- Jejak kekayaan hayati lahan basah di Sumatera Selatan dapat dilihat dari relief dan patung di Candi Bumiayu, Sumatera Selatan.
- Fauna yang terekam dalam relife dan patung misalnya burung nuri, burung kuntul, burung beo, buaya rawa, ular, kura-kura, sapi, dan kera. Sementara flora, beragam jenis teratai (Nymphaea dan Nelumbo), serta jenis palem-paleman (Arecaceae atau Palmae).
- Perubahaan bentang alam lahan basah di sekitar Candi Bumiayu, membuat sejumlah kekayaan hayati itu sudah hilang atau sulit ditemukan.
- Ingatan masyarakat akan kekayaan hayati tersebut, terutama burung, masih terjaga dalam sastra tutur dan mantra.
Banyak jejak kekayaan hayati di Indonesia di masa lalu terekam dari sejumlah artefak sejarah. Dari masa purba hingga moderen. Salah satunya, tersimpan rapi di Candi Bumiayu, yang berada di kawasan lahan basah Sumatera Selatan.
Candi Bumiayu ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai cagar budaya nasional pada 2024. Kompleks percandian yang berada di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, ini diperkirakan usianya sama dengan Candi Muaro Jambi (Jambi) dan Muara Takus (Riau) pada masa Kedatuan Sriwijaya. Candi Bumiayu merupakan percandian Hindu beraliran Siwa, memiliki pengaruh Buddha, yang dibangun pada abad ke IX-XII.
Candi ini berada di wilayah lahan basah Sungai Lematang yang terhubung dengan lahan basah Penukal. Lahan basahnya berupa rawa gambut, danau, puluhan sungai, serta puluhan talang yang terlihat seperti pulau, saat musim penghujan.
Di masa lalu, lahan basah tersebut kaya flora dan fauna, baik yang berada di perairan maupun daratan. Tapi sejalan perubahan bentang alam, seperti permukiman, perkebunan, serta infrastruktur lainnya, kekayaan tersebut mulai berkurang atau hilang.
Bagaimana jejak kekayaan flora dan fauna lahan basah tersebut?

Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), menjelaskan kekayaan flora dan fauna lahan basah dapat dibaca dari berbagai relief dan patung yang ditemukan di Percandian Bumiayu. Untuk fauna, seperti burung nuri, burung kuntul, burung beo, buaya rawa, ular, kura-kura, sapi, dan kera.
“Sementera flora, beragam jenis teratai (Nymphaea dan Nelumbo), serta beragam palem-paleman (Arecaceae atau Palmae), seperti aren, nibung, nipah, serdang dan kelapa,” jelasnya kepada Mongabay Indonesia, Sabtu (23/5/2026).
“Semua relief dan patung flora dan fauna itu merupakan simbol kesucian, kesetiaan, kekuatan, dan lainnya.”

Beragam jenis teratai, kata Sondang, masih ditemukan di Danau Lebar, yang jaraknya sekitar satu kilometer dari candi. Tanaman lainnya, seperti kalpataru tidak ditemukan sebab pohon tersebut hanya ada di India, sebagai simbol kesucian atau pemberi kehidupan bagi ajaran Hindu dan Buddha.
Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia, dari beragam flora dan fauna yang tertandai di Candi Bumiayu, hanya sebagian kecil yang masih ada di lanskap lahan basah Lematang dan Penukal. Yang sudah jarang ditemukan adalah buaya muara, burung, dan kura-kura.
“Buaya mungkin masih ditemukan atau terlihat di muara Sungai Penukal yang terhubung dengan Sungai Musi. Kalau di rawa dan sungai ke hilir, sudah sulit ditemukan,” kata Ibrahim (57), warga Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI, Minggu (24/5/2026).

Sementara burung yang masih sering ditemukan adalah burung kuntul. Jenis ini banyak terlihat di Danau Burung di wilayah Tempirai, terutama saat “musim ikan” atau musim kemarau.
Byuku (Orlitia borneensis), jenis kura-kura yang dilindungi dan masuk CITES Appendix II, dulunya mudah ditemukan di sekitar candi. Tapi saat ini sudah sulit ditemukan. Kura-kura air tawar yang berukuran besar ini jejaknya hanya tertandai dari sejumlah tempurungnya yang disimpan warga. Misalnya yang disimpan Kasmin, warga Desa Tempirai.
Sebagai informasi, Candi Bumiayu satu-satunya kompleks percandian yang ada di Sumatera Selatan. Saat ini terdapat 13 bangunan candi yang ditemukan dan baru lima candi yang dipugar: Candi Siwa Mahadewa, Candi Awalokiteswara, Candi Dewi Bhairawi, Mandapa Bumiayu, dan Candi 4 Makara.

Dijaga sastra tutur
Meskipun sebagian besar fauna yang tercatat di Candi Bumiayu sudah sulit ditemukan, tapi dalam ingatan masyarakat beragam satwa tersebut disimpan dalam sastra tutur atau cerita yang disampaikan melalui lisan secara turun menurun. Terutama, kisah mengenai burung.
Misalnya, legenda Danau Burung. “Legenda ini menceritakan ribuan burung yang hidup di hutan rimba Danau Burung berperang melawan sekelompok manusia yang ingin merusak hutan rimba,” kata Amrullah Marsup, budayawan Penukal, yang menerbitkan buku “Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai” pada 2025 lalu.
Beragam jenis burung yang disebutkan dalam tuturan antara lain elang brontok (Nisaetus cirrhatus) sebagai pemimpin kelompok burung, kemudian elang-alap jambul atau alap-alap (Accipiter trivirgatus), burung sapulanget atau burung sriti (Collocalia linchi), burung betet (Psittacula longicauda), burung belibis (Dendrocygna), burung kutilang (Pycnonotus aurigaster), burung kuntul atau bangau putih (Ardea alba), dan lainnya.
“Bahkan, disebutkan pula hadir cendrawasih (Paradisaeidae) yang turut membantu mengamankan Danau Burung dalam peperangan tersebut.”

Dalam legenda lain, yakni Burung Elang dan Sang Piatu, dikisahkan seekor elang brontok menyelamatkan seorang anak piatu yang dikurung keluarga harimau siluman, yang ingin menjadikannya persembahan.
“Burung elang juga banyak disebutkan dalam sejumlah sastra tutur dan mantra,” kata Amrullah.
Buaya muara juga dikisahkan dalam seni sastra tutur anda-andai. Dalam andai-andai Perayun, diceritakan seorang nenek yang hidup di Dusun Perayun mampu menaklukkan atau menangkap buaya muara yang menyerangnya saat berperahu di sungai. Lalu, dia mau membebaskan buaya muara tersebut, dengan syarat buaya itu bersama kelompoknya tidak lagi menyerang manusia. Buaya setuju, tapi syarat lainnya manusia juga tidak menyerang buaya. Sang nenek pun setuju. Sejak saat itu buaya muara hidup damai dengan manusia di Dusun Perayun.
Dijelaskan Amrullah, kerusakan atau berubahnya lahan basah di sekitar Sungai Lematang dan Sungai Penukal di Kabupaten PALI, bukan dikarenakan adanya permukiman baru atau persawahan masyarakat. Tapi, karena kehadiran perkebunan sawit, yang mulai banyak sejak tahun 2000-an.
“Di lahan basah, masyarakat membangun rumah panggung, sementara kalau berkebun karet mereka membuatnya di lahan kering seperti talang. Hanya perkebunan sawit yang bisa dilakukan di rawa gambut,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) luas perkebunan sawit di Kabupaten PALI mencapai 70.268 hektar. Lebih luas dari perkebunan karet, sekitar 37.275 hektar. Sementara luas kabupaten yang berada di tengah Sumatera Selatan ini hanya 184 ribu hektar, yang merupakan kabupaten terkecil di Sumatera Selatan.
*****
Di Sumatera Selatan, Padi Sudah Ditanam Sejak Masa Kedatuan Sriwijaya