilayah penting sekaligus rapuh. Ia terkenal karena kemampuannya menyediakan air minum bagi lebih 20 persen populasi global, serta menjadi rumah sejumlah spesies unik dan penting, yang menjaga ekosistem tetap sehat. Awal Maret 2026, sekelompok peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan serta mendeskripsikan satu spesies baru keong darat, yang sejauh ini hanya tercatat di Sumatera Selatan. Ia dinamakan Chamalycaeus dayangmerindu, termasuk kelompok keong Caenogastropoda yang memiliki tutup cangkang (aperture). Dari namanya, keong ini ditemukan di kawasan Karst Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan –yang terkait cerita legenda Putri Dayang Merindu. Dalam publikasi di jurnal ZooKeys, dayangmerindu menambah keanekaragaman Cyclophoroidea yang awalnya memiliki 90 spesies. Dari jumlah tersebut, 29 spesies (termasuk 9 subspesies) sudah lebih dulu dianggap endemik. “Temuan ini menekankan keanekaragaman hayati unik di wilayah tersebut,” tulis Aulia dan kolega (2026), dalam laporan berjudul “Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.” Selama penelitian, sebanyak 3.780 spesimen Cyclophoroidea dikumpulkan dari karst Padang Bindu yang terdiri tiga gua, yakni Gua Harimau, Gua Putri dan Gua Selabe. Selain dayangmerindu, para peneliti juga menemukan empat spesies endemik Sumatera, yakni Diplommatina liwaensis Aldrich, 1898; Diplommatina wilhelminae Maassen, 2002; Plectostoma kitteli Maassen, 2002 (subfamili Diplommatininae); serta Chamalycaeus dayangmerindu sp. nov. (subfamili Alycaeninae). Ayu Savitri Nurinsiyah, salah satu penulis sekaligus peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN mengatakan, seperti spesies keong darat lainnya, dayangmerindu termasuk kelompok &#8220;neglected species&#8221; atau spesies terabaikan yang jarang diteliti, namun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hari ini adalah Hari Jane Goodall. Gerakannya Terus Berlanjut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 07:32:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rhett A. Butler]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03072845/Jane-goodall-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126099</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tanggal 3 April kini memiliki makna yang berbeda. Selama ini dikenal sebagai hari ulang tahun Jane Goodall. Kini, tanggal ini juga menjadi momen untuk mengajak orang tidak hanya mengenangnya, tetapi melakukan sesuatu dari apa yang telah ia mulai. Gagasan di balik Hari Jane Goodall sederhana: lakukan satu tindakan. Bisa kecil, tetapi harus nyata. Tujuannya adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/">Hari ini adalah Hari Jane Goodall. Gerakannya Terus Berlanjut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tanggal 3 April kini memiliki makna yang berbeda. Selama ini dikenal sebagai hari ulang tahun Jane Goodall. Kini, tanggal ini juga menjadi momen untuk mengajak orang tidak hanya mengenangnya, tetapi melakukan sesuatu dari apa yang telah ia mulai. Gagasan di balik Hari Jane Goodall sederhana: lakukan satu tindakan. Bisa kecil, tetapi harus nyata. Tujuannya adalah melihat kehidupan dan warisan Goodall sebagai sesuatu yang masih berjalan, serta menguji apakah kebiasaan yang ia dorong dapat terus hidup melalui orang lain. Pendekatan ini terasa tepat. Goodall menolak anggapan bahwa karyanya hanya miliknya sendiri. Bahkan di puncak pengakuan, ia mengarahkan perhatian ke luar—ke hutan yang ia teliti, simpanse yang ia bantu perlihatkan kehidupannya, dan orang-orang yang akan menentukan langkah selanjutnya. Di kemudian hari, ketika ditanya bagaimana ia ingin dikenang, ia kembali pada dua hal: mengubah cara kita memandang hewan dan mendirikan Roots &amp; Shoots. Hal kedua ini lebih penting daripada yang terlihat. Roots &amp; Shoots dirancang sebagai cara untuk membagi tanggung jawab. Program ini mendorong anak muda—dan kemudian orang dewasa—untuk melihat lingkungan sekitar dan bertindak berdasarkan apa yang mereka temukan. Tidak memerlukan izin dan dapat dimulai dari skala apa pun. Premisnya sederhana: kemampuan untuk bertindak dimulai dari tingkat lokal dan berkembang melalui pengulangan. Jane Goodall | Foto oleh Moby Anna Rathmann, Direktur Jane Goodall Institute di Amerika Serikat, menggambarkan Hari Jane Goodall dengan cara serupa. Tujuannya, katanya, adalah “mewujudkan” keyakinan bahwa setiap orang dapat membuat perbedaan, dengan mengajak orang melakukan satu tindakan yang bermanfaat bagi manusia, satwa, dan lingkungan. Ini berfungsi sebagai pembuktian bahwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laporan Ungkap Jaringan Kejahatan Satwa Kian Massif</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 04:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02164537/WhatsApp-Image-2026-04-02-at-09.43.55-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126085</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perdagangan satwa dan tumbunan ilegal terus meningkat, meski “Operasi Thunder 2025” yang secara global untuk memerangi kejahatan ini kian gencar dilakukan di banyak negara. Hasil penyitaan  otoritas keamanan bahkan mencapai rekor terbarunya dengan lebih dari 30.000 hewan hidup dan 1.100 tersangka. Interpol dalam siaran persnya menyebut, selama September-Oktober 2025, lembaga penegak hukum yang terdiri dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/">Laporan Ungkap Jaringan Kejahatan Satwa Kian Massif</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perdagangan satwa dan tumbunan ilegal terus meningkat, meski “Operasi Thunder 2025” yang secara global untuk memerangi kejahatan ini kian gencar dilakukan di banyak negara. Hasil penyitaan  otoritas keamanan bahkan mencapai rekor terbarunya dengan lebih dari 30.000 hewan hidup dan 1.100 tersangka. Interpol dalam siaran persnya menyebut, selama September-Oktober 2025, lembaga penegak hukum yang terdiri dari polisi, bea cukai, keamanan perbatasan dan kehutanan di 134 negara telah melakukan 4.640 penyitaan. Jumlah itu termasuk puluhan ribu hewan dan tumbuhan lindung, serta puluhan ribu meter kubik kayu ilegal dan 30 ton spesies terancam punah. “Sebagian besar perdagangan satwa liar melibatkan sisa-sisa, bagian dan turunan hewan yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional atau makanan khusus,” tulis Interpol dalam keterangannya,  belum lama ini. Perhitungan sementara Interpol memperkirakan, nilai perdagangan satwa liar ini mencapai US$20 miliar. Namun, karena sifat kejahatan ini yang berlangsung rahasia dan sembunyi-sembunyi, Interpol meyakini angka itu  tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. Seekor laba-laba Mexico yang diselundupkan ke Thailand. Foto: Interpol/WCO. Laporan itu  mengungkap beberapa pencapaian dari operasi atas koordinasi Interpol dan Organisasi Bea Cukai Dunia (World Custom Organization/WCO). Secara global, operasi yang mendapat dukungan dari Konsorsium Internasional untuk Memerangi Kejahatan Satwa Liar (The International Consortium on Combating Wildlife Crime/ICCWC) ini berhasil mencegat 5,8 ton daging satwa liar dengan peningkatan kasus signifikan di Afrika ke Eropa. Operasi juga menyasar perdagangan spesies laut dengan lebih dari 245 ton satwa liar laut berstatus lindung. Termasuk, 4.000 potong sirip hiu. Hal lain yang mendapat perhatian Interpol adalah tren perdagangan spesies kecil yang cenderung meningkat. Misal, perdagangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 02:58:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03023908/Hylobates_klossii_B-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126094</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, kera besar, Masyarakat Adat, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mantaola Siritoitet, adalah seorang sikerei di Desa Matotonan, Siberut Selatan, Sumatera Barat. Sebagai seorang sikerei atau penyembuh di dalam alam spritual Mentawai, dia dipercaya menjaga keseimbangan dan perantara antara dua alam, yaitu dunia manusia, dan dunia roh. Dalam menjalankan peran yang tidak sembarang orang bisa lakukan ini, seorang sikerei juga memiliki pantangan yang harus dilaksanakan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/">Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mantaola Siritoitet, adalah seorang sikerei di Desa Matotonan, Siberut Selatan, Sumatera Barat. Sebagai seorang sikerei atau penyembuh di dalam alam spritual Mentawai, dia dipercaya menjaga keseimbangan dan perantara antara dua alam, yaitu dunia manusia, dan dunia roh. Dalam menjalankan peran yang tidak sembarang orang bisa lakukan ini, seorang sikerei juga memiliki pantangan yang harus dilaksanakan. &#8220;Ada tiga pantangan yang selalu diturunkan ketika orang menjadi sikerei. Yaitu, pantang makan daging bilou, sayur paku (pakis), dan belut,&#8221; sebutnya kepada Mongabay Indonesia dalam bahasa Mentawai. &#8220;Kalau kami makan [ketiga pantang tadi], kami bisa meninggal.&#8221; Bilou (Hylobates klossii) sendiri adalah primata endemik Mentawai, yang memiliki ciri tubuh kecil berbulu gelap, tidak berekor, serta bergerak berayun di pepohonan dan bersuara nyaring. Dalam status daftar merah dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa ini dikategorikan terancam punah (Endangered), akibat deforestasi dan perburuan. Mantaola tidak memungkiri jika dalam beberapa praktik ritual adat, perburuan adat tetap dilakukan untuk menandai siklus hidup. Meski demikian, Mantaola menyebut perburuan liar dilarang secara adat, karena manusia tidak bisa berbuat seenaknya yang dapat mengganggu keseimbangan antar unsur alam. Mantaola sendiri masih mempertahankan cara berburu tradisionalnya, yaitu panah yang diolesi dengan racun di ujung busurnya. Dia sendiri menyebut metode berburu lama lebih baik daripada yang saat ini banyak dilakukan banyak orang. “Menurut saya, cara yang lama lebih bagus daripada yang sekarang,” katanya. Semakin berkurangnya bilou juga dikonfirmasi oleh seorang sikerei lain, Walter Samelelu, asal Desa Rogdok. “Dulu masih mudah mendapatkan hasil buruan. Tapi kalau sekarang sudah sulit,” sebut Walter. “Ditambah sekarang kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Tertua di Dunia Berusia Lebih dari 5.000 Tahun Ini Terancam Kehausan di Habitatnya Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 01:19:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03010921/647d26b0850286fdbc_IMG_5252-crop-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126090</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rimbunnya hutan hujan beriklim sedang di Taman Nasional Alerce Costero, Chile, berdiri sebuah organisme tunggal yang telah bertahan hidup selama lebih dari lima milenia. Pohon alerce (Fitzroya cupressoides) yang secara lokal dikenal sebagai Gran Abuelo (secara harfiah berarti Kakek Tua) atau Alerce Milenario (Alerce Seribu Tahun), saat ini sedang menjadi perhatian utama dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/">Pohon Tertua di Dunia Berusia Lebih dari 5.000 Tahun Ini Terancam Kehausan di Habitatnya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rimbunnya hutan hujan beriklim sedang di Taman Nasional Alerce Costero, Chile, berdiri sebuah organisme tunggal yang telah bertahan hidup selama lebih dari lima milenia. Pohon alerce (Fitzroya cupressoides) yang secara lokal dikenal sebagai Gran Abuelo (secara harfiah berarti Kakek Tua) atau Alerce Milenario (Alerce Seribu Tahun), saat ini sedang menjadi perhatian utama dalam komunitas sains internasional.  Pohon alerce adalah spesies konifer raksasa dari famili Cupressaceae yang memiliki pertumbuhan sangat lambat dan kayu kaya tanin sehingga sangat resistan terhadap pembusukan selama ribuan tahun. Raksasa purba ini bukan sekadar vegetasi tua, melainkan penyintas dari era ketika peradaban manusia baru mulai mengenal tulisan di Mesopotamia. Namun, meski telah melewati ribuan tahun sejarah bumi, kondisi kesehatan pohon ini dilaporkan kian kritis di tengah habitat aslinya akibat tekanan lingkungan yang meningkat. Jonathan Barichivich, seorang peneliti lingkungan dari Laboratorium Ilmu Iklim dan Lingkungan di Paris, mengungkapkan bahwa pohon ini kemungkinan besar memegang rekor sebagai organisme tunggal tertua yang masih hidup di planet ini. Berdasarkan pemodelan statistik yang menggabungkan data cincin pertumbuhan parsial dengan faktor lingkungan, Barichivich mengestimasi usia Gran Abuelo telah mencapai 5.484 tahun. Jika angka ini tervalidasi secara penuh melalui konsensus ilmiah, ia akan secara resmi melampaui rekor pinus bristlecone bernama &#8220;Methuselah&#8221; di California yang saat ini tercatat berusia 4.853 tahun. Meskipun memiliki fisik yang masif dengan diameter batang mencapai lebih dari empat meter, pohon ini menyimpan kerentanan yang serius. Penemuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa sang raksasa sedang berjuang melawan dehidrasi kronis yang tidak terjadi secara alami. Masalah kesehatan ini dipicu langsung oleh aktivitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Terjal Desa Tepal Wujudkan Kemandirian Energi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 13:16:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02052245/Salinan-Suasana-malam-di-Desa-Tepal-yang-sudah-teraliri-listrik-PLTMH-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126065</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat dan sumbawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hujan turun deras di lereng pegunungan Batu Lanteh malam itu, Selasa (10/3/26) yang membuat listrik tiba-tiba padam. Jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga Desa Tepal berubah licin. Berbekal lampu senter, Jupri melangkah cepat menyusuri hutan menuju rumah turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bagi Jupri, ini bukan hal baru. Ketika listrik mati, dia harus memastikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/">Jalan Terjal Desa Tepal Wujudkan Kemandirian Energi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hujan turun deras di lereng pegunungan Batu Lanteh malam itu, Selasa (10/3/26) yang membuat listrik tiba-tiba padam. Jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga Desa Tepal berubah licin. Berbekal lampu senter, Jupri melangkah cepat menyusuri hutan menuju rumah turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bagi Jupri, ini bukan hal baru. Ketika listrik mati, dia harus memastikan turbin tetap berputar agar ratusan rumah di desa itu kembali terang. Dia melewati semak dan sungai yang meluap akibat hujan. Dari kejauhan, suara gemuruh air bercampur derit mesin turbin yang mulai melemah. Jarak antara perkampungan dengan rumah turbin sekitar 2,5 kilometer. Beberapa menit kemudian, dia tiba di bangunan kecil yang menjadi jantung listrik desa. Di dalamnya berdiri generator dan turbin yang selama 18 tahun menyuplai energi bagi 270 dari 345 keluarga di Desa Tepal. Dia memeriksa saluran air dan sistem turbin yang tersumbat ranting dan sampah. “Kalau hujan begini biasanya ada sampah masuk ke turbin. Kalau tidak cepat dibersihkan, listrik bisa mati lama,” katanya sambil membuka rumah mesin. Pembangunan PLTMH ini pada 2009, berawal dari inisiatif warga yang mengajukan permohonan listrik, bertepatan dengan program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. PLTMH pertama beroperasi. Keberhasilan itu mendorong  PLTMH kedua pada 2013 dengan dukungan Kementerian Koperasi. Pengelolaannya oleh koperasi, membuat operasional lebih stabil. Iuran listrik berdasarkan beban pemakaian, rata-rata berkisar Rp60.000–Rp70.000 per bulan. Sebagian teralokasi untuk perawatan, meski kerap belum mencukupi. Namun, melalui gotong royong, warga tetap menjaga sistem ini tetap berjalan dan terus memberi terang bagi desa. Sebelum ada listrik, warga mengandalkan lampu minyak tanah. Malam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Fenomena langka dan Menyeramkan saat langit berwarna merah darah: &#8220;Kiamat&#8221; Debu Australia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 11:24:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02111720/57c10ffecf5e756e3cf1c96e1cbde3dc-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126078</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemandangan langit berwarna merah darah yang menyelimuti wilayah Shark Bay, Australia Barat, mendadak viral di jagat maya dan mendominasi pemberitaan media internasional. Fenomena yang tampak seperti adegan film apokaliptik ini memicu perbincangan global serta kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan di wilayah gersang yang semakin ekstrem. Warga setempat menggambarkan suasana tersebut sebagai momen yang mencekam, di mana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/">Fenomena langka dan Menyeramkan saat langit berwarna merah darah: &#8220;Kiamat&#8221; Debu Australia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemandangan langit berwarna merah darah yang menyelimuti wilayah Shark Bay, Australia Barat, mendadak viral di jagat maya dan mendominasi pemberitaan media internasional. Fenomena yang tampak seperti adegan film apokaliptik ini memicu perbincangan global serta kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan di wilayah gersang yang semakin ekstrem. Warga setempat menggambarkan suasana tersebut sebagai momen yang mencekam, di mana udara terasa penuh dengan butiran pasir yang masuk ke mata dan tenggorokan. Meskipun pemandangan ini terlihat menyeramkan dan seolah menjadi pertanda buruk, para ahli meteorologi memastikan bahwa fenomena ini murni merupakan hasil interaksi sains atmosfer yang dipicu oleh aktivitas Siklon Tropis Narelle. Kombinasi antara kekuatan angin badai dan karakteristik geologi unik Benua Kanguru telah menciptakan pemandangan alam paling dramatis sekaligus menyeramkan yang pernah terekam kamera. Badai Debu Berwarna Merah Fenomena langka ini terjadi akibat kombinasi unik antara geografi Australia yang kaya mineral dan dinamika cuaca ekstrem. Wilayah utara Australia Barat dikenal memiliki tanah yang sangat kaya akan oksida besi atau karat alami. Selama jutaan tahun, proses oksidasi telah mengubah tanah di Pilbara dan Gascoyne menjadi merah pekat. Saat Siklon Narelle mendekati daratan, angin kencang di bagian luar sistem badai tersebut mulai menyapu permukaan tanah yang kering. Kecepatan angin yang tinggi secara literal mengikis partikel karat dari butiran pasir gurun dan mengangkatnya ke atmosfer. Pakar debu dari University of Texas, Tom Gill, mencatat bahwa konsentrasi debu ini termasuk yang paling ekstrem yang pernah terpantau secara ilmiah. Lampu jalan yang menyala di siang hari menunjukkan betapa pekatnya debu merah yang menyelimuti kota pesisir Australia Barat. Partikel tanah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Adakah Wilayah Bebas Konflik Buaya Muara di Bangka Belitung?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 09:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02061934/Hampir-semua-wilayah-lahan-basah-di-Kepulauan-Bangka-Belitung-terjadi-konflik-manusia-dengan-buaya-muara.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126072</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Buaya Muara dan Habitat yang Terkikis]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Lahan Basah, Pertambangan, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama tiga tahun terakhir, konflik manusia dengan buaya muara (Crocodylus porosus) terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Apakah ini salah satu tanda puncak kerusakan bentang alam di kepulauan yang luas daratannya 1,6 juta hektar? Berdasarkan data Alobi Foundation, dari 2024, 2025, dan awal 2026, tercatat Kabupaten Bangka dengan jumlah konflik tertinggi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/">Adakah Wilayah Bebas Konflik Buaya Muara di Bangka Belitung?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama tiga tahun terakhir, konflik manusia dengan buaya muara (Crocodylus porosus) terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Apakah ini salah satu tanda puncak kerusakan bentang alam di kepulauan yang luas daratannya 1,6 juta hektar? Berdasarkan data Alobi Foundation, dari 2024, 2025, dan awal 2026, tercatat Kabupaten Bangka dengan jumlah konflik tertinggi (24 kasus). Berikutnya, Kabupaten Bangka Selatan (16 kasus), Kota Pangkalpinang (12 kasus), Kabupaten Bangka Barat (7 kasus), Kabupaten Bangka Tengah (5 kasus), Kabupaten Belitung (4 kasus), dan Kabupaten Belitung Timur (3 kasus). Merawang di Kabupaten Bangka merupakan kecamatan dengan konfli tertinggi (10 kasus), diikuti Kecamatan Toboali di Kabupaten Bangka Selatan (6 kasus), dan Kecamatan Mendo Barat di Kabupaten Bangka (5 kasus). Sedangkan desa yang sering mengalami konflik adalah Desa Serdang dan Desa Sungaiselan di Kabupaten Bangka Selatan serta Desa Menduk di Kabupaten Bangka. “Konflik manusia dengan buaya muara terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Sejak 2008, konflik terjadi setiap tahun. Ini menunjukkan konflik manusia dengan buaya muara di provinsi ini sangat serius untuk diatasi. Sebab, bukan hanya memakan korban jiwa manusia, juga kematian beberapa individu buaya muara,” terang Endi R Yusuf, Manager PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Alobi Foundation, Kamis (23/3/2026). Tercatat, 12 buaya muara mati dan 21 manusia meninggal dunia. Puluhan manusia dan buaya muara mengalami luka-luka. Hampir semua wilayah lahan basah di Kepulauan Bangka Belitung terjadi konflik manusia dengan buaya muara. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Merawang adalah wilayah yang sebagian besar berupa lahan basah dan perbukitan. Lahan basah di Merawang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Industri Nikel Indonesia Harus Berbenah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 06:20:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/05020323/FOTO-IQBAL-LUBIS_Pabrik-nikel-dalam-KIBA-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126071</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Di tengah ambisi global menuju dekarbonisasi melalui kendaraan listrik, wajah industri nikel Indonesia justru menampilkan potret kontras. Sebagai produsen nikel dunia, Indonesia kini terjebak dalam pusaran produksi berlebih (oversupply) dan harus bayar mahal dengan kerusakan lingkungan,  lepasan emisi karbon sampai kesusahan masyarakat bahkan bencana. Arianto Sangadji, peneliti dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/">Industri Nikel Indonesia Harus Berbenah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Di tengah ambisi global menuju dekarbonisasi melalui kendaraan listrik, wajah industri nikel Indonesia justru menampilkan potret kontras. Sebagai produsen nikel dunia, Indonesia kini terjebak dalam pusaran produksi berlebih (oversupply) dan harus bayar mahal dengan kerusakan lingkungan,  lepasan emisi karbon sampai kesusahan masyarakat bahkan bencana. Arianto Sangadji, peneliti dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), mengatakan, dominasi Indonesia dalam pasar nikel dunia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Pada 2025, Indonesia berkontribusi sekitar 64% dari total produksi nikel olahan dunia. Angka ini akan terus merangkak naik. “Intinya, Indonesia hari ini adalah produsen utama nikel di dunia. Namun, statistik menunjukkan adanya kondisi oversupply di pasar global,” katanya dalam media briefing AEER. Menurut data International Nickel Studies Group, surplus nikel dunia bakal meningkat dari 209.000 ton pada 2025 jadi 261.000 ton dalam 2026. Pasokan melimpah ini, berimbas langsung pada jatuhnya harga nikel di pasar internasional hingga menyentuh angka US$14.125 per ton akhir tahun lalu.  Meskipun berangsur ada kenaikan fluktuatif dalam 2026,  kini pada kisaran US$17.000 per ton. Paradoks terbesar muncul dari sektor hulu. Teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dielu-elukan sebagai kunci pemrosesan bijih nikel limonite menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik (MHP), ternyata menyisakan jejak karbon yang sangat dalam. Arianto memaparkan,  betapa polutifnya proses ini. Untuk memproduksi satu ton nikel pig iron (NPI) dengan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), emisi mencapai 40-120 ton CO2. Dengan teknologi HPAL, meski lebih hemat energi, tetap menghasilkan 18-33 ton CO2 untuk setiap ton mixed hydroxide precipitate (MHP) atau produk antara nikel-kobalt hasil pengolahan bijih laterit.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>BRIN Ingatkan Ancaman El Nino &#8216;Godzilla&#8217;  di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 02:31:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22003922/Pertanian-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126046</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali dan Denpasar]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Putu Winarta dan Nengah Sinreg sibuk di tengah pematang. Di bawah cuaca yang begitu terik, pasangan suami istri tengah memanen bayam di pinggiran utara Kota Denpasar, Bali,  Senin (30/3/26) sekitar pukul 08.00. Sayur-sayur mereka ikat seukuran kepalan tangan dan mencucinya di saluran irigasi. Hasil panen ini mereka jual di Pasar Badung. Walau panen bayam dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/">BRIN Ingatkan Ancaman El Nino &#8216;Godzilla&#8217;  di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Putu Winarta dan Nengah Sinreg sibuk di tengah pematang. Di bawah cuaca yang begitu terik, pasangan suami istri tengah memanen bayam di pinggiran utara Kota Denpasar, Bali,  Senin (30/3/26) sekitar pukul 08.00. Sayur-sayur mereka ikat seukuran kepalan tangan dan mencucinya di saluran irigasi. Hasil panen ini mereka jual di Pasar Badung. Walau panen bayam dari lahan seluas dua are ini tak banyak, namun cukup untuk menghidupi mereka. Winarta mengatakan, belakangan, cuaca di Bali cukup panas lantaran tak ada hujan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, tinggi muka air di saluran irigasi pun sudah menunjukkan penurunan. Bagi Winarta, kemarau yang akan segera tiba membuatnya khawatir. “Sebentar lagi musim panas, pasti air makin sedikit. Kami akan sulit bertani,” katanya dalam Bahasa Bali. Sayuran perlu banyak air setiap hari dan baru bisa panen enam minggu setelah penyemaian. Selama ini,  mereka hanya mengandalkan saluran irigasi di hilir yang makin menipis saat kemarau. BRIN memprediksi munculnya fenomena El Nino Godzilla yang berdampak pada cuaca panas ekstrem. Konsumsi air yang cukup sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Foto: Asad Asnawi/Mongabay Indonesia. Panas ekstrem Petani merupakan salah satu pihak yang terdampak langsung perubahan iklim. Terlalu basah, tanaman rusak. Sebaliknya, tanpa air atau kurang air sayuran juga mati. Kedua cuaca itu sudah makin terbiasa dialami pasangan petani ini. Perkiraan cuaca, panas ekstrem akan mulai di Pulau Jawa, Bali, dan NTT pada tahun ini. Melalui pengumuman publik dan peringatan cuaca di media sosialnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan, potensi fenomena variasi kuat El Niño &#8220;Godzilla&#8221; yang akan melanda Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 00:19:53 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/08/22045048/BOVEN-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126063</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan dan alam Papua jadi sasaran berbagai proyek skala besar. Kini, yang sedang berlangsung proyek pangan, energi dan air berlabel proyek strategis nasional (PSN). Hutan di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan,  pun mulai terbuka. Proyek dengan gaung untuk mewujudkan ‘ketahanan’ pangan dan energi itu meresahkan masyarakat adat karena hutan dan wilayah mereka perlahan hilang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/">Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan dan alam Papua jadi sasaran berbagai proyek skala besar. Kini, yang sedang berlangsung proyek pangan, energi dan air berlabel proyek strategis nasional (PSN). Hutan di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan,  pun mulai terbuka. Proyek dengan gaung untuk mewujudkan ‘ketahanan’ pangan dan energi itu meresahkan masyarakat adat karena hutan dan wilayah mereka perlahan hilang. Proyek ini pun rawan menghancurkan sumber pangan, ekonomi, sumber budaya masyarakat adat Papua. Di belahan Papua yang lain sedang tercabik untuk industri nikel. Pulau-pulau dengan surga bawah laut yang jadi tujuan wisata dunia, Raja Ampat,  sedang jadi target industri nikel. Hutan tempat berburu, meramu, dan tempat merawat tradisi berganti bentuk. Bagi masyarakat adat, hutan dan alam bukan sekadar pohon atau hamparan kawasan, ia adalah bagian dari hidup dan tempat mereka bergantung segala.  Begitu juga investasi di pulau-pulau kecil, kehadiran nikel, bisa mengikis hutan dan mencemari perairan dari sungai sampai laut Raja Ampat.  Belum lagi kalau bicara krisis iklim dan ancaman bencana. Apakah atas nama pembangunan atau investasi akan mempertaruhkan segala keanekaragaman hayati tak ternilai dan kehidupan masyarakatnya? The post Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Totalitas Birute Galdikas untuk Orangutan Kalimantan [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/01/totalitas-birute-galdikas-untuk-orangutan-kalimantan-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/01/totalitas-birute-galdikas-untuk-orangutan-kalimantan-2/#respond</comments>
					<pubDate>01 Apr 2026 09:30:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Budi Baskoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/01063901/Birute1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126050</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, kalimantan, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kepakaran Birute Galdikas pada orangutan diakui dunia. Namun begitu, kedekatannya pada satwa cerdas ini, oleh sebagian konservasionis dikritik, karena dikhawatirkan dapat menghambat prose sifat liar orangutan untuk kembali ke alam. Feeding platform yang menjadi atraksi ekowisata pun, tak luput dari sorotan. Kritik juga dialamatkan pada pendekatan rehabilitasi orangutan. Erik Meijard misalnya, berpendapat, fokus pada rehabilitasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/01/totalitas-birute-galdikas-untuk-orangutan-kalimantan-2/">Totalitas Birute Galdikas untuk Orangutan Kalimantan [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kepakaran Birute Galdikas pada orangutan diakui dunia. Namun begitu, kedekatannya pada satwa cerdas ini, oleh sebagian konservasionis dikritik, karena dikhawatirkan dapat menghambat prose sifat liar orangutan untuk kembali ke alam. Feeding platform yang menjadi atraksi ekowisata pun, tak luput dari sorotan. Kritik juga dialamatkan pada pendekatan rehabilitasi orangutan. Erik Meijard misalnya, berpendapat, fokus pada rehabilitasi berbiaya mahal tidak menjawab masalah kerusakan habitat satwa yang masif, membuat tren depopulasi orangutan terus terjadi. Melintasi waktu yang panjang, Birute memang identik dengan orangutan. Namun, dia juga sangat peduli dengan habitatnya, bahkan termasuk figur vokal menyuarakan kondisi hutan Indonesia yang memburuk. Hal ini berakibat pada hubungan yang tegang dengan Pemerintah Indonesia. Pada 1992, izin aktivitasnya di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, diancam dicabut. Sebagaimana diberitakan Majalah Tempo (22 Februari 1992), Soeprapto, Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Putting saat itu, menuduh Birute bertindak seperti agen wisata di Tanjung Puting dan menyadap darah orangutan untuk dijual ke luar negeri. Dia dituduh meminta honor kepada majalah di Prancis yang memuat foto-fotonya dan dituding membangun penginapan berbiaya mahal di tepi Tanjung Puting. Birute membantah. Soal mengutip sumbangan pada orang asing, diakui terbatas pada mereka yang datang dengan tujuan bisnis. Sumbangan digunakan untuk membantu biaya rehabilitasi orangutan yang mahal. Soal penyadapan darah, itu dilakukan untuk memastikan jenis orangutan yang direhabilitasi dengan izin pemerintah. Ini karena pemerintah mengatur jenis orangutan (orangutan sumatera atau orangutan kalimantan) harus dipastikan dahulu sebelum dilepasliarkan. Tuduhan itu mencuat setelah sepanjang 1991, Birute mengkritik keras kehadiran PT Hesubasa, perusahaan pemegang izi hak pengusahaan hutan (HPH). Deru mesin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/01/totalitas-birute-galdikas-untuk-orangutan-kalimantan-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/01/totalitas-birute-galdikas-untuk-orangutan-kalimantan-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kajian Sebut Transmigrasi Berisiko Munculkan Masalah Lahan Baru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/01/kajian-sebut-transmigrasi-berisiko-munculkan-masalah-lahan-baru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/01/kajian-sebut-transmigrasi-berisiko-munculkan-masalah-lahan-baru/#respond</comments>
					<pubDate>01 Apr 2026 07:30:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235844/petani-ini--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126043</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Program transmigrasi bisa memunculkan  masalah lahan baru. Masyarakat  adat dan lokal di wilayah target bisa jadi korban, begitu pun warga transmigran bisa berhadapan dengan masalah alih-alih bisa mengelola lahan dengan tenang dan hidup lebih baik. Begitu antara lain hasil penelitian Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta, dan Sajogyo [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/01/kajian-sebut-transmigrasi-berisiko-munculkan-masalah-lahan-baru/">Kajian Sebut Transmigrasi Berisiko Munculkan Masalah Lahan Baru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Program transmigrasi bisa memunculkan  masalah lahan baru. Masyarakat  adat dan lokal di wilayah target bisa jadi korban, begitu pun warga transmigran bisa berhadapan dengan masalah alih-alih bisa mengelola lahan dengan tenang dan hidup lebih baik. Begitu antara lain hasil penelitian Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta, dan Sajogyo Institute. Kajian itu mereka lakukan selama dua hari pada pertengahan Maret lalu, hasil akhirnya berupa policy brief. Mohammad Ghofur, peneliti PSPK, memberikan contoh kasus di masyarakat adat di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Hingga kini, warga menolak wilayahnya masuk program transmigrasi. Karena, pemerintah belum memberikan hak wilayah adat padahal  konflik agraria perna terjadi. Temuan ini jadi dasar rekomendasi untuk Kementerian Transmigrasi mencabut wilayah tersebut sebagai sasaran program. “Secara infrastruktur juga belum memadai, jalan nasional di sana belum diaspal, harga ojek untuk sampai sana bisa Rp1 juta kalau musim hujan dua kali lipat karena becek. Jika dipaksakan peserta transmigrasi terjebak kemiskinan lagi karena minimnya akses, ” kata Ghofur. Menurut dia, tanah yang belum clean and clear serta infrastruktur minim membuat program ini hanya memindahkan kemiskinan dari daerah padat penduduk saja. &#8220;Pengembangan komoditas, kelembagaan ekonomi, dan penguatan kawasan tidak dapat berjalan bila problem tenurial tidak diselesaikan terlebih dahulu atau setidaknya dipetakan secara akurat sejak awal.&#8221; Karena itu, PSPK UGM merekomendasikan moratorium penempatan baru atau perluasan kebijakan transmigrasi di wilayah yang belum jelas status tenurialnya. Terutama, untuk yang masih tumpang tindih dengan kawasan hutan, HGU, HTI, tanah adat, atau kepemilikan masyarakat lokal, sebelum ada kejelasan status dan kesepakatan multipihak.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/01/kajian-sebut-transmigrasi-berisiko-munculkan-masalah-lahan-baru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/01/kajian-sebut-transmigrasi-berisiko-munculkan-masalah-lahan-baru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Ahli Sebut Rencana Proyek PLTN Tak Realistis dan Berbahaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/01/para-ahli-sebut-rencana-proyek-pltn-tak-realistis-dan-berbahaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/01/para-ahli-sebut-rencana-proyek-pltn-tak-realistis-dan-berbahaya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Apr 2026 02:17:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/10/22054712/walhi-kalbar-db2b871e-f257-4267-a604-33552848ab01-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126009</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah ahli menyoroti rencana pemerintah menggeber Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 2032. Selain tak realistis, rencana itu mereka nilai membahayakan lingkungan dan keselamatan warga. Elrika Hamdi, Energy Finance Analyst Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) dalam penelitiannya tahun 2021 menyebut, rencana pembangunan PLTN itu berisiko menimbulkan kerugian sangat besar, mengancam keselamatan warga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/01/para-ahli-sebut-rencana-proyek-pltn-tak-realistis-dan-berbahaya/">Para Ahli Sebut Rencana Proyek PLTN Tak Realistis dan Berbahaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah ahli menyoroti rencana pemerintah menggeber Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 2032. Selain tak realistis, rencana itu mereka nilai membahayakan lingkungan dan keselamatan warga. Elrika Hamdi, Energy Finance Analyst Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) dalam penelitiannya tahun 2021 menyebut, rencana pembangunan PLTN itu berisiko menimbulkan kerugian sangat besar, mengancam keselamatan warga hingga merusak lingkungan. Dalam laporan berjudul Tackling Indonesia’s Nuclear Power Euphoria itu, Elrika mengemukakan, 97% proyek nuklir (175 dari 180) mengalami pembengkakan biaya hingga US$1,3 miliar per proyek. Dampaknya, proyek-proyek PLTN di seluruh dunia alami keterlambatan kontruksi hingga 64% dari perencanaan. Sebagai pemain tunggal, tulis Elrika, PLN juga terancam kerugian besar jika proyek nuklir di Indonesia terus berlanjut. Sebab butuh modal besar untuk pembangunan sedangkan jangka balik modal butuh 60 tahun. Belum lagi ancaman kecelakaan yang bisa  membebani keuangan negara. Undang-undang No.10/1997 tentang Ketenaganukliran menetapkan, setiap operator nuklir di Indonesia bertanggung jawab maksimal Rp900 miliar (US$64 juta) untuk setiap kecelakaan. Kendati sudah ada pembaruan melalui Peraturan Pemerintah No. 46/2009 menjadi Rp4 triliun (US$276 juta), angka itu dinilai masih terlalu kecil. Kecelakaan nuklir di  dunia, katanya,  menunjukkan kebutuhan biaya penanggulangan jauh dari yang ditetapkan. Misal, Chernobyl perlu dana US$700 miliar selama 30 tahun, lalu Fukushima dengan dana penanganan sekitar US$200 miliar. Bahkan, kejadian Three Mile Island yang merupakan terkecil US$1 miliar. Artinya, menurut Elrika, kelonggaran aturan itu hanya akan menguntungkan operator PLTN. Padahal, secara kebutuhan, listrik produksi PLN masih kelebihan pasokan (oversupply) hingga  pembangunan PLTN tak perlu. Alih-alih, justru akan membebani perusahaan milik negara ini. Instalasi panel&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/01/para-ahli-sebut-rencana-proyek-pltn-tak-realistis-dan-berbahaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/01/para-ahli-sebut-rencana-proyek-pltn-tak-realistis-dan-berbahaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selamat Jalan Birute Galdikas, Ibu Orangutan Kalimantan [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/31/selamat-jalan-birute-galdikas-ibu-orangutan-kalimantan-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/31/selamat-jalan-birute-galdikas-ibu-orangutan-kalimantan-1/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mar 2026 11:27:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Budi Baskoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/31104604/Birute-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126034</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, kalimantan, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Usianya akan genap 80 tahun pada 10 Mei mendatang. Tapi, takdir menutup perjalanan hidupnya yang panjang bersama orangutan pada Selasa, 24 Maret 2026. Birutė Marija Filomena Galdikas, dikenal Birute Galdikas, pakar dan aktivis konservasi orangutan, mengembuskan napas terakhir di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, pada pukul 04.30 waktu setempat. Orang-orang terdekat Birute berada di sisinya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/selamat-jalan-birute-galdikas-ibu-orangutan-kalimantan-1/">Selamat Jalan Birute Galdikas, Ibu Orangutan Kalimantan [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Usianya akan genap 80 tahun pada 10 Mei mendatang. Tapi, takdir menutup perjalanan hidupnya yang panjang bersama orangutan pada Selasa, 24 Maret 2026. Birutė Marija Filomena Galdikas, dikenal Birute Galdikas, pakar dan aktivis konservasi orangutan, mengembuskan napas terakhir di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, pada pukul 04.30 waktu setempat. Orang-orang terdekat Birute berada di sisinya, termasuk Frederick Bohap Galdikas yang mengonfirmasi meningggalnya Sang Ibu via WhatsApp. Di sana juga ada Ruth Linsky, orang dekat dan mahasiswa doktoral bimbingan Birute. “Saya bersama Ibu Prof dan keluarga di sini, di LA. Kita semua sedih sekali kehilangan Ibu Prof,” kata peneliti orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah ini. Robert Ferdinand Yappi, koordinator lapangan Orangutan Foundation International (OFI) di Pangkalan Bun menjelaskan, kondisi kesehatan Birute memang bermasalah. Birute terakhir kali berada di Pangkalan Bun pada November 2024. Dia bilang, sebelum pergi ke Amerika, Birute masih mengikuti kegiatan lapangan, mengunjungi masyarakat dan hutan yang dikelola OFI di Kabupaten Lamandau dan Kotawaringin Barat bagian hulu. Karena kondisi kesehatan yang memburuk, belum bisa kembali ke Indonesia sejak setahun terakhir. Apa sakit yang diidapnya? “Pneumonia,” ujar Robert. Birute Galdikas saat melakukan riset orangutan di Camp Leakey tahun 1974. Foto: Dok. OFI Kiprah panjang meneliti orangutan Birute dikenal luas sebagai ahli primata dan konservasionis. Perempuan keturunan Lituania, kelahiran Jerman, dan tumbuh besar di Kanada ini, meraih sarjana dalam bidang zoologi dan psikologi dari University of California at Los Angeles (UCLA). Dia kemudian meraih master hingga doktor di bidang antropologi dari kampus yang sama. Dalam proses doktoral itulah,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/selamat-jalan-birute-galdikas-ibu-orangutan-kalimantan-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/31/selamat-jalan-birute-galdikas-ibu-orangutan-kalimantan-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belut Listrik, Spesies Ikan yang Mampu Menundukkan Buaya Seketika</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/31/belut-listrik-spesies-ikan-yang-mampu-menundukkan-buaya-seketika/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/31/belut-listrik-spesies-ikan-yang-mampu-menundukkan-buaya-seketika/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mar 2026 10:24:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011306/Electric-eel-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126031</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah rekaman video yang kembali viral memperlihatkan momen dramatis di pedalaman sungai Amerika Selatan. Seekor buaya besar terlihat menyambar belut listrik yang melintas di dekatnya. Namun, hanya dalam hitungan milidetik setelah rahangnya mengunci, sang predator justru mengalami guncangan hebat. Buaya yang biasanya perkasa itu mendadak kaku dan tak berdaya. Ia lumpuh seketika di hadapan mangsa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/belut-listrik-spesies-ikan-yang-mampu-menundukkan-buaya-seketika/">Belut Listrik, Spesies Ikan yang Mampu Menundukkan Buaya Seketika</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah rekaman video yang kembali viral memperlihatkan momen dramatis di pedalaman sungai Amerika Selatan. Seekor buaya besar terlihat menyambar belut listrik yang melintas di dekatnya. Namun, hanya dalam hitungan milidetik setelah rahangnya mengunci, sang predator justru mengalami guncangan hebat. Buaya yang biasanya perkasa itu mendadak kaku dan tak berdaya. Ia lumpuh seketika di hadapan mangsa yang jauh lebih kecil. Kejadian ini membuktikan bahwa di alam liar, kekuatan fisik tidak selalu menjadi penentu kemenangan. Gelombang kejut listrik yang dilepaskan belut tersebut langsung membajak sistem saraf buaya. Hal ini menyebabkan kontraksi otot yang luar biasa hebat sehingga buaya tidak mampu melepaskan gigitannya. Kondisi ini sering kali berujung pada gagal jantung mendadak yang menewaskan sang pemangsa dalam waktu singkat. Rahasia Kecepatan Serangan Elektrosit Kemampuan untuk melumpuhkan lawan secara instan berasal dari sekitar 6.000 sel khusus bernama elektrosit. Sel-sel ini tersusun seperti baterai dalam rangkaian listrik. Saat belut merasa terancam, sistem sarafnya mengirimkan sinyal simultan yang memicu pelepasan muatan listrik secara bersamaan. Penelitian taksonomi pada tahun 2019 mengungkapkan adanya spesies Electrophorus voltai yang mampu menghasilkan tegangan hingga 860 Volt. Kekuatan sebesar ini cukup untuk menghentikan fungsi biologis hewan besar dalam sekejap. Meskipun secara fisik menyerupai ular, spesies ini sebenarnya adalah ikan yang berkerabat dekat dengan ikan mas dan lele. Mereka telah berevolusi menjadi salah satu pemilik senjata pertahanan paling efisien di bumi. Penelitian tahun 2019 mengidentifikasi perbedaan struktur tengkorak dan bentuk kepala antara Electrophorus electricus (kiri), Electrophorus voltai sang pemilik rekor 860 Volt (tengah), dan Electrophorus varii (kanan). Perbedaan bentuk kepala dari pola U&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/belut-listrik-spesies-ikan-yang-mampu-menundukkan-buaya-seketika/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/31/belut-listrik-spesies-ikan-yang-mampu-menundukkan-buaya-seketika/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gerry van Klinken Bicara soal Bencana Sumatera, Kapitalisme sampai Ekososialisme</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mar 2026 08:22:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/31075751/GErry-Van-Klinken-Azam-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126027</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gerry van Klinken,  menyalami satu per satu peserta diskusi buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia, yang Maja Book Party adakan di Lebak, Banten, Desember lalu. Antropolog University of Amsterdam Belanda itu, November-Desember lalu ke Indonesia, bertepatan bencana besar, banjir dan longsor melanda Sumatera. Dia keliling berbagai kota dari Malang, Yogyakarta, Jakarta, Garut, Bogor, Surabaya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/">Gerry van Klinken Bicara soal Bencana Sumatera, Kapitalisme sampai Ekososialisme</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gerry van Klinken,  menyalami satu per satu peserta diskusi buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia, yang Maja Book Party adakan di Lebak, Banten, Desember lalu. Antropolog University of Amsterdam Belanda itu, November-Desember lalu ke Indonesia, bertepatan bencana besar, banjir dan longsor melanda Sumatera. Dia keliling berbagai kota dari Malang, Yogyakarta, Jakarta, Garut, Bogor, Surabaya, Solo, Semarang, Jember, Salatiga, hingga Banten. Klinken menyuarakan gagasan ekologis, lewat bukunya, Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Lulusan doktor Griffith University Australia ini, menggarap buku itu bersama 17 penulis Indonesia. Dia memulai karier di bidang geofisika dan tambang. Pada 1984, dia mengajar fisika di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, selama tujuh musim. Pria kelahiran 1952 itu mengubah haluan kariernya, fokus pada bidang humaniora antara lain terpengaruh aktivisme mahasiswanya, Andreas Harsono dan Yosep Adi Prasetyo, yang ketika itu berjuang berupaya meruntuhkan Orba. Ketika pensiun, Klinken menjadi “mualaf lingkungan,” istilah yang dia sematkan untuk menggambarkan perjalanan intelektualnya. Dia belajar ilmu lingkungan dan dedikasikan waktu untuk memikirkan nasib bumi di tengah krisis iklim. Lewat buku terbarunya, Klinken merefleksikan diri bahwa dunia dalam kondisi krisis, namun manusia bingung harus berbuat apa. Dia bilang, dunia modern saat ini kekurangan imajinasi untuk menghadapi krisis iklim. “Imajinasi kita menjadi dikerdilkan oleh kapitalisme,” katanya. Dalam bukunya, pria yang menghabiskan masa kecil di Doom, sebuah pulau kecil di Sorong, Papua Barat itu, tidak membicarakan persoalan praktis dan kebijakan lingkungan. Dia fokus pada pemikiran radikal agar tidak memperburuk krisis ekologis saat ini. Jurnalis Mongabay, Achmad Rizki Muazam, berbincang-bincang dengan Klinken usai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Pekerja Perikanan Tuna asal Indonesia Telantar di Atas Kapal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/31/nestapa-abk-tuna-gaji-tak-dibayar-telantar-di-atas-kapal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/31/nestapa-abk-tuna-gaji-tak-dibayar-telantar-di-atas-kapal/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mar 2026 02:42:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[produk kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/08/22001238/abk-nelayan-kedonganan-bali-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126007</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Terlantar di negeri orang tak pernah ada dalam bayangan Surono. Betapa tidak, berharap mengadu nasib dengan menjadi awak kapal  perikanan  (AKP) tuna ‘Novo Ruivo’, berbendera Portugal, pria asal Tegal, Jawa Tengah (Jateng) ini justru terkatung-katung di atas kapal. Lebih dari 11 bulan lamanya, Surono bersama dua AKP  lain, Rizal Harun dan Wahyudin terlantar di atas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/nestapa-abk-tuna-gaji-tak-dibayar-telantar-di-atas-kapal/">Nestapa Pekerja Perikanan Tuna asal Indonesia Telantar di Atas Kapal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Terlantar di negeri orang tak pernah ada dalam bayangan Surono. Betapa tidak, berharap mengadu nasib dengan menjadi awak kapal  perikanan  (AKP) tuna ‘Novo Ruivo’, berbendera Portugal, pria asal Tegal, Jawa Tengah (Jateng) ini justru terkatung-katung di atas kapal. Lebih dari 11 bulan lamanya, Surono bersama dua AKP  lain, Rizal Harun dan Wahyudin terlantar di atas kapal tuna tempatnya bekerja. Dia nekat bertahan di atas kapal yang tengah sandar di Cape Verde, negara kepulauan di Samudera Atlantik demi menagih gaji yang sampai hari ini tak kunjung mereka terima. Bukan hanya tak menerima gaji. Nasib mereka makin tak jelas setelah dokumen penting seperti paspor juga dibawa kabur pemilik kapal ketika berlabuh di Mindelo, Kepulauan Sao Vicente. “Saya tidak tahu harus bagaimana. Anak dan istri butuh makan,” kata Surono, mengutip France24. Pekerja 47 tahun ini sejatinya berharap bisa kembali pulang tetapi, gaji belum terbayar memaksanya bertahan. “Kami ingin pulang, tapi jika pulang tanpa uang, lalu bagaimana? Kami sudah bekerja keras di laut. Bagaimana bisa kami ditinggalkan begitu saja?” Dia bilang,  mau bekerja di Kapal Novo Ruivo, karena tergiur janji upah besar. Dalam sebulan, janji upah  US$1.200 atau sekitar Rp20,3 juta, angka yang cukup untuk menutupi utang-utangnya. Dari Indonesia, Surono berangkat menuju Namibia dan menangkap tuna sejak Maret 2025. Situasi menjadi kacau saat kapal berlabuh di Mindelo pada September 2025 untuk menurunkan hasil tangkapan karena pemilik kapal kabur. Selama di atas kapal, Surono dan kedua rekannya bertahan hidup dengan mengandalkan sumber makanan tersisa, seperti beras dan makanan beku. Sang istri, Kiki Andriani, berharap suaminya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/31/nestapa-abk-tuna-gaji-tak-dibayar-telantar-di-atas-kapal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/31/nestapa-abk-tuna-gaji-tak-dibayar-telantar-di-atas-kapal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Proses Hukum Cemaran Pestisida Sungai Cisadane?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/30/bagaimana-proses-hukum-cemaran-pestisida-sungai-cisadane/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/30/bagaimana-proses-hukum-cemaran-pestisida-sungai-cisadane/#respond</comments>
					<pubDate>30 Mar 2026 15:45:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita RaissaYulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/30153849/Cisadane-KLH-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126020</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa kabar kasus pencemaran Sungai Cisadane, dampak kebakaran gudang penyimpanan pestisida PT Biotek Saranatama? Hanif Faisol Nurofiq,  Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, menyampaikan saat ini, pemerintah masih menunggu hasil laboratorium untuk menggugat perusahaan yang diduga mencemari Sungai Cisadane itu. Sampel pengujian Sungai Cisadane, sampai saat ini masih proses di laboratorium Institut Pertanian Bogor [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/30/bagaimana-proses-hukum-cemaran-pestisida-sungai-cisadane/">Bagaimana Proses Hukum Cemaran Pestisida Sungai Cisadane?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa kabar kasus pencemaran Sungai Cisadane, dampak kebakaran gudang penyimpanan pestisida PT Biotek Saranatama? Hanif Faisol Nurofiq,  Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, menyampaikan saat ini, pemerintah masih menunggu hasil laboratorium untuk menggugat perusahaan yang diduga mencemari Sungai Cisadane itu. Sampel pengujian Sungai Cisadane, sampai saat ini masih proses di laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB). “Untuk masalah Cisadane, hasil lab dari IPB belum keluar, saya masih menunggu,” kata Hanif kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/3/26). Dia bilang, hasil laboratorium IPB menguji konsentrasi pestisida yang terkandung di dalam air sungai. Mengenai perhitungan kerugian lingkungan, KLH akan menghitung berdasarkan jumlah konsentrasi zat pencemar yang ditemukan dikalikan dengan tarif kerugian lingkungan sesuai norma yang berlaku. “Setiap yang kita lakukan semua ada dasar saintifiknya. Sehingga perhitungannya tidak bisa dikurangi kecuali ada metodologi yang bisa saling menukarkan. Jadi saling mencocokkan mana metodologi yang paling mungkin untuk menghitung tentang kerugian lingkungan,” katanya. Metode ini juga diterapkan pada bencana ekologis di Sumatera. Pemerintah menggugat sejumlah perusahaan terkait bencana ekologis di Sumatera dengan ganti rugi Rp4,8 triliun. Ikan-ikan di Sungai Jaletreng, aliran Sungai Cisadane, ditemukan mati diduga akibat pencemaran pascakebakaran gudang pestisida di Tangerang Selatan. Dokumentasi: Polsek Cisauk Dia bilang, beberapa pihak sudah lebih dulu melakukan pembayaran dalam proses mediasi sebelum sidang berjalan lebih jauh. Meski demikian, katanya, penegakan hukum pidana tetap memungkinkan sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto. Soal kondisi Sungai Cisadane saat ini, katanya, kementerian belum bisa mengatakan cemaran sepenuhnya selesai. Sebab, pemantauan masih terus dilakukan berkala dan pengambilan sampel di enam titik lokasi berbeda. “Kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/30/bagaimana-proses-hukum-cemaran-pestisida-sungai-cisadane/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/30/bagaimana-proses-hukum-cemaran-pestisida-sungai-cisadane/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mitos Ikan yang Menjaga Kelestarian Telaga Ranjeng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/30/mitos-ikan-yang-menjaga-kelestarian-telaga-ranjeng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/30/mitos-ikan-yang-menjaga-kelestarian-telaga-ranjeng/#respond</comments>
					<pubDate>30 Mar 2026 15:03:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/30145056/telaga-ranjeng1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah warga berdiri di pinggir Telaga Ranjeng atau dikenal juga Tlogoranjeng yang letaknya di lereng barat Gunung Slamet. Tepatnya, di kawasan hutan Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (21/3/2026). Mereka memberi makan ikan di telaga tersebut dan ikan mas atau karper (Cyprinus carpio) terlihat mendominasi. Afan Maulana (21), pengunjung asal Banyumas, mempertanyakan kenapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/30/mitos-ikan-yang-menjaga-kelestarian-telaga-ranjeng/">Mitos Ikan yang Menjaga Kelestarian Telaga Ranjeng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah warga berdiri di pinggir Telaga Ranjeng atau dikenal juga Tlogoranjeng yang letaknya di lereng barat Gunung Slamet. Tepatnya, di kawasan hutan Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (21/3/2026). Mereka memberi makan ikan di telaga tersebut dan ikan mas atau karper (Cyprinus carpio) terlihat mendominasi. Afan Maulana (21), pengunjung asal Banyumas, mempertanyakan kenapa yang muncul bukan ikan lele lokal (Pangasius hypophthalmus Sauvage). “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat.” Sirin (55), warga desa setempat, mengatakan secara turun-temurun ada larangan tidak boleh mengambil lele dan ikan lainnya dari Telaga Ranjeng. “Sudah banyak kejadian, ketika ada yang nekat mengambil ikan maka terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Masyarakat di sini tetap menjaga ikan di telaga ini,”ungkapnya. Ribuan ikan mas terlihat di pinggir Telaga Ranjeng di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia Telaga yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (m dpl) ini, merupakan cagar alam (CA) dengan luasan 53,41 hektar (ha). Jamal, Manggala Agni Pemula dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pemalang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah untuk Telaga Ranjeng, mengatakan meski CA namun banyak warga ingin tahu wilayah ini. “Saya sudah 15 tahun sebagai penjaga Telaga Ranjeng. Hingga sekarang, ekosistemnya terjaga,” jelasnya, Sabtu (28/3/2026). Warga Pandansari tidak mengambil ikan di Telaga Ranjeng merupakan bentuk kearifan lingkungan yang terus mereka jaga. Ada dua jenis ikan yang mendominasi di Telaga Ranjeng yakni lele dan ikan mas. Namun, tidak setiap saat dua jenis tersebut muncul. “Kadang, lele&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/30/mitos-ikan-yang-menjaga-kelestarian-telaga-ranjeng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/30/mitos-ikan-yang-menjaga-kelestarian-telaga-ranjeng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>