<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=tommy-apriando-salatiga&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/tommy-apriando-salatiga/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 02 Jun 2026 17:04:21 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 17:04:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi E Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/01121118/Raflesia-31-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128651</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena munculnya bunga rafflesia dalam jumlah besar di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, menarik perhatian peneliti. Di hutan seluas 47,5 hektar di Desa Tarempa Selatan, hasil identifikasi sementara temukan 25 titik rafflesia yang terus mekar setiap minggu. Dari Kota Tarempa, lokasi itu hanya berjarak sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/">Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena munculnya bunga rafflesia dalam jumlah besar di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, menarik perhatian peneliti. Di hutan seluas 47,5 hektar di Desa Tarempa Selatan, hasil identifikasi sementara temukan 25 titik rafflesia yang terus mekar setiap minggu. Dari Kota Tarempa, lokasi itu hanya berjarak sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 25 menit memasuki kawasan hutan yang berada di Bukit Batu Tabir. Faizal Rangkuti dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepulauan Riau (Kepri) mengatakan, terdapat 25 spot rafflesia yang tersebar di area perbukian dengan vegetasi hutan alami. Lokasi itu berdekatan dengan area penggunaan lain (APL) yang warga manfaatkan untuk berkebun. Berdasar keterangan warga, kata Faizal, keberadaan raflesia itu sejatinya sudah lama, bahkan sejak 1980-an. Namun warga mengiranya hanya bunga biasa, karena belum mekar seutuhnya. “Mulai 2025 kemarin baru benar-benar mekar dan menarik perhatian masyarakat.” Faizal bilang bunga rafflesia di kawasan itu terus bermunculan hampir setiap minggu hingga memicu antusias masyarakat dan pemerhati lingkungan untuk datang ke lokasi. “Yang mekar itu ada terus. Hampir setiap minggu selalu ada,” ujarnya. Sejumlah peneliti dan lembaga swasta lainnya juga  datang ke lokasi, termasuk  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau, MedcoEnergi, hingga pengelola Pulau Bawah Resort Anambas. Saat ini, bersama pemerintah desa, petugas kehutanan menjaga kawasan hutan itu dengan melakukan patroli rutin secara bergantian. Kini, pemerintah  melakukan verifikasi untuk penetapan kawasan itu  sebagai perhutanan sosial. “Nantinya pengelolaan akan diserahkan kepada Desa Tarempa Selatan. Tinggal menunggu penetapan dari Balai Perhutanan Sosial di Kampar.&#8221; Menurut Faizal, rafflesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Fakta di Balik Fenomena Temuan Anak Kucing Hutan Tanpa Induk</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 09:57:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000011/Leopard_cat_India-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128702</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Secara alami, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak kucing hutan sering berkeliaran atau ditemukan masyarakat di pinggiran hutan tanpa induknya. Faktor pertama berkaitan dengan upaya perlindungan dari pemangsa. Indukan betina memiliki kecenderungan untuk bergeser ke wilayah pinggiran hutan yang berbatasan dengan kebun pada masa melahirkan dan mengasuh anak. Perilaku ini diperkirakan sebagai strategi indukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/">Fakta di Balik Fenomena Temuan Anak Kucing Hutan Tanpa Induk</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Secara alami, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak kucing hutan sering berkeliaran atau ditemukan masyarakat di pinggiran hutan tanpa induknya. Faktor pertama berkaitan dengan upaya perlindungan dari pemangsa. Indukan betina memiliki kecenderungan untuk bergeser ke wilayah pinggiran hutan yang berbatasan dengan kebun pada masa melahirkan dan mengasuh anak. Perilaku ini diperkirakan sebagai strategi indukan untuk menghindari ancaman kucing jantan dewasa. Kucing jantan terkadang memiliki sifat kanibal yang dapat membunuh anak-anaknya sendiri demi mengurangi persaingan di habitat mereka. Faktor kedua adalah ketersediaan pakan. Wilayah perbatasan hutan atau ekoton menawarkan sumber makanan yang jauh lebih melimpah dan mudah didapatkan daripada di dalam hutan core. Di area perkebunan kelapa sawit, misalnya, anak dan induk kucing hutan bisa dengan mudah menemukan mangsa seperti tikus atau amfibi. Kelimpahan mangsa ini menarik perhatian induk kucing hutan untuk membawa anak-anak mereka beraktivitas di dekat batas area kebun penduduk. Faktor ketiga adalah perilaku alami anak kucing itu sendiri. Sama seperti kucing domestik, anakan kucing hutan sering kali mengeluarkan suara bising atau mengeong terus-menerus saat ditinggalkan oleh induknya. Induk kucing hutan biasanya harus pergi berburu dalam waktu tertentu dan meninggalkan anak-anaknya di tempat persembunyian sementara. Suara bising dari anakan yang kelaparan atau mencari induknya inilah yang sering kali memicu masyarakat atau petani setempat untuk menemukan keberadaan mereka secara tidak sengaja. Oleh karena itu, para ahli konservasi mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengevaluasi atau mengambil anakan kucing hutan yang terlihat sendirian di pinggir hutan. Besar kemungkinan induknya tidak benar-benar pergi atau menelantarkan anaknya, melainkan hanya sedang berburu makanan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 09:10:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/01072731/Lumpur-pekat-yang-dibawa-banjir-menenggelamkan-kebun-karet-milik-warga-di-Kecamatan-Tapin-Selatan.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia__-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128627</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warga Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), waswas tiap mendung datang. Pasalnya, tiap hujan besar terjadi, kampung mereka rentan banjir. Kondisi makin parah ketika banjir  lumpur pekat bercampur batubara. Akhir Maret hingga pertengahan April, banjir merendam Kelurahan Tambarangan, Desa Sawang, dan Rumintin hingga lima kali. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/">Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warga Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), waswas tiap mendung datang. Pasalnya, tiap hujan besar terjadi, kampung mereka rentan banjir. Kondisi makin parah ketika banjir  lumpur pekat bercampur batubara. Akhir Maret hingga pertengahan April, banjir merendam Kelurahan Tambarangan, Desa Sawang, dan Rumintin hingga lima kali. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, di Kelurahan Tambarangan, banjir terjadi di empat rukun tetangga (RT) dengan total 136 keluarga (531 jiwa) terdampak. Di Desa Sawang, banjir melanda empat RT dengan 61 keluarga (184 jiwa) terdampak. di Desa Rumintin, tiga RT, 33 keluarga (117 jiwa) terdampak. Mustaqimah, nama samaran, sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali banjir masuk ke dalam rumahnya. Seingatnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar lima tahun. &#8220;Setiap hujan besar turun, banjir lumpur nyaris pasti datang.  Yang masuk ke dalam rumah makin sering, sekitar dua tahun belakangan,&#8221; katanya pada Mongabay, akhir April. Banjir yang masuk ke rumah kini bisa mencapai betis, dengan ketebalan lumpur sekitar 2 cm. Pekerjaan berat mengeruk lumpur menunggu mereka ketika banjir surut. &#8220;Harus cepat-cepat dibersihkan. Kalau duluan air kering, malah susah. Menyikat lantainya pun tidak bisa sekali,&#8221; kata perempuan 51 tahun itu. Rumahnya pun makin rusak. Dinding dan lantai kayu makin lapuk. Dia bilang, pernah merogoh kocek hingga Rp15 juta untuk melakukan perbaikan. Masalah makin pahit karena banjir lumpur membuat kebun karet seluas 25 borongan atau sekitar 1 hektar miliknya tak produktif. Sudah 3 tahun kebun itu berhenti menghasilkan karena lumpur menumpuk hingga setinggi lutut, membuat kualitas getahnya menurun. &#8220;Getahnya asam, tidak bisa diapa-apakan lagi.&#8221; Padahal,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kilau Hijau Reptil Papua, Kekayaan yang Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 08:15:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[*Yanti Samanui]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/02075333/medium-2.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128669</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Pertambangan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Jika warna hijau pernah viral karena ada pantone miskin, di hutan tropis Papua, reptil hijau menjadi kekayaan dan keunikan yang Indonesia punya. Salah satunya, sanca hijau papua (Morelia viridis) atau green tree phytons yang terkenal memiliki kilau hijau zamrud. Tak hanya itu, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/">Kilau Hijau Reptil Papua, Kekayaan yang Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Jika warna hijau pernah viral karena ada pantone miskin, di hutan tropis Papua, reptil hijau menjadi kekayaan dan keunikan yang Indonesia punya. Salah satunya, sanca hijau papua (Morelia viridis) atau green tree phytons yang terkenal memiliki kilau hijau zamrud. Tak hanya itu, ada beberapa reptil hijau lainnya yang menjadikan hutan Papua sebagai habitat. Sayangnya keberadaan reptil ini seringkali mendapatkan ancaman perburuan liar, hilangnya hutan dan minimnya data penelitian. Padahal, keindahan reptil hijau Papua bukanlah pajangan untuk dikurung dalam kandang kaca. Warna hijau mereka adalah bagian dari ekosistem hutan yang saling terkait sebagai predator yang mengendalikan populasi hama, sebagai mangsa bagi elang dan ular besar, dan sebagai indikator kesehatan hutan itu sendiri. Misalnya, sanca hijau Papua, banyak yang bilang ia menjadi sebuah kebanggaan sekaligus kutukan. Pasalnya, perburuan liar membuat statusnya dilindungi oleh pemerintah. Tapi, sanca hijau bukan menjadi satu-satunya harta karun, ada beragam reptil lainnya yang tak kalah mempesona namun justru lebih rentan karena minimnya perhatian publik. 1. Sanca hijau: sang bintang yang kemilau Tubuhnya ramping, berkilau hijau terang dengan deretan bintik atau garis putih tak beraturan di punggung. Warna ini yang menjadikannya primadona perdagangan reptil eksotis. Menurut Buku Panduan Identifikasi Herpetofauna Dilindungi, sebagian besar hidupnya berada di atas pepohonan (arboreal), panjangnya mencapai 1,8 meter. Ia memiliki ekor yang sangat kuat mencengkram dan memungkinkannya berayun lincah di pepohonan. Warna hijaunya menjadi kekuatannya untuk menyamar atau berkamuflase untuk mencari mangsanya. Selain di Papua, satwa ini bisa ditemui di semenanjung utara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terbang Berbulan-bulan Tanpa Pernah Mendarat, Bagaimana Burung Cikalang Beristirahat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/terbang-berbulan-bulan-tanpa-pernah-mendarat-bagaimana-burung-cikalang-beristirahat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/terbang-berbulan-bulan-tanpa-pernah-mendarat-bagaimana-burung-cikalang-beristirahat/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 05:04:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/02050010/Great_frigatebird_Fregata_minor-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128678</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap hari, jutaan burung laut melintasi samudra dalam penerbangan yang merentang ribuan kilometer. Mereka menghadapi tantangan yang mustahil bagi makhluk hidup lainnya, termasuk pertanyaan fundamental yang telah membingungkan para ilmuwan selama beabad-abad: bagaimana mereka bisa beristirahat di tengah perjalanan yang melelahkan ini, tanpa pernah singgah, mendarat,  atau jatuh dari langit? Membayangkan seekor burung tertidur di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/terbang-berbulan-bulan-tanpa-pernah-mendarat-bagaimana-burung-cikalang-beristirahat/">Terbang Berbulan-bulan Tanpa Pernah Mendarat, Bagaimana Burung Cikalang Beristirahat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap hari, jutaan burung laut melintasi samudra dalam penerbangan yang merentang ribuan kilometer. Mereka menghadapi tantangan yang mustahil bagi makhluk hidup lainnya, termasuk pertanyaan fundamental yang telah membingungkan para ilmuwan selama beabad-abad: bagaimana mereka bisa beristirahat di tengah perjalanan yang melelahkan ini, tanpa pernah singgah, mendarat,  atau jatuh dari langit? Membayangkan seekor burung tertidur di ketinggian ribuan meter terasa seperti cerita fiksi. Namun, sebuah penelitian  membuktikan bahwa burung cikalang besar (Fregata minor) benar-benar dapat tidur sambil terbang, sesuatu yang belum pernah ditunjukkan dengan bukti ilmiah langsung sebelumnya. Penelitian yang dipimpin oleh Niels Rattenborg dari Max Planck Institute menggunakan teknologi perekam ensefalogram (EEG) miniatur yang dipasang pada 14 ekor burung cikalang betina di Kepulauan Galápagos, kepulauan vulkanik yang terletak sekitar 1.000 kilometer dari pantai barat Ekuador di Amerika Selatan. Lokasi ini dipilih karena merupakan habitat alami burung cikalang dan menawarkan akses ke populasi breeding yang stabil. Hasilnya mengejutkan: burung-burung ini hanya tidur sekitar 42 menit per hari saat terbang, jauh lebih sedikit dibanding tidur mereka di darat yang mencapai 12 jam setiap hari. Burung frigat besar jantan menunjukkan kantong tenggorokannya yang merah cerah saat meluncur di atas Galapagos. Spesies ini menguasai seni tidur fragmentaris, memungkinkan mereka berburu di udara tanpa pernah benar-benar tertidur lelap. Foto: Charles J. Sharp, CC BY-SA 3.0. idur yang singkat itu pun tidak terjadi dalam satu periode panjang. Sebaliknya, burung cikalang tertidur dalam episode-episode sangat pendek, masing-masing hanya sekitar 10 detik. Mereka tidak tertidur sembarangan. Waktu istirahat terjadi terutama setelah matahari terbenam, ketika burung sedang melakukan &#8220;soaring&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/terbang-berbulan-bulan-tanpa-pernah-mendarat-bagaimana-burung-cikalang-beristirahat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/terbang-berbulan-bulan-tanpa-pernah-mendarat-bagaimana-burung-cikalang-beristirahat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Flora dan Fauna di Relief Candi Bumiayu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/jejak-flora-dan-fauna-di-relief-candi-bumiayu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/jejak-flora-dan-fauna-di-relief-candi-bumiayu/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 04:32:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/01/21234047/Kasmin-warga-Desa-Tempirai-bersama-tempurung-byuku-di-kebunnya-di-sekitar-Desa-Tempirai.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128670</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banyak jejak kekayaan hayati di Indonesia di masa lalu terekam dari sejumlah artefak sejarah. Dari masa purba hingga moderen. Salah satunya, tersimpan rapi di Candi Bumiayu, yang berada di kawasan lahan basah Sumatera Selatan. Candi Bumiayu ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai cagar budaya nasional pada 2024. Kompleks percandian yang berada di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/jejak-flora-dan-fauna-di-relief-candi-bumiayu/">Jejak Flora dan Fauna di Relief Candi Bumiayu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banyak jejak kekayaan hayati di Indonesia di masa lalu terekam dari sejumlah artefak sejarah. Dari masa purba hingga moderen. Salah satunya, tersimpan rapi di Candi Bumiayu, yang berada di kawasan lahan basah Sumatera Selatan. Candi Bumiayu ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai cagar budaya nasional pada 2024. Kompleks percandian yang berada di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, ini diperkirakan usianya sama dengan Candi Muaro Jambi (Jambi) dan Muara Takus (Riau) pada masa Kedatuan Sriwijaya. Candi Bumiayu merupakan percandian Hindu beraliran Siwa, memiliki pengaruh Buddha, yang dibangun pada abad ke IX-XII. Candi ini berada di wilayah lahan basah Sungai Lematang yang terhubung dengan lahan basah Penukal. Lahan basahnya berupa rawa gambut, danau, puluhan sungai, serta puluhan talang yang terlihat seperti pulau, saat musim penghujan. Di masa lalu, lahan basah tersebut kaya flora dan fauna, baik yang berada di perairan maupun daratan. Tapi sejalan perubahan bentang alam, seperti permukiman, perkebunan, serta infrastruktur lainnya, kekayaan tersebut mulai berkurang atau hilang. Bagaimana jejak kekayaan flora dan fauna lahan basah tersebut? Kasmin, warga Desa Tempirai menunjukkan tempurung byuku di kebunnya di sekitar Desa Tempirai, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Menurunnya populasi byuku disebabkan oleh habitat yang rusak dan adanya perdagangan ilegal. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), menjelaskan kekayaan flora dan fauna lahan basah dapat dibaca dari berbagai relief dan patung yang ditemukan di Percandian Bumiayu. Untuk fauna, seperti burung nuri, burung kuntul, burung beo, buaya rawa, ular,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/jejak-flora-dan-fauna-di-relief-candi-bumiayu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/jejak-flora-dan-fauna-di-relief-candi-bumiayu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Keseriusan Negara Akui Wilayah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/menanti-keseriusan-negara-akui-wilayah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/menanti-keseriusan-negara-akui-wilayah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 00:26:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22073120/marena8-IMG_7059-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128663</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Pengakuan dan perlindungan wilayah adat di nusantara ini masih minim. Peta wilayah adat belum terintegrasi ke dalam kebijakan Kebijakan Satu Peta pemerintah pusat terus memicu konflik tenurial dan perampasan ruang hidup berskala besar di berbagai daerah. Kasmita Widodo, Kepala Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), mengatakan, kedaulatan pengetahuan tidak akan pernah terwujud selama negara belum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/menanti-keseriusan-negara-akui-wilayah-adat/">Menanti Keseriusan Negara Akui Wilayah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Pengakuan dan perlindungan wilayah adat di nusantara ini masih minim. Peta wilayah adat belum terintegrasi ke dalam kebijakan Kebijakan Satu Peta pemerintah pusat terus memicu konflik tenurial dan perampasan ruang hidup berskala besar di berbagai daerah. Kasmita Widodo, Kepala Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), mengatakan, kedaulatan pengetahuan tidak akan pernah terwujud selama negara belum mengakui wilayah adat secara utuh. Seluruh instrumen ruang hidup, katanya, mulai dari peta bentang alam, cerita lisan, ingatan kolektif, hingga praktik tata guna lahan tradisional harus diperlakukan sebagai basis utama penyusunan kebijakan pembangunan, bukan sekadar pelengkap dokumen akademik. “Pengabaian data masyarakat adat berimplikasi pada pengabaian hak, perampasan ruang hidup, dan konflik tenurial. Pendataan ruang hidup ini diperlukan untuk memastikan relasi masyarakat adat dengan wilayahnya tidak terabaikan dalam pengambilan keputusan,” katanya dalam diskusi di Pesta Rimbahari, Universitas Indonesia, Mei lalu. Dia bilang, sistem registrasi mandiri yang dilakukan komunitas adat adalah navigasi penting untuk memaksa negara hadir dan memberikan perlindungan hak secara terukur dan adil. Aldya Saputra, Deputi II BRWA menegaskan, wilayah adat bukan sekadar hamparan tanah kosong atau komoditas ekonomi biasa. Melainkan ruang kehidupan utuh layaknya rumah. Dalam ruang hidup itu, terdapat batas-batas adat jelas yang mengatur di mana hak diri dan komunitas berlaku untuk mengelola. &#8220;Yang penting sekali adalah ada panggilan yang membatasi di mana hak diri kita. Di mana di dalam hak itu kita bisa mengelola, tapi pada akhirnya kita diwajibkan untuk melindungi. Nah, disitulah yang kami sebut sebagai ruang kehidupan masyarakat adat atau wilayah adat.” Iqbal Putut, Kepala Program Studi Sarjana Geografi Universitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/menanti-keseriusan-negara-akui-wilayah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/menanti-keseriusan-negara-akui-wilayah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Hutan ke Kebun Sawit, Bagaimana Cara Kucing Kuwuk Beradaptasi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/01/dari-hutan-ke-kebun-sawit-bagaimana-cara-kucing-kuwuk-beradaptasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/01/dari-hutan-ke-kebun-sawit-bagaimana-cara-kucing-kuwuk-beradaptasi/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jun 2026 13:07:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233803/Kucing-hutan-768x507.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128656</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing kuwuk, yang memiliki bentuk mungil dan bercorak tutul, juga sering disebut kucing hutan. Kucing dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis ini bukanlah kucing peliharaan yang nyasar ke hutan. Ia adalah pemangsa sejati yang memiliki peran ekologis menjaga keseimbangan alam. Statusnya, dilindungi, berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/dari-hutan-ke-kebun-sawit-bagaimana-cara-kucing-kuwuk-beradaptasi/">Dari Hutan ke Kebun Sawit, Bagaimana Cara Kucing Kuwuk Beradaptasi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing kuwuk, yang memiliki bentuk mungil dan bercorak tutul, juga sering disebut kucing hutan. Kucing dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis ini bukanlah kucing peliharaan yang nyasar ke hutan. Ia adalah pemangsa sejati yang memiliki peran ekologis menjaga keseimbangan alam. Statusnya, dilindungi, berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Para peneliti menyebut jenis ini sebagai karnivora yang sangat terspesialisasi. Berbeda dari kucing besar seperti harimau atau macan dahan yang memangsa mamalia besar, kucing kuwuk memfokuskan energinya pada mangsa yang lebih kecil dan melimpah. Namun, bagaimana pola makan kucing kuwuk ketika hutan tempat hidupnya berubah menjadi kebun sawit atau dikonversi menjadi area penggunaan lain? Kajian IUCN Red List 2022 yang disusun Ghimirey et al., mencatat bahwa kucing kuwuk memangsa beragam hewan kecil: hewan pengerat (rodentia), reptil, burung, amfibi, kepiting, dan serangga. Namun di antara semua itu, mamalia kecil terutama tikus dari Famili Muridae, konsisten menjadi komponen utama diet mereka di hampir seluruh wilayah sebarannya, yang membentang dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Asia Timur. Kekhususan ini bukan kebetulan evolusi. Dengan berat tubuh hanya 3–7 kilogram, kucing kuwuk tidak dirancang untuk memburu rusa atau babi hutan. Sebaliknya, tubuhnya yang lincah, penglihatan malam yang tajam, dan strategi penyergapan (ambush predator) membuatnya sangat efisien dalam memburu hewan pengerat yang aktif malam hari. Kucing kuwuk bukan satu-satunya kucing liar yang berkeliaran di hutan-hutan Indonesia. Ada delapan spesies lain yang sama-sama dilindungi dan punya strategi makan sangat berbeda. Namun, kucing kuwuk adalah spesies yang paling banyak diteliti di antara semua&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/dari-hutan-ke-kebun-sawit-bagaimana-cara-kucing-kuwuk-beradaptasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/01/dari-hutan-ke-kebun-sawit-bagaimana-cara-kucing-kuwuk-beradaptasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Benarkah Kucing Takut pada Timun Karena Dikira Ular? Ini Kata Ilmuwan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/01/benarkah-kucing-takut-pada-timun-karena-dikira-ular-ini-kata-ilmuwan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/01/benarkah-kucing-takut-pada-timun-karena-dikira-ular-ini-kata-ilmuwan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jun 2026 10:12:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/01101004/pexels-ali-durmus-cevlan-518867579-29899220-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128645</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video kucing yang melompat ketakutan saat melihat timun di belakangnya menjadi salah satu konten viral terbesar di media sosial beberapa waktu lalu. Formatnya selalu sama: pemilik kucing diam-diam meletakkan timun di belakang kucing mereka yang sedang makan, lalu merekam reaksinya. Ketika kucing berbalik, mereka melompat, berlari, atau berjingkat menjauh dengan tubuh tegang. Video-video ini ditonton [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/benarkah-kucing-takut-pada-timun-karena-dikira-ular-ini-kata-ilmuwan/">Benarkah Kucing Takut pada Timun Karena Dikira Ular? Ini Kata Ilmuwan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video kucing yang melompat ketakutan saat melihat timun di belakangnya menjadi salah satu konten viral terbesar di media sosial beberapa waktu lalu. Formatnya selalu sama: pemilik kucing diam-diam meletakkan timun di belakang kucing mereka yang sedang makan, lalu merekam reaksinya. Ketika kucing berbalik, mereka melompat, berlari, atau berjingkat menjauh dengan tubuh tegang. Video-video ini ditonton jutaan kali, dikomentari ribuan orang, dan dibagikan sebagai hiburan semata. Ribuan komentar bertanya hal yang sama: mengapa makhluk piaraan tersebut bereaksi begitu dramatis terhadap Timun? Apakah kucing memang memiliki ketakutan alami terhadap timun? Teori paling populer selama bertahun-tahun adalah kucing mengira timun sebagai ular. Penjelasan ini terdengar logis: timun berbentuk panjang dan silindris, mirip dengan bentuk tubuh reptil. Con Slobodchikoff, ahli perilaku hewan dari Northern Arizona University, pernah menyebut timun cukup mirip ular untuk memicu insting takut pada kucing. Namun, penelitian terbaru menunjukkan teori ini kurang akurat. Kucing tidak mengenali timun sebagai ular. Menurut para peneliti perilaku kucing terkini, reaksi viral itu sebenarnya  murni tentang kejutan dan respons kaget otomatis yang oleh ilmuwan disebut &#8220;startle reflex&#8221; yang terjadi dalam 18-22 milidetik, jauh lebih cepat dari pemikiran sadar kucing. Dr. Pamela Perry, ilmuwan dari Cornell Feline Health Center bahkan menegaskan bahwa kucing tidak memiliki ketakutan alami terhadap ular, dan beberapa kucing justru dikenal memburunya. Yang terjadi adalah  kucing sedang tenang, makan dengan percaya diri, ketika tiba-tiba ada  objek asing yang muncul di sudut pandang mereka tanpa peringatan. Otak kucing tidak punya waktu untuk mengidentifikasi apa itu timun. Sistem pertahanan diri mereka langsung mengaktifkan respons fight-or-flight, respons bertahan hidup&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/benarkah-kucing-takut-pada-timun-karena-dikira-ular-ini-kata-ilmuwan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/01/benarkah-kucing-takut-pada-timun-karena-dikira-ular-ini-kata-ilmuwan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tragedi Lumpur Lapindo, Derita Warga Tak Berkesudahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/01/tragedi-lumpur-lapindo-derita-warga-tak-berkesudahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/01/tragedi-lumpur-lapindo-derita-warga-tak-berkesudahan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jun 2026 09:04:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/01063209/Beberapa-anak-sedang-berada-di-atas-tanggul-lumpur-setelah-mengikuti-ritual-Sambang-Buyut-memperingati-20-tahun-lumpur-Lapindo-Foto-Petrus-Riski-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128619</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belasan korban lumpur Lapindo berjalan kaki dari Taman Dwarakerta menuju tanggul  yang berjarak sekitar 300 meter. Masing-masing orang membawa tampah atau alat penampi beras berisi beberapa hasil bumi, makanan dan minuman sebagai sesaji saat ritual sambang buyut. Doa-doa dan kidung Jawa dilantunkan sepanjang perjalanan. Bendara merah putih mereka tancapkan begitu sampai di atas tanggul. Sejenak  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/tragedi-lumpur-lapindo-derita-warga-tak-berkesudahan/">Tragedi Lumpur Lapindo, Derita Warga Tak Berkesudahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belasan korban lumpur Lapindo berjalan kaki dari Taman Dwarakerta menuju tanggul  yang berjarak sekitar 300 meter. Masing-masing orang membawa tampah atau alat penampi beras berisi beberapa hasil bumi, makanan dan minuman sebagai sesaji saat ritual sambang buyut. Doa-doa dan kidung Jawa dilantunkan sepanjang perjalanan. Bendara merah putih mereka tancapkan begitu sampai di atas tanggul. Sejenak  suasana hening, hanya terdengar lantunan doa yang warga kirim untuk leluhur desa yang terkubur lumpur bersama ribuan rumah di  Porong. Ritual itu menandai peringatan tragedi luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang kini memasuki dua dekade sejak semburan pertama  29 Mei 2006. Harwati, warga korban lumpur Lapindo asal Desa Siring  mengatakan, selain mengenang para leluhur, ritual itu  untuk mengingatkan dampak ekstraktivisme yang berubah menjadi petaka paling besar. “Ritual ini pertama ingin silaturahmi pada ahli kubur, ahli waris, dan yang mendirikan desa, dengan ritual Jawa. Kita bawa ini kepada leluhur sambil kirim doa dengan kepercayaan masing-masing,” katanya, Jumat (29/5/26). Selama 20 tahun lumpur Lapindo menyembur dan menimbun tanah leluhur dan kampung halaman, kehidupan warga di tempat baru bukan menjadi lebih baik. Alih-alih, justru lebih buruk. Menurut Harwati, sistem kependudukan digital menyulitkan warga korban lumpur yang hidup terpencar sulit untuk mengakses hak kependudukan, seperti pendataan penduduk, jaminan kesehatan, bantuan sosial, hingga hak suara dalam pemilu. “Kita mau menuntut adanya pemulihan, karena soal lingkungan belum dipulihkan, data korban belum kembali seperti sedia kala, karena warga tidak memberitahukan kepindahannya karena situasi yang memang sulit,” katanya. Bahkan, meski sudah dua dekade berlalu, masih banyak warga belum terima ganti rugi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/tragedi-lumpur-lapindo-derita-warga-tak-berkesudahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/01/tragedi-lumpur-lapindo-derita-warga-tak-berkesudahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rugikan Negara Triliunan Rupiah, Mengapa Sulit Berantas Tambang Emas Ilegal?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/01/rugikan-negara-triliunan-rupiah-mengapa-sulit-berantas-tambang-emas-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/01/rugikan-negara-triliunan-rupiah-mengapa-sulit-berantas-tambang-emas-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jun 2026 01:20:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekoniomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15171025/3-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128553</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terkesan kalang kabut memberantas praktik penambangan emas ilegal  yang marak di berbagai lokasi di Indonesia. Alih-alih menumpas habis, laporan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bahkan mencatat kenaikan signifikan dari transaksi mencurigakan dari aktivitas ini. Dari Rp339 triliun di 2023, menjadi hampir Rp1.000 triliun hanya dalam dua tahun. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/rugikan-negara-triliunan-rupiah-mengapa-sulit-berantas-tambang-emas-ilegal/">Rugikan Negara Triliunan Rupiah, Mengapa Sulit Berantas Tambang Emas Ilegal?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terkesan kalang kabut memberantas praktik penambangan emas ilegal  yang marak di berbagai lokasi di Indonesia. Alih-alih menumpas habis, laporan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bahkan mencatat kenaikan signifikan dari transaksi mencurigakan dari aktivitas ini. Dari Rp339 triliun di 2023, menjadi hampir Rp1.000 triliun hanya dalam dua tahun. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), aktivitas peti yang berpusat di hutan Gunung Manggar, terus berlangsung hingga kini, meski operasi dalam skala besar pernah dilakukan. Para pelaku bergerak dalam gelap. Menyusuri perbukitan dan masuk ke dalam lubang saat malam, baru kembali ketika hari mulai terang. “Masih, meski tidak seramai dulu. Biasanya, mereka (pelaku) berangkat malam hari, balik besoknya,” kata  Haris, warga Kabupaten Jember  Tak seperti di banyak tempat, pelaku tambang ilegal  di Jember memilih malam sebagai waktu yang tepat untuk beraktivitas lantaran alasan keamanan. Tambang emas ilegal di Jember sempat meredup saat pandemi COVID-19, aktivitas  kembali marak saat wabah mereda. Merujuk data SIPP PN Jember, terhitung 60 tersangka jalani proses hukum karena terlibat aktivitas tambang ilegal di Jember sejak pandemi berakhir (selengkapnya lihat grafis). 1-Pembongkaran yang dilakukan oleh warga penambang di lokasi tambang emas ilegal Desa Pancurendang, Ajibarang, Banyumas. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia Harga emas melonjak picu tambang ilegal? Purnawan Dwi Negara, Pakar Hukum Lingkungan Universitas Widya Gama (UWG) Malang menyebut, terus meningkatnya harga emas global turut memicu maraknya aktivitas tambang emas tanpa izin (peti). Terdorong tingginya permintaan, para pelaku menerabas batas-batas hutan untuk menambang emas demi meraup keuntungan. &#8220;Persoalan peti adalah potret gunung es dari masalah tata kelola sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/01/rugikan-negara-triliunan-rupiah-mengapa-sulit-berantas-tambang-emas-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/01/rugikan-negara-triliunan-rupiah-mengapa-sulit-berantas-tambang-emas-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Parrot Day: Seruan Penyelamatan Paruh Bengkok dari Kepulauan Aru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/31/dari-jalanan-dobo-serukan-penyelamatan-burung-paruh-bengkok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/31/dari-jalanan-dobo-serukan-penyelamatan-burung-paruh-bengkok/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mei 2026 16:31:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belserandan Johan Djamanmona]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/05/22024740/Burung-kakaktua-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128589</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kepulauan aru]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#8220;Lestarikan Paruh Bengkok Khas Maluku, Warisan Alam yang Tak Tergantikan.&#8221;  Begitu tulisan spanduk aksi kampanye World Parrot Day, di jalanan pusat Kota Dobo, Kepulauan Aru, Jumat (26/5/26). Beberapa di antara mereka mengenakan kostum burung kakatua berwarna putih, menarik perhatian para pengendara yang melintas. Di belakang mereka ada  terbentang  spanduk lagi. &#8220;Selamat Hari Burung Paruh Bengkok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/dari-jalanan-dobo-serukan-penyelamatan-burung-paruh-bengkok/">Parrot Day: Seruan Penyelamatan Paruh Bengkok dari Kepulauan Aru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&#8220;Lestarikan Paruh Bengkok Khas Maluku, Warisan Alam yang Tak Tergantikan.&#8221;  Begitu tulisan spanduk aksi kampanye World Parrot Day, di jalanan pusat Kota Dobo, Kepulauan Aru, Jumat (26/5/26). Beberapa di antara mereka mengenakan kostum burung kakatua berwarna putih, menarik perhatian para pengendara yang melintas. Di belakang mereka ada  terbentang  spanduk lagi. &#8220;Selamat Hari Burung Paruh Bengkok Sedunia&#8221; tergantung di dinding bangunan. Selebaran kampanye juga mereka bagian kepada warga sekitar dan pengguna jalan. Aksi damai itu mereka gelar dalam rangka memperingati World Parrot Day (WPD) 2026, yang jatuh pada 31 Mei. Peringatan ini sebagai bentuk komitmen dunia internasional terhadap upaya perlindungan burung paruh bengkok di seluruh dunia. Di Kepulauan Aru, aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa satwa-satwa eksotis yang selama ini menjadi kebanggaan daerah itu masih menghadapi ancaman serius. Selain Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI), aksi itu juga melibatkan  Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Aru, dan juga Polres Kepulauan Aru. Tidak ada orasi keras. Tidak ada pengeras suara yang memekakkan telinga. Yang terdengar justru ajakan sederhana: menyelamatkan burung paruh bengkok yang selama puluhan tahun menjadi simbol hutan-hutan Maluku. Dudi Andika, Koordinator KKI,  mengatakan,  kegiatan itu  bertujuan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga burung paruh bengkok yang menjadi salah satu identitas ekologis Kepulauan Aru. “Kami mencoba menyebarluaskan informasi ancaman terhadap burung paruh bengkok kepada publik agar ikut sadar untuk melakukan pelestarian,” katanya. Menurut Dudi, paruh bengkok bukan hanya satwa eksotis yang menarik perhatian wisatawan mancanegara. Keberadaan mereka memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi keberlangsungan hutan tropis Maluku.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/dari-jalanan-dobo-serukan-penyelamatan-burung-paruh-bengkok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/31/dari-jalanan-dobo-serukan-penyelamatan-burung-paruh-bengkok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menang Gugatan RSPO, Masyarakat Adat Talang Parit Dapat Lahan Sawit dari  Grup Samsung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/31/menang-gugatan-rspo-masyarakat-adat-talang-parit-dapat-lahan-sawit-dari-grup-samsung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/31/menang-gugatan-rspo-masyarakat-adat-talang-parit-dapat-lahan-sawit-dari-grup-samsung/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mei 2026 11:30:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/31074126/Herianto-dan-kawannya-saat-mengawas-kebun-hibah-PT-Inecda-Plantation.-Foto-dokumentasi-masyarakat-adat-Talang-Parit-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128572</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Talang Mamak Luak Talang Parit di Indragiri Hulu, Riau, punya aktivitas baru sejak Mei 2026. Mereka mengurusi lahan sawit alokasi dari  PT Inecda Plantation, anak perusahaan sawit Grup Samsung. Empat pemuda yang kelembagaan adat utus akan berbagi peran. Laki-laki bertindak jadi mandor, perempuan mengurusi administrasi, seperti mencatat hasil panen. Mereka meminjam kantor kebun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/menang-gugatan-rspo-masyarakat-adat-talang-parit-dapat-lahan-sawit-dari-grup-samsung/">Menang Gugatan RSPO, Masyarakat Adat Talang Parit Dapat Lahan Sawit dari  Grup Samsung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Talang Mamak Luak Talang Parit di Indragiri Hulu, Riau, punya aktivitas baru sejak Mei 2026. Mereka mengurusi lahan sawit alokasi dari  PT Inecda Plantation, anak perusahaan sawit Grup Samsung. Empat pemuda yang kelembagaan adat utus akan berbagi peran. Laki-laki bertindak jadi mandor, perempuan mengurusi administrasi, seperti mencatat hasil panen. Mereka meminjam kantor kebun plasma Inecda. “Kami diajari menginput data jumlah janjang, berondolan dan tonase sawit hasil panen,” kata Ayu, perempuan adat Talang Parit. Perempuan 26 tahun ini bilang, dua karyawan Inecda terlebih dahulu mengajari mereka mengoperasikan microsoft excel dengan perangkat sendiri. Baginya, itu cukup bermanfaat menambah pengetahuan dan pengalaman. “Sebelumnya, tidak paham tonase, berat janjang, apa lagi cara menginput data di situ.” Ayu merupakan lulusan sekolah menengah kejuruan. Bakat dan keterampilan menulisnya terasah ketika magang di  kantor hukum di Pekanbaru. Termasuk dari pelbagai program pemberdayaan masyarakat adat serta pelatihan yang dia ikuti.. Saat ini, dia juga bekerja sebagai staf di kantor desa. Berkat pekerjaan baru ini, dia hendak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Berharap, Masyarakat Adat Talang Parit lebih maju dalam pendidikan dan ekonomi. “Semoga aset (lahan ) ini dikelola dengan baik dan lancar. Bersyukur juga sudah dapatkan lahan. Ditambah lagi wilayah adat kami telah diakui perusahaan.” Cerita serupa juga pada Herianto, satu dari dua pemuda adat yang bertugas mengawasi kebun. Dia belajar tata cara panen dan kriteria buah layak panen. Sekaligus, memastikan pengangkutan seluruh buah, bahkan ikut ke pabrik guna memastikan langsung pekerjaan itu tuntas. Di luar waktu panen, mereka tetap ke kebun buat patroli keliling sampai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/menang-gugatan-rspo-masyarakat-adat-talang-parit-dapat-lahan-sawit-dari-grup-samsung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/31/menang-gugatan-rspo-masyarakat-adat-talang-parit-dapat-lahan-sawit-dari-grup-samsung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paruh Bengkok, Penjaga Hutan yang Hidupnya Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/31/paruh-bengkok-penjaga-hutan-yang-hidupnya-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/31/paruh-bengkok-penjaga-hutan-yang-hidupnya-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mei 2026 09:49:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/07/22034109/Seekor-kakatua-melintasi-hutan-prekomba-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128579</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berapa lama lagi suara burung kakatua, nuri, atau betet terdengar di hutan-hutan Indonesia? Perburuan, perdagangan ilegal, hingga hilangnya habitat akibat aktivitas eksraktif merupakan  ancaman utama yang membayangi masa depan paruh bengkok. Mereka dikenal sebagai kelompok burung penebar biji handal di hutan tropis kita. Dudi Nandika, Ketua Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI), mengatakan kondisi populasi sejumlah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/paruh-bengkok-penjaga-hutan-yang-hidupnya-terancam/">Paruh Bengkok, Penjaga Hutan yang Hidupnya Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berapa lama lagi suara burung kakatua, nuri, atau betet terdengar di hutan-hutan Indonesia? Perburuan, perdagangan ilegal, hingga hilangnya habitat akibat aktivitas eksraktif merupakan  ancaman utama yang membayangi masa depan paruh bengkok. Mereka dikenal sebagai kelompok burung penebar biji handal di hutan tropis kita. Dudi Nandika, Ketua Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI), mengatakan kondisi populasi sejumlah jenis kelompok burung cerdas ini, jauh lebih memprihatinkan dibandingkan satu hingga dua dekade lalu. Ancaman terbesar masih datang dari tingginya perburuan dan perdagangan ilegal yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia timur. “Ditambah lagi maraknya tambang dan perusahaan-perusahaan kayu yang punya konsesi di hutan alami, sangat berdampak terhadap populasi paruh bengkok,” ujar Dudi yang sejak 2007 konsisten mengawal isu kakatua, Sabtu (30/05/2026). Sejumlah spesies di Maluku, menurutnya, menunjukkan tren penurunan. Di Pulau Seram, misalnya, populasi kakaktua dan nuri bayan mengalami tekanan semakin besar. Sementara di Pulau Buru, beberapa spesies endemik juga menghadapi ancaman serupa akibat perubahan habitat yang berlangsung cepat, seperti perkici buru, kring-kring buru, dan betet-kelapa buru. “Diperkirakan, hampir tiap tahun ribuan ekor burung dari berbagai jenis keluar dari Maluku.” Kondisi mengkhawatirkan juga terlihat dari hasil pemantauan populasi di Pulau Ambon. Jika dua dekade lalu keberadaan kakatua masih relatif mudah dijumpai, kini jumlahnya menurun. Dudi menyebut, penelitian yang dilakukan 2022 menunjukkan kepadatan populasi Cacatuidae di Pulau berjuluk “Ambon manise” ini hanya berkisar 1-2 individu per 10 hektar. “Itu sangat mengkhawatirkan. Saat ini, kakaktua hanya ditemukan di kawasan Hutan Sirimau.” Melindungi kehidupan kakatua sumba berarti kita harus menjaga habitatnya, yaitu hutan. Foto: Muhammad Soleh/Sumba. Wildlife. Achmad&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/paruh-bengkok-penjaga-hutan-yang-hidupnya-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/31/paruh-bengkok-penjaga-hutan-yang-hidupnya-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Berkat Tupai, Ilmuwan  Hidupkan Bunga Purba yang Mati 32.000 Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/05/berkat-tupai-ilmuwan-hidupkan-bunga-purba-yang-mati-32-000-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/05/berkat-tupai-ilmuwan-hidupkan-bunga-purba-yang-mati-32-000-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mei 2026 04:33:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/03040722/Russian-revive-extinct-plant--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128571</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para ilmuwan di Rusia telah mencapai tonggak sejarah yang mencengangkan dalam bidang biologi konservasi dan paleontologi. Mereka berhasil menghidupkan kembali sebuah tanaman berbunga yang telah mati selama lebih dari 32.000 tahun. Tanaman tersebut adalah Silene stenophylla atau campion berdaun sempit. Flora ini terakhir kali mekar pada zaman Pleistosen akhir. Itu adalah masa ketika mammoth berbulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/05/berkat-tupai-ilmuwan-hidupkan-bunga-purba-yang-mati-32-000-tahun-lalu/">Berkat Tupai, Ilmuwan  Hidupkan Bunga Purba yang Mati 32.000 Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para ilmuwan di Rusia telah mencapai tonggak sejarah yang mencengangkan dalam bidang biologi konservasi dan paleontologi. Mereka berhasil menghidupkan kembali sebuah tanaman berbunga yang telah mati selama lebih dari 32.000 tahun. Tanaman tersebut adalah Silene stenophylla atau campion berdaun sempit. Flora ini terakhir kali mekar pada zaman Pleistosen akhir. Itu adalah masa ketika mammoth berbulu dan badak bercula dua masih berkeliaran di bumi. Penemuan ini tidak hanya mendefinisikan ulang batas ketahanan kehidupan biologis. Peristiwa ini juga memberikan wawasan krusial mengenai mekanisme adaptasi tanaman terhadap lingkungan ekstrem. Keberhasilan ini bermula dari serangkaian penggalian di sepanjang tepi Sungai Kolyma di Siberia utara. Tim peneliti dari Institute of Cell Biophysics, Russian Academy of Sciences, menjelajahi lapisan permafrost yang tidak pernah mencair sejak Zaman Es. Di kedalaman 38 meter di bawah permukaan tanah, para ilmuwan menemukan fosil sarang atau liang hibernasi tupai tanah Arktik purba (Spermophilus parryii). Tupai ini dikenal membangun sarang yang luas untuk menyimpan cadangan makanan menghadapi musim dingin yang panjang. Dalam salah satu sarang tersebut, tim menemukan ribuan biji dan buah dari berbagai spesies tanaman. Semuanya tersimpan dalam kondisi beku sempurna. Penanggalan radiokarbon pada biji Silene stenophylla mengonfirmasi usia mereka yang luar biasa, yaitu antara 31.800 hingga 32.200 tahun. Sarang ini membeku dengan sangat cepat dan tidak pernah mencair sejak saat itu. Hal ini dijelaskan oleh para peneliti dalam studi mereka yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Jurnal tersebut berjudul “Regeneration of whole fertile plants from 30,000-y-old fruit tissue buried in Siberian permafrost”. Kombinasi unik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/05/berkat-tupai-ilmuwan-hidupkan-bunga-purba-yang-mati-32-000-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/05/berkat-tupai-ilmuwan-hidupkan-bunga-purba-yang-mati-32-000-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Emisi Bangunan Naik, UNEP Dorong Perumahan  Berkelanjutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/31/ketika-emisi-bangunan-naik-unep-dorong-perumahan-berkelanjutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/31/ketika-emisi-bangunan-naik-unep-dorong-perumahan-berkelanjutan/#respond</comments>
					<pubDate>31 Mei 2026 01:08:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/07/22093800/mongabay-rumah-tradisional-2.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128563</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sektor bangunan akan menjadi sorotan utama pada COP31 di Turki pada November 2026. Ini menyusul seruan aksi Belem untuk perumahan berkelanjutan dan terjangkau. United Nation Environmental Programme (UNEP) bersama Global Alliance for Building and Construction baru-baru ini meluncurkan laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 yang mengajak pemangku kepentingan mengubah cara pandang melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/ketika-emisi-bangunan-naik-unep-dorong-perumahan-berkelanjutan/">Ketika Emisi Bangunan Naik, UNEP Dorong Perumahan  Berkelanjutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sektor bangunan akan menjadi sorotan utama pada COP31 di Turki pada November 2026. Ini menyusul seruan aksi Belem untuk perumahan berkelanjutan dan terjangkau. United Nation Environmental Programme (UNEP) bersama Global Alliance for Building and Construction baru-baru ini meluncurkan laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 yang mengajak pemangku kepentingan mengubah cara pandang melihat bangunan bukan hanya sebagai bagian dari masalah, juga platform solusi bagi iklim, keterjangkauan dan ketahanan secara bersamaan. “Karena sebagian besar ruang bangunan masa depan belum dibangun, keputusan hari ini akan menentukan emisi, kesehatan dan kualitas hidup selama puluhan tahun mendatang. Solusi sebenarnya sudah tersedia, mulai dari efisiensi energi hingga integrasi energi terbarukan dan material yang ramah lingkungan,” kata Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP saat peluncuran laporan ini. Dalam laporan berjudul Building Fast, Falling Short as Climate Risks Rise and Cities Grow, Oliver Rapf, Direktur Eksekutif Buildings Performance Institute Europe yang menjadi bagian dari kajian ini mengatakan,  sektor bangunan ini sangat signifikan. Selain mewakili sekitar 11-13% PDB rata-rata global, bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO2 terkait energi global, mengonsumsi sekitar sepertiga energi dunia, dan bertanggung jawab atas hampir 50% ekstraksi material global. “Luas lantai bangunan global kini mencapai sekitar 273 miliar meter persegi, tumbuh 1,7% hanya dalam satu tahun,” kata Oliver. Pertumbuhan ini sekitar empat kali luas kota Berlin atau dua puluh kali Delhi. Pertumbuhan yang sangat signifikan ini, katanya, 77% terdiri dari bangunan hunian perumahan. Sekitar 70% kebutuhan energi bangunan berasal dari hunian. Dengan mengembangkan pelacak Global Buildings Climate Tracker tim&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/31/ketika-emisi-bangunan-naik-unep-dorong-perumahan-berkelanjutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/31/ketika-emisi-bangunan-naik-unep-dorong-perumahan-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Meratus Tutup Gunung Halau-Halau Demi Jaga Kesakralan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/30/masyarakat-adat-meratus-tutup-gunung-halau-halau-demi-jaga-kesakralan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/30/masyarakat-adat-meratus-tutup-gunung-halau-halau-demi-jaga-kesakralan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Mei 2026 13:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/30041947/IMG_20260514_130105-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128522</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gunung Halau-Halau, bagian dari Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, tutup permanen terhadap aktivitas pendakian umum, ekspedisi, serta wisata komersial. Keputusan yang keluar 1 Mei, melalui musyawarah yang melibatkan Kepala Desa Juhu, Kepala Desa Hinas Kiri, Babinsa, Pokdarwis, serta tokoh masyarakat setempat ini bertujuan untuk menghormati komunitas adat Dayak Meratus. Masyarakat Adat Meratus memiliki alasan spiritual di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/masyarakat-adat-meratus-tutup-gunung-halau-halau-demi-jaga-kesakralan/">Masyarakat Adat Meratus Tutup Gunung Halau-Halau Demi Jaga Kesakralan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gunung Halau-Halau, bagian dari Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, tutup permanen terhadap aktivitas pendakian umum, ekspedisi, serta wisata komersial. Keputusan yang keluar 1 Mei, melalui musyawarah yang melibatkan Kepala Desa Juhu, Kepala Desa Hinas Kiri, Babinsa, Pokdarwis, serta tokoh masyarakat setempat ini bertujuan untuk menghormati komunitas adat Dayak Meratus. Masyarakat Adat Meratus memiliki alasan spiritual di balik penutupan Gunung Halau-Halau. Dalam kepercayaan mereka, puncak tertinggi di Kalsel itu merupakan tempat bersemayam roh leluhur dan penjaga alam. Abdul Dunduk, Kepala Desa Juhu, menyebut, dulu leluhur menerima wahyu dari roh penjaga gunung untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Mereka memandang tempat itu pusat kekuatan spiritual, bertemunya langit dan bumi, yang sekaligus dapat memberi sumber kehidupan bagi makhluk di sekitarnya. “Karena itu, setiap aktivitas yang berkaitan harus dilakukan dengan penghormatan, ritual adat meminta izin kepada roh penjaga agar perjalanan berjalan aman dan tidak menimbulkan gangguan bagi alam sekitar,” katanya. Di sana, masyarakat juga kerap lakukan upacara pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif. Serta aruh, bentuk rasa syukur pada roh leluhur atas bumi dan kehidupan yang seimbang. Jadi, ritual dan kepercayaan,  tidak hanya memperkuat ikatan spiritual Masyarakat Dayak Meratus, juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian alam di Pegunungan Meratus. Rubi, Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel, menyebut,  penutupan itu bentuk komitmen Masyarakat Adat Meratus dalam menjaga kelestarian ekosistem serta nilai kesakralan. Halau-Halau, katanya, bukan sekadar sebagai objek wisata atau bernilai ekonomi. Warga Desa Juhu itu berpendapat, desa dekat dengan Gunung Halau-Halau, kawasan menyimpan banyak cerita dan mitologi dalam kehidupan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/masyarakat-adat-meratus-tutup-gunung-halau-halau-demi-jaga-kesakralan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/30/masyarakat-adat-meratus-tutup-gunung-halau-halau-demi-jaga-kesakralan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Tambang Nikel, PSN, dan Krisis Ruang Hidup di Sulawesi Tenggara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/30/menyoal-tambang-nikel-psn-dan-krisis-ruang-hidup-di-sulawesi-tenggara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/30/menyoal-tambang-nikel-psn-dan-krisis-ruang-hidup-di-sulawesi-tenggara/#respond</comments>
					<pubDate>30 Mei 2026 11:20:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/29130724/Screenshot-2026-04-29-at-15.06.07-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128463</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#8220;Apakah kehadiran tambang  sampai proyek strategis nasional  benar-benar membawa kesejahteraan bagi masyarakat? Pertanyaan itu menggema di Ruang Rapat Komisi IV DPR, Jakarta, April lalu. Kala itu,  Abdul Kharis Almasyhari, Wakil Ketua Komisi IV melontarkan tanya dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komunitas Teras dan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif. “Petani, nelayan, apakah lebih sejahtera setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/menyoal-tambang-nikel-psn-dan-krisis-ruang-hidup-di-sulawesi-tenggara/">Menyoal Tambang Nikel, PSN, dan Krisis Ruang Hidup di Sulawesi Tenggara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&#8220;Apakah kehadiran tambang  sampai proyek strategis nasional  benar-benar membawa kesejahteraan bagi masyarakat? Pertanyaan itu menggema di Ruang Rapat Komisi IV DPR, Jakarta, April lalu. Kala itu,  Abdul Kharis Almasyhari, Wakil Ketua Komisi IV melontarkan tanya dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komunitas Teras dan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif. “Petani, nelayan, apakah lebih sejahtera setelah ada tambang, atau malah tidak?” katanya. Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam. Dari paparan berbagai organisasi masyarakat sipil, jawaban  tegas, mayoritas masyarakat justru mengalami penurunan kesejahteraan. Temuan ini menjadi pintu masuk untuk membaca konflik tata ruang di Sulawesi Tenggara (Sultra), wilayah yang dalam satu dekade terakhir menjadi episentrum industri nikel nasional, sekaligus ruang hidup yang kian terdesak. Imam Masud, Kepala Divisi Advokasi Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif Komunitas Teras katakan, ekspansi tambang dan PSN tidak hanya berdampak pada daratan, juga merusak daerah aliran sungai (DAS) hingga wilayah pesisir dan laut. “Dampaknya bukan hanya di hulu, tetapi sampai ke hilir. Wilayah pertanian, pesisir, dan laut ikut terdampak,” katanya. Menurut dia,  pertambangan di perairan sebabkan kualitas lingkungan laut menurun yang berdampak langsung pada nelayan. Sedimentasi dan pencemaran membuat ikan menjauh dari pesisir. Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya yang meningkat. Sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah juga mengalami tekanan. Kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang sebelumnya mendominasi Sultra, kini turun drastis seiring meningkatnya aktivitas pertambangan. “Banyak masyarakat yang akhirnya beralih ke sektor tambang karena ruang kelola mereka semakin sempit,” ujar Imam. Suasana rapat dengat pendapat Komisi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/menyoal-tambang-nikel-psn-dan-krisis-ruang-hidup-di-sulawesi-tenggara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/30/menyoal-tambang-nikel-psn-dan-krisis-ruang-hidup-di-sulawesi-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/30/para-perempuan-penjaga-lingkungan-di-tengah-krisis-ruang-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/30/para-perempuan-penjaga-lingkungan-di-tengah-krisis-ruang-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>30 Mei 2026 05:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/08085804/WhatsApp-Image-2025-11-08-at-00.39.26-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128492</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ada jalan sunyi bagi perempuan dalam menjaga lingkungan. Di tengah tekanan ekspansi industri ekstraktif, ekonomi dan perubahan iklim, para perempuan tampil sebagai garda depan untuk mempertahankan sumber daya hidup dan kearifan lokal. Mereka menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Padahal seringkali suara mereka tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/para-perempuan-penjaga-lingkungan-di-tengah-krisis-ruang-hidup/">Para Perempuan Penjaga Lingkungan di Tengah Krisis Ruang Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ada jalan sunyi bagi perempuan dalam menjaga lingkungan. Di tengah tekanan ekspansi industri ekstraktif, ekonomi dan perubahan iklim, para perempuan tampil sebagai garda depan untuk mempertahankan sumber daya hidup dan kearifan lokal. Mereka menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Padahal seringkali suara mereka tak pernah didengar dan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, khususnya terkait ruang hidupnya. Padahal, mereka menjadi kelompok yang paling terdampak atas krisis lingkungan.  Dalam Indonesian Journal of Conservation, Marhaeni (2012), menjelaskan corak perjuangan perempuan Indonesia sangat beragam. Tak hanya melakukan protes atas ketetapan pembangunan yang merugikan, perempuan Indonesia juga menyuarakan pengalaman dan kritik mendalam tentang kondisi masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah pada manusia dan perempuan. Dari Sumatera hingga Papua, perempuan Indonesia menunjukkan perjuangan dan perlawanannya untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik. Mulai dari menjaga hutan, melestarikan pangan lokal, berdaulat pangan hingga belajar permakultur untuk mencegah stunting. Mari menelusuri kisah perjuangan mereka: 1. Para perempuan pelestari tanaman obat Bagi masyarakat Suku Batin Sembilan, hutan telah menjadi apotek hidup yang diwariskan secara turun temurun. Menyadari pentingnya menjaga warisan ini, para perempuan Suku Batin Sembilan melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Besamo, mereka mengelola 399 hektare hutan secara komunal. Ini menjadi upaya agar pengetahuan tentang hutan bagi generasi muda terus lestari di tengah ancaman perubahan pola hidup dan menyempitnya ruang hutan. Sehingga jika ancaman datang, hutan tak lantas dirampas oleh para pendatang. Gendum, buah tumbuhan ini digunakan untuk upacara adat Besale. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/para-perempuan-penjaga-lingkungan-di-tengah-krisis-ruang-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/30/para-perempuan-penjaga-lingkungan-di-tengah-krisis-ruang-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/30/hidup-di-kandang-perawatan-kisah-sedih-owa-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/30/hidup-di-kandang-perawatan-kisah-sedih-owa-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Mei 2026 04:24:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/30040144/Owa-siamang-berusia-sekitar-satu-tahun-yang-dirawat-di-PRS-Punti-Kayu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128516</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangan kecilnya cekatan mengambil kotak berisi sayur dan buah-buahan di balik kandang ukuran 3&#215;2 meter. Satu-persatu potongan wortel, jagung, timun, kacang panjang dan terong masuk ke mulutnya. Matanya sayu menatap ke luar kandang perawatan, seolah bertanya, kapan akan bertemu induknya dan kembali ke alam liar. “Usianya baru satu tahun, masih anakan, tapi sudah terpisah dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/hidup-di-kandang-perawatan-kisah-sedih-owa-di-sumatera-selatan/">Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangan kecilnya cekatan mengambil kotak berisi sayur dan buah-buahan di balik kandang ukuran 3&#215;2 meter. Satu-persatu potongan wortel, jagung, timun, kacang panjang dan terong masuk ke mulutnya. Matanya sayu menatap ke luar kandang perawatan, seolah bertanya, kapan akan bertemu induknya dan kembali ke alam liar. “Usianya baru satu tahun, masih anakan, tapi sudah terpisah dari ibunya,” kata Arnestasya Fitri Andriani, dokter hewan di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan, menceritakan kisah siamang yang mereka rawat, Kamis (7/5/2026). Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu owa ungko— dirawat di PRS Punti Kayu. Tempat rehabilitasi ini dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022, yang sejauh ini telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang. “Untuk ungko, ada satu individu karena baru masuk kerja sama tahun ini (2026),” kata Made Wedana, Direktur The Aspinall Foundation, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (20/4/2026). Mayoritas siamang yang dievakuasi ke PRS Punti Kayu memiliki latar belakang yang sama, yakni bekas peliharaan warga yang diserahkan sukarela maupun hasil sitaan. Mirisnya, empat individu sitaan tersebut masih bayi berumur sekitar satu tahun. Pemisahan paksa di usia dini berpotensi menghambat tumbuh kembang mereka. Secara alami, anak siamang seharusnya masih melekat dan berada dalam perlindungan penuh induknya. Anakan owa siamang berusia satu tahun ini dirawat di PRS Punti Kayu. Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Pola asuh siamang pun cukup unik. Peran utama merawat anak akan bergeser dari induk betina ke induk jantan seiring bertambahnya usia anak. Selama rentang usia satu hingga dua tahun, induk betina&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/30/hidup-di-kandang-perawatan-kisah-sedih-owa-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/30/hidup-di-kandang-perawatan-kisah-sedih-owa-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>